
#11
Setelah berjalan cukup lama, tibalah aku di sebuah bangunan tua yang dikelilingi oleh gerbang besi berwarna hitam. Pintu gerbang tersebut, tampak mengerikan dengan tanaman-tanaman merambat yang tumbuh liar disana-sini. Dengan ranting dahan kelor yang tergenggam erat di tangan kananku, aku berusaha menyingkirkan sebagian tanaman yang menutupi pintu pagar besi itu. Langkahku terhenti manakala ada sebuah celah yang memungkinkanku untuk lewat, tampaknya celah itu sudah lama ada dan ada bekas-bekas injakan kaki orang.
Aku mengikuti bekas-bekas injakan tanpa khawatir ada ular atau apa yang kemungkinan bisa mencelakakanku.
Bangunan ini sudah ada sejak aku masih kecil dan selalu menjadi tempat bermain bersama teman-teman. Gudang penyimpanan barang-barang antik, milik salah satu pengusaha terkaya di desa Karang Ireng ini. Banyak rumor yang beredar dari penduduk setempat tentang bangunan ini setelah ditinggalkan oleh pemiliknya.
Rumor itu masih beredar sampai sekarang, salah satunya adalah tempat ritual ilmu hitam. Selain itu ada pula rumor tentang sosok siluman ular penjaga tempat ini yang suka memakan daging anak-anak di bawah 10 tahun.
Rumor tersebut dikuatkan oleh adanya kesaksian beberapa orang penduduk yang menemukan tulang belulang di sekitar tempat itu. Juga kerap kali terdengar suara tangisan anak kecil di malam-malam tertentu, barangsiapa yang secara sengaja ataupun tidak sengaja mendengarnya, dalam waktu tak kurang dari seminggu, dia akan jatuh sakit dan berujung pada kematian.
Karena begitu banyak rumor mengerikan lainnya yang beredar, maka, tak seorangpun berani menginjakkan kakinya di tempat ini hingga akhirnya terlupakan. Akan tetapi, jika ada seseorang yang mendatangi tempat ini tanpa adanya niat buruk, maka, ia bisa dipastikan tidak akan apa-apa, hal-hal yang buruk akan menjauh.
Aku merasa heran, suasana di sekitar tempat itu begitu gelap gulita, namun aku bisa melihat sekeliling bangunan itu dengan jelas seakan aku dikelilingi oleh bias-bias cahaya, menuntunku hingga akhirnya sepasang mataku dapat melihat seorang pemuda bertubuh gempal dan tegap duduk bersila di salah satu sudut ruangan. Wajahnya menunduk, mulutnya komat-kamit, sesekali tangannya menaruh pecahan serbuk coklat kehitaman pada sebuah guci terbuat dari tanah liat, sementara di dalam guci itu tampak bara api membakar potongan-potongan kayu kering.
Saat serbuk-serbuk coklat kehitaman itu ikut terbakar oleh api, aroma harum memenuhi tempat itu dan sesekali terdengar bunyi gemerantak bercampur ledakan-ledakan kecil membuatku semakin tak nyaman.
Aku terus berjalan mendekat, pemuda itu seakan tidak menyadari keberadaan ku, ia terus menaburkan serbuk-serbuk coklat itu ke dalam guci, asap putih tipis segera melayang-layang di udara membentuk bola api yang cukup besar untuk kemudian melesat tinggi ke udara, berputar-putar sejenak lalu meluncur cepat menuju ke arah Utara, dimana Mbah Alas dan mas Reksa berada. Kali ini aku mendengar ledakan yang lebih keras daripada ledakan-ledakan sebelumnya, pemuda itu tersentak, tubuhnya terdorong mundur nyaris menabrakku. Kali ini aku bisa melihat dengan jelas, siapa pemuda itu... Dia adalah Adnan. Aku masih tidak percaya dengan pandangan mataku sendiri, tapi itulah kenyataannya. Terlebih lagi aku melihat isi guci itu ternyata selain arang, ada pula foto wajahku, Bi Yusi, Mas Reksa dan Mbah Alas juga rumah kami. Semuanya diikat menjadi satu dengan benang berwarna merah, foto-foto itu masih utuh sekalipun api masih berkobar dan membakar barang-barang lain menjadi abu.
"Kurang ajar," umpat pemuda itu, "Banyak juga yang melindunginya, jika terus menerus begini, tenagaku bisa terkuras habis. Sama sekali tidak pernah kuduga aku mengalami kesulitan untuk membunuh Yusi yang telah mengkhianatiku juga wanita nakal itu. Haruskah aku mundur ? Yusi harus mati dan wanita genit bernama Cynthia itupun harus mati karena telah menolakku, mempermalukanku... Tidak. Aku harus menyelesaikannya sekarang,"
'Wanita nakal dan genit', berulang kali Adnan memanggilku dengan sebutan itu... Membuatku naik pitam, seumur hidupku belum pernah ada orang yang menyebutku seperti itu. Tidak pernah. Tapi, pemuda ini...berani mencaciku demikian, baiklah... Semula aku merasa iba padanya, aku hendak mengurungkan niatku untuk tidak menggunakan ranting ini sebagai senjataku. Aku mengangkat tinggi-tinggi ranting kelor itu dan hendak memukulnya, tapi, mendadak tanganku seperti ditahan sesuatu. Aku mengalihkan pandanganku ke arah tersebut dan tersentak manakala ada sesosok tinggi besar mencengkeram tanganku. Sosok itu menggeram, aku berontak sekuat tenaga bermaksud melepaskan diri darinya. Namun, semakin kuat aku berontak, semakin kuat pula cengkeramannya.
__ADS_1
"Lepaskan aku, makhluk bau !" seruku.
Makhluk itu tidak menjawab melainkan menyeringai mengerikan, aku ketakutan sekali mendadak aku teringat oleh kata-kata Mbah Alas, "Nduk, derajat kita lebih tinggi daripada makhluk sejenis jin dan lain sebagainya, kita lebih sempurna. Mereka kelihatannya kuat tapi sebenarnya lemah asal kita berserah pada Allah SWT dan mendoakan mereka,"
Aku tidak lagi berontak, namun, menatapnya dengan tatapan iba, setelah itu dengan membacakan mantra yang telah diajarkan oleh Mbah Alas sosok itu perlahan-lahan hilang dan aku terbebas dari cengkeramannya.
"Nduk... Cepatlah, tak ada waktu lagi," ucapan itu terngiang-ngiang di telingaku.
"Kita berasal dari debu maka akan kembali ke debu, kita memang lemah, tapi, setelah berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT, kelemahan akan jadi kekuatan kita. Dulu kita lemah maka akan kembali lemah, segala sesuatunya kupasrahkan pada Tuhan. Biarlah Dia yang mengambil semua yang kita punya dengan perantaraan kayu ini," Setelah berkata demikian sambil merapal ayat-ayat kursi yang kudapat dari Mbah Alas, aku mencium batang ranting itu dan....
"Wwuutthh..."
Kayu itu terayun, membelah angin, membelah kepulan asap yang keluar dari guci di hadapan Adnan dan saat kayu yang masih ditumbuhi daun-daun kelor menepuk punggung Adnan, pemuda itu menjerit tertahan, ia terkejut sama sekali tidak menyangka adanya serangan gelap. Saat Adnan menatapku, pandangannya seakan kosong, tapi, "Keparat mengapa ada ranting kelor di tempat ini dan memukulku, siapa si pemukul itu," ia memang tak bisa melihatku, entah kenapa, sepasang matanya memerah, Semerah wajahnya yang dibakar oleh kemarahan, dengki, iri hati dan dendam... Ia tampak menyeramkan sekali. Kembali kuayunkan ranting kelor itu ke arah dahinya.
"Wwuutthh..."
Ranting kelor itu kembali membelah angin dan mendarat tepat pada dahi Adnan. Kulit dahinya terkelupas, pemuda itu menjerit-jerit kesakitan, tubuhnya ambruk dan bergulingan di tanah, jeritannya kian menjadi-jadi. Hatiku seakan disayat-sayat sembilu mendengarnya, sementara kayu itu terus terayun dan mendarat di sekujur tubuhnya.
Teriakannya makin nyaring, teriakan pilu dan menyayat. Tubuhnya terus berguling-guling di tanah, bergetar hebat, mengejang dan akhirnya berhenti, bajunya kotor basah oleh keringat padahal udara di malam itu terasa dingin setelah perang spiritual yang menegangkan itu berhenti. Aku benar-benar merasa iba melihat keadaannya itu. Tapi, entah mengapa tiba-tiba tubuhnya menghilang dan aku sudah berada di tempat lain...sebuah tempat yang sudah tidak asing lagi bagiku halaman rumah Bi Yusi sementara Mas Reksa dan Mbah Alas tengah duduk di beranda rumah. Apakah aku baru saja bermimpi ?
"Mas Reksa, apa sebenarnya yang telah terjadi ?" tanyaku.
"Kau berhasil melumpuhkan kekuatan magis Adnan, Thia," jawab Mas Reksa, "Tanpa adanya bantuanmu, kami belum tentu sanggup menghadapinya,"
__ADS_1
"Lalu... Bukannya tadi aku berada di tempat dimana Adnan berada ?"
"Tadi kau sempat mengalami apa yang dinamakan Near-Death Experience ( NDE ). Peristiwa dimana manusia berada tak jauh dari gerbang kematiannya. Untunglah kau bisa kembali dengan selamat,"
"Mengapa ini terjadi padaku ?" tanyaku.
"Hati manusia, siapa yang bisa menebak, nduk Thia," ujar Mbah Alas, "Berawal dari cinta... Pekerjaan hingga iri hati, benci dan dendam. Semuanya berasal dari nafsu dunia yang menggebu-gebu karena tak memperoleh apa yang diinginkannya, manusia membuat perjanjian dengan makhluk-makhluk sebangsa jin untuk mendapatkan semua keinginannya secara mudah,"
"Lalu dimana Adnan sekarang ?"
"Dia sudah tidak memiliki apa-apa, dan Ki Sena. Adnan adalah muridnya, maka, dia menjadi tanggung jawabnya. Kau tak perlu lagi mencemaskannya, dia tidak akan bisa mengganggumu lagi. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu seperti biasanya, Thia,"
"Apakah semuanya sudah berakhir ?" tanyaku ragu-ragu.
"Ya, nduk... Semuanya sudah berakhir. Mbah ucapkan terimakasih atas bantuanmu. Satu pesan Mbah... Kau harus bisa mengendalikan kemampuanmu itu agar ke depannya tidak membuatmu celaka. Dan, pergunakanlah untuk membantu sesama,"
***
Yah, setelah peristiwa Adnan, aku memiliki kemampuan yang sama sekali tak pernah terpikirkan dalam hidupku. Kemampuan melihat hal-hal yang tidak seharusnya dilihat oleh manusia biasa pada umumnya. Aku menjalankan pekerjaanku seperti biasa, sosok-sosok itu sudah tak terlihat lagi, namun, untuk sosok-sosok tempatku bekerja, masih bergentayangan. Untuk sementara aku tidak mempedulikannya selama mereka tak menggangguku ataupun mengganggu para tamu.
Memang, pertama kali mendapatkan kemampuan itu, aku seperti orang gila. Dimana-mana tampak olehku sosok-sosok mengerikan, terkadang mereka usil namun yang jelas sosok itu bukanlah kiriman dari seseorang tapi mereka memang ada disitu hingga urusan mereka di dunia ini usai.
----- T A M A T -----
__ADS_1
Sabtu, 17 September 2022