
"TIDAK BOLEH...!"
"Kalian tidak boleh melakukannya!!" Seru Eciela keras. "Lilith. Apa yang kau katakan, itu bukanlah sesuatu yang bisa dikatakan oleh seorang putri." Lanjutnya memarahi bocah itu.
"Ya itu benar." Timpah Asren berucap. "Dan Lilith? Kenapa kau bisa akrab dengannya? Bukankah dia adalah orang yang mencurigakan. Apa kau tidak takut jika kau ditelan olehnya!" Lanjutnya dengan nada tinggi.
Mereka berdua bertingkah sangat berlebihan, setidaknya itu lah yang dipikirkan oleh Zyden dan Lilith saat itu. Sedangkan untuk Erika, dia masih tersipu dalam khayalannya.
"Sudahlah..." Seru Eciela berjalan cepat menuju Zyden, lalu langsung mengambil Lilith yang sedang lengah. "Erika ayo!" Lanjutnya menarik tangan Erika dan pergi ke kamar mandi.
"Tidak... Lilith gak mau... Aku maunya mandi sama kakak bintang." Ucap Lilith meronta-ronta tapi masih bisa dibawa ke dalam kamar mandi.
"Hei Ecil! Kenapa kau bawa Lilith untuk mandi disini? Kenapa tidak dikamar mandinya Erika saja." Ucap Asren berteriak yang tidak ditanggapi oleh Eciela yang sedang kesal.
Eciela pun mulai memandikan Lilith, dibantu oleh Erika yang melamun dan meninggalkan kedua anak laki-laki tersebut. Keheningan sesaat terjadi pada Zyden dan Asren yang ditinggal mandi dikamar itu sebelum Asren memulai pembicaraan.
"Kenapa kau kembali? Bukannya kau bilang akan memberikan Erika padaku?" Seru Asren menarik perhatian Zyden.
"Ya, aku sudah bilang bukan. Jika kau bisa membuat Erika berpetualang denganmu, maka aku tidak akan mengganggu." Ucap Zyden santai dari balik topengnya.
"Lalu kenapa kau datang lagi kesini? Apa perkataan mu itu hanyalah lelucon bagimu!" Seru Asren bertanya tajam.
"Tentu saja bukan, tuan pahlawan." Kata Zyden ramah. "Itu bukanlah lelucon, aku mengatakan sejujurnya padamu. Aku kembali kesini karena sihir yang dipasang oleh ayahnya Erika padaku. Sihir yang membuat kami saling berdekatan satu sama lain." Lanjutnya menjelaskan.
"Sihir yang membuat kalian saling berdekatan? Apa maksudmu, dan kenapa ayahnya Erika memberikan sebuah sihir pada kalian." Ucap Asren keheranan.
"Itu karena aku dipaksa oleh ayahnya Erika, bukankah aku juga sudah bilang itu padamu?" Seru Zyden yang dibenarkan dengan diamnya Asren.
"Kembali ke dekat Erika bukanlah keinginan ku. Bisa dibilang, kita berdua tidak cocok. Aku tahu saat pertama kali kami bertemu." Seru Zyden lagi mengingat saat-saat dia pertama kalinya bertemu dengan Erika.
"Jika kembali ke tempatnya Erika bukan keinginanmu, dan kau merasa tidak menyukainya. Lalu kenapa kau berkata seperti tadi padanya, aku bisa lihat kalau Erika memendam perasaan padamu! Yang kau lakukan tadi hanya memberikan harapan padanya, kau tahu?" Ucap Asren.
"Yah..., Bisa dibilang aku cuma terbawa alur anak itu saja. Dan juga, aku tidak setuju jika Erika memiliki perasaan padaku." Ucap Zyden membantah.
"Kau berbohong, kau sudah tahu bukan jika Erika punya perasaan padamu? Yang kau lakukan hanya membohongi dirimu tentang perasaannya Erika, dan menutup matamu padanya." Seru Asren agak marah.
"Tuan pahlawan, tolong jangan salah paham. Aku tahu Erika bertingkah aneh belakangan ini, tapi aku juga tahu seperti apa Erika yang sebenarnya." Ucap Zyden yang membuat Asren penasaran.
__ADS_1
'sebenarnya? Apa maksudnya.' pikir Asren.
"Tuan pahlawan...! Jika kau ingin lebih tahu tentang Erika, maka bekerja lah lebih keras daripada yang kau lakukan selama ini. Tapi jika kau ingin diakui oleh nya, setidaknya kau harus setingkat dewa terlebih dahulu untuk pengakuan nya." Seru Zyden memberikan penjelasan yang dianggap sebagai teka-teki oleh Asren.
"Bicaralah lebih jelas! Jangan bicara berbelit-belit seperti itu." Ucap Asren tinggi.
"Baiklah baiklah...! Aku hanya ingin mengatakan, lakukanlah apa yang kau bisa untuk membuatnya bersama mu. Sebelumnya aku ingin membantumu merebut hatinya, tapi sekarang berbeda." Seru Zyden.
"Saat ini aku tidak akan membantu mu! Karena jika aku membantumu, si Erika 'ja-lang' itu pasti akan merepotkan ku" Lanjutnya membicarakan apa yang terjadi di alun-alun kota beberapa jam yang lalu.
"Dari awal aku tidak membutuhkan bantuan mu, aku akan melakukannya sendiri. Jadi jangan terlalu percaya diri jika aku membutuhkanmu." Seru Asren.
"Kalau begitu, aku minta maaf. Aku tidak berniat memperburuk hubungan kita berdua..., Aku hanya ingin agar Erika bisa mendapatkan apa yang dia inginkan lebih cepat." Jawab Zyden santai.
"Kau ingin agar Erika mendapatkan apa yang dia inginkan lebih cepat? Tunggu tunggu, aku sekarang merasa bingung dengan perkataan mu itu!" Ucap Asren memutar otaknya.
"Tadi kau bilang, kau membenci Erika dan tidak ingin dekat-dekat dengannya bukan? Namun sekarang, kau mengatakan ingin agar Erika mendapatkan apa yang dia mau secepatnya?"
"Sebenarnya mana ucapanmu itu yang bisa dipercaya? Kau seakan-akan mempermainkan aku." Lanjutnya.
"Pertama, aku tidak membenci Erika. Aku hanya tidak menyukainya saja karena dia itu menjengkelkan. Kedua, aku dipaksa oleh ayahnya Erika untuk menemaninya berpetualang dengan memberikan sihir terkutuk ini pada ku."
"Ketiga, cara satu-satunya untuk melepas sihir kutukan ini adalah menemukan apa yang Erika inginkan atau mencari pengganti ku sebagai orang yang akan berpetualang dengannya...!"
"Maka dari itu, aku memintamu agar bisa membuat Erika berpetualang denganmu sebagai pengganti ku..., Sekarang, apa kau faham tentang apa yang aku katakan, tuan pahlawan?" Seru Zyden menjelaskan panjang lebar.
'sial, aku sudah tidak sabar ingin meminum anggur buatan maid itu.' lanjutnya berpikir.
"Begitu ya... kupikir kau bermain-main dengan ku. Jadi itu alasanmu agar Erika ingin berpetualang dengan ku? Tapi yah..., Aku masih heran pada satu hal!" Seru Asren bertanya.
"Apa itu, tuan pahlawan?" Sahut Zyden menjawab.
"Kenapa ayahnya Erika memaksamu untuk menemaninya berpetualang? Dan mengapa ayahnya Erika memasang sihir pada kalian berdua?" Tanya Asren penasaran.
'wow..., Itu pertanyaan yang menakjubkan, dan... Itu bukan satu hal. Tapi dua hal yang kau herankan, pahlawan sialan.' hujat Zyden dalam hatinya.
"Lalu... Siapa kau sebenarnya sampai ayahnya Erika menunjukmu sebagai orang yang berpetualang dengan nya?" Seru Asren melanjutkan pertanyaannya.
__ADS_1
'Wow! Bisa-bisanya dia sempat menambahkan nya. Dia pantas menyandang gelar pahlawan dunia lain. Hahaha.' pikir Zyden melucu.
"Ehem! Tuan pahlawan, aku bukanlah siapa-siapa. Aku cuma seorang anak yang kebetulan pamannya berteman dengan ayah Erika." Seru Zyden mengucapkan kebohongan nya.
"Pamanku membantu ayahnya Erika dengan meminjamkan ku padanya. Saat aku mulai protes tidak menyetujuinya, aku dipaksa oleh ayahnya Erika dengan memasang sebuah sihir yang membuat ku tidak dapat jauh atau pergi meninggalkan Erika."
"Aku tidak tahu kenapa aku harus menjalani hidup ini. Yang aku inginkan hanyalah hidup didesa yang damai, dan punya istri yang menemani plus kawai."
'aku akui, Erika memang cantik. Tapi, entah kenapa aku tidak menyukainya. Mungkin... karena dia menyebalkan!' pikir Zyden.
'Kalian harus tau, aku ini masih normal lho ya... Suka perempuan. Jadi bukan karena alasan lain aku tidak menyukai Erika, itu karena dia menyebalkan saja. Bukan karena aku ini aerach atau apa pun itu yang bisa membuat ku terlihat bodoh.' lanjutnya membela diri sendiri.
"Namun, dunia berkata lain. Aku di jadikan sebagai kuda yang harus menemani tuannya menempuh perjalanan panjang sampai dia menemukan tempat yang bisa dijadikan sebagai naungan."
"Benar-benar kisah yang tragis bukan, tuan pahlawan?" Lanjut Zyden dengan nada dramatis perfileman.
"Tidak juga, kurasa kalian cuma dijodoh kan seperti yang Erika katakan sebelumnya." Seru Asren.
"Tidak mungkin..." Jawab Zyden nada terkejut. 'sialan. Dari mana pahlawan brengsek ini menyimpulkan hal itu? Apakah aku terlalu menghayati peran ini sehingga dapat ditebak begitu saja?' hujat Zyden atas kecerobohan nya.
"Aku sudah sering melihat drama seperti ini di dunia ku. Perjodohan antara orang tua yang tidak diketahui oleh anaknya sendiri." Ucap Asren menjelaskan.
"Tapi ya... Kau tahu! Aku tidak berniat kalah darimu yang tidak menginginkan Erika. Akan aku rebut Erika sebelum kalian benar-benar dipersatukan oleh orang tua kalian masing-masing." Lanjutnya menyatakan perang.
"Be... Begitu kah, jadi itu artinya kau akan berusaha lebih keras untuk membuat Erika berpetualang bersama mu kan?" Tanya Zyden agak kaku.
"Bukan cuma berpetualang denganku, akan aku rebut Erika dan akan aku bawa dia sampai dia tidak akan pernah mau melihat dirimu lagi!" Seru Asren bersemangat.
"Mulai sekarang kita adalah rival. Kita akan bersaing dengan adil dan jujur dalam pertarungan memperebutkan Erika. Ingat itu baik-baik." Lanjutnya berbicara keras dan berbalik pergi keluar pintu.
"Eh! Oy... Tuan pahlawan!" Sahut Zyden yang ditinggalkan sendirian. "Sialan, ada yang tidak beres dengan otak pahlawan itu. Kurang jelas apa coba aku menjelaskan repot-repot tadi."
"Bagaimana bisa begini? Aku sudah bilang bawa Erika dan ajak saja dia bersamamu, itu adalah perkataan terjelas milikku. Tapi sekarang? Pahlawan itu malah memperlakukan ku sebagai seorang saingan percintaan miliknya."
"Aa... Ah! Aku tidak habis pikir, aku pusing. Aku ingin mabuk secepatnya! Sial.... Pahlawan bajingan!!" Lanjutnya bergumam menahan semua amarah nya.
*Chapter 61 end*
__ADS_1