DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
Gerbang Kematian Episode 01 : Alas Sewu Dino ( babak kedua )


__ADS_3

#2


Ki Jampang tertegun setelah mendengar cerita Jatayu, ia teringat akan pertemuannya dengan Ki Jagabaya. Jelas Ki Jagabaya tidak ingin menunggu terlalu lama untuk mendidiknya menjadi salah satu penguasa Hutan Sewu Dino.


"Paman," sapa Jatayu membuyarkan lamunan pria tua itu, "Kalau boleh saya tahu, siapa pemilik suara itu. Mengapa dia begitu menginginkan saya untuk menuju ke hutan itu ?"


"Ngger Jatayu, memang sudah waktunya kau mengetahui jati dirimu. Sekalipun aku ingin menjelaskan asal-usulmu, tapi, ada sesuatu yang membuatku tidak bisa menceritakannya. Mungkin lebih baik kau sendiri yang mencari tahu. Ingatlah, selama kau berada di Alas itu... kau harus menjaga sikapmu, apapun yang terjadi hendaknya kau berserah diri pada Yang Maha Kuasa. Hanya dengan itu kau pasti selamat,"


"Terima kasih, paman... mohon doa restunya agar Tayu bisa segera menyelesaikan apa yang diamanatkan oleh Ki Jagabaya dengan baik,"


"Sesampai disana, angger bisa menemui Datuk, beliaulah yang akan membimbing dan menjagamu selama di Alas Sewu Dino. Restuku menyertaimu, ngger,"


***


Alas Sewu Dino. Sebuah hutan yang terletak di kaki Gunung Seribu Bunga. Tak seorangpun berani menginjakkan kakinya di tempat itu. Konon, menurut kabar yang tersebar di desa Karang Paten dan sekitarnya, hutan itu adalah gerbang menuju dunia lain. Dihuni oleh bangsa lelembut yang kerap kali menampakkan diri pada siapa saja yang tanpa sengaja maupun tidak sengaja menginjakkan kakinya disana.


Pernah juga ada seorang tukang kayu yang kebetulan lewat dan mencari kayu disana, namun ia tak bisa keluar dari sana selama berhari-hari, tiga hari kemudian para penduduk menemukannya dalam keadaan linglung. Ia ditemukan tak jauh dari bibir hutan.


Pagi itu dengan dihantar Ki Jampang, Jatayu sudah tiba di bibir hutan. Sepasang mata anak berumur 10 tahun itu, tidak lepas memandangi deretan pohon beringin yang tingginya lebih kurang 5 kaki orang dewasa. Dahan dan ranting tumbuh tak beraturan dan diikat oleh serabut-serabut akar menjalar dan bergelantungan di tengah udara, mirip dengan rambut wanita yang panjang dan tergerai.


Bulu kuduknya meremang saat angin berhembus perlahan, menggoyang dedaunan yang tumbuh lebat dan rimbun saling bergesek hingga menimbulkan suara tidak nyaman di telinga. Akan tetapi, kebulatan tekadnya membuat ia seakan digerakkan oleh kekuatan tak kasat mata pada kaki-kakinya untuk melangkah masuk ke dalam hutan tanpa menoleh ke belakang lagi.


Ada fenomena aneh dalam hutan seribu hari ini, semua tanaman yang tumbuh di sekitar hutan ini, kecuali pohon-pohon beringin, umurnya hanya seribu hari, lebih dari seribu hari mereka layu digantikan oleh tanaman liar, rumput-rumputan dan ilalang setinggi orang dewasa. Tapi, jika tak ada satupun tanaman yang tumbuh dan tanahnya berubah menjadi tandus, itu merupakan petanda akan terjadi sesuatu di Karang Paten dan sekitarnya.


Nama KARANG PATEN sendiri berasal dari sebuah peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu. Dimana waktu itu hidup seorang wanita muda yang termasyhur akan kecantikannya, Raden Roro Ambarwati, Puteri seorang raja di Kawasan Alas Sewu Dino ini. Begitu cantiknya hingga mengundang para bangsawan untuk mencoba meminangnya. Tapi, sang putri menolaknya, hal itu dikarenakan ia telah jatuh hati pada salah seorang penduduk lokal bernama Sembada. Hubungan mereka sama sekali tidak diketahui oleh orang kalangan istana.


Hingga pada suatu hari, datanglah seorang pemuda gagah dan tampan rupawan yang berasal dari negeri yang cukup jauh. Tapi lagi-lagi sang putri menolaknya dan itu membuat Kerajaan Sandekala, tempat pemuda bernama Yuangga Bayu Mukti berasal merasa tersinggung dan mencanangkan perang. ( Sandekala : disini diartikan sebagai Senja. Yang merujuk ke arah kerajaan gaib )


Kejadian ini benar-benar di luar dugaan, peperangan pun pecah. Korban dari kedua belah pihak pun berjatuhan, Kerajaan Tunggak Bayu berhasil dipukul mundur, para prajuritnya kocar-kacir dan sebagian ada yang lari hingga ke Gunung Kembang Sewu.


"Cari Sang Puteri, bilamana perlu obrak-abrik ke setiap sudut hutan ini jangan biarkan lolos," Yuangga memerintahkan. Pembantaian besar-besaran terjadi, para penduduk pun jadi sasaran mulai dari bayi, anak kecil, remaja hingga kakek nenek. Itu adalah taktik dari Yuangga Bayu Mukti untuk memancing Raden Roro Ambarwati keluar dari persembunyian.


Raden Roro Ambarwati yang tidak tega dengan nasib penduduk desa, akhirnya keluar juga bersama kekasihnya Sembada.


"Puteri culas, jika sejak tadi kau keluar dari tempat persembunyianmu, mungkin ini tidak perlu terjadi. Baiklah karena kau sudah muncul, aku akan memberimu kejutan," setelah berkata demikian Yuangga membentangkan kedua tangannya, mulutnya komat-kamit membaca mantra dan secara ajaib mayat-mayat penduduk Tunggak Bayu yang bergelimpangan tak tentu arah mendadak bangkit lagi.

__ADS_1


Ambarwati membelalakkan mata, ia sama sekali tak menyangka kejadian yang tak bisa diterima oleh akal sehat itu.


"Ketahuilah, Putri Ambarwati, buka matamu baik-baik, apakah mereka adalah penduduk asli negerimu ? Aku telah merapal aji Malih Rupa, kupinjam wajah-wajah penduduk sekitar Tunggak Bayu ini untuk menyamarkan orang-orang Sandekala menjadi penduduk Tunggak Bayu," kata Yuangga sambil tersenyum licik.


"Lalu dimanakah penduduk Tunggak Bayu yang sebenarnya ?" tanya Ambarwati.


"Mereka jadi tawanan perang kerajaan Sandekala. Aku berjanji akan membebaskan mereka apabila kau bersedia menjadi isteriku,"


Puteri Ambarwati melirik ke arah Sembada yang masih berdiri di sampingnya.


Tampaknya, Sembada mengerti apa yang menjadi beban pikiran Ambarwati, maka, ia menarik tangan dara jelita itu dan melangkah ke tempat yang agak jauh.


"Dinda Ambarwati... menyelamatkan nyawa orang lebih penting... jika kau menuruti perkataannya semuanya akan baik-baik saja,"


"Kanda pikir aku akan menikah dengan pemuda licik dan jahat itu ? Tidak, kanda... lebih baik aku mati daripada mengkhianati cinta yang kita pupuk lama, aku tak merelakannya,"


"Dengar, sebagai seorang Puteri kerajaan Tunggak Bayu, hendaknya harus mementingkan urusan negara daripada pribadi... " kata Sembada sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Ambarwati, "Selamatkan dulu para penduduk, itu lebih penting. Seribu Hari lagi, aku akan ke Sandekala untuk menjemputmu. Percayalah padaku, Dinda.... satu pintaku, jagalah cinta kita selalu, hingga maut datang menjemput kita," bisiknya.


Berbekal dengan kata-kata yang diucapkan oleh Sembada, dengan sangat terpaksa Raden Roro Ambarwati bersedia menerima lamaran Yuangga. Hari itu ia diboyong ke istana Sandekala. Sesuai dengan janji, Yuangga membebaskan para penduduk Tunggak Bayu 3 hari setelah pernikahannya dengan Raden Roro Ambarwati.


Entah sudah berapa lama Sembada menelusuri badan Gunung Kembang Sewu namun sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah hamparan tanah gersang dan tandus. Panas terik matahari membakar sekujur tubuhnya yang Kumal dan berdebu. Bibir mengering dan kerongkongan serasa panas, ia baru sadar bahwa semenjak berpisah dengan kekasihnya, perutnya kosong. Di benaknya yang ada hanya ingin bertemu dengan penguasa Gunung Kembang Sewu dan sekitarnya. Beban berat seakan menekan bahunya yang kini hanyalah tinggal tulang dibungkus dengan kulit.


Keputus asaan telah merayapi seluruh aliran darah dan nadi, membuat lututnya seakan tak mampu digerakkan lagi. Lemas tak bertenaga, iapun roboh bergulingan di tanah tandus dan kering itu.


***


Sembada membuka matanya dan mendapati tubuhnya tengah terbaring di sebuah pembaringan beralas sutera. Aroma harum semerbak menggelitik hidungnya. Tak jauh dari hadapannya, seorang wanita cantik berbaju ungu duduk di sebuah bongkahan batu granit membelakanginya.


"Kau sudah siuman ?" kata wanita itu. Suaranya jernih bagaikan gesekan butiran-butiran mutiara, merdu bagaikan nyanyian para Dewi di Kahyangan. Tubuh Sembada masih terlalu lemah untuk bergerak, karena belum mampu menggerakkan badannya, ia hanya bisa tersenyum.


"Aku menemukanmu pingsan tak jauh dari tempat ini, jika aku tidak melewati daerah itu, mungkin kau sekarang sudah menjadi makanan hewan-hewan liar di Kembang Seribu ini. Keadaanmu sangat memprihatinkan, jadi sekalipun di wilayah kami melarang laki-laki berkunjung disini, aku terpaksa melanggarnya. Setelah kau pulih, barulah kau bisa melanjutkan perjalananmu ke puncak. Ingatlah, selama kau menuruti perintahku, semuanya akan baik-baik saja. Jika tidak, aku tak bisa menjamin keselamatanmu," ujar wanita itu kali ini suaranya terdengar dingin sekali sambil menjentikkan jari jemarinya ke arah Sembada. Sebuah asap tipis keluar, melayang dan masuk ke lubang hidungnya, Sembada merasa matanya berat dan akhirnya terpejam rapat.


***


Beberapa hari kemudian keadaan Sembada membaik, wanita yang menolongnya ternyata ada salah satu bekas pengawal setia Raden Roro Ambarwati. Diatas telah disebutkan, pasukan Tunggak Bayu berhasil dipukul mundur oleh Kerajaan Sandekala, banyak para prajurit dan punggawa-punggawa istana yang melarikan diri ke dalam hutan. Diboyongnya Puteri Ambarwati ke Sandekala membuat orang kerajaan tidak terima, maka diam-diam mereka menyusun kekuatan di tempat ini sambil menunggu munculnya seorang pemimpin untuk menyerang kembali Kerajaan Sandekala.

__ADS_1


Keadaan ini membuat semangat Sembada yang nyaris padam kembali menyala, maka, ia bertekad untuk bangkit dari keterpurukannya dan segera meninggalkan tempat itu dan memperdalam ilmu Kanuragan nya yang kalah jauh dengan Yuangga Bayu Mukti.


"Demi Raden Roro Ambarwati, Apapun akan kutempuh sekalipun dunia lelembut di sekitar Kembang Sewu ini," itulah sumpahnya. Alam seakan pecah dengan sumpahnya ini, berulangkali kilat menyambar, Guntur menggelegar. Bumi Kembang Sewu seakan bergetar hebat dan tanah gersang serta tandus itu mendadak terbelah. Entah ini karena sumpah yang dikumandangkan atau hanya kebetulan saja.


Dari dalam tanah yang terbelah itu bermunculan sosok-sosok aneh lagi mengerikan, mereka berdiri mengelilingi Sembada. Menyusul kemudian tubuh Sembada seakan ditarik masuk ke dalam bumi. Disana sudah menanti seorang wanita yang luar biasa cantiknya, duduk pada sebuah singgasana berwarna kuning keemasan. Lantainya berlapis batu pualam, di kanan-kiri wanita itu berdiri 2 pria raksasa bertubuh kekar, kulitnya hitam legam bagaikan arang, dadanya ditumbuhi bulu-bulu yang cukup lebat. Gada besi hitam raksasa, seakan tertanam di lantai diantara paha kanan kirinya. Ada hawa dingin keluar dari dalam gada itu.


"Selamat datang di istana Adhep Bumi ini, Sembada. Aku sudah menunggumu sejak Sandekala menyerang Tunggak Bayu beberapa hari yang lalu," kata wanita cantik itu.


"Siapa kau, Raden Ayu ? Bagaimana kau bisa mengenalku sementara, kita baru bertemu di... Istana Adhep Bumi ini ?"


"Keputusasaan mu yang menghantarkan dirimu ke tempat ini, Sembada... kau tahu tempat ini jarang, bahkan tak pernah dikunjungi oleh orang-orang dari bumi atas sana,"


"Bumi atas ?" tanya Sembada heran.


"Yah, bumi atas..." sahut wanita itu perlahan-lahan berdiri dan melangkah mendekati Sembada. Lenggak-lenggok tubuhnya membuat jantung Pemuda berusia 25 tahun itu berdegup kencang terlebih saat jari-jemarinya meraba wajah dan dadanya. "Hmm, kau memiliki tulang dan otot yang bagus. Bagaimana kau bisa kalah dengan Yuangga Bayu Mukti itu," katanya.


"Itu karena aku malas berlatih ilmu Kanuragan, ilmuku rendah sekali. Maka dari itu aku ingin mendapatkan guru yang bisa membantuku menyelematkan Ambarwati," ujar Sembada sambil menundukkan wajah.


"Aduh, jangan cemberut seperti itu," kata Wanita itu sambil mengangkat dagu Sembada dengan jari jemarinya yang halus dan lentik, "Aku bisa membantumu mewujudkan keinginanmu itu, Sembada. Namun, kau bisa mengalahkan Yuangga atau tidak, itu tergantung dari dirimu sendiri, bocah tampan,"


"Apakah ucapan Raden Ayu ini bisa dipercaya ?" tanya Sembada.


Sepasang mata wanita itu mendadak berkilat-kilat, memancar kemerahan membuat Sembada terkejut. "Seranglah aku darimanapun kau suka. Kerahkan seluruh kepandaianmu, jangan ragu-ragu. Kalau kau berhasil menyentuh tubuhku sedikit saja, maka, kukembalikan kau ke dunia atas," kata wanita itu.


"Raden Ayu, apa anda serius ?"


"Apa kau terbiasa memandang sebelah mata orang di hadapanmu. Pantas saja kau tak mampu mengalahkan Yuangga Bayu Mukti dan membiarkannya merebut kekasihmu," ujar wanita itu, "Lagipula Ambarwati itu juga bodoh, lebih baik mati saja daripada menikah dengan orang yang bukan pilihan hatinya. Bodoh,"


"Mohon maaf, Raden Ayu, kau boleh menghinaku tapi jangan kau hina Ambarwati yang berani berkorban demi negaranya,"


"Hi... hi... hi..., sekali bodoh tetaplah bodoh," ejek wanita itu. Wajah Sembada merah padam, ia menggerakkan tangannya untuk menampar pipi dara jelita itu.


Sembada kaget, tubuh wanita itu menghilang, tamparannya menerpa ruangan kosong. Tak sampai satu detik, ia merasakan ubun-ubun nya bagai disengat listrik tegangan tinggi. iapun roboh tak sadarkan diri. Telunjuk kanan wanita itu telah mendarat pada ubun-ubun, tubuh Sembada serasa lemas, kedua lututnya tak bertenaga, Iapun roboh tak sadarkan diri.


__________ Bersambung Jilid Ke-3

__ADS_1


__ADS_2