
Panggilan Kematian ( bagian kedua )
"Kring... kring... kring..."
Ponselku berbunyi, nama Kris tertera di monitor lcd ponsel-ku.
"Hallo," sapaku.
"Mike... Melly meninggal," sebuah kata-kata pelan tapi telingaku dapat mendengarnya dengan jelas sekali, aku tersentak.
"Yang benar, Kris..." tanyaku tak percaya.
"Pernahkah aku berbohong padamu ?"
"Kapan dan dimana ?"
"Dia gantung diri di halaman belakang rumahnya,"
"Baik, aku segera kesana," sahutku sambil meraih jaket kulit dan menuju ke garasi, deru mesin memecah kesunyian malam dan kupacu sepeda motorku secepat mungkin.
15 menit kemudian, aku tiba di rumah Melly yang ternyata sudah dipenuhi oleh warga, Kris berada di samping ibu Melly, Bu Izmi yang tengah menangis tersedu-sedu, sementara, Kris sedang berusaha menenangkannya. Aku berjalan menghampirinya.
Melihatku datang, Bu Izmi, wanita berumur 58 tahun itu segera memelukku erat-erat. Ia terus menangis, di sela-sela tangisnya ia menceritakan bagaimana kejadian itu.
Sebelum meninggal, Melly masih sempat membantu ibunya beres-beres di dapur... semua pekerjaan yang tidak biasa dilakukan, ia lakukan dengan riang gembira. Tapi, setelah mendengar ponselnya berbunyi, ia menghentikan kegiatannya. Ada nama Monica tertera di ponselnya... ia tidak mengangkat melainkan menangis tersedu-sedu dan berjalan ke halaman belakang.
Bu Izmi curiga, sudah sekian lama Melly di halaman belakang tidak kembali dan ia menyusulnya. Ia terkejut manakala melihat tubuh anaknya sudah tergantung pada sebuah dahan pohon waru yang tumbuh disana. Beberapa saat kemudian Kris datang dan dengan dibantu warga menurunkan tubuh Melly yang sudah kaku dan dingin.
__ADS_1
***
Camp Tawanan Para Psikopat Gajah Putih, malam itu tampak diterangi oleh lampu-lampu LED, namun tampak lengang, hanya beberapa sipir penjara yang berlalu lalang di halaman camp.
Di bangsal J-1008, tempat Jackie dikurung terletak paling ujung dan penerangannya minim. Semua orang sudah pada tidur, sementara Jackie masih duduk dan mengawasi ponselnya.
"Kring... kkrriinngg... kkkrrriiinnnggg..."
ponsel berbunyi nyaring, namun herannya tak ada tawanan lain yang mendengarnya.
Jackie tersenyum, "Malivalaya, aku sudah menunggumu, datanglah aku sudah siap menemanimu di alam sana,"
Pada saat itulah dari dalam LCD muncul jari-jemari putih pucat tak berkuku, menyusul diantara kedua lengan yang dibungkus dengan pakaian putih, muncul sebuah kepala wanita berambut hitam kusut, panjang dan tergerai semakin lama semakin naik ke atas hingga kemudian dari dalam layar lcd itu keluar kaki yang hanya berupa tulang dibungkus kulit mendahului badannya.
Kini di hadapan Jackie sudah berdiri sesosok wanita mengenakan pakaian putih kecoklatan, kepalanya menunduk dan rambutnya dibiarkan tergerai menutupi wajah. Sosok itu berjalan tertatih-tatih mendekati Jackie. Pemuda itu tersenyum dan tanpa berkata apa-apa, ia memeluk sosok itu sambil berkata, "Tugas sudah selesai, mari kita pulang,"
Setelah berkata demikian sosok itu menghilang dan tubuh Jackie ambruk tidak bergerak-gerak lagi. Rohnya terlepas dari raga, dari sudut bibirnya tersungging senyuman tipis.
***
Mayuree duduk memandangi serpihan semen yang berserakan di lantai. Dari sudut matanya yang indah menetes 2 titik bening untuk kemudian mengalir membasahi pipinya.
"Mā li wā lạy chatā k̄hxng cêā ch̀āng ǹā s̄mphech s̄eīy cn tāy k̆ t̂xng thn thukk̄h̒ xỳāng nī̂ k̄hx phā pị nı thī̀ s̄mkhwr t̄heid”
( "Malivalaya, nasibmu begitu mengenaskan, hingga saat matipun kau menderita seperti ini. Ijinkanlah aku mengantarmu ke tempat yang layak," ) katanya sambil menyapu bersih serpihan semen itu untuk kemudian dimasukkan ke dalam kantong mayat. Dan membawanya pergi.
Chao Praya, itulah tujuannya ia kemudian melantunkan puji-pujian kepada Yang Maha Esa sementara, tangannya bergerak memasukkan kantong mayat itu ke dalam sebuah peti kayu yang sudah diletakkan pada tumpukan kayu dan tumbuh-tumbuhan kering.
Api dinyalakan. Dalam sekejap mata nyala api membesar, membakar peti mati di atas kayu. Upacara kremasi itu dihadiri oleh pihak keluarga yang masing-masing sudah melantunkan doa demi ketenangan arwah Malivalaya / Monica.
"Meụ̄̀x cêā klạb mā k̄ĥā k̄hx h̄ı̂ cêā chokh dī kẁā nī̂ na phī̀ chāy”
__ADS_1
( "Kelak jika kau kembali, semoga nasibmu lebih baik dari ini, saudaraku," ) doa terus dilantunkan, asap hitam membumbung tinggi ke angkasa. Angin berhembus perlahan, membawa sebagian gumpalan asap itu ke berbagai penjuru dunia.
***
Gumpalan asap itu mendarat di sebuah tempat, perlahan-lahan membentuk siluet-siluet misterius. Siluet-siluet itu menyerupai sesosok wanita, ia berambut ikal berwarna hitam, panjang sebatas bahu. Berbaju merah dengan celana jeans biru, ia tersenyum saat bertemu dengan seorang wanita bule berumur lebih kurang 49 tahunan tetapi masih cantik dan sexy.
Wanita bule itu termenung sesaat lamanya, mendadak wajahnya berubah menjadi pucat pasi, "Ma... Ma... Malivalaya," katanya gugup.
Sosok wanita berbaju merah itu memandang tajam, ia meraih sebuah kamera yang tergeletak sembarangan dan mulai mengarahkan kamera itu kepada wanita bule itu.
"Hi, Kat... how are you today ? Remember me ?"
( Hei, Kat bagaimana kabarmu hari ini ?
Masih ingat denganku ?" tanyanya.
"N... n... no way, aren't you already dead,"
( "Ti... ti... tidak mungkin, bukankah kau sudah mati," )
Serunya sambil berjalan setengah berlari saat jepretan kamera itu menghujaninya hingga tanpa sadar membawanya ke tengah jalanan yang cukup ramai. Dan...
"Tttiiinnn,"
Bunyi klakson sebuah truk terdengar memekakkan telinga saat wanita bule itu menoleh, bagian depan. truk itu sudah menabrak dan menyeretnya sejauh 20 meter sementara jepretan kamera terus berlangsung hingga akhirnya berhenti dan sosok wanita itu perlahan-lahan menghilang.
..._____ T A M A T _____...
...Diedit oleh author tgl :...
...13 September 2022...
__ADS_1