
07. Saksi Bisu Sebuah Ponsel
Kematian John, di luar dugaanku, foto Monica hilang entah kemana. Kris, si ahli multimedia pun menyerah, foto itu sudah tidak ada lagi di ponsel John.
Kris mengemukakan pendapat yang tidak masuk akal, dia mengatakan bahwa foto itu adalah merupakan sebuah tanda.
Aku menentang keras pendapat ini, tapi, mataku terbelalak lebar manakala Kris menyodorkanku foto teman-teman beberapa hari sebelum mereka meninggal.
"Sebelum meninggal mereka sempat berfoto bersama, dan hasilnya aneh sekali. Ini salah satunya," ujar Kris sambil memberikan sebuah foto. Foto yang aneh menurutku. Pada foto itu wajah John, Roni dan Richard tampak seperti ada sebuah bayangan hitam di bagian matanya, sehingga tidak dapat dilihat dengan jelas, mata mereka tampak juling dan pada dahinya terdapat kerutan aneh.
"Bukan cuma itu saja, masih banyak foto-foto lain dari mereka, demikian pula foto Yuniar, Melly dan Rita. Kalau ini bukan tanda lalu apa ?" ujar Kris, "Tidak bisa diedit, sekalipun berusaha keras, hasilnya malah sama setiap hari malah tampak mengerikan,"
"Apakah kau memberitahukan hal ini pada mereka ?"
"Sudah, tapi tampaknya mereka tidak mempedulikannya, mereka bilang ponselnya kurang bagus harus ganti ponsel baru. Pernah aku menggunakan foto polaroid-ku untuk mengambil foto mereka. Ini hasil nya.
" Foto yang mengerikan," desahku.
"Kalau itu bukan tanda kematian, lalu apa ?" tanya Kris lagi.
"Keluarkan polaroid mu, lalu Fotolah aku," pintaku.
"Hei, apa-apaan, kau..."
"Jangan banyak tanya, cepat lakukan," desakku.
"Serius ? Kenapa mendadak memintaku untu memfoto wajah jelekmu ?" ujar Kris.
"Setelah kau mengambil fotoku, baru aku akan menceritakannya,"
"Baik," ujar Kris sambil mengeluarkan kamera polaroid nya lalu,
"Cret,"
Bunyi jepretan kamera diiringi dengan seberkas cahaya membuat mataku silau bukan itu yang aku khawatirkan, namun kalau memang benar perkataan Kris itu, berarti akupun tidak akan lolos dari Kematian.
__ADS_1
"Nich," Kris menyodorkan selembar foto yang baru keluar dari kamera polaroid nya. Aku terbelalak, foto tersebut tidak jauh berbeda dengan foto teman-teman.
Artinya, akupun tidak akan luput dari Kematian. Batas waktuku adalah 4 hari.
Sesuai dengan janji, aku segera menceritakan segala-galanya pada Kris. Hingga akhirnya aku menceritakan bagaimana aku mengalami apa yang disebut tresspassing ( menerobos ).
"Hm, aku sedikit banyak paham tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia lain atau dunia gaib dan sejenisnya. Kalau dugaanku tidak salah... dia ingin menyampaikan sesuatu padamu. Ikuti saja petunjuk yang diberikan oleh Monica lewat kejadian-kejadian yang sudah terjadi," jelas Kris.
"Dan membiarkan teman-teman kita mati begitu saja ? Tak mungkin aku berpangku tangan saja, Kris..."
"Bukan seperti itu, dalam tresspasing atau lebih dikenal dengan istilah Pass Out, kau diperlihatkan adanya kejadian-kejadian yang janggal, bukan. Tampaknya kita harus menghubungi Melly dan mereka yang terdapat dalam foto ini. Kita gali informasi lebih lanjut lewat mereka, rumah Melly tidak seberapa jauh, kita harus segera kesana," ujar Kris.
***
Jarak rumah Kris dan Melly, memang tidak terlalu jauh. Lebih kurang 20 menit. Saat kami tiba disana, ternyata Rita dan yang lain juga ada disana. Aku dan Kris segera menjelaskan apa yang terjadi.
"Tak mungkin itu, tanda, Mike," sahut Hanafi, "Pertanda-petanda seperti itu tidak ada di jaman sekarang,"
Aku segera menunjukkan foto Monica berikut foto-foto teman-teman mulai dari Yuniar dan Roni hingga John. Aku menatap tajam ke arah Rita dan Melly secara bergantian, "Dan aku yakin sekalipun kalian sudah mengganti hp dan nomormu yang baru, foto Monica itu masih ada, kan?"
"Ya... foto sialan itu masih ada dan tidak bisa dihapus, malah semakin hari malah bentuknya makin aneh. Ukurannya lebih besar daripada saat pertama kali menerimanya," sahut Jackie sambil memberikan hpnya padaku.
"Kau menerimanya 5 hari yang lalu, ya? Waktumu tinggal 2 hari lagi,"
"Sialan, kau, Mike. Berani benar meramalkan kematian orang," wajah Jackie merah padam, ia marah sekali tapi, dibalik kemarahannya itu, ada perasaan takut dalam dirinya.
"Kalau memang demikian waktuku 1 hari lagi ?" tanya Melly putus asa.
Sementara itu Ajeng dan Rita juga tampak cemas. Mereka menerima foto itu nyaris bersamaan dengan Melly. Aku, Hanafi dan Kris tampak iba.
"Aku takkan membiarkan kalian mengalami nasib yang sama dengan Yuniar dan yang lain," sahutku.
"Kkrriinngg...."
Ponselku berbunyi nyaring mengagetkan semua orang terlebih ada nama Monica muncul di LCDnya.
__ADS_1
Aku ragu sejenak, tapi, kemudian kuberanikan untuk mengangkatnya, "Hallo..."
Ponselku mendadak berdenging, pada saat itu lagi-lagi dari sela-sela LCD merembes cairan kental berwarna merah dan aroma amis membuat semua yang ada, perutnya serasa diaduk-aduk.
Beberapa saat kemudian terdengar suara berat, "KAU TAKKAN MAMPU MENYELAMATKAN MEREKA SEMUA. MEREKA HARUS MEMPERTANGGUNG JAWABKAN PERBUATANNYA,"
Setelah itu nada panggilan terhenti dan cairan merah kental itu mendadak sirna.
Belum hilang rasa kaget kami, mendadak Melly berteriak-teriak histeris.
"Tidak! Tidak! itu bukan salahku... tapi, salah Roni dan teman-teman bule-nya. Pergi... jangan ganggu aku ! Pergi!"
"Jangan dilihat matanya, tutup matamu rapat-rapat, Mell...." seru Kris.
Melly masih histeris, buru-buru Kris melompat mendekat dan menutupi mata Melly dengan sehelai kain.
"Aku buta... aku buta ..." gadis itu terus berteriak-teriak sementara tangannya menggapai-gapai ke tengah udara.
"Tenangkan dirimu, Mell... tenang..." kata Kris sambil menoleh ke arah Hanafi, "Cepat bawa mereka semua keluar dari tempat ini," serunya.
Sekalipun Hanafi heran dengan kelakuan Melly dan Kris namun, iapun menyuruh semua orang keluar. Tapi, mendadak pintu tertutup dengan sendirinya dan terkunci.
"Pergilah, kau Monica... jangan ganggu mereka semua," seru Kris sambil menatap kosong tak jauh dari Melly.
Melly sudah berhasil ditenangkan namun suara berisik dari ponsel-ponsel yang bergeletakan di meja membuat semua orang menutup telinga.
"Hanafi, lempar semua ponsel ke luar ruangan," bentak Kris.
Hanafi menurut, ia membuang semua ponsel ke luar lewat jendela dan situasi di ruangan pun kembali tenang.
Kris masih menutupi mata Melly dengan kainnya.
"Bisa kau ceritakan apa sebenarnya yang baru terjadi ?" tanyaku.
"Melly melihat sosok wanita keluar dari ponsel," jawab Kris. Jawabannya ini tentu saja tidak masuk akal bagiku, "Yang benar saja, Kris... jangan bercanda,"
__ADS_1
"Aku tidak bercanda, Mike dan aku kini paham apa yang dilihat Roni dan teman-teman, sebelum meninggal. Sesuatu yang jahat, dan harus segera diselesaikan," jelas Kris.
...__________...