
# 14
Fajar mulai menyingsing, cahaya mentari pagi menerobos barisan pepohonan Cemara di Alas Sewu Dino, garis-garis sinarnya berpadu dengan titik-titik embun, menyingkirkan sebagian kabut yang masih menyelimuti hutan itu, menghangatkan para penghuninya yang mulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya masing-masing.
Kicauan burung begitu merdu, bagaikan nyanyian puji-pujian kepada Yang Maha Kuasa atas kehidupan dan hari baru yang telah diberikan kepada semua Makhluk-Nya. Hari dan kehidupan baru dimana mereka diberi kesempatan untuk berbuat baik bagi sesamanya.
Namun, kicauan terhenti saat terdengar bunyi ranting pepohonan dan dedaunan terinjak oleh tapak-tapak kaki seorang wanita muda, cantik jelita mengenakan baju merah. Tubuh seorang laki-laki lanjut usia pada bahunya, membuat langkah-langkahnya terseok-seok. Mereka adalah Tirta Sari dan Kala Mayit.
"Guru, bertahanlah, sebentar lagi kita meninggalkan desa sialan ini," kata Tirta Sari cemas saat gurunya berulangkali terbatuk-batuk, sesekali memuntahkan darah segar.
Begitu cemasnya sehingga tak menyadari kehadiran seseorang di belakang mereka. Dia adalah seorang wanita tua berbadan bongkok, tongkat besi berwarna hitam berukiran ular dan bergagang tulang kepala manusia seakan menjadi penopangnya untuk berdiri tegak.
"Hm, tampaknya, gurumu itu terluka cukup parah," suaranya serak, mengejutkan Tirta Sari dan Kala Mayit. Buru-buru, Tirta membalikkan badannya, "Siapa, kau nenek tua ?" tanyanya kemudian.
"He... he... he... he... panggil aku, Mak Selo," tawanya begitu mengerikan, menyakitkan siapa saja yang mendengarnya.
"Kami tidak ada urusan denganmu, nek... tolong pergi dari sini !" kata Tirta ketus.
"He... He... he... he... namamu, Tirta Sari, bukan ? Dan gurumu itu Kala Mayit, salah satu bekas panglima perang tangguh kerajaan Sandekala,"
Perkataan wanita itu mengejutkan Tirta Sari dan Kala Mayit. Tirta Sari adalah seorang wanita yang penuh dengan kewaspadaan, dulu sewaktu masih berada dalam asuhan Kala Mayit, gurunya itu pernah menceritakan asal-usulnya... bekas seorang tokoh hitam yang sangat ditakuti dan disegani di dunia persilatan. Tak terhitung, berapa banyak orang yang sudah dibunuhnya, sebagian dari mereka masih menyimpan dendam, kemanapun ia berada, selalu didatangi musuh. Jika Kala Mayit tidak mengalami luka dalam yang parah, Tirta Sari membiarkan saja para musuh bertarung dengan gurunya, ia yakin gurunya pasti keluar sebagai pemenang.
Akan tetapi, kini gurunya tak berdaya, ia takkan membiarkan hal yang buruk menimpanya, ia akan melindunginya sampai titik darah penghabisan. Dan, Nimas Selo mengetahui gelagat wanita cantik itu.
"He... he... he... he... jangan khawatir, anak manis... aku tak berniat mencelakai gurumu. Dengarlah, Alas Sewu Dino ini adalah wilayah Kakek Jagabaya, jika kalian tetap berada disini, kecil kemungkinannya penguasa Gunung Seribu Bunga itu melepaskan kalian yang telah lancang memasuki hutan ini,"
"Aku tidak takut dengan siapapun, apalagi nenek tua yang hanya bisa berdiri dengan bantuan tongkat usang itu. Kaulah yang seharusnya pergi dan jangan ikut campur urusan kami," tukas Tirta Sari.
"He... he... he... he... benar-benar keras kepala dan bodoh ! Mungkin kau bisa mengalahkan Kakek Jagabaya atau aku sekalipun. Tapi, lihatlah keadaan gurumu itu, dulu gagah perkasa, tapi, kini bagaikan seonggok sampah, menunggu mati... he... he... he... he... aku khawatir, sebelum kalian tiba di bukit tengkorak, gurumu sudah menjadi mayat. He... he.... he... he..."
"Bedebah !" bentak Tirta Sari, wajahnya merah padam, telinganya panas, seumur hidupnya baru pertama kali ini ada orang yang berani meremehkan gurunya. "Tarik ucapanmu itu, wanita tua ! Guruku takkan bisa mati semudah itu. Kaulah yang hanya seonggok sampah, tak berguna, berdiri saja hanya dibantu dengan tongkat usang. Aku ingin melihat, apakah kau masih bisa bicara sembarangan saat tongkatmu itu hancur lebur jadi abu,"
Sambil berkata demikian, ia mengerahkan tenaga pada kaki kanannya bermaksud untuk menendang dan melemparkan bahkan menghancurkan tongkat Nimas Selo. Akan tetapi, ia bagaikan menendang sebuah batu karang yang kokoh. Kakinya kebas, tubuhnya terdorong beberapa tindak, wajahnya membiru menahan sakit sementara, Nimas Selo hanya terkekeh-kekeh.
__ADS_1
"He... he... he... he... jadi kau ingin menghancurkan tongkatku ini ? Baiklah, kuberi kau tiga kali kesempatan untuk menghancurkannya," sambil berkata demikian Nimas Selo menancapkan ujung tongkatnya ke dalam tanah berbatu, "Jika kau bisa menggeser sedikit saja tongkat ini, aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Gunakanlah seluruh kepandaian yang kau bangga-banggakan itu. 3 kali saja. Sebaliknya, jika gagal, kau harus mengikutiku, kemanapun aku pergi,"
Tirta tersenyum dingin, terlalu percaya diri untuk menerima tantangan tersebut walau Kala Mayit berusaha untuk mencegahnya, "Baik, kuterima tantanganmu !" serunya sambil mempersiapkan cakar-cakarnya.
"Kkrrkk... kkrrkk... kkrrkk..."
Terdengar bunyi gemerantak tulang pada buku-buku jarinya. Ujung kuku-kukunya seakan memanjang dan mengeluarkan asap merah tipis menebarkan aroma busuk menyengat. Sepasang matanya menatap tajam ke arah tongkat yang seakan tertanam di dalam tanah berbatu itu.
"Hhhiiiaaattthhh !!"
Tirta Sari melompat dan menghujamkan cakar-cakarnya , ia yakin mampu menghancur leburkan atau paling tidak menggeser tongkat itu. Tapi ...
Kembali ia merasakan kuku-kukunya membentur sebuah dinding baja yang keras. Ia menjerit tertahan, jari-jemarinya seakan remuk, tubuhnya terjengkang ke belakang. Nimas Selo tertawa mengerikan, tongkatnya masih menancap kuat, bergeser pun tidak.
Tirta Sari mengubah jurusnya. Jika tadi menyerang tongkat, kini ia mendorongkan telapak kanan dan kiri ke arah tanah berbatu. Ia berniat menghancurkan tanah itu. Lagi-lagi ia dibuat kaget.
Tanah itu bagaikan dikelilingi oleh kekuatan tak kasat mata, serangan Tirta Sari berbalik ke arahnya.
Tirta Sari jatuh terduduk, wajahnya merah karena malu, telinganya pun memerah karena sakit mendengar tawa Nimas Selo. Dadanya berdebar kencang, nafasnya memburu. Kini ia dilumpuhkan oleh rasa penasaran yang merayap di sekujur badannya. Tongkat itu tetap tak bergeming.
"He... he... he... he... he..." tawa Nimas Selo menggema di berbagai penjuru, "Bagaimana? Tinggal satu serangan lagi. Jika kau berhasil menghancur leburkan atau paling tidak menggeser sedikit saja, aku segera enyah dari tempat ini. He... he... he... he..." kata Nimas Selo.
"Aku tak percaya, kalau aku tak bisa menghancur leburkan atau menggeser tongkat itu. Tapi, tampaknya... aku harus mengakui, ilmumu lebih tinggi dariku, nek," ujar Tirta Sari malu. Nimas Selo hanya tertawa.
"Panggil aku, Mak Selo," setelah berkata demikian, ia menggenggam badan tongkat dan dengan santainya ia menarik tongkat itu. Tongkat itu kini sudah ada dalam genggaman tuannya.
Mata Tirta Sari terbelalak, ia sudah menyerang tongkat itu 2 kali, tapi, tidak bergeming. Kini si empunya dapat mencabutnya dengan mudah. Wanita tua itu seperti mengerti apa yang berkecamuk di dalam benak wanita itu.
"Tak perlu kau pikirkan apa yang baru saja terjadi, kelak MANUNGGALING KAWULO BUMI, pasti akan kuturunkan padamu, Tirta. Asal kau menurutiku, segalanya bisa diatur. Tapi, jika kau macam-macam denganku, kubuat hidupmu menderita.... he... he... he... he..."
"Manunggaling Kawulo Bumi ? Itukah nama jurus yang Mak Selo rapal ?" tanya Tirta Sari seraya mengalihkan pandangannya ke arah Kala Mayit yang sejak tadi turut menyaksikan sepak terjang Nimas Selo dengan perasaan kagum. Wajahnya, tampak ceria karena muridnya itu telah bertemu dengan orang yang lebih hebat dan bersedia mengangkatnya sebagai murid.
"Menyatu Dengan Bumi," sahut Nimas Selo, "Dengan jurus itu, tubuhmu akan Sekokoh gunung. Menantu Gunung Seribu Bunga itu, kelak bukan apa-apa,"
__ADS_1
"Tampaknya, Mak Selo mengenal dengan baik siapa pemuda yang telah melukai guruku itu,"
"Tentu saja Selo tahu siapa dia," sahut Nimas Selo, "Tapi, jika kita bergabung, dia bukanlah tandingan kita demikian pula penguasa Gunung Seribu Bunga itu,"
Sepasang mata Tirta Sari dan Kala Mayit tampak berkilat-kilat, mereka membenarkan ucapan Nimas Selo. Kekalahannya dengan Sembada, sebenarnya sudah membuat mereka jeri dan berniat untuk tidak lagi berani berurusan dengannya. Kehadiran Nimas Selo ini, telah membangkitkan semangatnya kembali. Dengan bantuannya, mereka yakin tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Tapi, benarkah ? Hanya masalah waktu saja.
***
Setelah Sembada berhasil mengusir Siluman Tengkorak Merah dari Tunggak Bayu, ia menjadi bahan perbincangan para penduduk desa. Dimana-mana orang membicarakan kepahlawanan Sembada. Akan tetapi, di pihak Sembada, instingnya menyatakan bahwa ada sesuatu yang aneh dan masih belum selesai. Oleh sebab itu ia meminta saran dan pendapat pada Ki Jampang.
"Aneh ? Apa maksud den Sembada ?"
"Serangan Kedua Kerajaan Sandekala, lebih berdampak pada pengungsian para penduduk. Paman tahu, tidak sedikit orang-orang Sandekala terdiri dari tokoh-tokoh beraliran sesat. Saya curiga ada tokoh kuat dan berpengaruh di balik serangan Siluman Tengkorak Merah ini," jelas Sembada.
"Maksud, den Sembada ada dalang di balik serangan Siluman Tengkorak Merah itu ?"
"Kurasa demikian, paman. Wanita bernama Tirta Sari itu... cuma orang suruhan belaka. Saat dia tewas, orang ini pasti melaksanakan ambisinya untuk menguasai Tunggak Bayu dan sekitarnya,"
"Apakah dia Yuangga ?"
"Bukan, paman. Oya, apakah paman tahu siapa kepala desa Tunggak Bayu ini ?"
"Beliau bernama PAK RAMPAK. Bukan asli penduduk desa ini, tetapi berasal dari Desa Karang Tirta," ujar Ki Jampang.
"Karang Tirta ?" ulang Sembada.
"Benar, den... apakah ada yang aneh ?"
"Saya pernah mendengar, wanita itu berasal dari Karang Tirta. Dulu, sewaktu saya masih kecil... bukankah terdapat peraturan bahwa orang luar tidak boleh menjadi pejabat desa ini, dalam hal ini Kepala Desa. Tetapi, sejak kapan peraturan itu diberlakukan ?"
Pandangan Ki Jampang kosong menatap halaman depan rumah, iapun mulai menceritakan asal-usul KI RAMPAK, yang sekarang menjabat sebagai Kepala Desa Tunggak Bayu.
_____ Bersambung Jilid ke-15 _____
__ADS_1