DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
Bab 31 : S o s o k #2 ( R a n i )


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 12:00 siang, tibalah bagiku dan teman-teman untuk bersantai sejenak di gazebo yang terletak di halaman belakang hotel.


Untuk menuju kesana, kami biasanya melewati lokasi kamar blok E, sebuah lokasi yang menurut teman-teman adalah lokasi paling angker di sekitar Hotel Sekar Wadung.


Saat siang begini, kami dengan leluasa bolak-balik melewati kawasan itu. Akan tetapi saat malam tiba, tak seorangpun berani melewatinya, kecuali terpaksa. Ada banyak rumor mengenai kawasan tersebut. Baik dari para pegawai senior maupun dari beberapa orang tamu yang pernah menginap disana. Rumor yang cukup membuat bulu kuduk merinding.


Rani, salah satu saksi dari sekian banyak orang yang pernah mengalami kejadian aneh di luar akal sehat, nalar dan logika yang sampai saat ini masih menjadi misteri tak terpecahkan dan tak mungkin bisa dilupakan seumur hidup oleh mereka yang pernah mengalaminya. Rani menceritakan ini kepadaku, 1 bulan sebelum mengundurkan diri. 


***


"Kring..."


Bunyi telepon menggema, memenuhi ruangan resepsionis. Rani dan Lilis yang saat itu mendapat giliran shift malam setengah terkantuk-kantuk melompat kaget. Jam menunjukkan pukul 23:30.


"Halo, resepsionis ... selamat malam, ada yang bisa saya bantu ?" Rani dengan malas mengangkat telepon.


"Ini dari kamar no. E-113," terdengar suara wanita di seberang sana, "Mbak, tadi saya minta tolong bagian cleaning servis untuk membersihkan kamar mandi, kok sampai sekarang belum direspon?"


"Oh, maaf, Bu... kebetulan bagian office boy ( OB ) atau cleaning servis sudah pulang jam 19:00 tadi, besok jam 05:00 mereka baru ada di tempat," kata Rani.


"Lho, kalau tidak salah nama OB tersebut Dika, dia mengatakan akan segera menanganinya, tapi kok sudah pulang, ya ?" nada wanita itu meninggi, Rani bisa membayangkan bahwa ia mulai kesal.


"Baik, Bu... tunggu sebentar, saya akan menanyakan ini pada Dika," telepon ditutup, Rani pun segera menghubungi Dika.


" Halo, Ka... kamu sudah di rumah, ya?"


" Iya, mbak... ada apa ?" tanya Dika di seberang.


"Apa benar kau tadi dimintai tolong oleh kamar E-113, untuk membersihkan kamar mandi ?"


"Kamar E-113, mbak ?"


"Benar. Baru saja saya ditelepon,"

__ADS_1


"Lho, mbak... seingatku, kamar E-113, kosong. Tidak ada orang ?" jelas Dika.


"Orangnya baru telepon, Ka,"


"Gini saja, mbak... coba lihat di komputer, kamar E-113, ada tamu atau kosong. Masalahnya, sebelum saya pulang, saya sempat memeriksa semua ruangan di kamar blok E, kosong, tidak ada orang, saya yakin itu," ujar Dika.


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih, ya..." Rani mengakhiri pembicaraan dan segera memeriksa komputer di menu check-in dan check-out, kamar blok E hampir semuanya kosong, terlebih E-113, dan...


"Kring!" lagi-lagi telepon berbunyi, kali ini Lilis yang mengangkat.


"Bagaimana, mbak? Apa sudah menghubungi bagian cleaning servis?"


Lilis menatap ke arah Rani, "Bagaimana, Ran... ibu dari kamar E-113 kembali menelepon,"


Rani segera meraih gagang telepon dan menggantikan Lilis berbicara, "Baik, Bu... karena pihak OB atau Cleaning Servis kosong, maka, saya sendiri yang datang. Mohon ditunggu, Bu," sahut Rani.


"Baik, mbak... terima kasih," suara wanita itu berakhir dengan dengungan panjang, telepon sudah ditutup.


"Hati-hati, Ran.... sebaiknya, minta tolong Pak Hadi menemanimu. Kau tahu sendiri keadaan lokasi kamar blok E, bukan ?!" Lilis menasihatkan.


"Ga, usah... biar aku berangkat kesana sendiri," ujar Rani.


Lokasi kamar blok E, sudah kelihatan, sunyi sepi dan lengang, cahaya lampu yang remang-remang, membuat Rani ragu-ragu sejenak, tapi setelah memantapkan hatinya, ia sampai juga di kamar E-113.


"Permisi, Bu.... cleaning servis," kata Rani sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar. Tidak ada jawaban. Sekali lagi Rani mengetuk, sama... tidak ada jawaban. Ia kembali mengetuk, tiga kali, empat kali sampai sepuluh kali. Hasilnya sama, tidak ada jawaban.


Kesabaran Rani mulai habis, "Hm, dia menelepon sampai berkali-kali, tetapi begitu sampai disini, aku diabaikan," gumamnya seorang diri sambil membalikkan badan hendak meninggalkan tempat itu. Namun, mendadak .....


'Kkkrrriiieeettthhh....'


Pintu terbuka perlahan, Rani mencoba tersenyum seramah mungkin, saat membalikkan badan, ia tersentak manakala mendapati kamar itu kosong. Gelap gulita.


Rani melangkah masuk, tangannya meraba saklar lampu. Cahaya lampu Led 15 Watt segera menerangi ruangan, kamar itu benar-benar kosong, "Yang benar saja," katanya seorang diri, "Jika tak ada orang lalu siapa yang membuka pintu ini,"

__ADS_1


Desiran angin tajam dan dingin berhembus menebarkan aroma aneh, membuatnya tidak nyaman, buru-buru ia mematikan lampu dan tangannya meraih gagang pintu untuk menutupnya kembali, tapi, sebelum pintu tertutup rapat, terdengar suara. Suara tangis bayi, wajah Rani memucat, tangisan itu berubah seperti lolongan pilu. Suara itu berasal dari arah kamar mandi.


Lampu kembali dinyalakan, Rani melangkah menuju ke kamar mandi. Kosong. Tak ada orang atau bayi sama sekali... padahal ia dengan jelas mendengar suara itu dari sini, tapi mengapa tidak ada apa-apa, sementara suara tangis itu berhenti begitu saja.


Perasaan tak nyaman itu semakin menjadi-jadi manakala saat keluar dari kamar mandi ia melihat sesosok bayangan putih berambut hitam, panjang, kusut dan tergerai menutupi punggung duduk di tepi pembaringan menghadap tembok, sementara kedua pangkal lengannya bergerak ke kanan dan ke kiri, seolah-olah sedang menimang-nimang bayi. Suara tangis itu kembali terdengar, menyayat.


"Bu... tadi ibu yang menelepon resepsionis, bukan ?" tanya Rani.


Bayangan itu tidak menjawab, diam bagai sebongkah arca batu. Rani berjalan menghampiri dan mencoba untuk menyapa lagi.


"Bu... apakah ibu yang tadi telepon ?"


Sosok itu perlahan-lahan menggerakkan kepalanya, Rani tersentak manakala melihat wajah sosok itu. Ia adalah seorang wanita, namun separuh wajahnya rusak parah belatung, cacing, kelabang, kalajengking dan hewan melata lain merayap di sela-sela darah dan nanah yang menetes membasahi alas tempat tidur dan menebarkan aroma busuk menyengat.


Rani menelan ludah, ingin berteriak namun suaranya seperti tertahan di kerongkongan. Lututnya serasa tak bertenaga. Tak dapat dibayangkan bagaimana perasaannya saat itu.


Lebih kurang 1 menit lamanya, Rani tak mampu menggerakkan tubuhnya, sekalipun hanya sebentar namun, rasanya seperti berjam-jam. Rani berhasil menggerakkan tubuhnya kembali, ia masih sempat menahan teriakannya saat meninggalkan tempat itu.


Sesampai di ruang resepsionis, Lilis menyatakan tamu di kamar E-113 masih terus menerus menelepon meminta seseorang datang untuk membersihkan kamar mandi.


"Aku baru saja dari sana, kamar itu.... kosong," barulah ia menjerit keras membuat Lilis dan Pak Hadi terkejut.


"Ia datang saat malam tiba, menerorku dan memaksaku untuk tidak tidur semalaman," begitulah yang Rani katakan. Sejak saat itu Rani tidak mau lagi shift malam, dan satu Minggu kemudian, ia mengundurkan diri dari hotel Sekar Wadung.


***


NB : Untuk menghormati para tokoh yang telah mengalami kejadian aneh tersebut, pihak penulis sengaja menyamarkan nama tokoh dan tempat kejadian....


Jika ada kejadian atau peristiwa yang terjadi serupa dengan para pembaca yang Budiman, maka, itu hanyalah kebetulan saja.


__________


^^^( Rabu, 07 September 2022 ) ^^^

__ADS_1


__ADS_2