
#10
Malam itu, aku berkunjung ke rumah Bi Yusi, aku menceritakan apa yang telah kualami selama Murni bekerja di rumahku... Bi Yusi tampak menyesal sekali dan ia mulai membuka diri untuk menceritakan segala-galanya.
Bi Yusi sudah lama dibelit hutang piutang, karena suaminya sudah tidak bekerja lagi, hampir setiap hari datang orang untuk menagih hutang namun mereka harus kembali dengan kecewa karena tidak mendapatkan uang seperserpun.
Ia kemudian mendengar rumor bahwa ada seorang pemuda yang bisa dan mampu membantu keluar dari permasalahannya, kebetulan pemuda itu bekerja sekantor denganku, dialah Adnan. Sebenarnya, bisa saja ia meminta bantuanku untuk mempertemukannya dengan Adnan, tapi, ia tidak mau mengganggu atau merepotkan ku terlebih tahu bahwa Adnan waktu itu ada hubungan dekat denganku. Maka, Bi Yusi memutuskan untuk menemuinya secara pribadi.
Semula Adnan membantu tanpa embel-embel apapun, tapi, setelah putus denganku, perilakunya berubah, terlebih lagi melihat posisiku sebagai tangan kanan Mama dimana gajiku lebih tinggi dibandingkan dengan pegawai-pegawai lainnya kecuali, Lilis dan Karmila. Iri hati, dengki dan benci bercampur aduk menjadi satu, Adnan berniat untuk mengacaukan hidupku. Entah ilmu apa yang digunakannya hingga mampu menjadikan sosok kuntilanak sebagai budaknya. Ia bermaksud menculik Ditha dan memerasku, namun, rencananya itu gagal. Di luar dugaan sosok kuntilanak itu malah mengkhianatinya dan kini Adnan memilih jalan pintas.
***
Sebuah bola api berwarna kemerahan terbang melayang-layang membelah angin, menerangi langit di sekitar rumah Bi Yusi yang saat itu gelap gulita. Bola api itu meluncur turun dengan kecepatan tinggi mengarah ke wuwungan atap rumah Bi Yusi, akan tetapi, dalam jarak tidak lebih dari 1 meter, bola api itu pecah memercik ke berbagai penjuru mata angin mirip kembang api dan ...
"Dduuaarr !"
Terdengar bunyi letusan keras, memekakkan telinga, menyusul kemudian percikan api itu menghilang entah kemana.
Tidak kurang dari 10 menit, bola api lain kembali meluncur dari arah Barat, arah yang sama dengan bola api pertama tadi keluar. Saat bola api itu jaraknya lebih kurang satu meter dari atap rumah kembali pecah, memercik ke berbagai penjuru dan lenyap seketika setelah terdengar bunyi ledakan yang lebih keras daripada ledakan pertama.
"Sebenarnya, itu apa, mas kok bisa melesak seperti itu ?" tanyaku pada mas Reksa.
"Itu bentuk dari tenung atau santet, Thia. Kau tenanglah pejamkan matamu apabila tidak kau malah yang terkena, biarkan Ki Sena dan Mbah Alas yang menanganinya," jelas Mas Reksa.
__ADS_1
Akupun menurut. Kupejamkan mata sambil merapal mantra yang diberikan oleh Mbah Alas beberapa hari yang lalu .
"Duar ! Duar !"
Ledakan itu benar-benar menggangguku, berulang kali aku melompat kaget mendengarnya.
Kepalaku mendadak pusing sekali, pandanganku berkunang-kunang, tubuh serasa lemas tak bertenaga, keadaan di sekelilingku serasa berputar dan ...
"Bruk,"
Aku melihat Mas Reksa mengangkat tubuhku dan membaringkannya ke ranjang, ia menatap ke arah Mbah Alas yang sedang duduk bersila sambil menundukkan kepala, tampaknya ia tak merasa terganggu dengan suara-suara berisik di luar.
"Mbah, tampaknya serangannya semakin ganas, sekalipun kita dibantu oleh Mbah Sena, tetap saja tak mampu menandinginya, haruskah aku menemuinya di tempat dimana dia berada, Mbah ?" tanya Mas Reksa.
Tak jauh dari sudut lain, seorang pria berbaju hitam berdiri di atas sebongkah batu. Dia memandang langit di sebelah Barat dan di hadapannya tampak sebatang bambu berwarna kuning menancap di salah satu bagian batu itu, sementara tangan kanannya memukul-mukul badan bambu kuning dengan sebatang kayu kering.
"Thia..." suara itu terdengar tak begitu jauh dari tempatku berdiri, aku mencari-cari darimana asal suara itu.
Untuk kesekian kalinya suara itu terdengar, dari arah sebelah Timur. Aku bisa mendengarnya dengan jelas sekali, dan saat hendak melangkahkan kakiku menuju ke asal suara itu terdengar suara lain, "Jangan kau pedulikan, itu adalah jebakan," si pemilik suara itu ternyata adalah laki-laki tua berbaju hitam yang berdiri pada sebuah batu.
"Siapa kau, kek ?" tanyaku.
Laki-laki tua itu masih terus memukuli bambu kuning yang menancap pada batu sementara mulutnya komat-kamit. Tak lama kemudian, ia menatapku lalu berkata...
__ADS_1
"Maukah yang bernama Cynthia ? Pantas saja muridku itu tergila-gila padamu hingga membuatnya gelap mata,"
"Maaf, kek... Apakah Anda yang bernama Ki Sena?"
"Benar dan pelaku ini semua adalah Adnan, muridku. Ini adalah kesalahanku karena telah memanjakannya dan aku akan mencoba mengarahkannya kembali ke jalan yang benar. Tapi, ilmunya ini benar-benar tinggi sekali, takutnya aku dan Mbah Alas tidak mampu menandinginya," jelas laki-laki tua itu.
"Sayangnya saya tidak memiliki apa-apa yang bisa membantu kalian. Seandainya saja ada yang bisa kulakukan, meski dengan taruhan nyawa pun aku bersedia. Perbuatannya memang benar-benar membuat orang lain sengsara,"
"Nduk..." panggil laki-laki yang disebut dengan nama Ki Sena itu, "Tak jauh dari tempat ini ada kelor, bukan ?"
"Maksud kakek ? Tanaman kelor yang biasa diolah menjadi makanan tradisional itu ?"
"Benar. Kalau ada kau ambil dahan kelor yang agak tua, setelah itu bawalah ke tempat dimana Adnan berada. Menurut perkiraanku, seharusnya dia berada tak jauh dari tempat ini di sebelah barat. Setelah kau menemukannya ... Pukulkan ranting tersebut ke sekujur tubuhnya, ranting itu akan membuatnya lemah. Selanjutnya, biar kami yang menanganinya. Selagi masih ada waktu cepatlah kau pergi. Patut kau ingat, jangan sampai kau mati... Kalau kau mati, maka kau takkan bertemu lagi dengan nak Reksa juga adik-adikmu. Jadi, berhati-hatilah,"
Langit seakan dipenuhi oleh cahaya-cahaya api, sesekali pula terdengar ledakan-ledakan keras menulikan telinga. Bumi seakan bergetar hebat, bagi orang yang tidak tahu apa-apa mungkin akan menganggap biasa-biasa saja atau ada orang iseng menyalakan kembang api di tengah malam. Akan tetapi, bagi orang yang paham akan hal-hal yang berhubungan dengan supernatural, menyangka telah terjadi pertempuran supernatural yang cukup seru.
Sama sekali tak pernah terlintas di benakku bahwa akan mengalami hal-hal seperti ini.
Seandainya dari dulu aku tidak bertemu dengan Adnan dan jatuh cinta padanya, mungkin ini takkan pernah terjadi. Aku menyesal telah melakukan kesalahan yang cukup fatal. Aku merasa harus bertanggungjawab atas segala kekacauan ini.
Aku tidak peduli, bumi ini sedang dilanda perang tenung yang jelas aku harus mengakhiri semuanya agar tidak ada lagi orang yang menderita gara-gara aku.
__________
__ADS_1