
POV Zyden
Sekarang aku sedang berada dirumah Kenneth, lebih tepatnya kamar yang disediakan oleh Kenneth. Aku sedang merenungkan sesuatu diatas ranjang yang agak kasar ini.
"Aku sudah menjadi petualang, skillku mungkin saat ini sama dengan rank S yang ada dikota. Tapi, ada yang kurang saat aku bertarung dengan Kenneth." Seruku duduk diranjang sembari merenung.
"Aku tidak memiliki kekuatan tubuh yang mumpuni dan aku tidak memiliki skill yang dapat melumpuhkan lawanku dengan cepat." Lanjutku menatap langit-langit.
"Aku akan mencoba beberapa hal besok pagi. Ini bisa mempercepatku membunuh seseorang." Gumamku mengingat beberapa film dan anime.
Walaupun aku memiliki keunggulan terhadap 3 skill utamaku, tapi aku masih kurang dalam beberapa hal. Salah satunya mengalahkan musuhku dengan cepat.
Saat aku berburu, aku selalu menyelesaikan nya dengan cepat. Baik menggunakan pisau atau sniper, aku selalu menyelesaikan nya dalam waktu minim, karena itulah aku menjadi pemburu no.1 di Indonesia saat itu.
Aku membaringkan tubuhku dan mengingat ingat lagi kehidupan ku dulu.
"Aku masih tidak percaya bahwa aku sudah mati, bertemu dewa, lalu hidup kembali didunia berbeda. Ini seperti mimpi. Aku berharap ini bukan mimpi, karena disini aku bisa melihat banyak hal walau birnya tidak terlalu enak." Ucapku lalu aku menutup mata dan berharap hari esok masih ada.
• • • • •
Besoknya aku bangun seperti biasa, matahari masih belum muncul dan sekarang aku sedang duduk dikasurku mempersiapkan hari ini.
"Untuk membunuh dengan cepat didunia fantasi, aku harus memenggal kepala musuhku atau menghancurkan jantungnya tanpa bergerak." Gumamku. "Sesuatu yang cepat dan tidak terlihat hanyalah teleportasi, tapi aku tidak memiliki skill teleportasi atau pun sihir teleportasi." Lanjutku sembari mengingat sesuatu.
"...Elemen petir!." Ucapku serius. "Elemen petir itu cepat dan mematikan. Aku pernah melihat dianime, seorang assassin yang menggunakan elemen petir sebagai tekniknya."
"Aku akan mencoba menggunakannya, tapi bukan cuma elemen petir saja. Elemen lainnya juga tidak kalah penting." Ucapku memegang dagu. "Untuk menghancurkan jantung musuhku..., Aku bisa mencobanya." Lanjutku memikirkan sebuah cara.
"Baiklah, rencana hari ini adalah sesi latihan, DARKNESS METAL MANIPULATION. Membunuh musuhku tanpa terlihat bergerak." Seruku sembari bangun dari dudukku.
"Tapi sebagai rencana awal, mandi dan sarapan. Aku dikota, bukan dihutan. Jadi ya.. makan yang banyak tidak ada salahnya kan?." Ucapku keluar pintu. "Lagipula aku kaya sekarang." Lanjutku.
Kamarku tidak memiliki kamar mandi, jadi aku mandi diluar. Lebih tepatnya di kamar mandi umum dirumah ini.
'Semoga adegan ecchi tidak terjadi saat aku masuk ke kamar mandi.' pikirku mengingat adegan di anime-anime.
"Kau sudah bangun? Ayo kita sarapan bersama, Zyden?" Suara wanita terdengar ditelinga ku.
Aku melihat sosok itu, seorang wanita yang 'terlihat' lebih muda dariku. Berambut biru dan mata biru, tubuh pendek seperti anak 14 tahunan.
"Eh?, Ah...!, ...Baiklah, Bibi!." Seruku.
'Kenapa loli menyeramkan ini bicara santai denganku?. Aku kira dia tidak akan memperdulikanku?.' pikirku.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau masih disana, bocah?." Sekarang suara serak laki-laki terdengar. "Kemarilah!" Lanjutnya bicara.
Aku melirik ke arah kiri, seorang laki-laki kekar dengan wajah sangar sedang duduk dimeja makan, dia Kenneth. Aku melihatnya untuk beberapa saat, lalu aku melangkah maju menuju meja makan yang sama.
"Pagi, paman." Ucapku halus.
"Ooh... Kau memanggilku paman! Itu lebih bagus daripada pak tua. Benar bukan, bocah?. Hahaha..." Seru kenneth tertawa terbahak-bahak.
Aku tersenyum meringis menanggapi Kenneth.
'apa-apaan ini, yah.. kesampingkan tentang pak tua itu, dia memang agak gila. Walau aku menendang bokongnya berkali-kali, dia mungkin akan terus bersikap seperti ini. Tapi..' pikirku melirik Angela. 'kenapa si loli se-tan itu juga baik padaku, bukankah dia histeris saat aku membuat babak belur suaminya?.' lanjutku berpikir.
"Apa yang kau pikirkan, bocah?" Ucap Kenneth membangunkan lamunanku.
"Aku ingin mandi dulu. Dimana kamar mandinya?." Tanyaku pada Kenneth.
"Kau tinggal pergi ke lorong depan ada pintu disebelah kanan. Itu kamar mandinya." Jawab Kenneth menunjuk sebuah lorong.
"Baiklah. Terima kasih paman Kenneth." Seruku pergi ke lorong.
Aku langsung masuk dan kamar mandinya hampir mirip seperti yang ada didesa. Selesai mandi aku memakai pakaian biru kehitaman dengan celana hitam.
Lalu aku langsung pergi ke ruang makan tadi. Terdapat tiga orang yang duduk disana, dua wanita satu pria dan banyak makanan diatas meja yang belum disentuh.
'sepertinya mereka menungguku. Baik sekali...' pikirku duduk dikursi yang kosong.
"Tentu boleh, bocah! Bukankah ini adalah salah satu kesepakatan kita?." Jawab Kenneth. "Jadi selama kau disini kau harus mengikuti semua kegiatan yang ada dirumah ini. Faham?". Lanjutnya.
"... Baiklah, terimakasih.!" Ucapku pelan.
"Kalau begitu, ayo kita makan!." Seru Angela diikuti oleh anggukan kami bertiga.
Selesai makan °°°
"Seperti biasanya makananmu selalu enak Angela!" Seru Kenneth menepuk perutnya.
Angela hanya tersenyum sedangkan Elsa, dia masih diam dari awal sampai akhir makan.
"Jadi, bocah. Apa rencanamu untuk hari ini?" Tanya Kenneth melihatku.
"...Hari ini aku ingin pergi ke-suatu tempat." Ucapku pelan.
"Hm.. Tempat apa?" Tanya Kenneth lagi.
__ADS_1
"Rahasia" Jawabku datar.
'aku tidak mungkin mengatakannya kalau aku akan ke-hutan atau mencari dungeon untukku berlatih.' pikirku.
"Kalau begitu... Bagaimana kalau kau mengajak Elsa. Dia libur hari ini, ya kan Elsa?" Seru Kenneth meminta jawaban.
"Eh" Elsa terbangun dari lamunannya. "I.."
"Tidak, aku tidak bisa mengajak siapapun. Jadi... Maaf!" Ucapku memotong jawaban Elsa.
"Begitu ya.." Ucap Kenneth lemah.
Mereka berdua menunduk sedangkan Angela, dia membersihkan meja makan tadi.
"Terima kasih atas makanannya, itu enak." Ucapku berdiri dari kursi. "Aku akan berangkat sekarang. Jadi sampai jumpa." Lanjutku pergi keluar rumah yang berada dibelakang penginapan.
• • •
Aku sudah sampai di gerbang kota. Karena penginapan dengan gerbang kota tidak terlalu jauh, jadi aku bisa kesini dengan cepat.
Penjagaan untuk keluar kota dijaga oleh 1 orang saja. Pintu keluar untuk para pejalan kaki saat keluar ada disebelah kiri gerbang, sedangkan untuk masuk ada disebelah kanan.
Untuk keluar tidak perlu memperlihatkan kartu id hanya membayar saja untuk keluar. Tapi, saat masuk diharuskan memperlihatkan kartu id walau penduduk kota itu sendiri.
Aku membayar hanya 2 perak, karena aku menggunakan id petualang bukan orang biasa. Setelah keluar gerbang, aku langsung masuk ke hutan dan langsung melesat mencari monster.
Seperti biasa untuk mencari monster, aku menggunakan skill ku. Seketika mataku memunculkan warna merah, walau hanya sebuah titik itu terlihat jelas.
Mencari dan mencari, aku berhenti di salah satu dahan pohon besar dan menemukan segerombolan fire wolf yang sedang memakan tubuh ogre.
Fire wolf memiliki ciri-ciri seperti serigala tapi ditutupi oleh api disekitar tubuhnya, khususnya dileher dan ekor yang membara. Fire wolf sama seperti serigala dibumi atau goblin yang selalu bersama dengan kawanannya.
Ada tujuh fire wolf disitu, enam ekor sedang makan dan satu yang besar sedang duduk enak-enakan. Aku mengincar yang besar dulu, karena disini aku sedang mencoba beberapa hal jadi aku tidak akan menghabisi mereka dengan mudah, mungkin.
Pertama adalah percobaan elemen. Aku pernah mencoba elemen api dan air. Jadi aku akan mencoba petir dan angin, untuk tanah aku tidak memerlukannya. Skillku sudah cukup kuat dan kokoh lebih dari tanah jadi itu tidak perlu.
Aku mencoba menciptakan petir ditangan kananku dan angin ditangan kiriku. Petir itu sama seperti petir biasanya, itu menyengat dan tidak beraturan. Untuk angin, itu juga menyejukkan dan mudah lenyap.
Kedua elemen ini berwarna hitam, sama dengan api dan air waktu itu. Aku akan mencoba petir dulu, aku fokus dalam membuat petir yang menutupi seluruh tubuhku, dan sebuah pedang ditangan kananku.
Saat petir itu sudah menyebar, aku langsung lompat menuju fire wolf yang sedang duduk.
'Bzzrt..., Wuush..., Bam...,'
__ADS_1
Kurang dari kedipan mata, aku mendarat terlalu jauh dari fire wolf itu. karena suara yang kusebabkan, semua fire wolf mulai waspada terhadap ku, dan bersiap-siap menyerang.
'tch, ini terlalu sulit untuk percobaan pertama' keluhku dihati.