
#6
Sembada duduk bersila, matanya terpejam, mulutnya komat-kamit. Tak lama kemudian, asap putih keluar dari ubun-ubunnya. Ia telah merapal Ilmu Rambah Jejak untuk mencari keberadaan Yuangga. Rambah Jejak, sebuah ilmu yang baru dipelajarinya dari Sasmita Sukma Candramaya, ilmu ini lebih bersifat menembus portal atau gerbang dimensi. Memisah jiwa dari raga. Jika ilmu ini tidak didasari oleh mengolah pernafasan dan tenaga dalam yang kuat, ilmu ini bisa membunuh pemiliknya. Namun, jika berhasil menyeimbangkan olah nafas, raga dan tenaga dalam, ilmu ini mampu membuat orang pergi kemanapun ia suka sekalipun tanpa raganya, bahkan bisa membuat orang tak berdaya. Ilmu ini diwariskan turun-temurun dari nenek moyang penguasa Gunung Kembang Sewu. Maka, tak bisa diturunkan ke sembarang orang jika tidak dikehendaki oleh para leluhur. Sementara, Sembada setelah menjalani serangkaian tirakat dan memiliki hati yang lurus mampu menguasainya terlebih ia kini menjadi suami Sasmita Sukma Candramaya, salah satu keturunan penguasa Gunung Kembang Sewu.
Dengan ilmu Rambah Jejak, Sembada bagaikan terbang melayang-layang di langit, ia mengamati keadaan di sekitar Tunggak Bayu untuk mencari keberadaan Yuangga. Hingga akhirnya tiba di kawasan Karang Gajah, tampak olehnya seorang pemuda duduk bersila sementara kepalanya tertunduk. Dialah Yuangga, wajahnya memancarkan ketenangan yang luar biasa, jelas ilmunya lebih tinggi dari 3 bulan yang lalu.
"Kau mencariku, Sembada ?" tanya Yuangga.
Sembada berjalan mendekati pemuda itu, "Kau hendak melancarkan siasat licik apalagi, Yuangga ? Pengecut sekali mengorbankan isterimu dibantai oleh orang-orang sendiri ?"
"Kau tak perlu cemas, tidak akan terjadi apa-apa dengan Ambarwati,"
"Kau masih bilang tidak apa-apa ? Culas sekali pikiranmu, orang sepertimu memang tidak layak dibiarkan hidup," bentak Sembada.
"Kau pikir aku bodoh tega mengorbankan isteri yang aku cintai dan aku sayangi ..."
"Tarik kembali ucapanmu itu, orang-orangmu sudah menyerangnya, itu membangkitkan amarahnya. Sementara rakyatmu bertempur, kau hanya duduk disini, manusia macam apa kau ini sebenarnya?" sahut Sembada.
"Ha... ha... ha... ha... mereka ingin berperang, haruskah aku diam saja ? Kau tahu, aku sudah memerintahkan orang-orangku untuk menyampaikan kabar pada isterimu, bahwa aku menunggumu disini, tapi, lihatlah kebodohanmu, kau malah datang kemari tanpa tubuh kasarmu. Dengar, aku memenuhi janjiku yang telah kukatakan padamu. Kita akan bertarung hingga salah satu diantara kita terkapar di tanah. Kalau aku kalah, Ambarwati bisa kembali ke wujud aslinya dan Sandekala takkan ada lagi di dunia ini. Tapi, sebaliknya... kalau aku menang, seluruh kawasan ini menjadi milik Negeri Sandekala. Nah, kembalilah ke jasadmu dan hadapi aku di tempat ini. Kita akan bertarung secara jujur dan adil," kata Yuangga.
"Baiklah... aku pegang kata-katamu itu," ujar Sembada untuk kemudian kembali ke tempat dimana raganya berada.
__________
Sementara itu di perbatasan Tunggak Bayu, pecah perang antara orang-orang Sandekala dan Istana Adhep Bumi. Orang-orang Sandekala berniat menerobos masuk ke dalam wilayah Tunggak Bayu tetapi dihadang oleh pasukan Adhep Bumi yang dipimpin Panji Gumilang. Istana Adhep Bumi dibantu dengan ular raksasa bertanduk emas jelmaan Puteri Ambarwati.
Ular raksasa itu tampak beringas, mematuk kesana-kemari, sesekali menyabetkan ekornya tak dapat dihitung berapa banyak yang tewas seketika, sesekali pula ia menyemburkan bisa beracunnya ke orang-orang Sandekala, tak pelak lagi mereka yang terkena bisa tubuhnya pasti meleleh.
"Ular itu berada di pihak kita, lindungi dia," seru Panji Gumilang.
Korban berjatuhan dari kedua belah pihak, akan tetapi, tampaknya Pasukan dari Istana Adhep Bumi itu berada di atas angin. Prajurit-prajurit Sandekala kocar-kacir, sebagian dari mereka sudah patah semangat karena beberapa pemimpinnya telah tewas. Mereka sekedar memberi perlawanan seadanya.
Di tengah keputusasaan itu, dari jauh muncul 5 sosok bayangan hitam berkelebat dan berdiri di tengah-tengah Medan perang. Dari penampilan mereka, Panji Gumilang menyadari bahwa mereka bukanlah orang-orang sembarangan. Ia memanggil seorang prajurit, "Jangan gegabah, mereka bukan orang sembarangan. Kau, pergilah ke istana, kami membutuhkan bantuan 4 Ksatria Penjuru Angin dan perketat penjagaan seputar istana, jangan sampai orang-orang Sandekala menerobos istana,"
"Baik, Gusti,"
__ADS_1
"Hhiiaa !"
Teriakan Panji Gumilang membahana, tubuhnya melesat tinggi ke udara, menerjang ke arah 5 tamu tak diundang itu. 5 orang itu tersentak kaget, serangan itu begitu cepat sekali, merekapun melompat mundur.
Panji Gumilang berdiri gagah dengan tombak baja tergenggam erat di tangan kanannya. Jubahnya berkibaran diterpa angin, sementara, sepasang matanya menatap tajam kearah 5 calon lawannya itu.
"Kalian sudah berani menerobos masuk ke wilayah kami, maka, mohon maaf jika kami harus menghadang kalian semuanya. Sebelum korban bertambah, sebaiknya kalian segera meninggalkan tempat ini," ujar Panji Gumilang.
"Hmm, mungkin kaulah yang bernama Panji Gumilang, salah satu dari 5 Ksatria Penjuru Angin andalan Istana Adhep Bumi. Menurut kabar burung, setiap kali Adhep Bumi berperang, sama sekali belum pernah dikalahkan. Aku ingin sekali membuktikannya sendiri,"
"Siapa kau ? Kabar burung itu terlalu berlebihan, jadi percuma diperdebatkan," tanya Panji Gumilang.
"Hmm... Jika Adhep Bumi memiliki 5 Ksatria Penjuru Angin ... maka, Sandekala memiliki 5 Kala Bersaudara dan namaku adalah Kala Mujeng, dan keempat orang yang berdiri di belakangku itu adalah saudara-saudaraku, Kala Petak, Kala Peteng, Kala Sudra dan Kala Mayit," jelas pria bertubuh paling tinggi, tegap dan kekar itu.
"Kau hanya satu orang, kami berlima... yang aku cemaskan adalah Istana Adhep Bumi akan kehilangan kekuatannya jika kau binasa," sahut pria, bertubuh ceking dan berkulit pucat, sementara sepasang tangannya dilipat ke dada.
"Kau pasti bernama Kala Mayit... baumu seperti bangkai... kulitmupun pucat sekali, kelihatannya kau seperti menderita penyakit yang parah. Kau salah, sekalipun aku hanya satu orang... tapi, belum tentu aku takluk oleh orang berpernyakitan sepertimu," ejek Panji Gumilang.
"Bedebah... mulut kotormu itu... tampaknya harus dibersihkan," setelah memekik keras, ia menyerang Panji Gumilang dengan tapak tangannya. Panji Gumilang melompat mundur, gerakan orang itu sekalipun tidak secepat gerakannya namun, ia dapat merasakan kekuatan yang keluar dari telapak tangan yang hitam dan menebarkan aroma busuk.
"Hmm... aku dapat merasakan hawa aneh keluar dari telapak tangan laki-laki berwajah pucat itu. Tampaknya aku harus menghindari kontak fisik dengan tubuhnya yang bisa jadi mengandung racun yang cukup ganas dan mematikan," kata Panji Gumilang dalam hati.
"Duar... duar... duar..."
Serangan Kala Mayit yang dilancarkan secara bertubi-tubi itu menerpa ruangan kosong, terkadang mengenai badan pohon ataupun batu-batuan. Pepohonan yang jadi sasaran telapak tangannya mengering seketika, sementara batu-batuan itu hancur berantakan. Sebuah serangan yang cukup dahsyat dan mematikan.
Panji Gumilang terus melompat dan menghindar dari kontak fisik lawan, ia memang berniat menjajaki sampai dimana kepandaian Kala Mayit terlebih dahulu.
Kala Mayit tampak gusar, karena Panji Gumilang sama sekali tidak membalas serangan-serangannya, melainkan terus-menerus menghindar, "Ternyata 5 Ksatria Penjuru Angin hanyalah sekumpulan orang-orang pengecut..." kata Kala Mayit, "Bisanya hanya lari, lari dan lari, maka, kami memutuskan untuk menghancurkan saja Adhep Bumi ini," sambungnya sambil terus menyerang.
"Kau tak mampu menyentuh seujung rambutku pun, apakah orang-orang Sandekala bisanya cuma bermain kejar-kejaran. Menyentuh seseorang yang lemah saja tidak bisa ... mana mungkin bisa menghancurkan Adhep Bumi dan sekitarnya," ejek Panji Gumilang sambil terus sambil mengelak sesekali memukulkan ataupun menyodok tubuh Kala Mayit.
"Prak... prak...prak..."
Tak terhitung berapa kali tubuh Kala Mayit menjadi sasaran empuk tombak besi baja Panji Gumilang. Bunga-bunga api memercik manakala tombak dan tubuh itu beradu tapi, sepertinya, Kala Mayit tak merasakan apa-apa, malah serangannya cukup membahayakan.
__ADS_1
Panji Gumilang melompat mundur, ia baru sadar bahwa Kala Mayit memiliki ilmu kebal.
"He... he... he... he..., kenapa kau menghentikan seranganmu itu, anak muda ?" Kala Mayit tertawa dingin, "Apakah mata tombakmu sudah mulai tumpul ? Ayo tusukkan tombakmu kemanapun kau suka, aku takkan bergeming... he... he... he... he..."
Panji Gumilang tersenyum, "Ilmu kebal ? Kau pikir aku gentar ? Tidak. Aku sudah berulang kali menghadapi ilmu seperti ini," setelah berkata demikian, ia melompat beberapa tombak ke belakang. Mulutnya komat-kamit, tak lama kemudian ia menarik nafas dalam-dalam dan saat itu tombak bajanya tampak memancarkan sinar putih keperakan dan kembali ia menyerang secara beruntun.
Mata tombak itu menyambar kesana-kemari bagaikan Patukan ular, namun, Kala Mayit dengan tenang memberikan tangan-tangannya untuk menerima serangan itu.
"Pak... pak... pak... pak..."
Suara itu bagaikan suara bambu kosong dipukul berkali-kali. Kala Mayit merasa tangan-tangannya kebas dan mati rasa, dari luar orang lain bisa melihat ia tidak terluka oleh serangan itu, tapi, bagi orang-orang tertentu, bisa melihat bagaimana Kala Mayit berusaha keras untuk menahannya mati-matian. Serangan Panji Gumilang bersifat melukai langsung bagian dalam tubuh. Bagian luar tubuh Kala Mayit memang sekilas tak dapat ditembus oleh mata tombak, tapi, jika diserang seperti itu secara terus-menerus pada titik yang sama, bagian dalam tubuh bakal terluka parah atau bahkan hancur.
"Kakang Kala Mujeng, jika diserang seperti itu, mampukah Kala Mayit bertahan ?" tanya Kala Peteng.
"Sungguh tak pernah terlintas di benakku bahwa Adhep Bumi memiliki Ksatria sakti macam Panji Gumilang itu," sahut Kala Petak.
"Haruskah kita turun tangan untuk membantu Adi Kala Mayit, kakang Mujeng ?" tanya Kala Sudra.
Orang yang dipanggil dengan sebutan Kakang Kala Mujeng itu diam tak bersuara, hal itu membuat 3 Kala bersaudara yang lain gusar. Sementara itu, wajah Kala Mayit tampak semakin pucat, nafasnya tersengal-sengal dan...
"Hhhiiiaaa..."
Kala Mayit berseru keras, tubuhnya seakan-akan memancarkan cahaya kemerahan ke arah Panji Gumilang, mendorongnya sejauh satu meter. Ksatria Adhep Bumi itu menancapkan senjata andalannya ke tanah sementara cahaya itu dibiarkan melewati tubuhnya begitu saja.
"Dduuaarr !"
Sebuah batu karang yang berada di belakang Panji Gumilang luluh lantak oleh terjangan cahaya merah itu, beruntung tempat itu jauh dari pemukiman warga sekitar sehingga tidak ada korban jiwa namun kejadian itu menggegerkan semua orang yang berada di sekitar Medan perang.
Kala Mayit tertawa terbahak-bahak, "Ha... ha... ha... ha... kau kira seranganmu itu mampu menembus ilmu Dinding Besiku ? Kau terlalu meremehkanku anak muda," katanya.
Perkataan Kala Mayit itu bukan membuat gentar nyali Panji Gumilang. Ksatria Adhep Bumi itu tersenyum tipis, "Tak kusangka, ilmu Dinding Besimu cukup tinggi juga... aku sempat terkejut tapi, dengan demikian, aku tahu sejauh mana kekuatan tenaga dalammu itu Kala Mayit,"
"Gertak sambal, anak muda. Kau tahu ilmu Dinding Besiku, tak ada yang mampu mengalahkan atau menyamainya. Sudah saatnya kau mengganti tombak rongsokan-mu itu dengan senjata lain," ejek Kala Mayit.
"Orang ini sombong sekali, baiklah aku harus meningkatkan seranganku untuk menembus pertahanannya. Titik terlemah dari ilmu ini adalah titik yang paling kecil dan sensitif serta selalu ia lindungi. Tapi, aku belum menemukan titik itu," kata Panji Gumilang dalam hati sementara sepasang matanya menatap tajam ke arah Kala Mayit.
__ADS_1
3 Kala bersaudara yang tadinya cemas dengan keadaan Kala Mayit, kini menarik nafas lega. Pantas saja Kakak pertamanya tampak tenang-tenang saja. Kala Mayit pasti memenangkan pertarungan, itulah diyakini oleh mereka.
__________ Bersambung Jilid Ke-7