
POV Zyden
"Kalian sama saja dengan orang-orang itu, berbicara seenaknya dan menentukan apa yang aku lakukan." Ucapku dengan nada sedih dan menunduk. "Memangnya kalian semua itu siapa Hah!." Bentakku melihat setiap orang.
Orang-orang tertegun mendengar apa yang aku katakan, mereka kaget dengan perubahan yang terjadi padaku.
'Ah..., Sial, aku terbawa suasana lagi.' pikirku atas apa yang aku katakan tadi.
Aku ingat hal yang sama saat aku memulai menjadi pemburu solo, orang-orang dimarkas pertamaku berbicara seenaknya tentangku.
Contohnya adalah sebagai pembawa sial yang membawa teman se-tim nya menuju kematian. Waktu itu aku masih bocah berumur 12 tahun, tidak bisa berpikir jernih dan menerima apapun yang dibicarakan oleh orang lain.
Jadi aku menghajar setiap orang yang berbicara tentangku, bahkan orang yang bertubuh 3x lipat lebih besar dariku. Lalu setelah kejadian itu, akupun dipukuli oleh ayahku selama lebih dari seminggu tanpa makan.
Dan pada waktu itu juga yang membuat kepribadianku sekarang.
• • •
Orang yang daritadi diam tidak mengatakan apapun tiba-tiba berteriak dan membentak, tentu saja itu membuat semua orang yang dibentaknya kaget! Dan itu terlihat jelas diwajah mereka.
"Yah... Akan aku katakan pada kalian!" Seruku menghilangkan ketegangan. "Pertama, aku tidak ada maksud jahat dikota ini, aku hanya ingin menjadi petualang tingkat tinggi agar diriku diterima. Kedua, aku adalah manusia. Ketiga, manaku memang berbeda dari semua orang yang ada didunia ini, karena manaku terhubung langsung dengan sihir khususku. Apa kalian puas sekarang?" Lanjutku berbicara.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan ku, aku yang melihat wajah mereka yang masih ragu mulai berbicara lagi.
__ADS_1
"Jika kalian tidak memperbolehkanku tinggal disini, aku akan pindah ke tempat lain. Untuk kartu petualangku, aku berharap kalian tidak akan mempermasalahkan nya karena aku menang taruhan dengan cara yang adil." Ucapku santai. "Jadi, selamat tinggal dan terima kasih atas makanan nya tadi pagi. Itu memang enak." Lanjutku menuju pintu keluar.
Tidak ada kata-kata perpisahan untukku, mereka masih melamunkan sesuatu. Saat aku hampir memegang gagang pintu, seseorang berlari kearahku.
Aku menyadari hal itu dan berbalik melihat orang yang berlari padaku. Dan betapa terkejutnya diriku, seorang wanita elf dengan tudungnya yang berkibas, memperlihatkan telinga runcing, rambut hijau panjang dan matanya yang hijau langsung melompat memelukku.
"Maafkan aku... Maafkan aku... Maafkan aku... Tolong jangan pergi! Tolong... jangan tinggalkan aku?" Serunya memeluk erat tubuhku lalu diapun menangis.
"Ap...!?" Seruku kaget.
'WtF, apa-apaan ini!" fikirku kaku dipeluk oleh Sofia.
Aku benar-benar tidak dapat berkata apapun, ini adalah hal yang tidak terduga dan ini adalah pelukan pertamaku oleh seorang wanita.
Aku melihat kearah semua orang yang ada disana, mereka memasang wajah konyol melebihi wajah bodoh mereka sebelumnya. Kecuali loli se-tan itu, dia tersenyum sendirian seperti orang gi-la.
'tidak ada harapan untuk meminta bantuan mereka.' kataku dalam hati.
Sofia masih menangis sambil memelukku, sedangkan semua orang melihatnya seolah-olah itu tontonan. Hal itu terjadi dalam beberapa saat, sampai suara wanita membuyarkan lamunan semua yang ada disana.
"S..sofia! Apa yang kau lakukan!" Seru Nika sambil menunjuk kearahku. "Kenapa kau memeluknya, la..lalu kau menangis?" Lanjutnya bertanya.
"Sofia, apa yang sebenarnya kau inginkan?" Sekarang suara wanita dengan nada yang sangat merdu terdengar.
__ADS_1
Wanita itu berambut pirang keputihan dan mata orangenya yang sangat cantik, dia anggota tim Arnold namanya Raeil.
'sepertinya dia seorang ksatria.' pikirku melihat penampilannya yang begitu anggun.
Tidak ada jawaban dari Sofia, dia malah menangis semakin keras.
'Uaaaa..., Hiks hiks, Aaaa...'
"Apa? Hey! Ada apa denganmu? Lepaskan aku...?" Seruku menggeliat terganggu akan pelukannya dan tangisannya.
Bukannya melepaskan, Sofia malah mengeratkan pelukannya dan terus menangis. Tidak ada yang bisa menggambarkan keanehan ini, bahkan untuk teman party nya sekaligus.
'jika aku menggunakan kekuatan, aku takut akan terjadi hal yang merepotkan.' pikirku yang terus meronta-ronta, tapi masih belum bisa lepas dari Sofia.
"Nak! Biarkan saja dia begitu untuk sementara." Seru Kenneth yang membuat anggota party Arnold menatapnya.
"Apa maksudmu, Paman?" Ucap Arnold serius. "Kita tidak bisa membiarkan makhluk seperti nya begitu saja." lanjutnya.
"Kenapa kau masih memanggilnya makhluk, Arnold? Bukankah sudah jelas dia adalah manusia! Jika bukan, mana mungkin seorang elf yang bisa melihat 'mana' nya bertingkah seperti itu." Seru Kenneth dengan nada halus.
"Suamiku benar!" Timpah Angela mengangguk.
Arnold berhenti berbicara, dia dan partynya sedang memikirkan apa yang dikatakan oleh Kenneth tadi. Sedangkan untukku, aku benar-benar tidak merasa nyaman dengan ini.
__ADS_1
'ah.....kh, aku ingin mabuk!'