DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
Bab 6 : Menerobos Lorong Ruang dan Waktu ( babak keenam )


__ADS_3

06. Keluarga Baru Da'i Bachtiar


9 bulan sudah usia janin yang berada dalam kandungan Sulastri. Meski secara biologis anak itu adalah anak Bachtiar dengan Sulastri, tapi, Bachtiar menganggap dia adalah anak dari Larasati. Satu bapak, lain ibu atau anak tiri. Bayi yang dilahirkan oleh Sulastri berjenis kelamin perempuan dan atas permintaan Larasati, bayi mungil dan lucu itu diberi nama MARIBETH. Sesuai dengan janji, setelah Maribeth berusia 3 tahun, roh Larasati meninggalkan keluarga Da’i Bachtiar. Tak bosan-bosannya Larasati meminta agar Bachtiar merawat Maribeth seperti anak kandung sendiri.


Meski Roh Larasati sudah pergi meninggalkan keluarga Bachtiar, akan tetapi, ia tidak meninggalkannya begitu saja. Sesekali waktu datang saat bayi mungil itu bermimpi, ia tersenyum melihat perkembangan bayi yang sehat dan montok itu. Hanya satu yang membuat sakit di hati Larasati, yakni : Ia tidak bisa memeluk, menggendong ataupun menyusuinya sendiri. Ia hanya bisa tersenyum saat Sulastri menidurkan Maribeth sambil bersenandung lirih.


Saat Maribeth berusia 5 tahun, Bachtiar mengundurkan diri dari Kantor Pak Hamdan dan memilih untuk membuka usaha sendiri di luar kota. Surabaya. Di kota ini ia membuka usaha meubel, karena saat itu meubel di kota besar, jarang ... maka, dengan cepat kehidupan Bachtiar berubah menjadi lebih baik. Di Banyuwangi saja ia sudah menjadi orang kaya yang sederhana, di Surabaya pun demikian. Meski kaya namun, kelihatan tidak menyolok. Sesekali waktu ia pulang untuk menjenguk Maribeth dan isterinya yang hamil tua.


Malam itu saat Sulastri sudah tidur pulas, Bachtiar berjalan menuju kamar Maribeth. Kedatangan sang Ayah membuat Maribeth senang sekali dan segera memanjakan diri di pangkuannya. Bachtiar tersenyum, “Bagaimana kabarmu Maribeth ?” katanya sambil mengelus rambut hitam panjang dan lebat bocah itu.


“Baik-baik saja, ayah... tapi, akhir-akhir ini ... Maribeth sering bermimpi tentang seorang wanita cantik berkebaya merah bernama Larasati. Siapakah dia ?”


“Kapan kau bertemu dengannya ?”


“Setiap malam dia datang lewat mimpi, ayah. Dia baik sekali, sering mengajak Maribeth bermain kala sendirian. Siapakah dia ?”


“Dia memang baik. Ketika kau masih bayi, diapun sering mengunjungimu. Lain kali jika dia datang ... kau harus baik-baik padanya dan sopan. Apa saja yang dia bicarakan ?”


“Banyak sekali, ayah... Dia juga marah kalau Maribeth nakal. Kalau dia marah lebih menakutkan dari ibu, lo...”


Bachtiar tersenyum, “Kalau kau nakal, pasti dia marah. Kalau tidak dia pasti baik-baik saja,kan ?”


“Dia meminta Maribeth untuk menyampaikan ini pada Ayah,” kata Maribeth, setelah itu diam sepertinya sedang mengingat-ingat sesuatu. Lalu kemudian berkata, ”Maribeth seringkali ditinggal oleh orang tua. Kalau Ayahmu datang, mintalah dia untuk mencarikan Maribeth pengasuh. Kalau Ayahmu mengijinkan, carilah orang yang bernama Karmila di Alas Purwo. Ajak sekalian Wiguna. Apalagi sebentar lagi ibumu akan melahirkan, tentunya Maribeth tidak bisa ditinggal sendirian, bukan ?”

__ADS_1


Da’i Bachtiar termenung sejenak, keningnya berkerut. Tak lama kemudian berkata, ”Baiklah... tapi, Ayah harus membicarakannya pada ibumu,” Maribeth kecil tersenyum, ia melingkarkan kedua tangan kecilnya ke leher Bachtiar dan mencium pipi kiri dan kanannya, “Terima kasih, Ayah...” katanya manja. Da’i Bachtiar tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung Maribeth. Tak lama kemudian bocah itu terlelap.


Sebelum meninggalkan kamar Maribeth, Bachtiar meletakkan tubuh bocah cilik itu pelan-pelan dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Setelah mengecup kening puterinya, ia melangkah meninggalkan kamar itu, ia berusaha supaya Maribeth tidak terbangun. Begitu keluar dari kamar puterinya, ia memasuki sebuah ruangan tak jauh dari kamar puteri dan isterinya.


Itulah kamar dimana dulu ia bercakap-cakap dengan Larasati. Ia duduk bersila sambil membakar dupa, bau harum segera menyebar memenuhi ruangan, sebagian melayang keluar melewati lubang udara, sebagian menempel pada dinding dan tirai jendela, hampir seluruh penjuru ruangan penuh dengan kepulan asap dupa dan bau harum. Dengan mata terpejam dan bibir bergetar sebuah suara lirih terdengar seakan bergema membentur dinding-dinding kamar, “Larasati, datanglah... Aku ingin bicara padamu...”


Kata-kata itu diucapkan berulang kali, tak lama kemudian kepulan asap dupa yang melayang-layang teratur itu mendadak bergerak kacau. Bachtiar merasakan desiran angin halus namun tajam dan dingin. Gumpalan kabut yang semula berwarna putih mendadak saja berubah menjadi merah bak darah masuk melalui celah-celah lubang udara dan perlahan-lahan membentuk sebuah sosok tubuh seorang wanita cantik yang mengenakan kebaya merah. Wanita itu berjalan menghampiri Bachtiar yang masih memejamkan mata. “Bukalah matamu, Bang Da’i”.


Bagai terkena sihir, perlahan-lahan Bachtiar membuka pelupuk matanya. Di hadapannya Larasati sudah duduk menatapnya lembut namun tajam sementara di sudut bibirnya tersungging senyuman tipis. Sekalipun sudah beberapa kali bertemu dan berbincang-bincang dengan sosok wanita berkebaya merah ini, Da’i Bachtiar masih saja tak bisa mengendalikan perasaannya. Maka dari itu, ia berusaha mati-matian untuk menenangkan perasaannya itu, Larasati hanya tersenyum.


“Aku tahu apa maksud Bang Da’i memanggilku. Memang, sebagai seorang ibu, aku berkewajiban menjaga dan merawat Maribeth. Dia adalah anak yang luar biasa, bukan ?” kata Larasati. Setelah menghela nafas perlahan, Bachtiar baru bisa mengendalikan perasaannya itu, “Terima kasih atas perhatianmu, Larasati. Kuhargai itu. Aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu sebelum membicarakannya pada isteriku,”


“Aku juga pernah menemui isterimu lewat mimpi. Saat kuceritakan jati diriku dan juga Maribeth, semula dia terkejut. Akan tetapi, jarang ada orang yang bisa menerima kenyataan itu seperti isterimu, dia bisa menerima Maribeth dan merawat dengan sepenuh hatinya. Terus terang kau adalah orang yang paling beruntung bisa memiliki isteri seperti Sulastri. Aku sempat iri, karena semenjak malam pertama pernikahanku dengan Rangga Warsito, dia meninggalkanku. Namun, aku mengerti semua yang dilakukannya adalah untuk kebaikan keluarga,” jelas Larasati.


“Larasati, jika itu maumu, aku tak bisa apa-apa. Aku percaya keputusanmu adalah semata-mata demi kebaikan Maribeth,” ujar Bachtiar kemudian.


Setelah Bachtiar selesai berbicara, Larasati berdiri ... ia menatap wajah Bachtiar sambil lagi-lagi tersenyum manis, detik berikut perlahan-lahan bayangan sosok Larasati lenyap digantikan dengan wajah-wajah asing.


Seorang lelaki tua, seorang wanita dan seorang bocah tampan. Sayup-sayup terdengar suara Larasati, “Merekalah yang harus kau temui di Alas Purwo. Ki Ladoyo, Karmila dan Wiguna, sebelum kau kembali ke Surabaya,”


Suara itu menggema, memenuhi ruangan untuk kemudian lenyap digantikan dengan suara celoteh burung hantu, diiringi dengan bunyi serangga –serangga malam. Setelah terdiam sejenak, Bachtiar berdiri dan melangkah keluar ruangan, bau dupa masih tercium tajam menusuk sekalipun pintu ruangan sudah dikunci. Tidak ada siapa-siapa lagi di tempat itu. Sunyi dan sepi, beberapa lampu yang masih menyala pun sudah dipadamkan. Bachtiar kembali ke kamar dan merebahkan tubuh di samping isterinya yang sudah sejak tadi sampai saat ini terbaring manja di balik selimut.


***

__ADS_1


Beberapa hari kemudian, sebuah honda civic berwarna biru laut memasuki halaman rumah Da’i Bachtiar. Seorang laki-laki tua mengenakan kemeja berwarna biru kotak-kotak dan agak kusam turun diiringi dengan seorang wanita setengah baya berambut kelabu.


Meski usia wanita itu di atas 50 tahunan, namun, wajahnya masih kelihatan cantik rupawan. Seorang bocah tampan turun sambil memeluk sebuah ransel yang cukup besar.


Sepasang matanya menyapu ke halaman rumah itu dan berakhir pada sebuah jendela kaca, ada wajah seorang bocah perempuan cantik dan manis memandangnya tanpa berkedip. Bocah itu tersenyum manis padanya, namun, buru-buru bocah berusia lebih kurang 10 tahun itu membuang wajahnya sementara pipinya merona merah.


Sulastri yang sejak tadi berdiri di ambang pintu sambil mengelus-elus perutnya yang buncit, perlahan-lahan berjalan menghampiri para tamu dan menyalaminya. Begitu sampai pada bocah laki-laki yang membawa ransel itu, ia tersenyum, “Siapa namamu, cah ganteng ?” tanyanya. Bocah itu menatap Sulastri, “Namaku, Wiguna, bibi Lastri...” jawabnya sopan.


Sulastri senang sekali dengan jawaban bocah itu meski sedikit terkejut karena, bocah itu mengetahui namanya.


Sepertinya bocah itu mengetahui apa yang ada dalam perasaan Sulastri. Maka dengan nada sopan pula ia kembali berkata, “Paman Bachtiar, bercerita banyak tentang Bibi. Paman bilang : Bibi baik, cantik dan pandai memasak,” Ucapan ini membuat wajah Sulastri memerah karena malu, dielusnya rambut bocah bernama Wiguna itu sementara, sepasang matanya yang indah itu menatap Bachtiar yang baru turun dari mobil.


Bachtiar balas menatapnya heran, tapi, seakan tahu apa yang membuat isterinya berlaku demikian ia hanya tersenyum nakal.


Kedatangan keluarga Alas Purwo di rumah Da’i Bachtiar membawa nuansa baru. Mereka diperlakukan istimewa oleh Da’i Bachtiar sekeluarga, bisa menyesuaikan diri dengan penduduk setempat meski sudah lama tinggal di Alas Purwo. Lain halnya dengan Wiguna. Bocah itu selalu menyendiri karena seumur hidupnya baru pertama kali ini hidup dengan kelompok yang disebut manusia. Sebab, selama di Alas Purwo ia hanya berteman dengan kera / monyet, orang hutan ataupun hewan-hewan lain. Ia mengenal hampir semua jenis hewan, namun, ia belum pernah mengenal apa yang disebut manusia lengkap dengan beraneka ragam watak, karakter dan sifatnya.


Namun, kehadiran Maribeth dalam kehidupannya, sedikit demi sedikit, pelan tapi pasti, iapun mulai mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar.


Wigunapun tak luput dari keusilan Yanto dan Amelia, anak pertama dan kedua Da’i Bachtiar dan Sulastri. Terkadang keusilan mereka membuatnya bersedih dan maunya kembali ke Alas Purwo, akan tetapi, dengan bantuan Maribeth juga Ki Ladoyo dan Karmila neneknya, ia mendapatkan ketegaran hatinya kembali.


Beberapa bulan kemudian Sulastri melahirkan seorang anak perempuan dan diberi nama Lita. Semenjak kedatangan keluarga Alas Purwo, Keluarga Da’i Bachtiar menjadi sebuah keluarga besar. Ditambah lagi dengan kehadiran Lita di tengah-tengah mereka. Maka dari itu, Da’i Bachtiar membangun sebuah rumah sederhana, tempat di sebelah rumahnya, itu kemudian menjadi rumah tempat tinggal Keluarga Alas Purwo, Wiguna diangkat menjadi anak angkat Da’i Bachtiar juga disekolahkan. Perlakuan kedua orang tua terhadap Wiguna yang dinilai pilih kasih, makin membuat Yanto dan Amelia tidak senang, akan tetapi, mereka tidak bisa berkata ataupun berbuat apa-apa.


...__________...

__ADS_1


__ADS_2