DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
Bab 15 : Mimpi Buruk Sebuah Celullar ( babak Kedelapan )


__ADS_3

08. Saksi Bisu Sebuah Ponsel ( bagian kedua )


Melly duduk sambil menundukkan kepalanya, sepasang matanya menatapku dengan tatapan memelas,


"Kalau memang kau bisa membantu kami, aku akan sangat bersyukur sekali,"


katanya.


"Asalkan kau menceritakan segala sesuatunya, aku baru bisa membantumu, Mell," sahutku.


"Baiklah, aku akan menceritakan semua yang kuketahui,"


***


Negeri Gajah putih, Thailand. Konon di negeri ini unsur mistisnya tak kalah dengan negara Indonesia. Tenung. Itulah yang paling banyak dipakai orang untuk memikat, membalas dendam ataupun yang lain. Hampir semua teman Michael sama sekali tidak mempercayai hal-hal yang berhubungan dengan gaib, paranormal atau mistis, kecuali Kris yang memang mendalami hal-hal yang berbau metafisik.


Maka dari itu, Roni dan yang lain berencana ingin berkunjung ke negeri tersebut. Setelah menjalani serangkaian tes yang boleh dibilang ribet, maka, mereka ( John, Roni, Yuniar, Melly, Richard dan Rita ) berangkat.


Sesampai di Thailand, mereka dipandu oleh seorang gaet wanita yang enerjik, cantik, cerdas dan berpengalaman. Monica. Lewat dialah Roni, cs berkenalan dengan beberapa wisatawan muda dari luar negeri : James, Nat, Paul dan Kat. Kebetulan pula James, cs satu hotel dengan Roni, cs jadi dalam waktu yang singkat mereka sudah akrab.


Suatu ketika Paul berkata pada Roni, "Hei, Ron... sepertinya, kau naksir dengan wanita yang bernama Monica itu ? Tapi, kau takut mengungkapkannya karena ada Yuniar, ya?"


"Jangan bicara sembarangan, dude... "


ujar Roni sementara wajahnya memerah.


Paul tertawa, "Ha... ha... ha... mumpung masih disini, ambil kesempatanmu, usahakan Yuniar jangan sampai tahu,"


"Aku akan membantumu, dude... tapi, jika kau sudah mendapatkannya, jangan lupakan kami, ya ?" goda Paul.


"Ah, kau ini, Paul... jangan-jangan kau juga naksir gadis itu ?"


"Di negara kami banyak yang mengatakan gadis-gadis Asia seperti Indonesia, Thailand, Hongkong dan lain sebagainya rata-rata memiliki body yang bagus, ternyata memang benar. Semula aku tidak mempercayainya, tapi setelah melihat sendiri.... benar-benar luar biasa. Dan, kau tahu... negara prostitusi terbesar di Asia ini, Thailand salah satunya,"


"Hmm... aku tahu apa yang ada di benakmu, dude..." sahut Roni.

__ADS_1


Dia pemuda itu sama-sama tertawa. Paul mulai berkutat dengan pikiran-pikiran licik dan jahat, sementara Roni hanya mendengarkan saja.


***


Beberapa hari kemudian, Monica tidak kelihatan, semuanya sudah menunggu di lobi untuk melanjutkan acara ke Pantai Phuket. Roni dan yang lainnya kebingungan. Pada saat itu, Nadya buru-buru datang dan menyambut mereka, "Oh, maaf tuan dan nyonya, untuk sementara Monica tidak bisa menemani anda ke Phuket karena suatu hal. Maka dari itu, saya Nadya yang akan menemani anda sekalian,"


Roni dan kawan-kawan segera melanjutkan acara ke Pantai Phuket. Perjalanan terhenti sejenak karena ada sebuah mobil ambulan, polisi dan kendaraan bego diparkir di tengah kota, jalan bertambah macet saat banyak orang memadati 3 kendaraan pemerintah di jalanan tersebut.


"Ada apa, Miss Nadya?" tanya Rita.


"Pembersihan sungai," sahut Nadya, "Ini rutin dikerjakan untuk menjaga kebersihan kota," sambungnya.


"Tapi kok ada mobil ambulans dan polisi, ya?" Melly juga bertanya.


"Mobil ambulans dan polisi itu memang mengawal kendaraan berat tersebut. Di sungai ini kadang ada orang yang meninggal, entah terbawa arus atau sengaja bunuh diri," jelas Nadya.


"Kendaraan bego itu mengangkat mayat seorang wanita," ujar Nat. Keningnya berkerut, "Tidak mungkin dia..." sambungnya sambil mengarahkan ponselnya untuk mengambil foto kejadian tersebut. Mendadak ia berseru tertahan, wajah keriput seorang laki-laki gundul muncul pada kamera ponselnya.


Seorang laki-laki tua mengenakan pakaian biksu berwarna coklat mendadak berdiri di hadapan Roni, cs menatap tajam ke arah Paul dan James.


"Khuṇ dị̂ thảbāp ( Kau telah berbuat dosa )" katanya sambil menunjuk ke arah Paul. Wajah Nadya tampak pucat,


"Tuan, pendeta itu sering kemari membuat takut semua orang. Mohon pengertiannya," ujar Nadya.


"Khun ca dị̂ rạbkhả txb... ( kau akan menerima balasannya," kembali laki-laki tua itu berkata. Wajah Nadya bertambah pucat, membuat Roni, cs heran.


"Miss, kata-katanya cukup menggangguku, tolong terjemahkan sekarang juga," ujar Paul geram.


"Tuan.... orang tadi bilang 'kau telah berbuat dosa dan yang terakhir ia mengatakan 'Kau akan menerima balasannya', jelas Nadya.


Paul tertawa mengejek, "Ha... ha... ha, apa yang telah kuperbuat, kubur saja mimpimu pak Tua" katanya.


"Tolong, jaga sikapmu, dude... kita di negeri orang," ujar Nat.


"Memangnya, apa yang sudah kuperbuat ? Aku tak melakukan apapun yang salah," nada tinggi Paul kepada Nat menarik perhatian hampir semua orang. Namun pemuda berasal dari Inggris itu tak peduli. Mereka berdua beradu argumentasi, menarik perhatian hampir seluruh orang. Bagi Roni, cs ini adalah kejadian pertama kali semenjak ada di Thailand.

__ADS_1


***


Chaweng Noi Beach. Sebuah pantai kecil berombak tenang, di sepanjang pantai, sejauh mata memandang yang tampak adalah butiran-butiran pasir putih dan nyiur melambai-lambai tertiup angin. Setiap malam tiba, terlihat kelap-kelip lampu bak bintang bertaburan di langit, itu adalah sebuah desa yang tengah berkembang menjadi kota.


Di sisi lain, Chaweng Motel berdiri megah menantang langit dengan 10 lantainya. Disinilah Roni, cs menginap. Malam itu, mereka duduk di teras sementara matanya memandang ke arah tempat parkir kendaraan, tampak oleh mereka Paul dan Nat bertengkar. Tampaknya kejadian siang tadi masih berlanjut, terakhir mereka melihat James yang sedang melerai mereka bersama Kat malah kena marah juga.


"Haruskah kita ikut melerai ?" tanya Richard.


"Ah, itu bukan urusan kita, bung... biarkan saja, jika kita ikut-ikutan, malah kita jadi kena getahnya," sahut Roni.


"Aku hanya penasaran dengan kejadian siang tadi, nona Monica mendadak digantikan dengan Nadya, ditelepon pun juga tidak ada jawaban. Ada apa sebenarnya, ya ?" tanya Rita.


"Itu juga bukan urusan kita, Rita," John menimpali.


"Kenapa, sich kalian para cowok cuek banget ?" ujar Yuniar kesal.


"Sudahlah, mengapa kita ribut hanya gara-gara urusan spele, sich ?! Yang penting kita nikmati saja Thailand beserta keindahannya," tukas Melly.


" Iya, benar. Eh, siapa itu ?" kata Yuniar sambil menunjuk ke arah pintu dimana kamar Melly berada.


Buru-buru, Semua orang mengalihkan perhatiannya ke arah yang ditunjuk Yuniar. Tidak ada apa-apa disana.


"Mana, Yun ? Apakah kau tidak berhalusinasi ?" tanya Roni.


Yuniar menggeleng-gelengkan kepalanya, "Mungkin juga. Aku mau ambil minuman dulu," sambil berkata demikian Yuniar melangkah masuk.


"Aaahhhh..."


Terdengar teriakan dari dalam hotel mengejutkan semua orang. Itu suara Yuniar, buru-buru Roni masuk diikuti dengan yang lain.


Mata mereka terbelalak manakala melihat lemari penyimpanan barang berantakan.


"Bukankah tak seorangpun ada di dalam ?" tanya John.


"Candaan yang tidak lucu," kata Richard ketus.

__ADS_1


Melly menggerakkan jari jemarinya pada keypad ponsel, sebentar kemudian dia mulai terlibat pembicaraan dengan pihak resepsionis hotel. Pembicaraan singkat namun diakhiri dengan ucapan 'Thanks for your attention," dari Melly.


...__________...


__ADS_2