
Panggilan Kematian ( bagian pertama )
"Kkrriinngg !!"
Rita melompat dari tempat tidur, dengan mata setengah terpejam, ia meraih ponselnya. Sepasang matanya mendadak terbelalak manakala nama Monica tertera pada LCDnya.
"Tidak mungkin," serunya tertahan sambil melemparkan ponselnya ke lantai kamar.
" Kkrriinngg !!"
Bunyi kedua kali pada microphone ponselnya terdengar lebih keras. Ia menoleh kesana-kemari dan terdengar ketukan pintu kamar tidurnya.
"Hei, anak bodoh... suara ponselmu mengganggu tidurku, cepat matikan !" suara garang itu milik ayahnya. Rita buru-buru melompat dari tempat tidurnya dan berlari ke arah pintu.
"Kkkrrriiinnnggg !!!" bunyi ketiga, ketukan pintu makin keras dan Rita meraih gagang pintu untuk membuka, tapi, pintu itu seakan tak mau terbuka dan
" Bbrruuaakk !!"
Pintu kamar terpentang lebar, seorang laki-laki paruh baya dialah Pak Noto, ayah Rita menyeruak masuk, "Dasar anak bo..."
Pak Noto tidak melanjutkan kata-katanya manakala melihat Rita tertelungkup di sudut kamar di dekat ponselnya.
"Rita... kenapa, kau berbaring disini," tanyanya cemas sementara tangan-tangannya bergerak membalikkan tubuh Rita yang kaku dan mulutnya ternganga, matanya terbelalak lebar... wajahnya yang semula merah padam berubah menjadi pucat pasi melihat keadaan anaknya.
Sepasang mata Rita seakan tertarik ke atas, mulutnya menganga dan sekujur tubuhnya seperti mengejang. Urat-urat hitam bagai cacing seakan bertonjolan keluar di sekitar wajah, leher dan tangan.
Pak Noto berteriak histeris mendapati anaknya sudah tak bernyawa lagi. Kejadian malam itu menggegerkan semua warga di sekitar rumahnya, tak lama kemudian terdengar sirine ambulan makin lama makin dekat.
Diantara warga yang berdesak-desakan untuk melihat apa yang terjadi, tampak Melly juga ada disana.
***
__ADS_1
"Rita kemarin malam meninggal, Mike,"
Aku tersentak, "Mana mungkin itu terjadi ?! Bukankah siang kemarin dia baik-baik saja ?"
"Entahlah, menurut warga sekitar yang mendengar cerita Ayahnya... sebelum meninggal, ponselnya berdering keras dan sempat melihat siapa yang meneleponnya. Pada LCDnya tertera nama Monica," jelas Melly.
"Bagaimana itu bisa terjadi ? Bukankah kita sudah menemukan mayatnya ? Apakah kutukan itu belum berakhir ?" tanyaku pada Kris yang kebetulan juga ada di rumah.
Kening Kris berkerut, "Ini memang aneh, seharusnya kutukan itu sudah berhasil dipatahkan saat mayatnya sudah ditemukan ? Itu juga yang pernah dikatakan Mayuree, bukan ?"
"Aku akan menanyakan hal ini padanya,"
kataku sambil menekan tombol keypad pada ponselku.
Setelah menunggu beberapa menit barulah terdengar suara Mayuree di seberang sana.
"S̄wạs̄dī khrạb meụ̄̀x khụ̄n p̄hm rū̂ k̄h̀āw thāng thīwī nī̀ mạn mị̀ khād khid cring«”
( "Hallo. Iya aku sudah mengetahuinya lewat tv semalam. Ini benar-benar di luar dugaan," )
"Ṣ̄ph k̄hxng mā li wā lạy yạng khng t̄hūk nả tạw s̄̀ng rong phyābāl pheụ̄̀x thảkār chạns̄ūtrphlikṣ̄ph p̄hū̂cheī̀ywchāỵ thāng niti wech phyāyām thảlāy sīment̒ thī̀ pid wị̂ tæ̀ k̆ mị̀ pĕn p̄hl phwk k̄heā yạng phb h̄etu kā rṇ̒ pælk«rah̄ẁāng kār trwc d̂wy”
( "Jenazah Malivalaya sementara masih disimpan di RS untuk keperluan otopsi, para ahli forensik mencoba untuk menghancurkan semen yang melapisinya, tapi belum berhasil. Mereka juga mengalami kejadian aneh selama pemeriksaan," )
"Kejadian aneh apa ?"
"Meụ̄̀x pūnsīment̒ bāng s̄̀wn t̄hūk thảlāy lng dị̂ s̄ảrĕc d̂wy h̄etup̄hl bāng xỳāng chîn s̄̀wn sīment̒ thī̀ bd læ̂wk lạb k̄hêā thī̀ xỳāng kathạnh̄ạn nạ̀n pĕn s̄āh̄etu ẁā thảmị phwk k̄heā t̄hụng thảngān mị̀ t̄hūk t̂xng bāng khn yxm phæ̂ læa phb ẁā s̄eīy chīwit nı xīk 3 wạn t̀x mā doy mị̀mī h̄etup̄hl chạdcen”
( "Saat sebagian semen sudah berhasil di hancurkan, entah mengapa mendadak kepingan semen yang hancur itu menyatu kembali. Itulah sebabnya, mereka tak bisa bekerja dengan baik. Sebagian dari mereka menyerah, dan ditemukan mati 3 hari kemudian tanpa sebab yang jelas," )
Mendengar penjelasan Mayuree itu, bulu kuduk kami merinding. Benarkah tak ada cara untuk melepaskan kutukan itu ?
***
Jackie dari balik jeruji besi tertawa mendengar penjelasan kami. Air mukanya menunjukkan kegirangan, "Aku yakin Malivalaya takkan berhenti membalas dendam kepada orang-orang yang telah membunuhnya," sepasang matanya beralih kepada Melly yang tengah menundukkan wajahnya, "Kau yang terakhir dan itu tidak lama lagi,"
__ADS_1
"Jackie, bantulah aku...aku tak ingin mati seperti yang dialami oleh Roni dan teman-temannya. Aku belum siap untuk itu," Melly terisak-isak.
"Egois.... jika seandainya kau dulu membantu Malivalaya, tentunya keadaanmu takkan semenyedihkan seperti ini... Apakah Malivalaya siap diperlakukan seperti binatang, ha ?!" bentak Jackie, sepasang matanya seakan mencorong merah, tajam menusuk.
"Aku tahu, aku menyesal telah membiarkan Malivalaya mengalami nasib tragis... seandainya, waktu bisa kuputar kembali, aku takkan membiarkan mereka melakukan itu,"
"Hmm... aku tahu betapa kau mencintaiku, Mel... sayangnya, cintamu bertepuk sebelah tangan... kau tidak lebih baik dari Malivalaya... bagiku kau adalah seorang pelacur ..."
"Jack, jaga perkataanmu," seruku.
"Itulah kenyataannya, bro... kenyataan yang tak terbantahkan... perlu kalian ketahui, dia takkan lolos dari dendam Malivalaya. Dia akan segera mati," Jackie masih memandangi wajah Melly dengan tatapan geram, sementara Melly hanya bisa menangis.
"Jack... ketahuilah, aku rela melakukan apapun demi untukmu... tapi, tolong jangan kau ucapkan kata-kata kasar dan menakutkan itu... matipun aku rela asal jangan kau lakukan itu,"
"Mel, sampai kapanpun aku tetap menyayangi dan mencintai Malivalaya, terima saja kematianmu... setelah kau mati, aku pun juga akan menyusul Malivalaya... aku tak ingin bertemu dengan pelacur macam kamu !" setelah berkata demikian Jackie melangkah ke pembaringan dan merebahkan tubuhnya disana, ia tidak peduli lagi dengan Isak tangis Melly yang kian menjadi-jadi. Aku dan Kris hanya bisa menggelengkan kepala dan segera membalikkan badan untuk pergi dari situ.
"Mike... kemarilah," panggil Jackie.
Aku menoleh dan dengan diikuti yang lain mencoba untuk mendekat, namun, "Aku hanya ingin bicara denganmu, Mike, yang lain pergilah, terutama pelacur itu," katanya.
Aku mengisyaratkan agar Kris dan Melly menuruti keinginan Jackie. Setelah mereka melangkah keluar, Jackie membisikkan sesuatu ke telingaku.
***
"Melly harus mati terlebih dahulu. Setelah itu, hancurkan patung Malivalaya, bagaimanapun caranya," itulah yang dikatakan Jackie sebelum aku meninggalkan tempat dimana Jackie dipenjara. Dia juga mengatakan agar aku merahasiakannya pada yang lain. Tapi, bisakah aku menyampaikan ini pada teman-teman? Aku tak ingin ada korban lagi dan Mimpi Buruk Sebuah Celullar ini harus kuakhiri, akan tetapi, haruskah aku mengatakan ini pada Melly.
Ia memang bersalah, tapi, bagiku kematian tidaklah setimpal dengan perbuatannya. Cintanya pada Jackie terlalu dalam... ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh orang-orang bahwa Cinta adalah sebuah penyakit yang tidak bisa disembuhkan.
Kembali aku menggerakkan jari-jemariku pada keypad untuk menghubungi Mayuree... sesaat kemudian kami tersambung dan aku menyampaikan berita ini padanya.
"Mayuree, sebisa mungkin temukan cara untuk menghancurkan patung Malivalaya. Dengan demikian kutukan akan patah," kataku.
"Baik... segera kulakukan," setelah itu pembicaraan ditutup.
***
__ADS_1