Darkness Metal Manipulation

Darkness Metal Manipulation
Chapter 14


__ADS_3

Didalam guild petualang kota Larkxa.


Semua orang sedang membicarakan kemalangan akan ketidaktahuan seorang anak laki-laki.


"Hey... apa bocah itu waras?. Berbicara dengan sofia seenaknya."


"Dia benar-benar bukan orang kota ini?."


"Walau kau bisa mengalahkan Kenneth, kau tidak harus berbicara dengannya bukan?."


"Iya, jika aku harus memilih antara Kenneth dengan Sofia, aku akan memilih Kenneth."


"Kau benar. Jika kau melawan Kenneth kau hanya akan lelah harus bertarung sampai dia puas, tapi kalau Sofia kau benar-benar akan dibunuh."


"Sofia rank A dan dia hampir naik ke rank S. Sifatnya yang dingin selalu saja membuatnya sulit untuk didekati. Hanya party nya saja yang berani berbicara dengannya dan beberapa rank S lainnya."


"Untuk petualang yang sudah bosan hidup, sofia lah jawabannya."


Itulah beberapa obrolan para petualang dan tentunya masih banyak lagi. Sedangkan orang yang dibicarakan masih saling menatap satu sama lain.


"Maaf, gak jadi. Aku cari meja lainnya saja. Permisi..," Ucap Zyden sambil membalikkan badannya.


"Tunggu." Seru Sofia.


Baru dua langkah Zyden pergi, dia dicegat oleh elf bernama Sofia itu. Zyden berhenti berjalan, 'sial' hujatnya tapi dia memilih mengikuti alur daripada menambah bebannya.


"Apa kau yang mengalahkan paman Kenneth dalam duel?." Tanya Sofia berdiri.


"Kalau duel tadi yang kau maksud, itu benar." Jawab Zyden melihat elf itu.


"Jadi itu benar yah!." Gumam Sofia menangkupkan tangan didagunya. "Apa kau mau menjalankan quest bersamaku?." Lanjutnya bertanya.

__ADS_1


Semua orang yang ada di situ kaget mendengar perkataan Sofia tadi, tapi untuk orang yang ditunjuk dia diam dan mengutuk kesialannya didunia baru ini.


"Kenapa kau ingin menjalankan quest bersama orang baru yang kau ajak bicara?." Seru Zyden mengalihkan pembicaraan.


"Apa kau menolakku?." Jawab Sofia cepat.


"Aku tidak berniat melakukan quest dalam beberapa hari ini. Bagaimanapun aku baru 5 jam dikota ini." Ucap Zyden memalingkan wajahnya.


"Kau baru 5 jam dikota, tapi kau sudah mengalahkan mantan pahlawan dan petualang rank S. Apa kau punya rencana dengan itu?." Seru Sofia.


"Apa maksudmu?." Jawab Zyden tajam.


"Bagaimana jika aku mengatakan bahwa kau memang sudah merencanakan hal ini." Ucap Sofia mengangkat kedua tangannya menjelaskan.


"Kenapa kau berfikir begitu?." Tanya Zyden datar.


"Hm...! Entahlah, mungkin mukamu.?" Seru Sofia


"Tampan?. Hahaha..., Kau berfikir kalau kau itu tampan. Hahaha..! Aku belum pernah bertemu orang seperti mu!." Ucap Sofia sambil tertawa dan memegang perut nya.


'dia memang orang yang menjengkelkan. Kenapa aku mengobrol dengannya.' pikir Zyden.


Zyden diam saat Sofia masih tertawa, dia mulai berbalik pergi meninggalkan elf yang sedang asik sendiri itu.


Sofia yang melihat Zyden ingin pergi langsung melompat dan memegang tangannya. Dia tidak berniat melepaskan Zyden sedikitpun.


"Kau mau kemana?. Kau belum menjawab ajakanku?." Seru Sofia mengeratkan pegangan nya.


"Lepaskan! Aku bahkan tidak mengenalmu? Kenapa aku harus melakukan quest bersamamu?." Ucap Zyden melepaskan tangan elf itu dengan kasar dan nada tinggi.


"Ah...! K..kau.., kau baru saja menolakku? Apa kau benar-benar menolakku?" Ucap elf itu dengan mata memerah.

__ADS_1


Semua orang terdiam membisu melihat elf yang dingin itu bersikap aneh, mereka berfikir kalau Sofia pasti sedang sakit.


Karena selama ini Sofia yang mereka kenal adalah orang yang dingin dan sangat sulit berinteraksi, bahkan dalam party nya dia tidak terlalu banyak bicara. Tapi sekarang mereka dibuat bingung oleh sikapnya.


• • • • •


Didalam ruangan kerja ketua guild petualang kota Larkxa. Terdapat dua orang yang sedang membicarakan hal yang penting.


"Sudah kubilang kakak. Dia adalah orang yang berbahaya." Dia adalah Kene, ketua guild petualang kota Larkxa.


Nada tinggi menyertai kata-katanya. Sedangkan yang menjadi lawan bicaranya hanya diam memikirkan sesuatu.


"Ayolah kakak. Kita tidak bisa membiarkan orang seperti nya berada dekat dengan kita." Seru Kene meyakinkan kakaknya.


"Apa kau yakin dia adalah seorang iblis? Tapi aku tidak merasakan apapun saat berada didekatnya?" Ucap Kenneth yang menjadi lawan bicara.


"Aku sudah bilang. Saat kau disembuhkan oleh dia, dia memancarkan aura yang berbahaya. Itu seperti aura seorang iblis!." Seru Kene lagi. "Aku sangat yakin akan hal itu?." Lanjutnya


"Tapi Kene, bagaimana bisa iblis berada disini. Bukankah penjagaan digerbang kota sangat ketat? Kita bahkan punya orang khusus untuk pengenalan identitas. Jadi seharusnya seorang iblis tidak akan bisa masuk kesini?." Tanya Kenneth meminta penjelasan.


"Yah aku tidak tahu. Mungkin dia menembus barier kota atau dia punya jalan lain, kita tidak tahu akan hal itu?. Jawab Kene dengan ragu.


"Itu tidak mungkin. Jika barier kota ditembus, sirine peringatan pasti akan berbunyi. Sedangkan untuk jalan lain, tidak ada jalan selain gerbang kota." Ucap Kenneth memastikan.


"Lalu apa kita akan membiarkan dia begitu saja?." Tanya Kene cepat. "Kau pasti sudah gila kak!." Lanjutnya.


"Mengatakan kakakmu sudah gila bukankah itu kelewatan?. Apa kau mau aku pukul?." Ucap Kenneth memamerkan tangannya.


"Ugh...Ti..tidak. Maafkan aku." Gumam Kene menunduk.


"Kita pakai kristal status saja."

__ADS_1


__ADS_2