DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
Bab 37 : S o s o k #8 ( Perburuan )


__ADS_3

#8


"Den Reksa, biarlah Nduk Chyntia, menurutmu, apa kita harus memberitahukan siapa pengirim sosok-sosok mengerikan itu ? Kalau menurut saya... Lebih baik dia sendiri yang mengetahuinya agar kita tidak disalahkan nantinya," ujar Mbah Alas.


"Yah, memang seharusnya begitu, Mbah. Pria itu adalah rekan kerjanya dan saya tahu benar siapa dia. Ia tak segan-segan memakai cara apapun untuk mengambil hatinya. Orang seperti itu tidaklah mudah dibawa kembali ke jalan yang benar," kata Reksa.


"Iya... Iya... Hanya yang Mbah khawatirkan, nduk Chynthia salah paham. Kalau sudah salah paham bisa repot,"


"Logikanya begini, Mbah... Jika dia sudah tahu siapa pengirim makhluk-makhluk itu, masihkah dia salah paham padaku. Mbah... Biarlah untuk sementara saya yang disalahkan. Saya ikhlas dan tulus. Tapi, saya yakin... Itu tak mungkin terjadi. Karena saya tahu betul, sifat, watak dan karakter tunangan saya itu,"


"Baiklah, den... Mbah paham, hanya ingin meminta pendapatmu,"


"Iya, Mbah... Orang itu berilmu tinggi, saya tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan dia... Saya harus memperdalam kemampuan saya dengan memasrahkan diri pada Allah SWT. Dengan berserah diri pada-Nya, itulah jalan satu-satunya untuk mematahkan 'teror' yang dikirimnya,"


"Benar, den... Itu adalah jalan yang terbaik, Mbah juga akan meminta teman-teman untuk membantunya. Bilamana perlu, aku akan mencari guru dari bocah itu,"


"Kata Mbah, Mbah Sena itu adalah saudara seperguruan Mbah ?"


"Benar. Tapi, guru membencinya karena ia terlalu berambisi untuk menjadi orang tak terkalahkan, berulang kali guru menasihatinya agar jangan sombong dan menerima serta menggunakan ilmu yang dipelajarinya untuk membantu orang... Tapi, yah... Iri hati, dengki dan benci telah membutakan mata hatinya... Mbah akan menemuinya dan mencoba mengembalikannya ke jalan yang benar," jelas Mbah Alas.


"Berhati-hati lah, Mbah... Kita kali ini berhadapan dengan orang-orang yang lebih kuat daripada kita. Saya tak ingin terjadi apa-apa pada Mbah Alas,"


"Tenanglah, den... Mbah takkan berbuat bodoh. Den Reksa dan Nduk Thia juga harus berhati-hati,"


***


Sosok-sosok mengerikan di sekitar rumahku, telah diusir oleh Mbah Alas, dikembalikan pada pengirimnya. Tapi, sampai sekarang beliau tidak mau menyebutkan siapa si pengirim itu, demikian pula Mas Reksa.


Entah mengapa mereka merahasiakannya padaku. Aku masih ingat dengan pesan Mbah Alas beberapa hari yang lalu...


"Nduk, siapa pengirim itu, lebih bijaksana jika kau melihatnya sendiri, Mbah cuma bisa memberikan mantranya. Jika Allah SWT berkenan untuk memperlihatkan pelakunya kepadamu, terjadilah. Tapi, jika tidak janganlah kau memaksakan diri namun bersikaplah pasrah. Ketulusan dan keikhlasan adalah kunci dari semuanya itu,"


"Kak," panggilan itu membuyarkan lamunanku, itu adalah suara Ditha, baru saja aku hendak berdiri dan melangkah ke arah pintu kamar, pintu itu sudah terpentang lebar dan Ditha sudah berlari mendekatiku.

__ADS_1


"Ada apa, Ditha ?" tanyaku.


"Beberapa waktu lalu, kakak menelepon Bi Yusi untuk mencarikan pembantu ?"


"Lalu ?"


Ditha mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik, "Orang itu sudah datang, kak... Tapi, entah mengapa Ditha tidak menyukainya,"


"Dimana orang itu sekarang ?" tanyaku.


"Menunggu di luar, kak...Ditha belum mempersilahkannya masuk,"


Aku menatap Ditha dalam-dalam, "Ah, kau ini... Baiklah, kakak akan menemuinya," sambil berkata demikian kuelus rambut adikku yang panjang dan tersisir rapi itu lalu berdiri dan melangkah ke depan.


***


Wanita itu cantik, rambutnya panjang mengenakan pakaian long dress dengan motif bunga-bunga, bertubuh ramping namun padat berisi. Penampilannya begitu sederhana menarikku untuk segera menyambut dan mempersilahkannya masuk.


Pandanganku beralih pada Ditha yang mendadak saja bersembunyi di belakangku saat wanita itu tersenyum ramah.


Namanya, Murni, berasal dari desa yang jaraknya cukup jauh dari Sekar Wadung ini, Rinuk. Setelah berbicara panjang lebar tentang kesepakatan kerja, maka kontrak kerja disepakati. Mulai hari itu Murni sudah bisa melakukan pekerjaannya di rumah.


Murni melakukan tugas-tugasnya dengan baik, namun, Ditha tetap tidak bisa menerimanya. Entah ada apa dengan anak itu, ia tampak ketakutan sekali bertatap muka dengannya, itu membuatku merasa tidak nyaman demikian pula dengan orang baru itu. Saat Murni datang Ditha selalu mengajak Felix bermain di luar.


"Ditha, sebenarnya apa masalahmu dengan Mbak Murni ?" tanyaku suatu hari.


Ditha tidak berani bersuara keras-keras, ia hanya berbisik di telinga, "Kak, dia bukan manusia," katanya.


"Jangan berkata seperti itu, dong, Dith... Darimana kau tahu kalau dia..." Ditha buru-buru membekap mulutku, "Jangan keras-keras bicaranya, kak... Ditha takut,"


"Kenapa mesti takut ?"


"Kalau kakak tetap bicara keras, Ditha tidak mau bicara lagi dengan kakak," katanya sambil membuang wajah, ia tampak cemberut... Aku tak tahu harus tertawa atau bagaimana menghadapinya, akhirnya aku mengalah, "Baik adikku yang cantik... Kakak menurut, kakak akan bicara pelan-pelan," kataku sambil menggelitik pinggangnya, dia tertawa-tawa riang. Kamipun bercanda sebentar menunggu agar anak itu tenang baru aku kembali berkata.

__ADS_1


"Nah, kali ini jelaskan pada kakak... Mengapa kau berkata seperti itu,"


Dith memandangiku dengan wajah serius, aku balas menatapnya lalu ia berkata perlahan, "Kak, sebelum dia datang kesini, dia adalah seorang wanita aneh,"


"Aneh bagaimana ?" tanyaku.


"Waktu itu... Ada seorang laki-laki datang ke rumah Bi Yusi sambil membawa wanita aneh. Dia bergerak seperti robot, kulitnya putih pucat," jelas Ditha.


"Ditha sendiri mengapa bisa tahu ?"


"Mas Didik adalah teman bermain kami, kak... Kakak lupa kalau dia anak Bi Yusi ? Nah, waktu itu Ditha dan Kak Felix main disana saat laki-laki yang membawa wanita itu datang,"


Penjelasan yang menarik, tak mungkin Ditha berbohong, dia selalu berkata apa adanya, aku terus mendengarkan ceritanya dengan penuh perhatian.


"Ditha tanpa sengaja mendengar percakapan mereka, semula tidak tertarik tapi, setelah nama kakak disebut-sebut Ditha jadi tertarik dan mendengarkan percakapan mereka. Kak Felix pun ikut mendengarkan percakapan mereka,"


"Lalu..."


"Kalau tidak salah laki-laki itu menyebut-nyebut tentang paku... Yah, paku dia berkata seperti ini....


'Gunakan paku ini untuk merubah penampilannya, jangan sampai paku itu terlihat oleh siapapun, kalau terlihat dan sampai paku ini dicabut, dia akan menunjukkan wajah aslinya. Cynthia yang bodoh itu tidak akan tahu, siapa sebenarnya orang yang bekerja di rumahnya,'


'Mengapa kau begitu membencinya ? Padahal Thia adalah seorang wanita yang baik dan ramah,'


'Kau tak perlu tahu urusan pribadi kami, kerjakan tugasmu atau kau takkan pernah bisa bertemu dengan keluargamu lagi. Ingat nasib mereka ada di tanganku. Jadi jangan berbuat macam-macam. Kau turuti saja apa yang kuperintahkan, maka semuanya akan baik-baik saja,'


'Aku tidak tahu bagaimana cara meletakkan paku itu di kepalanya... Bukankah lebih baik kau yang melakukannya,'


'Dasar wanita bodoh. Baik aku akan memakunya, ingat jangan sampai paku ini terlihat oleh orang lain atau dicabut dari kepalanya... Kalau kau tidak ingin celaka,'


Tok ! Tok ! Tok !


"Bunyi itu terdengar sampai 3 kali, dan saat wanita itu keluar dari ruangan Bi Yusi, wanita itu sudah berubah menjadi seperti yang kita lihat sehari-hari, kak,"

__ADS_1


Ditha mengakhiri ceritanya, aku termenung... Siapa laki-laki itu dan mengapa ia berbuat seperti itu pada kami... Dendam apa gerangan laki-laki itu padaku. Aku harus menanyakannya pada Mas Reksa.


__________


__ADS_2