
02. Penghuni Alas Purwo
Lampu-lampu kota mulai menerangi jalan yang mulai ramai dengan kendaraan berlalu lalang. Lukas menarik nafas lega, satu persatu diantarkannya semua orang ke rumah masing-masing. Karena rumah Da’i Bachtiar agak jauh dari kota, dia diantar pulang belakangan. Kebetulan rumahnya sejalan dengan rumah Da’i, masih butuh setengah jam lagi untuk sampai ke tujuan. Maka, Lukas menghentikan mobilnya pada sebuah warung kecil di tepi jalan.
“Kita minum kopi dulu, Tiar... soalnya, dari tadi aku ingin sekali minum kopi,” ujar Lukas. Bachtiar mengangguk setuju, memang dari tadi ia juga ingin sekali minum kopi, tapi, teman-teman pada enggan berhenti barang istirahat sebentar. Perut juga sudah keroncongan. Di dalam warung Lukas memesan secangkir kopi hitam dan nasi rawon sedang Bachtiar juga memesan secangkir kopi hitam dan nasi goreng mawut. Udara memang dingin, rasanya hanya 2 menu itu cocok untuk menahan hawa dingin yang mulai menyelimuti kota Banyuwangi. Biasanya menjelang malam hari, kota ini udaranya panas, tapi, entah malam ini udara begitu dingin, berkabut pula.
Sambil menunggu hidangan pesanan mereka siap, Lukas menatap Bachtiar yang duduk di sebelah kirinya. “Sepulang dari Alas Purwo, kau yang biasanya banyak bicara, kok diam seperti patung ? Apa ada masalah ?” tanyanya dengan kata-kata lirih. Dari 20 orang rekan kerja di kantornya, Bachtiar lebih terbuka dan sering menghabiskan waktu istirahat bersama Lukas. Di sepanjang perjalanan, Lukas lebih memperhatikan jalan sehingga tak mungkin berbicara panjang lebar dan santai seperti sekarang ini.
“Akan kuceritakan padamu apa yang kualami di Alas Purwo tadi... tapi, cukup untuk kita berdua saja. Bisa, tidak ?” tanya Bachtiar hati-hati.
“Kini sikapmu jadi aneh. Tapi, baiklah aku berjanji. Ceritakanlah,”
“Kau tahu, monyet besar hitam yang ditembak Lukman siang tadi ?”
Lukas mengangguk, “Bukankah monyet itu menghilang ?”
Bachtiar menggelengkan kepala, “Tidak. Monyet itu ada, tapi yang kuherankan ... semua teman sudah memeriksa tempat itu dengan teliti setiap inchi, tapi, mereka tidak menemukannya. Coba kau tebak, mungkinkah bangkai bisa menghilang dan muncul tiba-tiba di tempat yang sama ?”.
Lukas menggeleng, “Tentu saja tidak,”
“Tapi aku menemukan bangkai itu, setelah mereka meninggalkan tempat itu. Dia tidak mati, hanya pingsan. Tubuhnya tergeletak di tempat dimana Lukman berdiri. Yang mengherankan, Lukman sama sekali tak melihatnya. Aku dapat melihat dengan jelas bahwa yang ditembak itu bukanlah monyet... tetapi, menyerupai manusia. Cuma ukurannya dua kali lipat lebih besar daripada tubuh manusia pada umumnya. Keturunan raksasa mungkin. “ jelasnya.
Lukas tersentak,”Tidak mungkin. Lalu, apa yang kaulakukan ?”
“Aku mengobatinya, setelah itu di sekelilingku, bermunculan monyet-monyet hitam legam ...” kemudian Bachtiar menjelaskan apa yang terjadi selanjutnya.
...__________...
__ADS_1
Lukas mendengarkan dengan seksama, setelah terdiam beberapa saat, “Jika yang kau ceritakan benar ... mungkin saja hal-hal buruk bisa menimpa teman-teman kita,”. Da’i Bachtiar terdiam, mendadak saja sepasang matanya mengarah pada seorang wanita cantik berkebaya merah duduk agak jauh persis di hadapannya, ia tersenyum manis. Untuk kesekian kalinya, Bachtiar terpaku tak bisa berkata apa-apa. Bagaikan kena sihir ia terus memandangi wanita itu sekian lama, rohnya bagaikan lepas meninggalkan raga tak sadar bahwa Lukas sudah berulang kali memanggil.
Da’i Bachtiar tersadar, saat bahunya dipegang kuat-kuat oleh Lukas. Di hadapannya sudah tersaji makanan dan minuman yang dipesan. Asap berbau harum dan sedap melayang-layang di udara, sebagian masuk ke dalam lubang hidung 2 pria yang duduk tak jauh di dekatnya. Mereka segera saja meraih peralatan makan dan sedikit demi sedikit mereka mengisi mulut dengan nasi dan lauk pauk. Sambil mengunyah makanannya, Lukas menatap Bachtiar tanpa berkedip, “Kau... sepertinya sedang melamun. Aku memanggilmu dari tadi tapi kau seperti tak peduli. Katakan padaku apa yang baru saja kau lamunkan ?!”
“Aku melihat wanita itu di sudut sana, lurus tepat dimana kita duduk,” jawabnya. Lukas mengalihkan perhatiannya ke arah yang disebutkan temannya itu. Tak ada siapa-siapa disana, hanya sepasang muda-mudi yang baru datang dan duduk di kursi itu.
Lukas penasaran, “Aku tak melihat siapa-siapa disana. Tapi, sudahlah lebih baik kita segera habiskan makanan ini setelah itu pulang dan beristirahat, kita semua sudah pada letih,”
Setelah menyelesaikan makan malamnya, kedua pria itu kembali meneruskan perjalanan. Saat Da’i Bachtiar turun dari mobil dan melangkah menuju halaman rumahnya, Sulastri yang saat itu sedang mengandung anak pertama sudah menunggunya di depan pintu masuk.
Kedatangan sang suami disambut dengan hangat, untuk sementara kejadian di Alas Purwo terlupakan saat pasangan suami isteri itu melepas rindu dan malam itu tidak terjadi apa-apa.
Satu minggu kemudian kantor tempat Bachtiar bekerja geger. Meja kerja Lukman yang biasanya rapi dan bersih, berantakan. Berkas-berkas yang ada di lemari juga berantakan. Lukman marah sekali, sepanjang hari jadi uring-uringan, sikapnya terhadap teman-teman berubah seratus delapan puluh derajat.
Seringkali apabila marah-marah, ia merusak apa saja yang ada di dekatnya dan mudah sekali menampar orang yang tidak sepaham dengannya.
Teman-teman sekantor yang semula ramah dan baik, satu per satu meninggalkan Lukman hingga pria itu merasa kesepian. Yang menjadi temannya adalah sebotol minuman beralkohol dan rokok. Akibatnya, iapun harus kehilangan pekerjaannya. Citranya menjadi buruk. Tak lama kemudian, ia ditemukan menjadi mayat dengan sebutir timah panas menembus kerongkongannya.
Kejadian yang sama juga dialami oleh Amir, Najib, dan Andre. Mereka semua tewas secara mengenaskan setelah diberhentikan dari tempat bekerjanya. Tinggallah Lukas, Romli dan Da’i Bachtiar yang masih bertahan di kantor itu. 3 orang itu kini duduk satu meja, Bachtiar memegang kendali atas situasi yang memprihatinkan itu. Kantor kebetulan sepi. Jam menunjukkan pukul 12:00 siang, jam istirahat, dengan makanan dan minuman ala kadarnya di ruang dapur, mereka duduk mengelilingi meja makan. Wajahnya tampak tegang sekali.
“Semua kejadian ini disebabkan karena kesalahan kita saat berburu di Alas Purwo,” Kata Bachtiar.
“Apa hubungannya dengan itu, pak ?” tanya Romli.
“Sebenarnya, aku sudah mengatakan pada almarhum Pak Lukman, agar lokasi berburu di Alas Purwo sebaiknya dipindah ke tempat lain. Akan tetapi, beliau tidak setuju.”
“Mengapa demikian ?” Pak Lukas masih penasaran.
__ADS_1
Bachtiar kemudian menjelaskan apa yang dialaminya saat berada di Alas Purwo, semula ia ragu Pak Romli bisa menerima penjelasan itu. Akan tetapi, dengan mengejutkan ia berkata, “Semula kukira hanya aku yang mengalami hal aneh sehingga tak memberitahukannya pada mereka, bisa-bisa aku jadi bahan tertawaan teman sekantor. Tetapi, mendengar penjelasan Anda... saya percaya bahwa ini semua berawal dari saat kita berburu disana. Semenjak menginjakkan kaki di tempat itu, saya mendengar suara. Suara itu terdengar seperti ‘Pergilah dari sini, jangan ganggu kami,’ suara itu makin terdengar saat Pak Lukman menembakkan senapan anginnya ke arah kawanan monyet hitam itu. Saya tak mungkin mengatakan hal itu pada kalian,” jelasnya.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang ?” tanya Lukas dari suaranya gemetar, seolah ia akan mengalami nasib yang sama dengan rekan-rekannya. Bachtiar menghela nafas panjang, “Diantara kita bertujuh, hanya Pak Lukman, Pak Andre dan Pak Amir yang berburu, kita hanya ikut mendampingi. Penghuni Alas Purwo takkan berbuat macam-macam pada kita ...” ucapan Bachtiar terputus, mendadak saja dari arah pintu masuklah seorang nenek tua. Tubuhnya bongkok, rambut putihnya disanggul, pakaian yang dikenakan hitam, panjang sebatas lutut, saat kakinya melangkah terdengar bunyi ketukan dari tongkat buntutnya membentur lantai ruangan.
Semua orang terkejut, selama bekerja di kantor itu, mereka tidak tahu ada seorang nenek-nenek tua yang ternyata juga tinggal dan bekerja disitu.
Nenek tua itu batuk-batuk sebentar sebelum ia berkata dengan suara serak, “Apa yang sudah terjadi ... tak mungkin kembali seperti semula. Kalian harus bertanggung jawab karena secara tidak langsung telah mengganggu semua penghuni Alas Purwo,”. Nenek itu menghampiri Lukas, jari telunjuknya diarahkan ke wajah pria itu, “Kaulah yang menghantar orang-orang ini ke hutan itu, sebuah kesalahan tapi, bisa dimaafkan. Tapi, ingatlah dalam 3 bulan ke depan, jika kau tak membakar dupa selama 7 hari 7 malam... ada orang terdekatmu akan mati,” katanya sambil melangkah menghampiri Romli. Tubuh pria itu gemetaran karena ngeri melihat tatap mata tajam nenek tua itu, “Kaupun harus membakar dupa selama 7 hari 7 malam, mohon maaf kepada para penghuni Alas Purwo, karena kau telah mencemari tanah mereka dengan air senimu. Jika tidak, kau bisa celaka,” bentaknya, seketika itu wajah Romli memerah karena malu. ‘Astaga, bagaimana wanita tua ini tahu kalau aku buang air kecil di pohon beringin itu,’ katanya dalam hati. Tetapi, ia mengangguk perlahan sebagai tanda setuju.
Nenek tua itu mengalihkan pandangannya ke arah Bachtiar, tatapannya berbeda, sebuah pandangan yang ramah. “Siapa yang menabur, dialah yang menuai. Kau bernama Da’i Bachtiar, bukan ? Perbuatanmu sewaktu di Alas Purwo benar-benar baik. Jika kau tak memberikan pertolongan pada Wiguna, mungkin dia sudah mati. Perbuatanmu itu membuat hati Nyai Larasati tersentuh. Dia membawakan pesan untukmu,” setelah berkata demikian, nenek itu merogoh sakunya yang kumal. Sehelai kain dikeluarkan untuk kemudian disodorkan ke hidung Bachtiar, pria itu mundur beberapa tindak. Aroma tidak sedap yang keluar dari tubuh nenek tua itu mendadak saja berubah menjadi harum bunga kamboja bersamaan dengan dikeluarkannya kain itu.
Aroma harum memenuhi ruangan itu, untuk sesaat semua orang terlena, mereka bagaikan serasa berada di alam lain yang indah dan memabukkan. Terlena, hingga tak tahu dimana mereka berada. Bachtiar mendapati dirinya berada di kantor dan melihat teman-temannya duduk setengah terbaring di atas meja. Nenek tua itu sudah tidak lagi bersama-sama dengan mereka, menghilang. Apakah yang terjadi barusan hanyalah mimpi ? Jam dinding menunjukkan pukul. 13:00 WIB. Bagaimana bisa tertidur saat jam-jam kerja seperti ini ?
Sepasang mata Bachtiar tertuju pada sehelai kain yang tergeletak di lantai. Kain itu dilipat begitu rapi berwarna merah muda. Dengan perasaan heran, ia memungut kain itu dan mendekatkannya ke hidung. Aroma harum segera saja memasuki rongga hidung, mengalir ke ubun-ubun hingga akhirnya ke seluruh aliran jalan darah. Ada dorongan aneh dalam diri Bachtiar, membuat tangan-tangannya bergerak membuka lipatan kain itu dan tampak olehnya tulisan-tulisan halus, rapi dan menarik untuk dipandang :
‘Bang Da’I ... ribuan kata atau ucapan terima kasih takkan cukup membalas budimu beberapa waktu yang lalu. Ingatlah, aku akan selalu menjagamu juga seluruh keluargamu sekalipun kita berbeda alam. Kurasa itulah yang bisa kulakukan untukmu. Kelak, bila tiba saatnya, kau akan mengetahui siapa aku. Namun, aku mohon ma’af atas apa yang menimpa rekan-rekan kerjamu. Mereka telah menuai apa yang telah mereka taburkan. Tanpa terasa, aku sudah terlibat terlalu jauh dengan duniamu... yang seharusnya tidak perlu lagi kucampuri. Tapi, demi Wiguna, aku bersedia melakukan apa saja sekalipun itu melanggar kodrat. Sekali lagi terima kasih,’
Aroma harum masih tercium di hidung Bachtiar, tanpa sadar ia tersenyum tipis dan memasukkan kain itu ke sakunya. Pada saat itulah, terdengar rintihan perlahan dari arah meja. Romli dan Lukas tampak menggeliat bangun, setelah itu melakukan aktivitas masing-masing seperti biasa. Kehadiran nenek misterius itu seakan terlupakan begitu saja, tak seorang pun berbicara tentangnya. Saat Bachtiar menanyakan, mereka menjawabnya dengan asal-asalan. Jelas kehadiran nenek tua itu sudah dilupakan, seakan kejadian itu tidak pernah ada dalam diri Romli dan Lukas.
Setelah kejadian itu mendadak saja Lukas dan Romli mempunyai kebiasaan baru, suka membakar dupa dan menaruh sesajen di tempat-tempat tertentu seperti sumur, dapur ataupun di sudut-sudut halaman rumah. Hari-hari dilewati begitu saja tanpa terjadi apa-apa, beberapa bulan kemudian, Romli mengundurkan diri dan tidak lagi ketahuan kabar beritanya. Menghilangnya Romli, membuat suasana kantor berubah seratus delapan puluh derajat. Pak Hamdan sudah mempersiapkan promosi kenaikan pangkat untuknya. Berhubung orangnya sudah pergi, ia harus menjatuhkan pilihannya pada Da’i Bachtiar atau Lukas sebagai pegawai paling senior dibanding yang lain (pegawai-pegawai baru). Maka dari itu, 2 orang yang semula bersahabat dekat, mendadak saja berubah menjadi persaingan ketat.
Sebenarnya, Bachtiar sudah mengalah namun, karena perbuatannya itu, ia jadi sering kena marah atasan. Apa saja yang dikerjakan serba salah di mata atasan. Justru karena pak Hamdan sering memarahinya, membuat Lukas kalang kabut ... baginya, siapapun yang sering kena marah atasan, bertanda, atasan peduli dan semakin berniat menaikkan gaji dan pangkat pada anak buahnya. Padahal saat itulah Bachtiar mengalami apa yang dinamakan OVER DESPRESSIVE dan merasakan bintangnya mulai turun.
Hingga suatu hari, berkas-berkas dari mejanya dipindahkan ke gudang, pada saat gajian pada slip gaji angkanya berubah turun 10%. Saat menanyakan hal itu pada bendahara, bendahara itu berkata, ‘kamu sering terlambat dan pekerjaanmu bulan ini amburadul... jadi, pak Hamdan memutuskan untuk memotong 10% dari gaji. Jika bulan depan kamu bisa memperbaikinya, maka, gajimu akan kembali seperti dulu. Bisa jadi, naik. Sebagai peringatan. Gajimu bisa dipotong 15% lagi, bila prestasi kerja menurun,” Bachtiar tersenyum kecut, ‘Alasan yang tak masuk akal,” katanya dalam hati. Setelah itu, keluar dari ruangan tersebut sambil membanting pintu. Beruntung, Pak Hamdan tidak ada di tempat, jika sampai hal itu diketahui maka, bisa jadi gaji bakal dipotong lagi.
Sambil mengendarai sepeda motornya, pikiran Bachtiar menerawang kemana-mana, hingga lamunannya buyar manakala ada serombongan anak-anak muda mengendarai sepeda motor secara ugal-ugalan. Emosi Bachtiar yang membuat pikirannya kalut itu, menaikkan aliran darah yang mengalir dari seluruh jiwa raganya. Sepeda motornya digas kencang-kencang, beberapa anak muda berhasil disalep sampailah ia pada pengendara bermotor paling depan. Jalanan tidak rata, berlobang disana-sini, saat menghindari sebuah lubang roda depan sepeda motornya menyerempet roda belakang dan ....
...__________...
__ADS_1