
Mumi Malivalaya
Saat kami memasuki ruangan itu, udara di dalam terasa pengap padahal ruangan itu begitu luas. Mungkin karena kurangnya sinar matahari yang masuk juga tanaman merambat tumbuh liar diantara ilalang. Luasnya mungkin sekitar 1200 M². Selain tanaman liar dan ilalang, sampah berserakan disana-sini.
Kami menyusuri lantai ubin yang bentuknya sudah tidak utuh lagi dan berdebu. Potongan-potongan kain, kayu, kaca bercampur dengan bercak-bercak pewarna kain yang mengering. Sementara itu, Kris yang biasanya berjalan gagah kini tampak lemas, berulang kali ia muntah-muntah.
"Kris, kau baik-baik saja," tanyaku.
Kris menganggukkan kepala, "Aku baik-baik saja... hanya saja aura di tempat ini bertentangan dengan auraku. Banyak serangan tak kasat mata menguras staminaku. Dan aku berusaha melawannya," jelasnya.
Wajah Kris pucat pasi, namun, setelah duduk sejenak, mengatur pernafasannya ia baru bisa menenangkan diri. Aku benar-benar tidak mengerti hal-hal yang berbau gaib, metafisik atau yang lain. Tapi, aku sendiri merasakan ada yang ganjil dari tempat ini, "Bagaimana keadaanmu, Mayuree ?" tanyaku pada saudara kembar Malivalaya itu. Wanita itu tampak lebih tegar dan tenang, sepasang matanya menyapu ke sekeliling.
Aku dan yang lain berjalan menelusuri tempat itu, sebisa mungkin kami berjalan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan, sementara sepasang mata Mayuree yang tajam terus mengamati setiap sudut yang ada dan terpancang pada sebuah pintu kayu berwarna hitam.
Aku merasakan getaran aneh keluar dari balik pintu itu, sayup-sayup terdengar suara dari arah dalam, suara yang sangat familiar. Jackie, Melly dan Rita.
***
"Kalian membiarkan Monica menderita sendirian, membiarkan para keparat itu mencekokinya dengan miras lalu memperkosanya bergantian. Tidak tahukah, kalian bahwa ia sudah memberikan pelayanan yang terbaik bagi kalian sebagai tour gaet. Tapi, kalian membalasnya dengan perbuatan-perbuatan yang keji !" itu adalah suara Jackie... selama ini dia tak pernah melontarkan kata-kata dengan nada tinggi penuh amarah, tapi, hari ini dia seperti bukan Jackie yang kami kenal.
"Ini bukan kesalahan kami. Saat kami tiba Monica sudah lemas tak berdaya dan para bule itu, juga Roni, Richards dan John masih terus melancarkan aksinya," ujar Rita, "Kau bisa bayangkan perasaan kami saat itu... melihat orang yang selama ini kami percaya, kami sayangi dan kami cintai, melakukan hal itu, tepat di depan mata kami ?!" sambungnya sambil terisak-isak.
'Kalian pikir tangisan kalian bisa menghidupkan Monica kembali, ha ?!" bentak Jackie, "Lihat... lihatlah siapa yang duduk di tengah sana... lihat ! Jangan kalian palingan wajah kalian. Lihat baik-baik atau aku akan mencungkil mata kalian, dasar manusia-manusia keji !!!"
__ADS_1
Saat itu aku mendengar suara jeritan kesakitan dan benda berat diseret-seret, jeritan itu milik Rita dan Melly, "Aduh sakit, lepaskan tanganmu, Jack.... sakit sekali !"
"Cih rasa sakit yang kalian rasakan sekarang tidak akan bisa dibandingkan dengan rasa sakit yang dialami Monica, tahu !! Sekarang buka mata kalian lebar-lebar !! Ayo!!"
"Ti... tidak... tidak... kami tahu kami salah tapi jangan kau paksa kami melihat pemandangan yang mengerikan ini ! Jangan, kami mohon !!" itu suara Melly, terdengar begitu histeris.
Kami bertiga saling tatap, seakan bingung dengan apa yang harus kami lakukan. Akan tetapi, Mayuree berdiri dan ...
"Bbbrrruuuaaakkk !!"
Pintu hitam itu terpentang lebar, Mayuree telah mendobraknya dan kamipun menyeruak masuk.
Bau aneh menguat, kami buru-buru menutup hidung, sementara Jackie yang sedang menjambak rambut Melly dan Rita tampak terkejut demikian pula Rita dan Melly.
"Bagaimana mungkin kalian bisa berada disini?" tanyaku nyaris bersamaan dengan Jackie.
Sosok itu mengenakan pakaian putih kecoklatan, berambut hitam, panjang, kusut dan tergerai menutupi sebagian wajahnya yang tertunduk. Diam tak bergerak bagaikan sebongkah arca batu.
Mayuree membelalakkan matanya, lalu menatap tajam ke arah Jackie. Tajam dan dingin.
"Cêā khụ̄x khn thī̀ k̄hmoy r̀āng n̂xng chāy k̄ĥā mā li wā lạy?”
( "Jadi, kaukah yang mencuri mayat saudaraku, Malivalaya ?" ) tanyanya dingin.
“C̄hạn pl̀xy h̄ı̂ ṣ̄ph nèā læa nxn khn deīyw nı nận mị̀ dị̂”
( "Aku tak bisa membiarkan mayatnya membusuk dan tidur sendirian di dalam sana," ) sahut Jackie,
__ADS_1
“Læa c̄hạn ca phyāyām chubchīwit k̄heā mị̀ ẁā d̂wy wiṭhī dı”
( "Dan aku akan berusaha membangkitkannya kembali dengan cara apapun," ) sambungnya.
Aku dan Kris terpana, terlebih setelah melihat wujud sosok yang duduk di bangku tua berwarna putih tulang itu.
"Jangan tertipu, Mike..." sahut Kris, "Itu bukan patung biasa, tapi, di dalamnya ada mayat. Yah, dialah Malivalaya yang hilang dari kuburnya dan ternyata .... benar-benar gila. Jackie yang kita kenal ternyata adalah seorang psikopat gila," sambungnya.
"Darimana kau tahu kalau patung itu berisi mayat ?" tanyaku.
"Kulit manusia terkadang sensitif dengan bahan-bahan material, seperti semen, sekalipun bisa mengeras tapi, disana-sini masih terdapat retakan-retakan dan itulah yang menandakan bahwa ada mayat di dalam patung itu. Bau aneh yang tercium oleh kita, berasal dari situ," jelas Kris.
"Aku benar-benar tidak menyangka sama sekali," ujarku lalu menatap ke arah Jackie yang masih menjambak rambut Melly dan Rita, "Jack, lepaskan mereka, sekalipun kau membunuhnya namun yang sudah mati tidak akan kembali, malah akan menambah dosamu,"
"Dosa ?" ulang Jackie, "Dari dulu sampai sekarang, aku tidak mempercayainya. Kalau pun dosa itu ada mengapa Tuhan hanya diam saja melihat umat-Nya menderita ? Maaf, Mike, aku tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Satu-satunya cara untuk Monica meminta keadilan adalah dengan membunuh mereka tanpa ampun. TUHAN ITU TIDAK ADA !!!" serunya kemudian sambil menarik rambut Melly dan Rita lebih kencang sehingga mereka menjerit-jerit kesakitan.
Pada saat itulah, terdengar sirine mobil polisi mendekat dan tak lama kemudian ada lebih kurang 10 orang polisi menyeruak masuk. Mata Jackie seakan memancarkan cahaya kemerahan, ia benar-benar kalap, "Oh, jadi kalian sudah mempersiapkannya secara matang, baik kalau begitu sebagai gantinya, aku akan mematahkan leher 2 wanita keparat ini !" teriaknya sambil memelintir kepala Rita, gadis itu membelalakkan mata, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena rasa sakit di kepala.
"Cukup ! Hentikan perbuatan bodohmu, Jack !" seru Kris.
Jackie seperti tidak mendengar perkataan Kris, ia terus memelintir leher Rita dan Melly. Wajah 2 gadis itu membiru, ajal di depan mata, tapi...
"Duk !"
Terdengar suara keras, Jackie merasakan tengkuknya dihantam sebuah benda yang keras. Mayuree telah memukulnya dengan sebatang kayu. Pandangan Jackie berkunang-kunang, kepalanya pusing, iapun roboh tak sadarkan diri. Melly dan Rita terlepas dari kematian, namun, mereka mengangkat tangannya saat para polisi menodongkan pistol ke arah mereka.
***
__ADS_1