DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua

DARI DUNIA LAIN Untuk Anda ( Kumpulan Cerpen Misteri ) - Buku Kedua
Bab 36 : S o s o k #7 ( Teror Bagian Kedua )


__ADS_3

#7


"Aakkhh ..." jeritku kesakitan aku merasakan tapak kaki kiriku seperti ditusuk oleh sebuah paku. Aku menjerit kesakitan membuat Mbak Jum kebingungan.


"Den Reksa, Chyntia, den..." kata Mbak Jum lewat telepon. Tak lama kemudian Mas Reksa datang dan memeriksa keadaanku, "Sejak kapan dia seperti ini, mbak ?" tanya Reksa.


"Tadi selesai mandi, ia berteriak-teriak kesakitan," kata Mbak Jum gugup.


Mas Reksa menatapku dalam-dalam, lalu mengalihkan pandangannya ke arah kaki kiriku, "Thia, kelihatannya ada sebuah benda masuk di kaki kirinya," katanya.


"Apa ?" tanyaku heran, "Bagaimana mungkin bisa demikian, bukannya Mbak Jum tadi membantu saya membersihkan rumah, tak ada barang tercecer sebutir pun," kataku, rasa sakit itu kian menyengat dan mendadak kepalaku pening, pandanganku berkunang-kunang terakhir sebelum kehilangan seluruh kesadaranku, aku melihat Felix dan Dith datang, "Kakak, kenapa ?" hanya itu yang bisa kudengar untuk kemudian pandanganku gelap.


***


Tubuhku serasa ringan, ringan sekali, bagaikan asap, angin yang berhembus perlahan membawaku pergi jauh. Di ujung sana aku melihat sebuah cahaya putih menyilaukan, tak kuasa aku memandangnya lama-lama.


Mataku terpejam saat memasuki cahaya itu. Saat kubuka mataku, aku mendapati diriku berada di sebuah tanah lapang berumput hijau dan lembut bagaikan permadani. Sebuah tanah yang cukup luas dengan beraneka ragam tumbuh-tumbuhan disana, menebarkan aroma harum semerbak.


Aku memanjakan diriku sejenak dengan berbaring di rerumputan hijau bak permadani itu sebelum telingaku mendengar suara yang cukup familiar memanggil-manggil namaku, "Thia... Thia... Thia..."


Aku terbangun mencari asal suara itu, tak jauh dari tempat aku berbaring tampak seorang wanita cantik, berambut ikal, panjang sebatas bahu, mengenakan pakaian oranye dengan hiasan mawar merah pada bagian dadanya; seorang lagi adalah laki-laki tampan, kumis tipis melintang di atas bibirnya yang merah delima, berambut keriting dan mengenakan pakaian serupa dengan wanita cantik itu.


"Ayah, ibu..." sapaku, "Benarkah ini kalian?"


"Kau sudah tumbuh menjadi gadis cantik, nak persis sekali dengan ibumu," kata pria itu.


"Begitu pula adik-adikmu, Felix dan Ditha," sambung wanita itu, "Mereka sudah besar sekarang,"


"Ayah, ibu... Benarkah ini kalian ? Bukankah kalian sudah meninggal? Bagaimana bisa ada di tempat ini ? Lagipula dimana ini sebenarnya?" tanyaku bingung.


"Tenangkan dirimu, nak ... Kami memang ayah dan ibumu. Kami memang sudah meninggal di dunia sana, tapi, kami hidup bahagia di tempat ini. Semua yang kami perlukan ada disini... Kami tak kekurangan apa-apa," kata wanita itu.


"Tempat ini begitu indah, Bu... Apakah ini yang dinamakan surga ?" tanyaku.

__ADS_1


"Surga sebenarnya ada di dalam dirimu, nak... Kau dan adik-adikmu, hidup tenang dan damai itulah surga yang sebenarnya di dunia sana. Di sini adalah tempat pemberhentian terakhir setelah manusia melakukan tugas-tugasnya di dunia. Jika dia menanam perbuatan baik, maka, ia akan mendapatkan tempat seperti ini, akan tetapi, jika ia berbuat jahat semasa hidup di dunia sana... maka, ia akan berada di tempat yang lebih buruk," jelas pria itu.


"Nak, ini adalah gambaran yang kelak akan terjadi setelah kita menjalankan tugas yang diberikan oleh-Nya kepada kita. Kami tahu deritamu di dunia sana, kami tahu kau dan adik-adikmu merindukan kami. Tapi, kelak akan tiba saatnya kita bertemu dan berkumpul kembali seperti dulu lagi. Ada seseorang yang ingin mencelakakanmu karena dia sakit hati atas apa yang telah kau lakukan padanya, tapi, kau sudah mengambil jalan yang benar, nak tak usah mempedulikan siapa dia. Yang terpenting adalah selagi kau bisa menjalankan tugas dan kewajibanmu, lakukanlah dengan penuh tanggung jawab. Sementara, dia yang hanya menuruti hawa nafsunya, akan beroleh imbalan atas perbuatannya. Itu tak lama lagi, nak," kata wanita itu.


"Kau beruntung memiliki orang-orang yang memperlakukanmu dengan baik hingga saat ini, jagalah mereka seperti kau menjaga dirimu sendiri, nak..."


"Ayah, ibu... Aku ingin disini bersama kalian selamanya," rengekku.


"Belum waktunya, nak... Belum waktunya, kelak akan tiba saat itu... Kami bisa memastikannya. Nah, sekarang kembalilah. Berjuanglah untuk melakukan tugas dan kewajibanmu dengan penuh tanggung jawab," bersamaan dengan itu perlahan-lahan mereka sirna aku berteriak-teriak memanggilnya namun angin telah membawaku jauh... Jauh meninggalkan tempat itu.


***


Aku berteriak keras manakala ada sebuah benda coklat kehitaman ditarik keluar dari tapak kaki kiriku, sakit sekali rasanya dan benda itu mirip besi sepanjang 10 cm. Benda itu tercabut dan melayang ke atas lalu tergeletak pada sebuah kain berwarna putih, kain Kumal milik seseorang laki-laki tua yang duduk bersila di samping kanan Mas Reksa.


Wajah laki-laki itu tertunduk, matanya terpejam. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat.


Mas Reksa segera membungkus benda itu dan diikat oleh kain putih kecoklatan, sebanyak 7 ikatan.


"Maaf, paman... Yang paman maksud dengan dia itu siapa ?" tanyaku penasaran.


"Paman akan memberitahukannya padamu, nak... Akan tetapi, sebelum itu kau baca ayat kursi yang akan kusampaikan padamu. Jika Allah SWT berkenan, kau akan diberi petunjuk, tapi, jika tidak tak perlu kau memaksakan diri. Mendekatlah kemari, paman akan memberitahukan kuncinya padamu,"


Aku mendekatkan telingaku pada bibir laki-laki tua itu. Mulutnya komat-kamit dan aku bisa mendengarnya dengan jelas.


Tak lama kemudian ia meraih kain yang digunakan untuk membungkus benda aneh tadi.


Lagi-lagi bibirnya komat-kamit seperti membaca mantra dan kain dalam genggamannya seakan terbakar. Asap putih tipis keluar untuk kemudian lenyap entah kemana.


***


Mas Reksa mengantarkan ku kembali ke rumah, namun Felix dan Ditha masih belum berani pulang sehingga mereka memilih untuk tinggal sementara di rumah Mbak Jum. Atas saran Mas Reksa dan Mbah Alas, aku harus mengadakan pembersihan seisi rumah. Pembersihan disini bukanlah perbersihan seperti persepsi orang-orang awam.


Namun pembersihan ini lebih ditujukan pada perbersihan secara gaib. Sebelum pembersihan aku harus menjalani tirakat yang dianjurkan oleh Mbah Alas.

__ADS_1


Tirakat adalah ritual penyucian diri, menahan segala macam hawa nafsu.


Aku menjalani tirakat 3 hari, tiga malam. Memang ini tidak mudah, banyak sekali cobaan dan godaannya dan aku berhasil menjalaninya dengan baik. Aku merasa menjadi orang yang seperti baru dilahirkan kembali, terlebih setelah aku bertemu dengan ayah-ibu saat aku tak sadarkan diri. Pertama kali menginjakkan kakiku di halaman rumah, entah ini hanya halusinasi atau nyata, aku melihat banyak sekali makhluk-makhluk yang bercokol di sekitar halaman. Bukan hanya itu, atap rumah seperti tertutup oleh kabut hitam dan menebarkan hawa aneh.


Saat aku, mas Reksa dan Mbah Alas melangkah masuk ke halaman, kabut itu seperti menjauhi kami. Mulutku komat-kamit, membacakan mantra yang telah diajarkan oleh Mbah Alas selama menjalani masa penyucian, kabut itu bergerak, berarak menyatu dan terbang menuju arah Barat.


"Hawa jahat itu, akan kembali pada tuannya ( si pengirim )," kata Mbah Alas, "Kau tunggulah di sini bersama Reksa, aku akan mengikuti kemana kabut itu pergi," setelah berkata demikian Mbah Alas duduk bersila, matanya terpejam rapat, mulutnya komat-kamit.


Tubuhnya bergetar hebat sesaat setelah itu dari ubun-ubun nya keluar asap putih bergerak mengikuti kemana kabut hitam itu pergi. Tak lama kemudian tubuh Mbah Alas diam tak bergerak sama sekali bagai sebongkah batu.


"Apa yang Mbah Alas lakukan, mas ?" tanyaku.


"Rohnya terlepas dari raganya..."


"Meninggal," tanyaku.


"Tidak. Bagi orang-orang yang memiliki kemampuan spiritual yang tinggi, mampu melakukan perjalanan jauh meski tanpa badannya. Menjelajah dimensi lain, lorong ruang dan waktu kemanapun dia suka. Akan tetapi apabila orang tersebut berilmu sedang-sedang saja, jiwanya bisa terperangkap dimana dia pergi.


Itulah sebabnya, tanpa adanya bimbingan dari orang - orang yang berpengalaman, kita bisa celaka," jelas Reksa.


Beberapa saat kemudian, asap putih itu datang dan kembali masuk ke ubun-ubun Mbah Alas.


Tubuh Mbah Alas bergerak-gerak kembali, sepasang matanya menatapku tajam, "Ilmu orang ini sangat tinggi, dia adalah murid Sena adik seperguruanku yang cenderung menggunakan ilmunya untuk mencelakakan orang lain. Ia memang pantas dijuluki Dukun Ilmu Hitam, muridnya pun demikian. Iri hati dan dengki telah meracuni otak dan perbuatannya, sudah mendarah daging," jelas Mbah Alas.


"Mbah... Kalau boleh tahu, siapakah dia ?" tanyaku.


"Seseorang yang pernah dekat denganmu, nduk," jawabnya, "Saya tidak boleh menyampaikannya padamu, dikhawatirkan aku akan mendapat aib. Kelak, kau sendirilah yang mencari tahu. Bukankah kau sudah kuberi petunjuknya ?" sambungnya setelah itu ia menatap Mas Reksa. Dari airmuka mereka, tampaknya ada sesuatu yang tidak boleh diketahui olehku.


Hingga sempat terbersit di benakku, apakah Mas Reksa adalah dalang dari ini semua. Lalu mengapa ia melakukan itu ?


Setidaknya itulah kesimpulan yang bisa kutarik dari peristiwa-peristiwa yang membuat kacau. Tapi, apakah mungkin ia melakukan itu ?" tanyaku dalam hati.


__________

__ADS_1


__ADS_2