
"Kau kan..."
"Tunangan nya Erika!" Seru Lester memotong perkataan Asren.
Semua orang terkejut mendengar pernyataan Lester, termasuk Oliver dan keluarganya.
"Sialan kau Lester! Apa kau perlu mengucapkan nya sekencang itu." Ucap Asren agak marah mendengar nya.
"Yah... Bagaimanapun kau melihat nya, kau pasti terkejut dengan wajahnya bukan? Apalagi jika para perempuan melihatnya, benarkan... Ecil?" Seru Lester bertanya.
"Humf! Kenapa kau bawa-bawa aku?" Kata Eciela tak terima.
"Ayolah, apa kau tidak sependapat kalau mereka berdua itu cocok." Ucap Lester menyarungkan pedangnya, lalu menghilangkan nya.
(Informasi kecil
16 pahlawan memiliki kemampuan unik. Mereka dapat menyimpan dan mengeluarkan senjata sesuka hati mereka.
16 pahlawan memegang satu senjata berbeda dengan kemampuan yang seirama seperti senjata mereka masing-masing.
Kemampuan yang dimiliki pahlawan disebut sebagai “berkah pahlawan“.
Mereka juga bisa menggunakan sihir tergantung pada kemampuan individu dan kerja keras dalam pelatihan sihir masing-masing.)
"Ya... Kurasa mereka berdua cocok." Seseorang dengan tubuh besar, rambut coklat dan wajah bodoh biasa menjawab Lester. Dia adalah Gilbert, salah satu anggota dari 16 pahlawan yang ada dikota Darion.
"Benarkan, sepertinya kita sudah tahu siapa pemenangnya." Seru Lester yang membuat Asren geram.
"Hentikan Lester, kita tidak punya perihal untuk itu." Ucap Alexander. "Erika, apa yang baru saja kau lakukan tadi? Siapa dia dan kenapa kau melakukan itu pada Lilith!" Lanjutnya bernada berat suara pria paruh baya.
"Maafkan aku paman Alex atas apa yang aku lakukan." Kata Erika dengan sopan. "Dia adalah orang yang aku kenal dan dia lumayan baik." Bibir Zyden berkedut mendengarnya.
"Aku melakukan itu, karena menurut ku Lilith akan menyukainya." Lanjutnya melihat Lilith yang matanya masih berbinar-binar.
"Lilith menyukainya? Kenapa?" Tanya Eciela yang berada disamping Erika.
"Kalau itu... Kau bisa tanya langsung padanya." Jawab Erika masih melihat Lilith. semua orang memandang Lilith dengan tanda tanya akan kata-kata Erika tadi.
Mereka berfikir kenapa Erika berkata begitu dan kenapa Lilith berekspresi seperti itu. Ekspresi bocah yang sedang tergila-gila pada mainannya.
"Lilith, apa kau suka laki-laki itu?" Seru Alexander bertanya.
"Ayah? ...Iya, Lilith menyukainya! Kakak itu terlihat berkilauan, banyak sekali bintang yang bisa Lilith lihat darinya." Jawab Lilith bersemangat. "Lilith belum pernah melihat bintang-bintang seperti ini sebelumnya. Ayah! Bisakah Lilith memeluk kakak itu, aku mohon..." Lanjutnya memelas.
Alexander yang melihat putrinya memohon dengan penuh ketulusan pun jatuh patuh padanya. "Erika, apa dia itu kenalan mu? Dan apa dia tidak berbahaya bagi putriku?" Ucap Alexander memastikan.
"Ya paman, dia kenalanku. Dan... Dia juga bukan orang yang berbahaya bagi Lilith." Seru Erika. "Setidaknya..., dia bukanlah pedofil." Lanjutnya lirih.
"Be... begitu ya!" Rasa canggung terdengar dari perkataan Alexander. "Ehem. Em... Anak muda? Seperti yang baru saja kau dengar, putriku ingin em... Memelukmu! Sebagai seorang ayah, aku tidak mengizinkan putri ku dekat dengan siapapun, apalagi anak laki-laki yang muncul begitu saja di depanku."
"Tapi karena ini adalah permintaan dari Lilith, dan aku juga percaya pada Erika. Aku akan mengizinkan nya kali ini! Dan aku juga percaya kalau kau juga orang yang baik, setidaknya dari apa yang Lilith lihat darimu." Seru Alexander.
"Maka dari itu, apa kau tidak keberatan jika putriku me, me... memeluk mu?" Lanjutnya bertanya.
Zyden diam saja menanggapinya, dia sedang merangkum semua informasi yang baru saja dia perhatikan. Setelah mengobservasi kejadian yang baru saja terjadi disekitarnya, Zyden mulai berbicara dari balik topengnya.
__ADS_1
"... Tentu saja boleh, jika kau tidak keberatan." Jawab Zyden dengan santai. 'ternyata begitu, ini bisa menjadi kunci bagiku menggunakan para pahlawan. Sepertinya Erika lumayan berguna juga untuk hal seperti ini.' pikir Zyden tentang rencana selanjutnya.
"Benarkah? Asik..." Seru Lilith mencoba turun dan langsung berlari ke arah Zyden. Setelah hampir sampai, Lilith lompat memeluk Zyden yang masih memakai jubah basahnya.
Zyden menangkap bocah yang bersemangat itu dan menggendong nya. 'kalau dipikir-pikir lagi. Aku juga mati karena anak kecil.' pikir Zyden mencoba membenarkan posisi gendongan nya karena kesenangan bocah itu.
Semua orang terdiam melihat kejadian yang ada didepan mereka, mereka juga berpikir bahwa nona muda mereka telah tergila-gila pada anak yang bahkan asal-usulnya tidak diketahui itu.
Tapi untuk Alexander dan ibunya Lilith, pemandangan itu merupakan hal yang bagus bagi putri mereka.
• • •
• • •
• • •
Di dalam ruang tamu mansion, Zyden tengah menggendong seorang bocah yang sangat senang. Walau pakaian Zyden basah kuyup, bocah itu masih memeluk nya dengan semangat yang membuat orang-orang memperhatikan nya.
"Nak, apa kau tidak dingin? Sepertinya kau habis kehujanan bukan?" Suara seorang wanita yang sedang berjalan pelan ke arah Zyden dari belakang muncul tiba-tiba.
Wanita itu memiliki warna rambut pirang panjang sama seperti warna rambut bocah yang digendong Zyden.
Dia adalah istri dari Oliver dan ibu dari Lilith, Avina Alnoid. Nyonya besar di mansion itu. "Lihat, baju Lilith juga ikutan basah karena memeluk mu. Apa kau bisa mengganti pakaian mu dulu?" Lanjutnya memperhatikan.
"Benar juga, pakaian Lilith juga ikutan basah." Sahut Oliver menambahkan. "Lebih baik kau mengganti pakaian mu dulu. Aku takut Lilith terkena demam karena kebasahan juga." Lanjutnya.
"Kalau begitu ayo Lilith, gendong dengan ibu dulu. Setelah kakak ini mengganti pakaian nya, nanti Lilith bisa memeluknya lagi sepuasnya." Ucap Avina mencoba mengambil Lilith.
"Gak mau, Lilith gak mau!" Seru bocah itu mengeratkan pelukannya.
"Gak mau, pokoknya Lilith gak mau." Seru bocah itu ngotot tak melepaskan pelukannya.
"Sudahlah sayang, biarkan saja dia untuk sementara." Ucap Oliver memegang pundak istrinya.
"Tapi kan..." Seru Avina merengek.
"Tidak apa-apa, biarkan saja." Ucap Oliver menarik Avina kebelakang. "Erika? Eciela? Bisakah kalian berdua mengawasi Lilith saat bersamanya." Lanjutnya pada Erika dan Eciela yang ada disampingnya.
"Baik." Sahut Erika.
"Eh... Aku? Kenapa aku?" Seru Eciela terheran.
"Tidak apa-apa kan? Lagipula kau tidak ada kerjaan." Ucap Oliver yang membuat Eciela terdiam. "Pelayan, antar anak ini ke salah satu kamar dan layani dia dengan baik!" Lanjutnya memberi perintah pada para maid yang ada disekitar kursi tamu.
"Baik, tuan." Jawab salah satu maid.
Saat para pelayan ingin mengantarkan Zyden ke kamarnya, sebuah suara terdengar. "Tunggu paman! Apa paman akan membiarkan dia untuk menginap disini?" Seru Asren terganggu.
"Menginap? Itu mungkin ide yang bagus Asren, diluar juga masih hujan deras dan Lilith juga sepertinya tidak ingin lepas darinya untuk sementara. Jadi, kenapa kau tidak menginap disini dulu?" Ucap Oliver pada Zyden.
"Aku akan menginap, jika Erika juga menginap." Jawab Zyden melihat Erika.
"Bagaimana Erika? Apa kau akan menginap disini?" Tanya Oliver.
"Baiklah paman, aku juga akan menginap." Sahut Erika menjawab.
__ADS_1
"Bagus jika begitu. Pelayan, antarkan mereka." Ucap Oliver memberikan kode pada para pelayan.
"Aku juga ikut." Seru Asren langsung berpartisipasi.
Dan mereka berlimapun mengikuti pelayan ke kamar yang sudah disediakan.
•
•
•
Sesampainya dikamar, Zyden disuguhi dengan renovasi kamar pada abad pertengahan. Renovasi dari kamar itu tidak mirip sama sekali dengan kamar milik Erika. Namun dalam kemewahan dan luas ruangannya, itu tidak jauh berbeda.
Kasur megah dan besar, hiasan dinding dan meja riasan, serta kaca dan jendela untuk melihat keluar. Itu merupakan renovasi klasik dari abad pertengahan dibumi yang pernah Zyden lihat di film ataupun buku-buku sejarah yang ada.
"Baik, tuan. Ini kamar anda." Ucap seorang pelayan yang mengantar mereka semua. "Sedangkan untuk nona..., Kamar anda ada disebelah." Lanjutnya kepada Erika.
"Terimakasih." Jawab Zyden yang masih menggendong Lilith dan Erika yang ada disampingnya.
"Sama-sama. Jika anda ingin mandi, kamar mandi ada disana." Ucap pelayan itu menunjuk sebuah pintu di bagian kanan kamar. "Kami akan menyiapkan baju ganti untuk anda dan nona Lilith. Apa anda ingin kami siapkan makanan juga tuan?" Lanjut pelayan itu.
"Tidak perlu. Dan juga, aku tidak perlu baju ganti. Aku membawanya sendiri, siapkan saja untuk nona kalian ini!" Kata Zyden sedikit mengangkat Lilith.
"Begitukah tuan. Kalau begitu, kami hanya akan membawa beberapa cemilan untuk tuan dan nona sekalian." Seru sang pelayan pada semua yang ada disana. "Permisi." Lanjutnya berjalan pergi.
Setelah pelayan itu pergi, kelima orang itu mulai kembali ke topik.
"Baiklah Lilith, ayo kita mandi duluan sebelum Zyden. Lalu kita bermain." Ucap Erika bersiap mengambil bocah itu.
"Lilith gak mau! Lilith mau mandi bareng kakak ini..." Jawab bocah itu terus mengeratkan pelukannya.
"Itu tidak boleh, kau tidak boleh mandi bareng Zyden." Seru Erika melarang. "Kau bisa memilikinya setelah kau selesai mandi. Lagipula dia juga tidak akan kemana-mana." Lanjutnya.
"Gak mau..., Lilith mau nya mandi bareng kakak..." Ucap bocah itu merengek.
"Walau kau masih kecil, tapi kau masihlah perempuan. Kau tidak boleh mandi berduaan dengan Zyden. Jadi, ayo mandi bareng kakak Erika saja?" Seru Erika masih membujuknya.
"Kalau mandi berduaan yang jadi masalahnya, kenapa kita tidak mandi bertiga saja? Lilith, kak Erika dan juga kakak..." Ucap Lilith melihat Zyden yang membuat semuanya terdiam.
"Itu ide yang bagus..., Kenapa kita tidak mandi bertiga saja?" Sahut Zyden menggoda.
'mandi bertiga?! bareng... Zyden!' pikir Erika sedikit tersipu.
"TIDAK BOLEH...!" Seru Eciela dan Asren serempak.
*Chapter 60 end*
[*ERIKA'S SMALL VERSION *]
[*ERIKA'S VERSION OF THE DEVIL'S STUDENT COUNCIL PRESIDENT IN HIGH SCHOOL*]
__ADS_1