
#8
“GROWL .... GGRROOWWLL ... GGGRRROOOWWWLLL....”
Suara itu terdengar memekakkan telinga. Buru – buru aku menerobos kerumunan warga yang memadati halaman rumah. Namun, saat melangkah masuk, Pak Sujar mendadak menahan langkah – langkahku.
“Mbak Cella, Mbak Joan, jangan masuk dulu, berbahaya...”
“Sebenarnya ada apa ini, pak ?” tanya Joan tidak sabaran, ia memaksa masuk namun, beberapa warga memegangi tangannya.
“Maaf, mbak Cella, Mbak Joan... kami melakukan ini semua demi keselamatan kalian,” kata Pak Sujar.
“Kami ? Melakukan apa ?” tanya Joan, “Harap Pak Sujar menjelaskannya; kami tidak mengerti,” kataku.
Pak Sujar menghela nafas panjang, membuat kami semakin penasaran apalagi air mukanya tampak memelas.
“GGRR ... GGGRRROOOWWWLLL...”
Suara itu terdengar lebih keras. Bagi kami suara itu mirip makhluk yang kesakitan. Wajah Bianca mendadak terlintas di benak kami. Joan yang sudah kesal dan geram dengan perlakuan warga menjadi lepas kendali.
Ia menepiskan tangan – tangan para warga, mengirimkan tendangan memutar dan mendarat telak di kepala.
Mereka hilang keseimbangan dan jatuh terjungkal. Ia menarik lenganku dan menerobos masuk ke dalam tanpa menghiraukan Pak Sujar lagi.
Pemandangan yang tersaji di depan kami cukup mengejutkan. Lantai penuh dengan genangan darah dan gumpalan – gumpalan daging, menebarkan aroma amis menyengat,
“Mungkinkah Bianca berubah menjadi makhluk bernama lelepah lagi ?” tanya Joan padaku.
Aku tidak bisa berkata apa – apa, sementara mataku menyapu ke sekeliling dan apa yang kami cemaskan, terjadi ...
Genangan darah itu berasal dari dalam kamar, tempat Bianca, Bella dan Yulia tidur. Pintu rusak berantakan, begitu pula perabotan – perabotan di dalamnya. Dinding kamar yang terbuat dari anyaman bambu jebol dan sesosok tubuh pria mandi darah tergeletak di luar. Dia sudah tak bernyawa, bagian perut seperti dicabik – cabik oleh benda tajam. Kami tidak mengenalinya, sebab, wajahnya pun hancur. Mungkin dia adalah salah seorang warga desa ini. Bella dan yang lain tidak ada di tempat.
“GGGRRROOOWWWLLL... “
Kami segera bergegas menuju ke halaman belakang, disana tampak lebih kurang 10 orang membawa bambu dan tongkat besi berwarna hitam dan panjang berdiri mengelilingi sesosok makhluk tinggi, kurus, bermata lebar. Ia menyeringai memperlihatan deretan gigi – giginya yang runcing. Pakaiannya compang – camping, itu adalah pakaian yang dipakai Bianca sebelum kami pergi ke MAKAM KERAMAT, akulah yang memakaikan itu pada Bianca. Di hadapan makhluk itu, seorang kakek berbaju merah membawa jala, berdiri sambil memandanginya dengan tajam.
“Kalau dilihat dari ciri – cirinya, pastilah dia yang bernama Mbah Jauhari. Mau apa dia ?” tanya Joan.
“Malam ini adalah malam purnama,” kata Pak Sujar yang sudah mengikuti kami dari saat kami masuk.
“Apa hubungannya dengan Bianca ?” tanyaku.
“Dia ... Mbah Jauhari, kemungkinan akan membawa lelepah itu ke Sendang untuk dijadikan tumbal dalam ritual nanti,” jelas Pak Sujar.
“TAPA BRATA, YOGA SAMADHI ?” tanyaku. Pak Sujar menganggukkan kepala.
“Bedebah !!” seru Joan, “Aku takkan membiarkannya menyakiti Joan,” sambil berkata demikian ia melangkah menuju ke arah Mbah Jauhari tak lagi menghiraukan teguran Pak Sujar.
“Hai, Bandot tua ?” seru Joan, “Aku takkan membiarkanmu menyakiti teman – temanku lagi !” sambil berkata demikian, kaki kanannya bergerak cepat, menyambar dada Mbah Jauhari.
Laki – laki tua itu sama sekali tidak menduga datangnya serangan kilat itu, segera saja dadanya yang busung menjadi sasaran telak telapak kaki Joan yang sudah dilatihnya sejak masih kanak – kanak itu.
__ADS_1
“DASH !!”
Mbah Jauhari terjungkal dan para warga yang melihat kejadian itu terkejut. Mereka segera mengepung Joan sementara yang lain membantu Mbah Jauhari berdiri.
“Hei, berani sekali kau menendang Mbah Jauhari ! Siapa kau ?!” tanya salah seorang dari mereka.
“Jangan banyak bicara, dia pastilah salah satu dari mahasiswa kota yang tersesat di desa ini. Simbah bilang, siapa saja yang memasuki desa ini harus ditumbalkan demi menghindarkan dari balak / malapetaka,” sahut yang lain.
Perkataan warga itu membuat Joan semakin geram, “Bedebah !! Jaga ucapanmu !!” sahut Joan sambil menerjang ke arah mereka. Ada tiga orang bersenjatakan bambu menghadang serangan Joan. Tapi ....
“KKRRAAKK ....”
Bambu – bambu kuning itu tak sanggup menahan laju tendangan Joan, yang kuat bagai hempasan ombak Laut Kidul. Penduduk itu terjengkang ke belakang, bambunya patah menjadi dua bagian. Melihat temannya roboh, yang lain tidak tinggal diam, mereka menyerang Joan.
Salah satu ujung bambu penduduk terjulur mengarah ke wajah Joan, dengan gesit Joan menyambar bambu itu memutar tubuhnya dan lagi – lagi kaki kanannya bergerak bagaikan kilat melancarkan dua tendangan ke arah dada warga. Mereka tak mampu menduga kemana tubuh Joan bergerak, tahu – tahu tubuhnya terdorong ke belakang sambil meringis kesakitan.
3 orang berhasil dijatuhkan, Joan berdiri kokoh sambil melemparkan potongan bambu ke arah kerumunan warga yang mulai jeri melihatnya. Namun, masih ada saja warga yang penasaran dan ingin merobohkan wanita yang memiliki tinggi nyaris 170 cm itu. Namun, Mbah Jauhari dan Pak Sujar segera turun tangan.
“Kalian semua mundur ! Biarkan aku yang menghadapi wanita ini,” seru Pak Sujar.
“Tetaplah pada tugas kalian ! Jangan biarkan lelepah itu lolos,” sambung Mbah Jauhari.
“Hei, bandot tua !” seru Joan, “Apa yang kau lakukan pada teman – teman kami ?!” sambungnya sambil berkacak pinggang.
“Tenanglah, nduk ... mereka semua kami ungsikan ke tempat yang lebih aman daripada menjadi korban keganasan Lelepah ini,” kata Mbah Jauhari.
Joan menyipitkan matanya, “Maksudmu, mereka kau tahan untuk dijadikan tumbal juga, begitu ?! Tunjukkan pada kami dimana mereka sekarang berada, setelah itu kami segera enyah dari tempat ini,”
“Kau pikir, kau siapa ? Berani benar menghalangi kami pergi dari sini ! Dengarlah, kalianlah yang pertama kali mencari gara – gara dengan kami ! Semula kami baik – baik saja, berniat menyelesaikan tugas kami. Tetapi, setelah berada di tempat terkutuk ini ... kami semua tercerai berai. Apakah kalian hendak memutar balikkan fakta ?! Manusia macam apa kalian ini ?!” tukas Joan sengit, tak mau kalah.
“Sudah ... sudah ... tak perlu diperdebatkan lagi,” kata Mbah Jauhari, ia menoleh ke arah Joan lalu berkata, “Nduk, mari kuantar kalian menemui mereka. Sebelum itu, Mbah Jauhari harus menangkap makhluk ini. Dia telah membunuh banyak warga penduduk sini. Maka, ia harus bertanggung jawab atas perbuatannya,”
“Tidak !” sanggah Joan, “Biar bagaimana pun juga, dia adalah teman kami. Biarkan Mbah Joglo yang menanganinya, karena kami lebih mempercayainya daripada dedengkot busuk macam kau !!”
“Hei, jaga ucapanmu ! Mbah Jauhari adalah salah satu panatua desa ini, hormatilah beliau,” ujar salah seorang warga.
“Kalian hormati dia sendiri ! Aku tidak akan bertekuk lutut padanya, karena dia adalah biang keladi segala kekacauan ini !”
“Kurang ajar !!” sahut warga lain hendak menampar pipi Joan, tetapi, Mbah Jauhari mencegahnya, “Sudahlah... biarkan saja dia mau bicara apa,”
Baru saja Mbah Jauhari menutup mulutnya, terdengar teriakan pilu bercampur ngeri. Warga yang hendak menampar Joan menjerit keras, makhluk itu mendadak sudah berada di dekatnya dan menyambar kepalanya. Tubuhnya terangkat ke atas, perlahan – lahan tubuhnya yang gemuk itu masuk ke dalam mulut makhluk itu. Darah menyembur keluar, menyebar ke segala penjuru dan sebagian memercik ke wajah Mbah Jauhari. Aku sempat melihat, kakek tua itu menyeringai, memejamkan mata seolah membiarkan darah itu membasahi wajah dan tubuhnya.
Semua orang lari pontang – panting sambil berteriak – teriak ketakutan. Saat di tempat itu hanya tinggal beberapa orang saja, Mbah Jauhari menebar jalanya, makhluk itu meraung keras, berontak hendak melepaskan diri. Tetapi, semakin kuat ia berontak, semakin kuat pula jala yang melilit tubuhnya.
Raungan itu semakin lama semakin lemah, dan akhirnya, tubuhnya mengecil dan kembali menjadi sosok Bianca. Mendapati dirinya berada di dalam jala, ia ketakutan sekali, berteriak histeris hingga sebuah pukulan keras mendarat pada pelipis yang membuatnya roboh tak sadarkan diri, darah merah kehitaman mengalir dari pelipisnya.
Joan yang sempat melihat siapa penyerang itu, marah sekali, dengan gerakan yang tak bisa diikuti oleh mata biasa, tubuhnya berkelebat dan melancarkan tendangan beruntun ke arah warga yang ternyata adalah seorang laki – laki gondrong, kumis dan jenggotnya panjang berwarna kelabu.
“Dash... dash... dash...”
Tiga empat kali tendangan mendarat di tubuh laki – laki itu hingga membuatnya jatuh terduduk. Sebelum dia sempat berdiri, Joan sudah mengangkat kaki kanan tinggi – tinggi ke udara, dan ....
__ADS_1
“PRAKK !!”
Sebuah bambu kuning yang dimaksudkan untuk melindungi kepala pria berusia 45 tahunan itu patah jadi dua, tak mampu menahan laju tumit Joan yang segera saja mendarat telak pada batok kepalanya. Laki – laki gondrong dan gemuk itu tersungkur di bawah kaki Joan. Entah pingsan atau tewas seketika, yang jelas pria itu tidak bergerak – gerak lagi.
Pak Sujar dan Mbah Jauhari menundukkan kepala, mereka sama sekali tidak menghendaki peristiwa itu terjadi.
“Maaf, nduk .... kami terpaksa membawa temanmu yang bernama Bianca itu. Nah, kau bisa bertemu dengan teman – temanmu di rumah Pak Sujar,” kata Mbah Jauhari, “Percayalah, kami akan berusaha menyembuhkan temanmu ini. Roh jahat yang bersemayam di dalam dirinya harus segera diusir,” sambungnya.
Joan masih tak mau mempercayai kata – kata Mbah Jauhari itu, ia tidak bisa membiarkan Bianca dibawa olehnya. Tapi, aku dan Pak Sujar berusaha membujuknya, ia akhirnya menurut juga. Sekalipun berhasil meredam kemarahan Joan, akan tetapi, kami tahu apa yang harus kami lakukan. Inilah puncak dari kejadian yang mungkin tidak bisa dilupakan oleh kami semua sampai akhir hayat kami; Puncak dari segala peristiwa yang terjadi selama kami berada di Nakampe Gading; Puncak dimana kami terpaksa harus kehilangan hati nurani kami sebagai manusia.
***
Seperti yang sudah dikatakan oleh Mbah Jauhari ....
Bella, Yulia, Hudi dan Akhmad memang berada di rumah Pak Sujar. Mereka duduk di teras dengan perasaan tegang dan cemas. Setelah melihat kedatangan kami, mereka semua menyambut dengan perasaan haru.
“Syukurlah, kalian baik – baik saja,” kata Bella yang masih lemah.
“Katakan padaku, bagaimana Bianca bisa berubah menjadi makhluk mengerikan itu lagi ? Bukankah kalian sudah diberi peringatan oleh Mbah Joglo tentang pantangan – pantangan supaya dia tidak berubah lagi ?” tanyaku.
“Kau benar, Cel... kami sudah melakukannya, tapi, entah siapa yang mengolesi pintu kamar dengan darah ayam,” ujar Yulia.
“Lalu, apa kerja kalian ?!” tukas Joan yang masih terbakar oleh amarah kepada Hudi dan Akhmad, “Kalian harusnya menjaga rumah itu, bukan melakukan hal – hal lain,”
“Kami ...” ucapan Akhmad terputus, Hudi menyikut perutnya.
“Sepertinya, kalian menyembunyikan sesuatu ....” ujar Joan, sepasang matanya yang tajam tak berkedip menatap mereka.
“Waktu itu, kami sedang berunding untuk segera pergi dari tempat ini, tapi, mendadak terdengar jeritan dari arah kamar ... Bella dan Yulia yang saat itu sedang membersihkan ruangan terkejut melihat Bianca mengerang – ngerang kesakitan,” jelas Hudi, “Tak lama setelah itu, Bianca bergerak aneh, seperti .... seperti...”
“Seperti apa ?” bentak Joan.
“Ku... kucing. Dan saat tiba di pintu keluar, ia menjilat – jilat selasar pintu dan mendadak sudah berubah. Ia menyerang seorang penduduk yang entah kebetulan, entah sengaja datang ke kamar dan melemparkannya keluar. Pada saat itulah, para warga berdatangan dan mencoba untuk menyerang makhluk itu. Hingga Pak Sujar dan kakek tua muncul di hadapan Makhluk itu,”
“Tampaknya, Mbah Buluk harus segera menemui Mbah Joglo,”
Suara itu muncul dari belakang kami.
“Edan,” Joan tersentak hingga melompat kaget.
Mendadak saja Mbah Buluk sudah berdiri sementara matanya yang sebesar biji kelereng seakan tidak terfokus pada satu tujuan. Ia kemudian memandang ke arah langit lalu berkata, “Malam ini adalah malam purnama, ritual TAPA BRATA, YOGA SAMADHI akan dilakukan oleh Mbah Jauhari. Bianca pastilah dikorbankan sebagai tumbal,”
“Aku takkan membiarkan itu terjadi,” sahut Joan.
“Kalau hanya kita sendiri, kita tak mungkin bisa keluar dari sini,” sahutku.
“Kembalilah kalian ke rumah penginapan. Disana lebih aman. Kalian segeralah susun rencana, setelah selesai, kita akan bertemu lagi Di Sendang,” kata Mbah Buluk sambil membalikkan badannya, berjalan tertatih – tatih dan menghilang di balik semak – semak.
_ Bersambung Babak Kesembilan _
( Sabtu, 04 Feb 2023 )
__ADS_1