
Awal
"Kkrriinngg"
Bunyi itu membuatku melompat dari tempat tidurku, tak biasanya malam-malam begini ponselku berbunyi sedemikian kerasnya.
"Cih, mengganggu saja," umpatku, "Siapa tengah malam begini meneleponku, merusak mimpi indahku saja," keluhku dalam hati.
Dengan malas, aku meraih ponsel yang terletak pada meja tak jauh dari tempat tidurku. Aku memicingkan mata, sinar ponsel benar - benar membuat mataku silau, tapi aku bisa melihat siapa si pengganggu itu dan mataku terbelalak lebar manakala dalam monitor layar tercantum nama 'Yuniar'.
Haruskah aku merasa senang atau bersedih saat menerima telepon darinya padahal 3 bulan yang lalu membuat hatiku terluka dengan memutuskan hubungan cinta kami yang sudah berjalan lebih dari 3 tahun itu. Tapi, jikalau dia meneleponku pada tengah malam begini, pastilah ada sesuatu yang tidak beres terjadi padanya.
"Halo..." sapaku.
Di seberang sana, kudengar Isak tangis seorang wanita, suaranya tidak asing bagiku, Yuniar.
Di sela-sela Isak tangis terdengar kata-katanya, sekalipun lemah tapi aku dapat mendengarnya jernih dan jelas.
"Mas Roni ... meninggal, mas,"
__ADS_1
Aku tersentak, "Apa, bagaimana mungkin ? Padahal kemarin dia baik-baik saja, bahkan sempat bercanda denganku,"
"7 hari yang lalu, sebelum meninggal, ia menerima sebuah MMS / foto aneh dan mengerikan, mas. Aku tak tahu darimana asalnya, setelah ia meninggal foto itu hilang,"
Aku terkejut. Yah, beberapa hari yang lalu ia sempat menunjukkan foto tersebut; Foto seorang wanita berbaju putih berambut panjang terurai... wajahnya tidak jelas... apakah foto itu yang dimaksud oleh Yuniar ?
"Dia meninggal secara mengerikan, mas... aku, aku, aku tak bisa melukiskannya, terlalu mengerikan untuk kuceritakan,"
"Baik, sekarang juga aku berangkat ke rumah kalian. 10 menit lagi...."
"Iya, mas... kutunggu, tapi ... apa itu ?" ucapannya terhenti sesaat sebelum kemudian dari microphoneku terdengar teriakan histeris.
"Tidak... tidak... jangan ganggu aku... pergi! jangan, tidak!! AAAKKKHHH..."
"Halo, Yuniar..." panggilku berulang kali. Tak ada jawaban, yang terdengar adalah dengungan panjang. Aku segera menutup ponsel, meraih jaket dan bergegas menuju ke garasi.Tak lama kemudian, aku sudah duduk, mesin sepeda motorku menderu dan kupacu menuju rumah Yuniar yang jaraknya cukup jauh dari rumah.
Selama di perjalanan, kucoba menghubungi Yuniar, tapi, tak ada jawaban. Sepersekian detik kemudian ponselku berbunyi, nama "Monica" terpampang pada LCD ponselku.
Tak ada waktu untuk menjawab panggilannya, tujuanku harus tiba di rumah Yuniar secepatnya.
Roda-roda motorku menggilas aspal jalanan, tengah malam begini jalanan tampak sunyi, sepi dan lengang terlebih gelap gulita. Satu-satunya cahaya yang menerangi jalan adalah cahaya utama pada bagian depan sepedaku, sementara, kanan kiri jalan yang tampak hanyalah deretan pohon Jambe lebat dan berukuran raksasa.
Aku sudah sampai di ujung jalan yang terpecah menjadi empat bagian. Kuambil tikungan sebelah kiri karena itu satu-satunya jalan alternatif menuju ke rumah Yuniar.
__ADS_1
Setelah menyusuri jalanan setapak lebih kurang 15 menit, sampailah aku di rumah Yuniar. Aku terbelalak, tak biasanya malam-malam begini pintu rumahnya terpenting lebar. Hatiku semakin tidak enak terlebih melihat ada beberapa mobil polisi dan ambulan diparkir di halaman rumahnya.
"Siapa, kau anak muda?" seorang pria setengah baya mengenakan seragam dinas kepolisian menghadang jalanku.
"Aku adalah sahabat karib pemilik rumah ini Yuniar, pak... bisa tolong katakan apa yang telah terjadi disini?" tanyaku.
"Saya menyesal, anak muda... pemilik rumah ini baru saja meninggal," jawabnya.
Aku tersentak, "Tidak mungkin, Yuniar baru saja meneleponku !" kataku tak percaya....
Pria yang berpakaian polisi dengan bed nama "Riyadi" itu menatapku dalam-dalam seolah hendak menembus jantung sesaat, "Dia meninggal dalam keadaan mengerikan, history panggilan telepon memang berakhir pada namamu,"
"Maaf, pak... bolehkah aku melihat jenazahnya?" pintaku.
Petugas Polisi yang bernama Riyadi itu menghela nafas, "Baiklah, ikuti saya. Tubuh mereka saya temukan di tempat yang berbeda. Sekarang sudah dimasukkan ke kantong mayat dan hendak dibawa ke RSU untuk keperluan otopsi. Jangan merusak TKP,"
Aku mengikuti Pak Riyadi dari belakang saat tiba di salah satu kereta dorong, ia berkata, "Yang ini jenazah laki-lakinya. Tabahkan hatimu saat melihatnya," sambil berkata demikian tangan Pak Riyadi yang masih tertutup oleh kaos tangan itu membuka sebagian kantong mayat bagian kepala.
Sepasang mataku terbelalak manakala melihat keadaan jenazah Roni. Aku tak mempercayai pandangan mataku. Terlebih Pak Riyadi menunjukkan jenazah Yuniar, seisi perutku bergolak naik ke atas, tertahan di tenggorokan, tapi aku tak kuasa menahannya, dan
...................
...__________...
__ADS_1