
#4
"Apa yang sudah kaulakukan, Thia ?" pertanyaan itu terlontar tiba-tiba saat pertama kali aku mengangkat telepon dari Mas Reksa.
"Apa yang kulakukan, mas ?" aku tak mengerti, "Aku tak melakukan apa-apa, aku bertindak apa yang menurutku benar. Mas Reksa sendiri kemana saja ? Kenapa baru sekarang menghubungiku ?"
"Jawab dulu pertanyaan, Thia... Apa yang kau lakukan ?" suara itu meninggi, membuat aku menjauhkan telingaku dengan ponsel.
"Mas, aku tak melakukan apa-apa. Kenapa peduli amat dengan urusanku, sementara mas sendiri tidak pernah menelepon,"
"Dengar brengsek...kau telah mengkhianati hubungan kita yang sudah terjalin lama, kau sudah kulamar. Tapi, masih berani-beraninya jatuh cinta pada orang lain,"
"Kau menyebutku apa, mas ?" aku mulai naik darah, seumur hidup, aku tak pernah dibilang yang aneh-aneh, tapi, malam ini saat aku hendak istirahat karena letih seharian bekerja, ada orang yang berani berkata demikian.
"Yah, kau memang brengsek. Kau sudah berulangkali membuatku kesal tapi karena aku masih menyayangi dan mencintaimu, kuabaikan semua berharap agar kau tak mengulang kesalahan yang sama,"
"Mas... Kau sendiri tak menghubungiku sekian lama, kupikir kau sudah melupakanku jadi, tak ada salahnya jika aku mengambil keputusan. Aku sudah capek menunggumu, mas menunggu keputusanmu yang mengambang sekian lama. Aku seorang wanita, kesabaranku ada batasnya, mas... Dan, kau... sudah tidak pernah telepon, telepon baru sekali sudah marah-marah seperti ini, mengejekku... Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku, mas.... "
"Chyntia.. Kau pernah berjanji padaku, takkan berpaling. Berbekal pada itulah, aku berusaha berjuang untuk membuatmu bahagia... Kau, tahu... selama ini aku mempersiapkan segala-galanya demi untukmu. Aku rela bertengkar dengan keluargaku , menentang orang tua karena aku yakin, kau bisa kuandalkan kelak sekalipun aku tidak lagi tinggal serumah dengan orang tua juga keluargaku. Tapi, saat kau menerima cinta orang lain yang baru kau kenal hanya dalam waktu beberapa hari saja... Mana mungkin aku tak marah. Dimana kesetiaanmu yang dulu, Thia. Jika kau ingin membunuhku, bunuh saja aku secara langsung tapi, jangan kau perlakukan aku seperti ini. Aku tahu, keadaan mu sekarang lebih baik daripada dulu, tapi, mengapa kau mencampakkan aku yang telah mencintai, menyayangi dan memperhatikanmu setulus hati ? Apa kau sudah melupakan apa yang telah terjadi pada kita dulu, ha ?"
Kenangan. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan kenangan manis saat Mas Reksa ada di sampingku dulu... Bagaimana mungkin aku bisa melupakan peluk dan ciumnya yang hangat membuatku seakan terbang tinggi ke awan. Kecupan yang baru pertama kali kudapat saat pertama kali menjadi sepasang kekasih. Aku memasrahkan diriku sepenuhnya pada Mas Reksa berharap ia yang menjaga, mendampingi, melindungi, mencintai dan menyayangiku seumur hidup dalam suka duka.
"Thia..." Mas Reksa kembali berkata, kali ini nadanya mulai tenang, "Selama ini, aku selalu menjaga kesetiaan cintaku padamu, aku tak peduli apa kata orang. Tujuanku bukanlah tujuan mereka, mereka tahu apa ? Mereka takkan peduli jika kita sengsara, mereka akan bertepuk tangan saat kita beradu argumen. Dalam hatiku, aku takkan mengkhianati cinta kasih yang telah diberikan Chynthia padaku. Maka kau layak diperjuangkan. Apakah kau menyadarinya?"
__ADS_1
Aku terenyuh mendengar perkataan itu, perkataan terkesan tulus dan tidak mengada-ada. Aku tahu betul, siapa Mas Reksa. Kami saling mengenal satu sama lain, maka, tanpa sadar dua titik bening mengalir dari mataku... Aku telah mengkhianatinya karena tak mampu menahan emosiku, tak mampu menahan diri, tak mampu menahan rasa rindu yang sudah lama terpendam.
"Maafkan aku, mas... Aku yang salah," kataku.
"Thia, sayang... Aku selalu memaafkanmu, cobalah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama,"
"Lalu, bisakah aku melepasnya demi diri mas Reksa sementara, dia telah melamarku beberapa hari yang lalu ?"
"Dengar, kalau sepasang suami-istri saja bisa cerai, apalagi tunangan ?"
"Aku tak ingin berkata yang tidak-tidak pada si Adnan itu... yang jelas hubungan ini terasa ganjil dan aku bisa melihatnya. Kalau kau memang masih mencintai dan menyayangiku, cobalah berbicara baik-baik dengannya. Aku menanti kabar baik darimu," terdengar dengungan panjang, Mas Reksa sudah menutup telepon, sementara, aku terdiam. Aku memandang kosong ke sekeliling ruang tidurku. Aku memang masih mencintai dan menyayangi Mas Reksa lebih dari apapun, tapi, aku tak habis pikir bagaimana bisa dengan mudahnya menerima pria duda sebagai tunanganku, padahal baru kukenal sebentar saja.
Aku disibukkan dengan berbagai macam pikiran aneh, semalam suntuk aku tak bisa memejamkan mataku, hingga akhirnya ....
Aku membuka mataku, mendapati diriku berada di sebuah pematang sawah yang luas, subur, dan berudara sejuk.
Entah sejak kapan dan mengapa aku berada disini. Tapi, disinilah aku berada. Sayup-sayup dari jauh terdengar suara seperti serombongan anak kecil tengah bermain. Suara itu berada tak jauh dari sini.
Bagai digerakkan oleh kekuatan tak kasat mata, aku menapaki tepian pematang sawah. Setelah berjalan agak lama, aku tiba di sebuah jalan setapak berbatu dan terjal. Kanan kiri ditumbuhi tanaman-tanaman rimbun.
Mendadak sepasang mataku tertuju pada tumpukan telur. Ini bukan telur ayam tapi telur bebek, jelas sekali perbedaannya.
Aku menyukai telur, terutama telur burung dara dan ayam kampung, telur bebek jarang kutemukan. Tak ada salahnya kupunguti telur-telur itu sebagai bekal makan malam nanti.
__ADS_1
Kebetulan kemanapun aku pergi, aku selalu membawa kantong... tetapi, hari ini aku tak membawanya. Dasar teledor, sayang sekali apabila telur bebek itu dibiarkan berserakan begini. Biarlah kuambil beberapa saja, toh, aku tidak mungkin menghabiskan semua telur ini biarlah kubawa untuk Ditha dan Felix.
Setelah menyobek daun pisang sebagai pembungkus telur, aku melanjutkan perjalanan.
Menyusuri jalanan setapak, namun, langkahku terhenti saat melihat ada 3 ekor ular merayap.
Yang satu ular putih, ular belang dan ular sawah. Bagi orang tertentu, hewan melata sejenis itu tidaklah berbahaya, tapi, tetap saja aku ngeri dan takut.
Mereka menghadangku, ular belang dan ular sawah itu berusaha mematukku tapi, ular putih menghadangnya. Ular itu berkelahi satu sama lain, dan ular putih sekalipun terluka agak parah berhasil mengalahkan 2 lawannya, seolah tak melihatku, ular itu merayap menjauh dan hilang di semak-semak.
Aku menarik nafas lega, kembali aku melangkah dan kali ini di hadapanku berdiri sebuah sosok hitam, tinggi dan besar... Inikah yang dinamakan genderuwo ?
Astaga siang-siang begini menampakkan diri. Aku terdiam mataku tak berkedip memandang sosok itu, jantungku berdetak kencang, nafasku memburu, tubuhku seakan tak bertenaga sementara kedua lututku terasa lemas manakala sosok itu mendekat... Ia terus mendekat... Tercium bau busuk yang menyengat bau seperti jengkol tapi lebih busuk.
"Kau adalah milikku ! Takkan kubiarkan kau menjadi milik orang lain" terdengar suara geraman sementara tangannya yang berbulu hitam lebat terjulur hendak menyentuh tubuhku. Aku berteriak keras, teriakanku menggema seakan menembus cakrawala, dan...
"Blukk !"
Mataku terbuka dan aku berada di kamar, tubuhku terbaring di lantai. Ditha dan Felix sudah berada di dekatku.
"Teriakan kakak mengejutkan kami," kata Felix.
"Mimpi Buruk, ya, kak ?" Sambung Ditha.
__ADS_1
__________