DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
Gerbang Kematian Episode 01 : Alas Sewu Dino ( babak ketujuh )


__ADS_3

#7


Saat kedua punggawa kerajaan itu kembali berhadap-hadapan, terdengar raungan keras, asalnya sekitar 1 kilo dari tempat itu. Tapi, tampaknya tak seorangpun berniat beranjak dari tempat itu. Baik orang-orang Tunggak Bayu, Adhep Bumi dan Sandekala, masing-masing ingin tahu siapa yang keluar sebagai pemenang. Karena menurut mereka ini adalah pertarungan yang belum tentu terjadi dua kali dalam hidup mereka.


Raungan itu semakin lama semakin keras, bumi seakan bergetar hebat. Dari kejauhan tampak debu-debu, kerikil, tanah dan bebatuan melayang tinggi ke udara semakin lama semakin dekat. Semua orang terkejut melihat dua sosok bayangan berkutat sengit di udara diantara debu-debu, kerikil, pasir dan bebatuan. Saat dua sosok itu saling bertemu di udara terdengar ledakan keras.


Panji Gumilang dan Kala Mayit serta keempat Kala bersaudara terkejut ketika mengenali siapa mereka. Sembada dan Yuangga. Bersamaan dengan itu muncul pula 4 sosok bayangan, mereka menunggang kuda dari arah Karang Gajah. 4 sosok itu segera bergabung dengan Panji Gumilang. Mereka adalah 4 Ksatria Penjuru Angin, para ksatria andalan Istana Adhep Bumi.


"Maaf kakang Gumilang, kami datang terlambat. Apakah kau tidak apa-apa?" tanya Bedul Beduk.


"Tidak apa-apa, Adi Beduk. Bagaimana kalian bisa datang bersamaan dengan Saudara Sembada dan orang Sandekala itu ?" tanya Panji Gumilang.


"Oh, saat kami hendak menuju kemari, perjalanan kami terhadang oleh pertarungan Saudara Sembada dan Yuangga. Mereka bertarung sengit sekali, membuat kami terpana. Ilmu atau jurus yang mereka keluarkan membuat kami terpana. Jadi, kami terpaksa menonton dulu pertarungan yang maha dahsyat ini. Maafkan kamu karena teledor, kakang Gumilang," jelas Jarak Lempong.


"Tidak apa-apa, Adi... untung keempat orang yang menamakan dirinya Kala bersaudara tidak mengeroyokku. Sebab, aku tak yakin bisa mengalahkan mereka semua apabila maju bersamaan. Lalu, sejauh ini apakah ada tanda-tanda siapa yang lebih unggul ?"


"Sulit sekali dijelaskan, kang.... dulu Tuan Sembada ilmunya kalah jauh dibandingkan dengan Orang Sandekala bernama Yuangga itu. Tapi, sekarang... kami tidak bisa memastikan lagi siapa kalah dan siapa yang menang. Seimbang, kang," kata Bada Brantang.


"Kita berjaga-jaga dulu, khawatir dengan serangan mendadak dari orang-orang Sandekala yang licik itu," sahut Kudayana.


"Itu benar Adi Kudayana," sahut Panji Gumilang.


Pertarungan Sembada dan Yuangga adalah pertarungan yang langka... selama ini Tunggak Bayu tidak pernah dihadapkan pada peristiwa semacam itu. Yuangga benar-benar tidak menyangka rencananya untuk menguasai Adhep Bumi bakal sesulit itu, semula ia terlalu meremehkan Sembada karena dulu pernah dikalahkan dengan mudah. Dulu dan sekarang perbedaannya bagaikan bumi dan langit. Sembada benar-benar sulit ditundukkan.


Yuangga melompat ke belakang dan memasang kuda-kuda tangguh, Sembada pun juga sudah bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Kali ini Sembada merapal Ilmu Gebuk Salju. Sebuah ilmu yang mampu merubah segala sesuatunya menjadi es atau salju untuk membendung serangan Yuangga yang dialiri tenaga panas membara.


Dua tenaga dalam bertemu, tempat itu bagai diguncang gempa bumi yang hebat, 2 hawa yang bertolak belakang itu membuat orang-orang di sekitar, kecuali 5 Ksatria Penjuru Angin dan 5 Kala bersaudara, gemetaran. Sesekali hawa dingin menerpa mereka tubuh mereka gemetar, sesekali hawa panas menerpa, mereka tampak kepanasan. Jika itu terus menerus terjadi, maka, akan jatuh korban dari kedua belah pihak.


"Hhhiiiaaa !!"


Yuangga berseru, ia merapal jurus Langit Angkara Murka, merubah apapun menjadi senjata yang mematikan. Tangan Yuangga mengambil gerakan melingkar, maka, semua yang berada di belakangnya bergerak melingkar dan saat ia mendorongkan tapak tangan kanannya, barang-barang seperti kerikil, batu, tombak dan debu membentuk awan hitam dan meluncur deras ke arah Sembada. Tapak tangan Sembada didorong ke depan seberkas cahaya putih keperakan menghadang awan hitam itu dan...


"Dduuaarr !!"


Ledakan dahsyat terdengar memekakkan telinga, awan hitam dan putih berpendaran di udara dan dua pemuda itu kembali beradu tangan dan kaki. Langit Angkara Murka berhasil dibendung oleh Sembada dan dengan gerakan susah diikuti oleh mata, telunjuk kanan Sembada bergerak mematuk bak seekor ular ke sekujur tubuh Yuangga.


Dahi, dagu, dada dan lambung Yuangga tahu-tahu merasa nyeri tak hanya berhenti sampai disitu, Tubuh Sembada melenting ke udara melompati Yuangga dan tapak tangan kanannya menyerang kepala bagian belakang Yuangga. Pemuda Sandekala itu sama sekali tak menduga datangnya serangan beruntun itu. Akibatnya, sungguh di luar dugaan kepala Yuangga serasa pecah, sekujur tubuhnya seakan mengalami mati rasa. Dan ...


"Duar,"


Ledakan itu terjadi di dalam tubuh Yuangga, membuatnya terluka dalam yang cukup parah dan...


"Hhooeekkhh ... "

__ADS_1


Darah merah kehitaman menyembur keluar dari mulut Yuangga. Tubuh pemuda itu terhenyak ke depan 3 meter jauhnya tak mampu lagi berdiri tegak. Akhirnya, iapun jatuh tersungkur. Mata, hidung, telinga dan mulutnya mengeluarkan darah hitam. Tubuh bagian dalamnya rusak akibat ilmu Gebuk Salju Sembada.


Dengan susah payah, Yuangga berdiri, ia batuk-batuk, sesekali memuntahkan darah segar dari mulutnya. Ia tak mampu lagi melanjutkan pertarungannya melawan Sembada.


5 Kala bersaudara segera melompat menghampiri dan membantunya berdiri.


"Gusti Prabu Yuangga, Gusti terluka parah," sahut Kala Mujeng.


Yuangga tertawa tawar, "Kau... kau... kau hebat Sembada, aku penuhi janjiku, namun keadaanku sekarang ini, tak mungkin bisa mengembalikan wujud Puteri Ambarwati," katanya lemah setelah itu roboh tak sadarkan diri.


"Bawalah raja kalian juga seluruh pasukanmu mundur... jangan sekali-kali menginjakkan kaki di tempat ini lagi," ujar Sembada pada 5 Kala bersaudara.


Kala Mujeng menganggukkan kepala, lalu memberi isyarat kepada pasukan Sandekala untuk mundur dan meninggalkan tempat itu diiringi sorak-sorai pasukan Tunggak Bayu dan istana Adhep Bumi.


Setelah pasukan Sandekala meninggalkan tempat itu, para penduduk Tunggak Bayu dan para prajurit Adhep Bumi berlari-lari menghampiri Sembada dan 5 Ksatria Penjuru Angin, mereka melompat kegirangan karena Sandekala berhasil dipukul mundur.


***


Nun jauh disana di sebuah kubangan lumpur yang cukup besar seekor ular raksasa berwarna hitam dan bertanduk emas tengah bergulingan kesana-kemari, ia mendesis-desis seperti menahan sakit yang amat sangat. Bagian kerongkongannya bergerak naik-turun sementara, dari arah perut yang bengkak itu bergerak menuju ke atas secara perlahan-lahan hingga saat ular itu membuka mulutnya sebuah benda keluar dan masuk ke dalam kubangan.


Benda itu dilapisi oleh kulit tipis dan bergerak-gerak, saat ular itu menjulurkan lidahnya, kulit tipis yang mirip selaput dara terbuka dan sesosok bayi mungil keluar dari dalamnya.


Ular itu tampak berbahagia sekali, namun sepasang matanya memerah menatap ke arah penduduk Tunggak Bayu dan pasukan Adhep Bumi yang sedang merayakan kegembiraannya.


Sebuah desisan keras terdengar, mengejutkan semua orang bersamaan dengan itu muncullah seekor ular raksasa berwarna hitam dan bertanduk emas. Tubuh ular raksasa yang panjangnya mencapai 8 meter itu melenting ke udara dan menyemburkan sebuah cairan kental berwarna putih ke arah orang-orang yang sedang berkumpul itu.


Teriakan Sembada ini sedikit terlambat, lebih kurang 20 orang terkena cairan tersebut hingga tubuh mereka meleleh.


"Hei, bukankah tadi ular itu berada di pihak kita, mengapa jadi beringas seperti itu," seru salah seorang prajurit.


Tak ada jawaban, ular itu menjulurkan kepalanya dan menerjang ke arah prajurit-prajurit juga para penduduk tersebut. Tak dapat dihitung berapa nyawa yang melayang akibat serangan itu. Tubuh ular itu meliuk-liuk kesana-kemari, setiap liukan tubuhnya mendatangkan hembusan angin kencang dan menerbangkan orang-orang ke dalam lubang tempat ular itu muncul.


"Penduduk desa Keparat, kalian telah melupakan aku yang sebenarnya juga sudah berjasa menyelamatkan kalian dari tirani Sandekala, kalian hanya memikirkan diri sendiri... aku tidak terima, Sang Hyang Widhi Wasa telah berlaku tak adil padaku ! Sungguh tidak adil. Aku tidak terima !" suara itu diwarnai dengan perasaan gusar dan benci.


Ular itu kembali meliukkan tubuhnya dan kembali memakan korban yang cukup banyak, hingga akhirnya Sembada memutuskan untuk menghentikannya seorang diri.


"Minggir, bang... biar aku membinasakan mereka yang tak tahu diri itu,"


"Ambarwati, apa yang kaulakukan, mengapa kau jadi seperti ini ?" tanya Sembada.


"Mereka telah membuatku sengsara, mereka telah melupakan aku yang telah berjasa besar dalam sejarah peperangan antara Tunggak Bayu dengan Sandekala. Kalian disini sedang dimabuk kemenangan tapi, aku menderita di kubangan sana demi melahirkan puteriku. Dimana rasa kemanusiaan kalian," ujar Ular itu sambil kembali meliukkan tubuhnya kesana-kemari.


"Cukup, Ambarwati. Hentikan biarkan aku yang membicarakannya dengan mereka," seru Sembada, "Jika kau menuruti hawa nafsumu, seluruh alam semesta ini bisa hancur," sambungnya.

__ADS_1


"Bang Sembada, menyingkirlah, aku muak melihat tampang-tampang penduduk yang tidak tahu Budi itu, mereka harus menerima ganjaran yang setimpal atas perbuatannya,"


"Maaf, Puteri Ambarwati, tenangkan dirimu," kata Sembada sambil menjulurkan telunjuk kanannya ke dahi Ular Raksasa itu. Sebuah cahaya putih melesat menuju kening ular tersebut, ia mendesis perlahan dan keberingasannya memudar digantikan oleh ketenangan.


Tubuh ular tersebut mengeluarkan kepulan asap berwarna jingga dan saat kepulan asap lenyap, tampak sesosok wanita jelita duduk bersila di hadapan Sembada.


"Pu... Puteri Ambarwati... dia Puteri Ambarwati...." teriak salah seorang penduduk Tunggak Bayu. Mereka berlarian, menghampiri dan membantunya berdiri, "Maafkan kami yang telah membuat Anda gusar. Yuangga itu memang kejam merubah Anda menjadi seekor ular raksasa. Harusnya dia tidak boleh diperkenankan hidup, kelak pasti mengacau lagi,"


"Sayalah yang harus minta maaf, paman-paman sekalian telah mencelakakan kalian semua," ujar Puteri Ambarwati untuk kemudian berjalan ke arah Sembada, "Bang Sembada, terima kasih telah mengembalikan wujudku seperti semula, hari ini juga aku akan membawa anakku pergi dari sini,"


"Anak ? Kau telah melahirkan seorang anak, dimanakah dia sekarang ?" tanya Sembada.


"Dia kutinggal di Karang Paten,"


"Karang Paten ? Dimanakah itu ?"


"Akulah yang menamainya Karang Paten. Letaknya tak jauh dari sini. Kuminta Bang Sembada mengikutiku," setelah berkata demikian ia hendak melangkah meninggalkan tempat itu namun tiba-tiba, tubuhnya sempoyongan dan nyaris roboh jika tidak ditahan oleh beberapa orang penduduk. Wajahnya tampak pucat pasi, ia tampak letih sekali.


"Tuan Puteri Ambarwati, kelihatannya lelah sekali, biarkan kami mengambil kereta untuk menghantarkan Puteri ke tempat tujuan ?" Bedul Beduk menawarkan.


Puteri Ambarwati mengangguk lemah, maka, tak lama kemudian sebuah kereta kencana yang ditarik 4 ekor kuda datang. Bersama Sembada dan yang lain mereka meninggalkan tempat itu.


Jarak antara Medan perang dengan Kubangan tempat Puteri Ambarwati melahirkan lumayan cukup jauh, sekitar 1 kilo. Sewaktu Puteri Ambarwati berwujud ular raksasa, ia mampu melompat tinggi ke udara dan mendarat di tengah-tengah para penduduk yang sedang merayakan kemenangannya. Akan tetapi, setelah kembali ke wujud semula, terlebih lagi setelah melahirkan dan mengamuk hebat, ia tak berdaya apa-apa.


Tak lama kemudian, sampailah mereka di kubangan tersebut, semua orang merasa miris melihat keadaan kubangan yang kotor dan penuh lumpur itu. Ternyata, Puteri Ambarwati melahirkan di tempat itu.


Puteri Ambarwati turun dari kereta, dan menuju ke semak belukar dan saat kembali ia telah menggendong bayi laki-laki yang lucu. Sembada dan yang lain tampak bersuka cita.


"Bang Sembada dan paman-paman sekalian... dia kuberi nama Jatayu. Tempat ini dan sekitarnya telah menjadi Medan perang, banyak korban-korban saudara kita maupun dari Sandekala meregang nyawa di tempat ini. Maka, mulai hari ini, ijinkanlah saya menamai tempat ini KARANG PATEN, kelak di masa mendatang jangan sampai terjadi lagi pembunuhan di tempat ini. Aku Puteri Ambarwati maafkan atas pembunuhan yang kulakukan tadi. Jika bukan karena Saudara Sembada yang menyadarkanku, mungkin perbuatanku takkan bisa diampuni. Mohon jagalah tempat ini selalu dari perbuatan-perbuatan biadab dan tidak manusiawi. Aku sekarang adalah Permaisuri Kerajaan Sandekala, aku tak peduli bagaimana orang menyebutku sebagai pengkhianat Tunggak Bayu atau Sandekala, tujuanku mulia ... semua demi ketenangan, ketentraman dan kedamaian bersama. Aku akan selalu menjaganya, sekalipun sudah menjadi batu," jelasnya, "Bang Sembada, aku seumur hidup tak pernah memohon apapun padamu, tapi, ijinkanlah aku memohon kepadamu sekali ini dan yang terakhir. Bersediakah kau mengabulkannya ?"


"Katakanlah,"


"Kumohon, jaga dan rawatlah Jatayu, sebagaimana dia adalah anakmu," ujar Ambarwati singkat.


" Bukankah kau bisa merawatnya sendiri ?" tanya Sembada.


"Tidak, bang... aku harus menebus segala kesalahanku karena telah membunuh banyak penduduk Tunggak Bayu dan Istana Adhep Bumi. Aku tahu, tanpa mantra Yuangga... aku tidak akan kembali ke wujudku seperti semula, aku tetap seekor ular raksasa, satu-satunya jalan untuk mengembalikan wujudku yang asli seperti sekarang ini adalah bertapa. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaannya saat bertemu denganku ? Nah, katakan padaku kau bersedia atau tidak ?" desak Puteri Ambarwati.


"Perkataanmu masuk akal, Puteri Ambarwati. Baiklah aku bersedia,"


"Satu hal lagi, bang.... kumohon rahasiakan perihal siapa orang tua Jatayu. Aku khawatir, dia adalah keturunan Kerajaan Sandekala. Banyak orang yang tidak menyukai kepemimpinan Yuangga. Nah, kau tahu, bukan apa yang akan terjadi jika mereka tahu kalau Jatayu adalah putera dari Yuangga ?"


"Kalau memang itu keinginanmu, aku akan melakukannya, tetapi, mereka... orang-orang ini telah mengetahuinya, bagaimana kelak aku bisa merahasiakan jati diri Jatayu?" tanya Sembada.

__ADS_1


"Jangan khawatir, bang... besok mereka semua sudah lupa siapa Jatayu. Karena aku tahu, Karang Paten telah membuat mereka melupakan kejadian ini. Apakah Bang Sembada tidak melihat awan-awan tipis yang menyelimuti tempat ini ? Ini adalah salah satu ilmu andalan nenek moyangku namanya, Kabut Pelepas Kala. Itu kurapal semenjak mereka menginjakkan kakinya di tempat ini, begitu mereka keluar dari Karang Paten ini, mereka akan melupakan semua kejadian di tempat ini. Nah, Bang Sembada, terima kasih atas kesediaanmu menjaga dan merawat Jatayu. Aku akan memulai pertapaanku," kata Puteri Ambarwati lalu menceburkan diri ke dalam kubangan itu dan saat tubuhnya menyentuh air keruh berlumpur di dalamnya, ia sudah berubah menjadi seekor ular yang tengah melingkarkan tubuhnya tepat di tengah-tengah Kubangan.


__________ Bersambung Jilid ke-8


__ADS_2