
#3
Gazebo itu terletak di halaman belakang, saat siang atau jam istirahat tiba kami lebih suka menghabiskan waktu istirahat di tempat itu. Ada lebih kurang 15 buah gazebo disana. 10 gazebo dikhususkan untuk karyawan wanita dan sisanya untuk karyawan pria. Tapi bagi kami selama bisa menjaga peraturan dan ketentuan yang berlaku di kantor, siapapun boleh menggunakannya, kecuali tamu.
Siang itu aku, Lilis dan Karmila duduk pada salah satu gazebo sambil memandangi area persawahan yang terpampang di hadapan kami. Sebagai pembatas antara area hotel dan sawah penduduk adalah sebuah anak sungai berarus sedang. Sejauh mata memandang yang tampak adalah pematang sawah yang hijau, daunnya melambai – lambai tertiup angin yang berhembus dari badan pegunungan dan perbukitan.
Suasana seperti itulah yang kuinginkan, sekalipun terik matahari menyengat namun tidak terasa panas. Terkadang aku dan teman-teman tertidur di tempat ini, gara – gara udara yang sejuk itu. Tapi, saat malam tiba, hanya orang – orang bernyali besarlah yang memberanikan diri duduk disini.
Sedang asyik – asyiknya duduk, Adnan datang menyapa kami dengan ramah, “Selamat siang mbak Thia, Mbak Lilis, Mbak Mila, boleh saya gabung di sini ?”
Karmila tampak tidak senang, “Hei, dari sekian banyak gazebo, yang masih kosong banyak, mengapa memilih tempat ini ?” tanyanya ketus.
“Sudahlah, Mil... ga apa – apa,” sahut Lilis lalu melirik ke arahku sambil berkata, “Dia, kan ingin bareng sama Mbak Thia,” godanya. Wajahku memerah saat itu, gosip bahwa Adnan menaruh hati padaku, memang benar.
“Lihat, wajah Mbak Thia memerah, tuh... Mungkin lebih baik kita memberi mereka kesempatan melepas rindu, ya ?” ujar Lilis sambil menarik lengan Karmila hendak meninggalkan gazebo.
“Ja... ja... jangan tinggalkan aku sendirian disini dong... apa kata orang nanti ?” kataku gugup.
“Selama ada kami, kalian tidak perlu cemas,” sahut Karmila.
“Tidak.... kalau Mama tahu, bisa celaka...” kataku takut, “Apa kalian senang kalau aku sampai dipecat sama Mama ?”
“Benar juga, ya...” ujar Lilis, “Oke, kami duduk di gazebo lain tidak jauh dari kalian. Sekalian berjaga – jaga agar si Adnan tidak berbuat yang aneh – aneh padamu. Bagaimana ?”
“Begitu lebih baik. Ayo,” ajak Karmila sambil menarik lengan Lilis untuk kemudian berjalan menuju gazebo no dua.
“Mbak,” panggil Adnan, “Kalian berdua tidak perlu pindah tempat, saya tidak keberatan jika seandainya kalian menemani kami,” ujarnya.
“Jangan banyak bicara, Nan...” bentak Karmila, “Kami sudah baik hati mau mengalah... jadi, hargai kebaikan kami. Tahu. Jika sampai terjadi apa-apa sama Thia, kami takkan tinggal diam. Paham ?!”
Adnan mengangguk. Ia hanya memandangi punggung Lilis dan Karmila, sementara aku tidak tahu harus bagaimana mengendalikan perasaan ku yang tidak keruan.
__ADS_1
***
Adnan menyodorkan jus semangka yang baru dipesannya di Cafentaria kepadaku, tanganku gemetaran saat menerimanya, “Kenapa harus repot – repot, Mas ? Kau baru saja menerima kenaikan gaji, bukankah sebaiknya gaji itu disimpan untuk keperluan anak – anak mas,”
“Tidak apa – apa, Mbak ini bukan masalah serius,” katanya.
Aku memang merasa haus. Sebenarnya, aku membawa bekal lebih tapi, jarak antara ruang resepsionis dan halaman belakang cukup jauh, biasanya saat istirahat begini, aku selalu membawa bekal tersebut, entah mengapa hari ini aku lupa.
Dengan sedikit rasa malu, aku menyesap jus semangka itu sedikit demi sedikit sementara Adnan menatapku dengan tajam, membuatku semakin kikuk.
“Mbak, saya tahu, Mbak Thia butuh waktu untuk menjawab pertanyaan saya dengan jujur satu minggu yang lalu. Bisakah Mbak Thia memberi saya jawabannya hari ini ?” tanya Adnan.
Aku menundukkan wajahku dalam-dalam, tak berani aku memandang tatapan mata Adnan yang tajam itu. Kali ini aku benar-benar tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.
Pikiranku melayang kemana-mana, Mas Reksa itulah yang pertama kali melintas. Dia tulus mencintai, menyayangi dan mengasihiku, namun, dia belum bisa memberiku kepastian kapan akan melamarku, selain itu kini ia entah berada dimana. Entah sudah berapa kali aku menghubungi nya namun, tidak pernah ada tanggapan dan itu sudah 5 bulan terakhir ini. Aku merasa dipermainkan dengannya, padahal kami sudah nyaris 6 tahun bersama tapi statusnya tidak jelas.
Aku sangat patuh pada adat istiadat serta peraturan keluarga selama ini, tapi, setelah aku berpacaran dengan mas Reksa... Aku merasa, telah mengabaikannya. Kini ada seorang duda menaruh hati padaku, ia sesuai dengan harapan dan keinginanku dalam segala hal, bertolak belakang dengan Mas Reksa yang menurutku sudah mengabaikanku.
Aku kesal sekali saat mas Reksa memperlakukanku seperti ini, tapi, pastinya dia punya alasan sendiri yang .... Mungkin belum waktunya diberitahukan padaku.
"Mbak Thia," panggilan Adnan membuyarkan lamunanku, "Bagaimana, mbak ? Apakah kau bersedia menerima cintaku ? Aku ingin tahu jawaban Mbak Thia," sambungnya.
"Maaf, mas Adnan... Saya belum bisa menjawabnya sekarang," sahutku kesal karena ia terus mendesak ku, setelah itu dengan pikiran serba kalut, aku melangkah meninggalkan gazebo menuju ruang resepsionis... Aku tak peduli lagi dengan Adnan, Lilis dan Karmila. Aku tak peduli dengan pandangan mata Mas Adnan yang bagiku tampak memelas. Keinginanku saat ini adalah berbicara dengan Mas Reksa, meminta kepastian darinya.
Itu adalah yang kesekian kalinya Adnan meminta jawaban dariku. Tak bisa kuhitung berapa kali ia menanyakan hal itu, tapi, aku selalu memberikan jawaban yang mengambang. Haruskah aku memberi harapan padanya ?
***
"Haduh, Thia..." Keluh Lilis setelah mendengar ceritaku, "Memangnya, apa sich yang kurang dari Adnan? Ia keren, gagah, tampan dan kelihatannya dia serius banget dengan perasaannya padamu. Daripada kau menanti-nanti si Reksa yang sombong itu dan tidak pernah sekalipun menghubungimu mending terima saja, DECH cintanya,"
"Benar, mbak... Siapa tahu Reksa sudah melupakanmu dan punya gebetan ( kekasih ) lain..." Sambung Karmila, "Kalau aku punya cowok kayak dia... Mending putus saja, daripada menunggu-nunggu hal yang tidak pasti. Kasihan kamu. Kita ini cewek, saat usia bertambah, tenaga kitapun berkurang... Goyangan kita tidak selincah saat kita berumur belasan tahun," sambungnya.
__ADS_1
"Ye... Kamu itu tahunya cuma goyang saja, pikirin dong agar Mbak Thia menemukan solusinya," sahut Lilis.
"Iya, dong... Goyangan perlu untuk membuat suami tidak selingkuh, mumpung masih muda. Kalau saya jadi kamu, Mbak Thia, aku akan langsung menerimanya, kawin dan langsung goyang buat anak. Hi...hi...hi...hi...," Ucap Karmila genit.
"Dasar genit," umpat Lilis sambil mencubit pinggang Karmila, mereka berdua tertawa-tawa, akupun ikut tertawa.
***
Sejak pertemuanku dengan Adnan beberapa hari yang lalu, aku seperti merasa bersalah padanya. Maka dari itu, aku mencoba untuk menemuinya pada jam istirahat. Dia lebih suka menghabiskan waktunya di cafentaria bersama teman-temannya. Yah, dia ada di cafentaria, saat aku berjalan menghampirinya yang lain segera pergi ke tempat lain dan kamipun terlibat pembicaraan serius.
"Mbak Thia, tumben ..." Sambut Adnan.
"Ya, aku ingin minta maaf padamu atas tingkah lakuku tempo hari," kataku sambil memainkan jari jemariku mirip anak kecil.
Adnan tersenyum ramah, "Tidak apa-apa, mbak... Saya yang salah karena telah mendesak mbak. Seharusnya saya paham itu. Jadi bagaimana, mbak?"
Aku ragu-ragu sejenak, tapi tekadku sudah bulat, apapun yang terjadi akan kuterima resikonya. "Mas Adnan tahu, kalau selama ini saya sebenarnya punya pujaan hati?"
"Iya, mbak saya tahu... Tapi, saya kasihan pean sudah lama menunggu keputusan dari pacar pean untuk melangkah ke jenjang berikutnya. Tapi, sampai hari ini tidak ada kabar, terus mbak mau nunggu sampai kapan ?" Katanya, "Saya tak ingin pean menjalani hidup ini sendirian, saya ingin ikut membantu dan menjaga pean, mbak..."
"Kalau begitu, saya menerimanya. Akan tetapi, saya tak ingin mas Adnan mempermainkan saya. Saya sudah cukup dipermainkan oleh orang. Dan kalau sampai itu terjadi, aku tak akan mempedulikanmu, mas," aku menegaskan.
Adnan tersenyum, "Jangan khawatir, mbak.... Saya takkan mengecewakan pean," katanya.
Yah, sejak hari itu, kami berdua jadian. Dia benar-benar menepati janjinya, tapi, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku... Aku merasa aneh dan perasaan itu semakin kuat manakala aku tengah berduaan dengan Adnan.
Aku selalu mengikuti apa kemauannya, dan aku melupakan jati diriku sebagai wanita. Ibarat kata, aku bagaikan anak itik yang selalu mengikuti kemanapun induknya pergi. Sebuah perasaan yang lain seperti yang kualami dengan Mas Reksa.
Lilis dan Karmila juga menyadari keanehan pada diriku ini, tapi tak tahu apa itu.
__________
__ADS_1