
#3
Sembada terbangun saat mendengar suara ribut-ribut di halaman, kepalanya masih terasa pening namun ia masih berusaha menuju ke asal suara tersebut. Suara itu semakin lama semakin dekat, ia terus berjalan sambil berpegangan pada dinding-dinding batu yang dingin.
"Siapa wanita itu, hanya sekali gebrak saja, aku dibuat pingsan ?" gumamnya seorang diri dan saat kaki-kakinya menapak ruangan tengah, ia terbelalak, mayat-mayat bergelimpangan tak tentu arah... lantai tempat ia berpijak banjir oleh darah, "Apa sebenarnya yang telah terjadi disini ?"
Pertanyaannya segera terjawab ketika ia sudah berada di halaman. Dari jauh tampak seorang wanita bertempur menghadapi 5 sosok aneh...
5 sosok itu tinggi besar dan kekar. Mereka bersenjatakan gada besi kuning, sementara wanita itu hanya menggunakan tangan kosong.
Gada Besi Kuning itu terayun kesana-kemari, kemanapun wanita itu bergerak, gada itu mengikutinya. Sesekali gada itu nyaris menghujam batok kepalanya, tapi wanita itu seakan tidak gentar menyambut dengan tapak tangannya.
"Pak! Pak ! Pak !"
Bunyi itu terdengar berulang kali saat gada runcing itu beradu dengan tangan kecil dara jelita, tapi, sama sekali tak mampu melukainya. Di pihak Sembada yang menyaksikan pertarungan itu dari kejauhan merasa ngeri sendiri.
"Ini tidak adil, aku akan membantumu, Raden Ayu," kata Sembada sambil melompat menerjang ke arah salah satu dari pengeroyok wanita Itu.
"Dasar bodoh, mereka bukan tandinganmu," teriak wanita itu sambil melompat ke arah pemuda itu, punggung mereka saling menempel dan para raksasa itu masih terus menyerang dengan kalap,
"Mengapa kau datang kemari, tolol .. sudah kukatakan bahwa sebaiknya kau jangan keluar dari ruangan itu. Terlebih saat-saat seperti ini. Tahukah kau siapa mereka ?"
Sembada menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu," katanya.
"Mereka adalah kaki tangan Yuangga. Ditugaskan untuk mencarimu," jawab wanita itu, "Karena kau keluar dari ruangan itu, terpaksa kami semua harus membunuh para pengacau ini," setelah berkata demikian wanita itu berseru keras dan melompat tinggi ke udara. Ia melolos ikat pinggangnya yang terbuat dari sisik ular cincin emas lalu memutar-mutarkan salah satu ujungnya di udara.
Terdengar seperti bunyi angin ribut, para raksasa itu terdorong mundur sementara gada besi kuning itu seakan dibelit oleh sebuah kekuatan tak kasat mata, menarik dengan kencang. Para raksasa itu tampak berusaha untuk tidak melepaskan senjata-senjatanya, mereka menahan. Semakin kuat mereka menahan semakin kuat pula betotan itu hingga mereka menjerit keras.
"Aaaarrrrgggghhhh...."
"Krak... krak.... krak...krak...krak..."
Bunyi pertama adalah jeritan memilukan para raksasa itu. Sementara, bunyi kedua adalah gada itu hancur berantakan diikuti dengan tangan-tangan mereka yang tercabut dari pangkalnya. Darah kental berwarna merah kehitaman menyembur keluar, memercik ke segala penjuru, mereka jatuh terduduk tanpa lengan. Tak berhenti di situ ujung ikat pinggang bersisik ular emas itu meliuk-liuk kesana kemari bagaikan seekor ular emas mencari mangsa dan....
"Duar... duar.... duar... duar... duar"
Terdengar ledakan keras, saat ujung ikat pinggang menyambar dada para raksasa itu. Saat itu juga tubuh mereka hancur jadi abu.
"Tutup semua jalan keluar, jangan biarkan mereka keluar dari tempat ini hidup-hidup !!" seru wanita itu kepada penjaga gerbang. Setelah berkata demikian, tubuhnya yang ramping itu melenting tinggi ke udara dan mendarat di pos penjaga gerbang dari situ tampak olehnya, setelah para raksasa tewas, pihak musuh tak ada lagi keinginan untuk melanjutkan perang dan berusaha melarikan diri atau menyerah. Bagi yang masih berusaha melawan pastilah akan mati konyol.
***
Kerajaan Sandekala berhasil dipukul mundur oleh istana Adhep Bumi, prajurit-prajurit Sandekala yang tersisa tidak berani kembali ke negerinya, mereka memilih tinggal di istana Adhep Bumi untuk mencari perlindungan. Sebab, bila kembali ke negerinya taruhannya nyawa. Maka dari itu mereka memilih mengasingkan diri ke berbagai pelosok atau daerah Alas Sewu Dino dan sekitarnya.
Setelah menyadari ketangguhan wanita cantik penguasa Istana Adhep Bumi yang ternyata bernama Sasmita Sukma Candramaya itu, Sembada berniat untuk mengangkatnya sebagai guru, namun, Susmita menolak diangkat sebagai guru dengan alasan usia mereka berdua tidak jauh berbeda, hanya saja kemampuan Kanuragan Sasmita terpaut jauh sekali.
__ADS_1
Sasmita bersedia menurunkan ilmu Kanuragan nya pada Sembada, akan tetapi, masalah lain muncul. Untuk menguasai ilmu-ilmu Kanuragan tersebut, Sembada harus menikahi Sasmita untuk menjaga kehormatan dan harga diri penguasa Istana Adhep Bumi itu. Itu artinya, Sembada harus melupakan Puteri Ambarwati. Terlebih Susmita telah berulangkali menyelamatkan nyawa Sembada, tanpa mereka sadari bahwa gelora cinta telah membakar hati mereka berdua.
Di pihak lain, Yuangga sudah lama tak mendengar kabar dari prajurit-prajurit yang diutus untuk mencari dan membawa Sembada hidup atau mati. Maka diutusnya Telik sandi untuk mencari kabar tentang keberadaan Sembada dan Prajurit-prajurit Kerajaan Sandekala yang menghilang. Tapi, para Telik sandi itupun juga menghilang tanpa jejak. Yuangga memutuskan untuk turun tangan sendiri.
Siang itu tampak salah seorang penduduk desa datang tergopoh-gopoh menemui Sasmita.
"Den Ayu, ada seorang pemuda yang bernama Yuangga menanyakan keberadaan Sembada,"
"Hmm... kali ini berapa banyak prajurit yang dibawanya ?" tanya Susmita yang sedang duduk di singgasana nya kepada penduduk tersebut.
"Tampaknya sendirian, den Ayu...."
Sasmita tersenyum, ia berdiri dan melangkah ke ruangan dimana Sembada berada.
"Kkrriieetthh,"
Pintu terbuka, tampak seorang pemuda gagah tengah duduk membelakanginya. Sepasang matanya terpejam, kepalanya tertunduk.
"Bang Sembada... " sapa Sasmita ramah, Sembada membuka matanya, ia segera membalikkan badannya. Melihat kedatangan wanita itu, ia tersenyum, "Ada apa, Mita,"
"Prajurit penjaga gerbang mengatakan, Yuangga datang ke tempat ini, kelihatannya ia sedang mencari orang-orangnya yang menghilang beberapa waktu lalu... tapi, tujuannya yang pasti adalah mencarimu," jelas Sasmita.
"Aku akan menemuinya, untuk mencegah jatuhnya korban jiwa," sahut Sembada.
"Tapi, menurutku... kau yang sekarang, masih bukan tandingannya, bang... ilmu pamungkas Rogo Bumi Langit, belum kau kuasai dengan baik. Aku khawatir, sesuatu yang buruk menimpamu. Jika aku tak mengandung anakmu, mungkin aku yang akan menghadapinya," kata Sasmita cemas.
"Bada... kau tak ingin kehilangan isteri dan anakmu, bukan ? Atau kau ingin bertemu dengan Puteri Ambarwati itu dan kembali padanya ?" ujar Sasmita.
"Kau salah paham. Aku hanya tak ingin ada korban jiwa lagi. Memang, semula aku ingin bertemu dengan Puteri Ambarwati, tapi, dia sudah menjadi isteri Yuangga. Bagaimana mungkin aku bisa mengharap dia kembali ke sisiku ?"
"Bada... berhati-hatilah... aku hanya tak ingin terjadi apa-apa padamu. Mengingat ilmu Yuangga masih lebih hebat dan tinggi darimu. Diapun juga licik,"
"Tidak ada salahnya, kita mencoba lagipula waktu yang kujanjikan masih 1 bulan lagi,"
Setelah berkata demikian, Sembada melangkah keluar dan bergegas menuju ke arah dimana Yuangga berada. Sementara itu Sasmita Sukma Candramaya tampak khawatir sekali, maka dari itu ia memutuskan untuk mengikuti Sembada dari jauh.
***
"Sembada.... sudah lama aku mencarimu dan kenapa baru muncul sekarang ?"
"Kau sudah merebut Puteri Ambarwati secara licik, mana mungkin aku diam saja melihatnya kau tipu demi nafsumu belaka ?"
"Kau sudah kalah, Bada... wajar jika yang keluar sebagai pemenang bisa mempersunting Puteri jelita itu,"
"Apakah dia baik-baik saja ?"
__ADS_1
"Apa pedulimu ? Kau sudah tak memiliki hubungan apa-apa dengannya. Kini dia sudah jadi isteriku, maka, akulah yang berhak tahu. Tapi, baiklah... aku akan mengatakannya padamu. Setelah dia kupinang, sekalipun dia sudah menjadi isteriku, namun, hati dan cintanya tetap untukmu. Aku sebagai suaminya, mana bisa membiarkan dirinya berpaling kepada pria lain. Aku kecewa. Aku iri padamu. Aku punya segala-galanya, sementara kau, kau hanyalah seorang rakyat jelata yang beruntung memiliki kekasih seperti Puteri Ambarwati,"
"Aku tak peduli dengan deritamu demi mendapatkannya, aku hanya ingin tahu bagaimana kau memperlakukannya. Sebab, jika kau memperlakukannya sembarangan, aku akan memberimu pelajaran," kata Sembada.
"Kenapa kau tak melihatnya sendiri ?" ujar Yuangga.
"Apakah kau mengajaknya kemari ?" tanya Sembada.
"Tidak. Aku datang sendiri ke Adhep Bumi ini, aku hanya ingin mencari orang-orangku yang menghilang dan kebetulan kau ada disini, maka, sekalian saja aku memberitahukan kepadamu.... Jangan lagi kau mengharap Puteri Ambarwati kembali kepadamu, karena dia kini telah mengandung benihku. Sayang sekali, dia tak dapat menahan diri untuk bertemu denganmu pada waktu yang telah kalian sepakati bersama," kata Yuangga sambil tertawa penuh kemenangan.
"Kurang ajar, apa yang telah kau lakukan padanya ?" tanya Sembada geram.
"Kenapa harus marah, Bada ? Sudah seharusnya isteri melayani suaminya dengan baik, bukan ?"
Hati Sembada hancur berkeping-keping mendengar kabar itu, namun, ia mencoba untuk menutupi perasaannya itu. Kedua tangannya terkepal kuat sekali, otot - ototnya bertonjolan keluar, asap tipis mengepul dari tangannya yang terkepal itu.
"Baguslah kalau begitu," kata Sembada, "Aku bisa membayangkan kelicikan di wajahmu itu sewaktu kau memaksakan kehendakmu padanya," sambung Sembada lalu membalikkan badan dan hendak meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, Yuangga mencegahnya.
"Tunggu. Kau pikir bisa datang dan pergi seenaknya dari hadapanku. Urusan kita belumlah selesai,"
"Apalagi yang kau inginkan ? Kau sudah mendapatkan Puteri Ambarwati, apakah itu belum membuatmu puas ?"
"Tujuanku datang kemari adalah untuk mencari orang-orang Sandekala yang menghilang di wilayah ini. Karena kau sudah menjadi salah satu penduduk di Adhep Bumi ini, pastinya tahu dimana mereka ? Jika tidak aku akan menghancur leburkan Adhep Bumi ini,"
"Apakah itu ancaman ? Dengarlah, aku tak tahu dimana mereka semua... aku adalah kunci utama dari penyerbuan negerimu ke negeri ini. Maka, mereka juga para penduduk Adhep Bumi tak ada hubungannya dengan ini semua,"
"Maaf, saudara Bada.... jika kau tak memberitahukan dimana mereka, maka, jangan salahkan aku kejam padamu," kata Yuangga sambil mengambil ancang-ancang untuk menyerang Sembada. Sembada tidak tinggal diam. Ia juga sudah bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.
"Hhiiaatthh..."
Jari jemari kanan Yuangga membentuk cakar, kuku-kukunya memerah bagai bara api. Kuku-kuku itu seakan memanjang dan menyambar ke bahu Sembada.
Sembada merasakan hawa panas menyergap bahu kirinya, ia melompat mundur tapi cakar-cakar itu seakan mempunyai mata mengikuti kemanapun tubuh Sembada bergerak.
Cakar-cakar itu menyerang bertubi-tubi, seakan tak memberi kesempatan kepada Sembada untuk menarik nafas. Sembada paham serangan Cakar Setan milik Yuangga itu beracun sekali kena sambar, maka, racun dengan cepat akan menjalar ke seluruh tubuh dan menghancurkan organ-organ dalam. Jurus yang berbahaya dan mematikan, menghindar terus bukanlah jalan keluar yang tepat... maka, Sembada segera melindungi tubuhnya dengan tenaga dalam dan menangkis serangan itu dengan sepasang telapak tangannya.
"Dar! Dar! Dar !"
Benturan keras terjadi, hal itu sempat membuat Yuangga terkejut, "Gila, sudah lama tak bertemu, tenaga dalamnya meningkat pesat seperti ini, aku tak mungkin bisa mengalahkannya dengan mudah seperti beberapa waktu yang lalu," kata Yuangga.
Tubuh dua pemuda itu melenting tinggi ke udara, Yuangga meningkatkan serangannya dengan dahsyat sementara Sembada pun berusaha menangkisnya walau ia tahu itu akan membuat keduanya terluka dalam. Maka, ia memutuskan harus balas menyerang tapi, tampaknya pertahanan Yuangga masih terlalu kuat untuk dibobol. Hingga kesempatan itu datang juga, waktu itu bagian perut dan pinggang Yuangga terbuka, kebetulan pula kedua kaki Sembada bisa bergerak dengan bebas dan tanpa membuang-buang waktu lagi, kaki kanannya terayun dan menghantam pinggang kiri Yuangga.
Tendangan itu sama sekali tak diduga-duga oleh Yuangga, tahu-tahu ia merasakan sakit yang luar biasa pada pinggang kiri dan memaksanya melompat mundur. Pinggang kirinya memar, tendangan Sembada bukanlah tendangan biasa, tapi, sesungguhnya, selain melatih tangan dan kepalanya, Sembada juga melatih kaki-kakinya menjadi sekeras batu. Yuangga yang berilmu tinggi saja bisa terluka meski tidak parah karena tenaga dalamnya yang tinggi apalagi orang lain yang tenaga dalamnya biasa-biasa saja, jelas akan terluka parah.
"Menarik sekali," desis Yuangga, "Tapi, kesalahan yang sama takkan terulang lagi," setelah berkata demikian ia menarik nafas dalam-dalam dan meludahi tapak tangan kirinya lalu dioleskan ke arah pinggangnya yang terluka. Ajaib. Ia sudah tak merasa kesakitan lagi bahkan tenaga dalamnya meningkat pesat. Sembada terkesiap, ia tetap tenang dan menatap tajam ke arah Yuangga seolah mencari-cari dimana kelemahan penculik kekasihnya itu.
__ADS_1
"Sasmita Sukma Candramaya, benar... aku yang sekarang bukanlah tandingan Yuangga. Tapi, demi mencegah jatuhnya korban dari orang-orang Adhep Bumi, aku harus mencegahnya bertindak sembarangan," kata Sembada dalam hati.
__________ Bersambung Jilid Ke-4