
#4
Dua pemuda itu kini berdiri berhadap-hadapan. Yuangga tersenyum dingin, "Hm, tak kukira kau mampu menempelkan sedikit sampah di bajuku. Ilmumu maju pesat. Tapi, tetap saja kau bukan tandinganku," katanya dengan nada sombong.
"Lalu mengapa kau menghentikan seranganmu ? Jika kau ingin mencari orang-orang mu, lupakan saja karena rasanya percuma mencari barang yang hilang," ujar Sembada.
"Aku tak percaya ucapanmu... mungkin aku harus membunuh semua penghuni Adhep Bumi ini untuk mencari tahu keberadaan mereka,"
"Selama ada aku disini... jangan harap kau bisa berbuat seenaknya,"
"Terserah apa katamu, mungkin aku harus membunuhmu terlebih dahulu. Setelah itu tak ada ampun lagi bagi penduduk negeri ini," sambil berkata demikian Yuangga mengembangkan kedua lengannya ke samping kiri dan samping kanan. Tapak tangannya menghadap ke atas dan....
"Hhhiiiaaa,"
Teriakan Yuangga membahana, daerah Adhep Bumi seakan bergetar hebat. Tanah, batu dan kerikil yang ada di sekitar ia berdiri melayang ke udara, wajah Yuangga tampak tegang urat nadi dan otot-ototnya bertonjolan keluar. Tanah, debu, kerikil dan bebatuan seakan digerakkan oleh sebuah kekuatan tak kasat mata, mengumpul menjadi satu hingga menyerupai sesosok makhluk hitam melayang-layang ke udara dan bergerak mengelilingi Yuangga dan detik berikut ia mendorongkan kedua tapak tangannya ke depan dan bayangan hitam itu bergerak cepat, menerjang ke arah Sembada.
Bayangan hitam berukuran raksasa itu menderu-deru bagai hembusan angin topan, Sembada merasakan adanya hawa panas bergerak ke arahnya. Yuangga tersenyum dingin, ia baru merapal salah satu jurus andalannya Langit Angkara, sebuah jurus yang mampu merubah segala sesuatunya menjadi senjata yang mematikan. Tapi, jurus itu cukup menguras sebagian tenaga dalamnya.
Sembada menarik nafas perlahan lalu menghembuskan, sekujur tubuhnya bagai dibentengi sebuah cahaya putih. Ia memekik keras saat bayangan hitam itu menyerangnya secara bertubi-tubi.
"Bum... bum... bum..."
Suara itu bagaikan genderang perang yang ditabuh, tubuh Sembada bergetar hebat manakala bayangan-bayangan yang menyerupai makhluk hitam legam itu membenturnya.
Sembada terus melindungi tubuhnya dengan perisai tenaga dalam, namun mendadak ia terkejut saat ada bayangan lain menyeruak masuk. Yuangga. Pemuda itu ikut menyerang dengan telapak tangannya yang memerah bagai bara api. Sasarannya adalah dada Sembada.
Sembada menangkisnya, kini perisai tenaga dalam terpecah menjadi dua. Di salah satu sisi harus menahan serangan bahan material yang seakan tak berhenti dan yang lain adalah menahan serangan telapak tangan lawan.
"Blar, blar, blar,"
Ledakan dahsyat terdengar memekakkan telinga. Pecahnya perisai tenaga dalam membuat pertahanan Sembada lemah dan akhirnya...
"Dash !"
Dadanya jadi sasaran empuk tapak tangan Yuangga... Sembada pun terjengkang ke belakang, punggungnya menabrak sebuah pohon raksasa.
"Hoekh !"
Sembada memuntahkan darah merah kehitaman. Ia terluka lumayan parah. Yuangga tidak berhenti di situ ia kembali menerjang dan kali ini tangan kanannya terkepal, siap untuk menghajar batok kepala Sembada.
" Duar !"
Yuangga tersentak, kepalan tangan kanannya terhenti di udara dan dadanya dihantam oleh sebuah kekuatan yang cukup besar hingga ia terjengkang 2 meter ke belakang. Nasibnya justru lebih buruk daripada Sembada sebab, punggungnya harus membentur dinding salah satu rumah penduduk yang terbuat dari batu.
Sebelum tubuh Yuangga mendarat di tanah, tampak sesosok bayangan wanita cantik berpakaian ungu, ia berdiri diantara Sembada dan Yuangga. Dialah Sasmita Sukma Candramaya, tangan kanannya bergerak ajian Langit Angkara dikembalikan pada pemiliknya. Yuangga yang tidak siap dengan serangan kedua itu, tak mampu menghindarinya, iapun roboh tak sadarkan diri.
"Masukkan dia ke penjara," perintahnya pada beberapa orang pengawal, sementara, ia sendiri menghampiri Sembada, "Kau tidak apa-apa, bang ?" tanyanya lembut.
Sembada tersenyum dan menyeka sudut bibirnya yang basah oleh darah, "Terima kasih, Mita... untung luka-lukaku ini tidak mengenai organ vitalku," katanya.
***
Penjara Duka Nestapa, terletak lebih kurang satu kilo dari Istana Adhep Bumi. Terletak di tengah Sungai Pati yang berarus deras dan sangat dalam sekali, sementara dasar sungai terdiri dari gagang dan batu-batuan yang tajam. Pintu masuknya hanya satu, di sebelah barat daya. Terbuat dari marmer yang tinggi, berat dan tebal. Di sekitar Sungai Pati, sejauh mata memandang yang tampak adalah tanah gersang dan tandus. Mustahil bagi para tawanan melarikan diri dari tempat itu. Disinilah Yuangga dipenjarakan. Dia masih terluka cukup parah, bisanya hanya berbaring lemah, nafasnya memburu, sesekali seperti terhalang oleh sesuatu yang membuatnya tersiksa.
Ia sudah 1 Minggu berada di Penjara Duka Nestapa dalam keadaan yang boleh dibilang sekarat. Maka, atas perintah Kanjeng Ratu Sasmita Sukma Candramaya, ia dipulangkan kembali ke Sandekala. Dan, setelah menjalani proses yang rumit, maka, Sembada mengajukan diri untuk mengantar Yuangga ke Sandekala. Ia ingin bertemu dengan Puteri Ambarwati, keinginannya itu membuat Sasmita cemburu, namun, sebagai penguasa yang bijaksana, ia berusaha untuk menahan emosinya juga demi cintanya kepada Sembada.
__ADS_1
"Baiklah, bang... pergilah, namun setelah menyelesaikan urusanmu dengan Puteri Ambarwati, aku menantimu disini, bang..."
***
Negeri Sandekala. Dikelilingi oleh barisan perbukitan berbatu hitam, tanahnya gersang dan tandus tapi yang mengherankan masih ada beberapa jenis tanaman yang tumbuh subur di sebagian wilayah ini dan itu terletak di sebelah Utara.
Berbeda dengan Negeri Tunggak Bayu ataupun Adhep Bumi, selama 1000 tahun sekali 2 daerah itu mengalami fenomena aneh, kadang tandus dan kadang subur, namun, Sandekala khusus wilayah Utara, tidak pernah terjadi perubahan fenomena alam, tetap subur, namun, yang ganjil adalah menjelang malam hari Sandekala ramai oleh penduduk, sementara pagi sampai sekitar jam empat menjelang tengah hari daerah itu sepi oleh penduduk. Istilah sandekala sendiri diambil dari dua kata dalam bahasa Sunda, yakni sande yang artinya bukan dan kala yang artinya waktu. Sebagian masyarakat Sunda meyakini bahwa sosok sandekala berwujud wanita seperti wewe gombel yang sering menculik anak-anak. Disebut juga Hantu Senja.
Disini para penduduk bukan berarti semuanya terdiri dari sosok-sosok atau makhluk halus lain, mereka manusia biasa hanya memiliki kemampuan yang sulit diterima oleh akal ataupun nalar manusia biasa pada umumnya. Kemampuan mereka adalah lelaku / menjalani ilmu hitam.
Aturan dan kebudayaan mereka bertolak belakang pada manusia-manusia awam. Akan tetapi semua itu kebanyakan dilakukan oleh kalangan kaum ningrat atau berduit, yang ingin mencari kekayaan, umur panjang, awet muda, hidup abadi dan lain sebagainya. Itulah sebabnya, kebanyakan mereka yang berasal dari negeri ini dibenci hampir seluruh dunia. Tetapi, bagi yang memahami dan senantiasa menjaga ketentraman dan kedamaian diantara umat manusia, mereka lebih suka menyendiri, sebagian adalah orang-orang yang menghilang di Negeri Adhep Bumi, tidak suka dengan kepemimpinan Yuangga dan antek-anteknya.
Oleh karena, tak ada seorangpun dari negeri Adhep Bumi yang mau mengantarkan Yuangga, maka, terpaksalah Sembada berangkat sendiri dan hanya ditemani 5 orang punggawa kerajaan. Dengan menggunakan kereta kuda mereka berangkat dan akhirnya sampai di negeri Sandekala ini.
Sepanjang perjalanan mereka tidak menemukan seorang penduduk pun. Mau tak mau mereka harus mencari jalan menuju istana Sandekala sendirian.
"Tuan Sembada, bagaimana ini sudah seharian kita berjalan namun tidak menemukan seorang penduduk sama sekali... Negeri ini seperti negeri mati," ujar Borhan salah seorang pengawal Sembada.
"Tenanglah Borhan, memang negeri ini jika hari terang begini, tak ada seorang penduduk yang keluar rumah. Lihatlah ke sekeliling, banyak gubuk-gubuk dengan pintu tertutup. Tampaknya kita harus menunggu hingga sore hari," ujar Sembada.
"Menurut saya, letakkan saja Yuangga di salah satu gubuk penduduk setelah itu kita kembali," ujar Badrun.
"Mana bisa begitu..." sahut Sembada, "Kalian tunggu disini, biar aku yang turun dan bertanya," katanya lagi sambil melompat turun dari kudanya. Ia berjalan menuju ke salah satu gubuk dan mengetuk pintu.
"Selamat siang, apa ada orang di dalam ?" tanya Sembada sambil mengetuk pintu gubuk. Tak ada jawaban, Sembada menuju ke gubuk lain dan melakukan hal yang sama, tetapi, lagi-lagi tidak ada tanggapan. Gubuk kedua, ketiga, keempat dan seterusnya, hasilnya sama.
Badrun yang tidak sabaran itu langsung melompat turun dari kudanya lalu berlari menyusul Sembada.
"Bbrruuaakk !"
Badrun mendobrak pintu gubuk. Pintu itu segera terpentang lebar dan Badrun menyeruak masuk. Tapi ia terkejut, seekor ular yang cukup besar melingkar di tengah pembaringan, warnanya hitam legam dan kepalanya bertanduk. Sementara, di langit-langit beberapa sosok tubuh tergantung. Matanya terbelalak lebar dan lidahnya terjulur keluar, kulit mereka pucat pasi.
Badrun tidak menjawab, ia berdiri mematung sementara matanya masih tertuju pada tubuh-tubuh manusia yang tergantung di langit-langit ruangan. Membuat Sembada penasaran dan akhirnya iapun mengalihkan pandangannya kearah yang dilihat Badrun. Ular hitam besar itu masih tidak bergerak.
"Astaga..." kata Sembada.
"Jangan-jangan penduduk desa yang tinggal di dalam gubuk lain juga mengalami nasib yang sama, lihat saja perut ular itu," ujar Badrun dengan suara gemetar.
"Baiklah, kita coba periksa," kata Sembada lalu menoleh ke arah Borhan dan yang lain, "Kalian... coba tolong periksa gubuk-gubuk yang lain, cepat !"
Borhan dan yang lain melompat turun, mereka segera mendobrak pintu-pintu gubuk dan... apa yang mereka temukan adalah mayat-mayat yang anggota badannya sudah tidak utuh lagi bau amis menguar dan memenuhi sekitar tempat itu.
"Apakah seluruh penduduk desa ini juga mengalami hal yang sama ?" tanya Borhan.
"Entahlah yang penting kita harus segera pergi dari tempat ini," ajak Sembada.
"Lalu bagaimana dengan ular raksasa itu ?" tanya Badrun.
"Terus terang, dengan kondisiku yang seperti sekarang ini, aku belum siap berhadapan dengan siluman-siluman seperti ular itu," sahut Sembada.
"Lalu, bagaimana dengan pemuda di dalam kereta itu ?" tanya Kohar.
"Tuan Sembada, keselamatan kami semua tergantung pada Anda," sahut Basri dan Nasri bersamaan.
Belum sempat Sembada membuka mulutnya, terdengar suara tawa mengerikan. Suara itu membahana ke berbagai penjuru tempat itu, membuat Badrun dan yang lain ketakutan.
__ADS_1
"Hi... hi... hi... hi... Aku takkan pernah membiarkan orang mengganggu meditasiku,"
"Bbrruuaakk !!"
Atap gubuk dimana Badrun menemukan mayat Pertama kali jebol dan dari dalam keluar sebuah kepala ular yang cukup besar dan sepasang matanya memerah menatap ke arah Sembada dan yang lain. Ular raksasa itu tampak gusar dan sekali ia meliukkan kepalanya dinding gubuk dan interiornya hancur berantakan. Begitu gubuk itu hancur, tampaklah tubuh ular itu yang memang besar sebesar pohon beringin berusia ratusan tahun dan panjangnya mencapai 5 meter.
"Siluman ular dari manakah kau ini ?" tanya Sembada sementara tangannya terkepal bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Di pihak Borhan dan yang lain mereka meringkuk bersembunyi di punggung Sembada, tubuh mereka gemetar tak keruan. Seumur hidup, baru kali ini menyaksikan seekor ular raksasa bertanduk.
Ular itu mendesis-desis pada bagian lehernya bergerak naik-turun dan saat membuka mulutnya, sebuah cairan berwarna putih menyembur dan melesat ke arah Sembada dan teman-temannya.
"Wwuusshh..."
Sembada dan yang lain sudah menduga adanya serangan yang tiba-tiba itu, maka, dengan gerakan yang cukup gesit, mereka melompat menghindar sejauh mungkin. Semburan cairan asam itu mengenai ruang kosong, bau busuk membuat mereka menutup hidup dan sepasang mata mereka dapat melihat asap tipis keluar dari bekas semburan itu... jelas itu sangat beracun.
Melihat serangannya gagal ular raksasa itu meliuk-liuk sambil mendesis-desis, tak lama kemudian ia menyabetkan ekornya ke arah dimana Sembada dan yang lain berada. Namun, lagi-lagi serangan itu gagal malah menghantam kereta kuda dimana tubuh Yuangga dibaringkan.
"Bbrruuaakk..."
Kereta kuda hancur berantakan, 2 ekor kuda penarik kereta terpelanting dengan tubuh yang hancur berantakan, darah muncrat menyebar ke segala penjuru dan sebagian mengenai tubuh Yuangga.
Melihat tubuh Yuangga yang terlempar keluar dari kereta, Ular Raksasa itu tampak terkejut dan buru-buru menyambarnya agar tidak jatuh terbanting. Jelas Yuangga berharga baginya. Perlahan-lahan, ia meletakkan tubuh Yuangga dengan hati-hati, dan iapun melingkarkan tubuhnya ke sekeliling tubuh Yuangga.
Pada saat itulah, tubuh ular raksasa itu menjelma menjadi seorang perempuan yang cantik jelita, perempuan itu tampak berbadan dua dan Sembada segera mengenalinya.
"Kau.. kau... Ambarwati," seru Sembada.
Wanita itu menoleh dan membelalakkan matanya, "Bang... bang Sembada," sapanya.
Sembada segera berlari dan memeluknya, pelukan ini disambut pula dengan hangat oleh wanita hamil itu. Dialah Putri Dari Kerajaan Tunggak Bayu, Ambarwati.
"Bagaimana kau bisa jadi seperti ini, Ambarwati ?" tanya Sembada.
"Ceritanya panjang, bang..." kata Ambarwati sambil menyeka airmata yang menetes dari bola matanya. Entah dia harus bahagia atau bagaimana saat bertemu dengan kekasihnya itu.
***
Ambarwati segera menceritakan pengalamannya setelah diboyong ke negeri Sandekala.
Selama di Sandekala, ia tidak pernah melupakan Sembada, selalu menjaga kesucian dan kesetiaan cintanya pada Sembada. Yuangga selalu mendesaknya untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang isteri tetapi Puteri Ambarwati menolak.
Yuangga yang gusar dan iri pada Sembada, mencoba mencari jalan, bagaimana Ambarwati bisa membuka hati untuknya. Hingga kembali Yuangga melancarkan aksi liciknya. Dengan berpura-pura menjadi Sembada dan mendatangi kamar dimana Puteri Ambarwati beristirahat. Kedatangan Sembada palsu itu cukup mengejutkan hati Ambarwati. Maka, diambil kesepakatan mereka akan bertemu saat malam tiba. Saat itu Ambarwati belum mengerti bahwa di Negeri Sandekala, aktifitas penduduknya dimulai saat malam tiba dan saat hari terang, mereka bersemedi untuk memperdalam ilmu hitamnya.
Bujuk rayu Sembada palsu, akhirnya membuat Ambarwati lengah dan kesucian yang selama ini ia pertahankan, luluh juga. Dan, ia mengandung anak Yuangga. Setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi hati Puteri jelita itu hancur lebur dan ingin sekali mengakhiri hidupnya.
"Kau bodoh sekali Ambarwati... ada anak dalam janinmu, tegakah kau membunuhnya ?" tanya Yuangga.
"Aku tidak peduli, dia bukan berasal dari darah orang yang kucintai, untuk apa aku harus membiarkannya hidup. Biarkan aku mati, aku tak ingin bertemu denganmu lagi, aku malu jika harus bertemu dengan Bang Sembada yang akan datang tak lama lagi..."
"Dengarlah, Ambarwati... aku benar-benar mencintai dan menyayangimu, para pejabat mengusulkanku agar mencampakkanmu dan menikah dengan wanita lain, tapi, tak kulakukan karena apa, karena tak ada wanita lain di hatiku selain kau. Tapi, mengapa kau selalu menganggap Sembada lebih baik dariku, ia membiarkanmu kuboyong ke negeri ini untuk menjadi permaisuriku. Harusnya dia mempertahankan mu, bukannya melepaskanmu begitu saja,"
"Kau tahu, Sembada itu kepandaiannya jauh berada di bawahmu. Mudah saja kau membunuhnya dan dengan demikian kau pikir aku bisa melupakannya. Tidak. Sekali-kali, aku tidak akan melupakannya,"
"Baiklah kalau begitu, aku menyerah... tapi, ingat kau jangan bertindak bodoh. Begini saja, aku akan mengutus orang-orang Sandekala untuk menyelidiki dimana keberadaan Sembada. Setelah mereka menemukannya, akan kuminta mereka untuk membawanya kemari. Aku tak tahu berapa lama mereka berusaha. Tapi, jika memang dia sudah mati, kuminta mereka membawanya juga. Untuk memastikan kau tidak berlaku nekad, aku akan merubah wujudmu sebagai ular raksasa. Berharap lah jika dia hidup, tidak membunuhmu,"
"Kau licik sekali Yuangga.... kau licik, sekalipun Sembada masih hidup, kau takkan pernah mau membiarkan dia hidup,"
__ADS_1
"Kau salah.... aku melakukan ini, untuk melihat seberapa dalam cinta kalian. Dan, aku jamin.. siapapun yang hendak mencelakai Sembada, aku tak segan-segan untuk membunuhnya. Jika ia masih mencintai dan menyayangi wujudmu yang berubah menjadi seekor ular, aku akan menarik ilmu Malih Rupa darimu. Artinya, kukembalikan wujudmu seperti asal. Jadi, tunggulah saat itu tiba... ha... ha... ha..." setelah berkata demikian Yuangga mengibaskan tangan kanannya ke arah Puteri Ambarwati... hembusan angin dingin menerpa tubuhnya dan perlahan-lahan tubuh Ambarwati berubah menjadi seekor ular raksasa bertanduk emas.
__________ Bersambung Jilid Ke-