Darkness Metal Manipulation

Darkness Metal Manipulation
Chapter 51


__ADS_3

# Catatan -- Memang ada beberapa keadaan yang membuat Zyden lunak pada Erika atau yang lainnya.


Tapi, author pastiin kalau Zyden masih sama seperti sebelumnya.


Sering liat komen ya, dan tentunya beri komentar nya juga buat novel author ini.


Buat Readers yang udah baca sampe full lalu ada chapter baru.


Author rekomendasiin buat baca chapter sebelumnya, jikalau ingin baca chapter lanjutannya biar enak kalau baca novel.


Ini juga berlaku bagi novel yang kalian baca lainnya.


*Enjoy aja ya, bacanya!*


Erika dan Zyden sedang menuju ke pasar kota Darion, Zyden di seret oleh Erika untuk menemaninya berkeliling kota.


"Tsk, lepaskan aku." Seru Zyden kesal melepaskan tangannya dari Erika.


"Kenapa? Bukannya kita akan pergi berkencan sekarang?" Ucap Erika santai.


"Kencan! Kencan! Palamu soang!" Seru Zyden jengkel pada Erika. "Kita datang kesini untuk meningkatkan rank di guild, dan mencari banyak orang yang bisa membantuku. Salah satunya itu pahlawan di kerajaan ini." Lanjutnya menjelaskan.


"Bukannya menemani orang kampung berkeliling dikota yang baru saja dia datangi." Nada mengejek dan kesal Zyden lontarkan dari mulutnya.


"Hmf! Memangnya kenapa jika aku melihat-lihat sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya?" Ucap Erika.


"Tidak kenapa-napa. Itu bukan masalah untukmu, tapi itu masalah untukku." Seru Zyden berkata.


"Jika kau ingin berkeliling, lebih baik kau mengajak Liya daripada aku. Dan kau bisa memohon pada ayahmu agar menghancurkan sihir pengekang ini dariku. Jadi kau bisa pergi sepuasmu." Lanjutnya sedikit geram pada kalimat terakhir nya.


"Kau memulainya lagi! Bukannya aku sudah bilang kalau ini adalah perintah ayahku? Aku tidak bisa melawannya dan juga tidak bisa lari darinya, karena dia adalah ayahku!" Seru Erika.


"Jadi, jangan menyalahkan ku atau ayahku sebab masalah ini lagi!" Lanjutnya menetapkan.


"Jika aku tidak menyalahkan mu atau ayahmu! Lalu aku harus menyalahkan siapa? Kambing tetangga?" Ucap Zyden kesal. "Tidak mungkin bukan?" Lanjutnya menggelengkan kepala.


"Kau bisa menyalahkan dirimu sendiri untuk itu?" Sahut Erika menjawab.


"Aku belum pernah salah sebelumnya, dan aku tidak mungkin menyalahkan diriku sendiri atas kesalahan yang dilakukan oleh orang lain." Ucap Zyden membantah.


"Tentu saja kau bisa! Kau bisa menyalahkan dirimu karena tidak bersyukur ada wanita tercantik yang menemanimu berpetualang." Seru Erika percaya diri.


"Hah! Siapa menemani siapa?" Ucap Zyden. "Sepertinya ada orang yang tidak sadar diri disini?" Lanjutnya dengan nada mengejek.


"Apa? ... Kau yang tidak sadar diri disini, dasar aerach!" Seru Erika.


"Kau memanggilku begitu lagi, Erika ja-lang!" Jawab Zyden.


Dan mereka berdua pun saling melotot satu sama lain. Lalu, setelah beberapa detik saling melotot. Seseorang berbicara dari samping mereka.


"Maaf, apa kalian berdua tidak apa-apa?" Suara bapak-bapak terdengar ditelinga Zyden dan Erika.


"Eh iya! Ada apa ya?" Ucap Erika menjawabnya.

__ADS_1


"Apa kalian punya masalah disini?" Seru bapak-bapak itu.


"Hah? Tidak kami tidak punya masalah." Kata Erika.


"Lalu, kenapa kalian ribut-ribut disini?" Seru bapak-bapak itu lagi.


"Ribut? Ah..., Maafkan kami! Kami hanya sedikit bertengkar tadi. Ya... maklumlah. Pasangan baru, sering bertengkar. Ahahaha." Ucap Erika memeluk lengan Zyden.


"Tsk, lepaskan aku. Kenapa kau selalu memegangi ku seenaknya?" Gumam Zyden dari balik topengnya dengan sedikit memberontak.


"Diamlah! Apa kau tidak bisa tenang sedikitpun?" Bisik Erika.


"Bagaimana bisa tenang, jika kau selalu berperilaku seperti ini." Gumam Zyden.


"Aku saja yang melakukannya bisa tenang! Kenapa kau tidak?" Bisik Erika.


'Karena kau ja-lang sialan, tentu saja kau akan tenang.' Pikir zyden mempertimbangkan bapak-bapak disampingnya.


"Apa kalian benar-benar tidak apa-apa?" Ucap bapak itu.


"Ya! Kami tidak apa-apa." Sahut Erika menjawab.


"Kalau kalian tidak apa-apa, bisakah kalian bertengkar di tempat lain. Kalian menghalangi pejalan kaki yang melewati jalan ini." Seru bapak itu memberitahu bahwa banyak orang yang terganggu oleh Zyden dan Erika yang berada ditengah-tengah jalan.


Mereka berdua baru sadar bahwa mereka menjadi tontonan dan gangguan bagi orang-orang yang berlalu lalang di kota.


"Hei, aku akan mengikuti semua rencana yang kau usulkan. Tapi, setelah kita berkeliling kota terlebih dahulu oke?" Bisik Erika lirih dan nakal.


Zyden melihatnya dengan tatapan agak jijik dan jengkel. Lalu dia melihat bapak-bapak itu.


Zyden menyetujui nya, lalu merekapun melanjutkan tour mereka.


"Hehehe..., Kau memang orang yang baik." Ucap Erika yang membuat Zyden berkedut.


'orang baik! Itu mungkin benar, aku adalah orang yang baik.' pikir Zyden dalam hatinya.





(ingat, tidak ada orang baik yang mengakui kalau dirinya itu baik. Jika ada orang yang bilang bahwa dia adalah orang yang baik. Fix, 💯% dia berbohong. Saya dapat dari pengalaman saya dan itu benar ke-BOHONG-an.)





Siang hari di depan guild petualang kota Darion. Zyden dan Erika baru saja selesai dengan tour mereka, lalu mereka berniat untuk masuk kedalam guild.


Guild itu hampir sama dengan guild yang ada dikota Larkxa, hanya saja 2X lebih besar. Dan terpampang papan besar bertuliskan GUILD PETUALANG KOTA DARION di atas pintu guild.

__ADS_1


Banyak petualang berlalu lalang keluar masuk guild atau mengobrol di depan guild itu.


Tidak sedikit juga petualang yang melihat ke arah anak laki-laki berpenampilan serba hitam dengan topengnya, dan anak perempuan berpakaian petualang dengan rambut ungunya yang memanjakan mata.


"Woah... Jadi ini tempatnya petualang mengambil pekerjaan. Manusia pintar juga ya dalam memilah bangunan bangunan." Ucap Erika kagum dengan semua tempat yang sudah ia kunjungi.


Zyden tidak menanggapi nya, dia diam dan masuk ke dalam guild yang di ikuti oleh Erika.


'CREEAK'


Suara dua pintu besar terbuka. Memperlihatkan meja resepsionis yang di tempati oleh beberapa orang berpakaian rapi.


Petualang yang sedang minum-minum dan mengobrol di samping kiri, serta beberapa petualang yang sedang melihat quest disamping lainnya.


Zyden dan Erika masuk dan berjalan ke arah papan yang berisikan kertas kertas yang biasanya petualang mengambil quest.


Saat mereka masuk, orang-orang dapat langsung melihatnya dikarenakan penampilan mereka yang mencolok. Namun kebanyakan dari mereka melihat ke arah Erika.


Setelah sampai di depan papan quest, Zyden memperhatikan baik-baik papan itu. Ternyata papan itu sudah dikelompokkan dengan sangat tertata, dari quest rank F sampai quest rank S.


"Tidak ada quest buat rank SS ke atas? Ah... Lupakan, itu bukan urusan ku. Seakan-akan aku bisa mengambil quest rank S. Haha!" Gumam Zyden dan sedikit tertawa.


"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" Suara wanita membuat Zyden terbangun dari gumaman nya.


Wanita berpakaian rapi dengan telinga kelinci di atas kepalanya.


"Woah! Lihat Zyden, lihat. Manusia setengah kelinci, wow. Sungguh lucu sekali...!" Seru Erika gembira. "Hei hei, bolehkah aku menyentuh telinga mu?" Lanjutnya menyosor pada wanita itu.


"Hei hei, ayolah ayolah! Bolehkan?" Ucap Erika memaksa yang membuat wanita itu tidak nyaman. Lalu...


"Aw aw aw aw, sakit sakit sakit." Erika berseru kesakitan karena dijewer oleh Zyden.


"Sudah, hentikan itu! Aku sudah muak dengan perilakumu ini. Bersikap lah seperti saat pertama kali kita bertemu, aku tidak mau repot dengan tingkah lakumu yang seperti anak-anak itu." Ucap Zyden masih menjewer nya.


"Tsk, lepaskan tanganmu. Sakit tahu..." Kata Erika melepas tangan Zyden dan memegang telinganya yang merah.


"Kalau begitu, berhentilah bermain-main. Kita punya urusan disini!" Seru Zyden dingin.


"Memangnya kenapa? Biarkan saja aku bermain-main, aku kan anak kecil." Ucap Erika tanpa rasa bersalah.


"Tubuhmu memang kecil. Tapi di dalam mu masih murni nenek-nenek. Jangan lupakan hal itu." Seru Zyden datar.


"A...? Ne... Nenek-nenek?" Ucap Erika terkejut. "Be... Beraninya kau mengatai ku dengan sebutan itu? Apa kau benar-benar ingin mati!" Lanjutnya membludak marah.


"Heh. Kau pasti bercanda lagi?" Kata Zyden santai.


"Kali ini, aku pastikan akan membunuh mu!" Seru Erika menyiapkan sihirnya.


"Ayo. Aku akan melayanimu." Sahut Zyden menjawab dan mereka berdua bersiap saling menyerang.


"Em..., Apa yang sedang kalian lakukan?" Ucap wanita kelinci itu menjeda.


Lagi-lagi, mereka berdua tidak perduli dengan orang-orang sekitar. Mereka fokus pada pertengkaran mereka sendiri.

__ADS_1


*Chapter 51 end*


__ADS_2