
"Hm...! Eh, tunggu? Pahlawan katamu?" Seru Zyden pura-pura kaget dan mengejutkan resepsionis itu.
"I...iya." Jawab resepsionis itu terganggu.
"Woah... Keren! Aku bisa berada di kota yang sama dengan pahlawan." Seru Zyden dengan nada tinggi yang membuat orang-orang melihatnya.
Baik petualang yang sedang makan-makan, maupun resepsionis yang ada diruangan belakang.
Mereka di buat kaget dan langsung memperhatikannya. Zyden terlalu berlebihan serta sadar bahwa dia menjadi tontonan.
'sial, aku mengacaukan nya.' umpat Zyden atas kecerobohan nya. 'Kemana perginya akting tingkat atas ku menghilang?' lanjutnya dalam hati.
"Oh... Maaf, sepertinya aku terlalu bersemangat ingin bertemu dengan pahlawan!" Seru Zyden memegang kepalanya.
"Ti... Tidak apa-apa. Aku tidak masalah dengan itu." Ucap resepsionis dengan senyum canggungnya.
"Hahaha, terimakasih. Lalu, apa kau tahu seperti apa pahlawan itu?" Tanya Zyden bersuara agak lirih.
"Ya, tentu aku tahu. Ah... Kalau kau ingin melihat rupa pahlawan. Kau bisa menuju alun-alun kota!" Seru sang resepsionis.
"Alun-alun! Kenapa aku harus pergi ke alun-alun?" Sahut Zyden.
"Ada foto mereka disana. Baru-baru ini, kerajaan menyebarkan wajah para pahlawan yang mereka panggil ke seluruh wilayah kerajaan." Ucap resepsionis itu menjelaskan.
"Apa?" Seru Zyden terkejut.
Dia benar-benar terkejut, dan itu bukan kepura-puraan lagi.
• • •
Zyden langsung pergi ke alun-alun kota untuk melihat foto yang dimaksud oleh resepsionis dari guild petualang.
Sesampainya disana, Zyden melebarkan matanya bulat-bulat melihat apa yang ada didepannya.
16 foto besar pahlawan terpampang tepat ditengah-tengah tempat yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan.
Pohon-pohon tersusun rapih menghiasi air mancur yang dibelakangi oleh foto para pahlawan.
Alun-alun itu ramai dengan pejalan dan orang-orang yang menikmati tempat itu.
Benar-benar tempat yang cocok untuk memperlihatkan sesuatu.
"Sial! Ini bukanlah sebuah foto, ini adalah pamflet pemilu yang sedang mencalonkan dirinya menjadi pemimpin suatu daerah." Hujat Zyden pada foto pahlawan yang begitu besarnya.
"Akh..., Sial, sial, sial. Bagaimana bisa aku tidak tahu ada benda sebesar ini." Seru Zyden marah.
"..., Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku tidak mendapatkan informasi tentang ini dari skill eyes of knowledge?"
"Jelas-jelas ini adalah sesuatu yang dapat dilihat dengan mudahnya oleh eyes of knowledge. Namun, aku tidak melihat apapun tentang ini?"
"Apa ada orang yang menggunakan penghalang? Tidak, ... Tidak. Coba pikirkan lagi!"
__ADS_1
"Untuk apa menyembunyikan sesuatu yang sudah diketahui oleh semua orang. Jikalau memang ada, mataku pasti bisa melihat penghalang itu."
"Tapi..., Tidak ada penghalang? Tidak ada yang disembunyikan? Lalu kenapa aku tidak bisa melihat apapun tentang pahlawan?" Seru Zyden berpikir sangat keras.
"Tu... tunggu?" Lanjutnya menyadari sesuatu. "Yang tidak bisa aku lihat hanya informasi tentang pahlawan."
"Selain pahlawan, aku bisa melihat semua informasi tentang kota ini! Tempat guild petualang, para pedagang, penginapan, bahkan tempat prostitusi yang paling ku benci sekalipun bisa kulihat."
"Namun, aku tetap tidak bisa melihat apa-apa tentang pahlawan? Tidak ada penghalang, dan tidak ada masalah dengan eyes of knowledge."
"Kalau begitu, pasti ada yang menutupi info pahlawan langsung dari mataku. Dan hanya ada satu orang yang bisa melakukannya!"
'dewa yang memberikan skill ini.'
"Bajing-an! Setiap ada masalah, dia selalu menjadi yang pertama dalam daftar tersangka. Aku harus meluruskan semua ini saat aku bertemu dengannya lagi."
"Menjadi pemberi misi ku? Atau penjebak ku dari misi ini? Aku pasti akan mendapatkan jawaban darinya." Seru Zyden melihat foto pahlawan. "Tapi pertama-tama... Aku harus berkenalan dengan para pahlawan ini." Lanjutnya.
'Mereka tidak terlihat seperti orang Indonesia. Mereka lebih mirip seperti orang Eropa versi isekai.' pikir Zyden memperhatikan pamflet para pahlawan.
'sepertinya mereka bukan berasal dari Bumi..., Yah! Jika aku ada di dunia lain, bukan berarti tidak ada dunia selain Bumi dan Bessara ini kan. Pasti ada ribuan planet dan dunia yang berisi manusia.'
'mereka terlihat muda-muda, umurnya pasti tidak jauh berbeda denganku. Walau ada yang terlihat lebih tua, paling selisih nya dua sampai tiga tahun.'
'namun umur tidak bisa mencerminkan pola pikir seseorang. Cara melihat pola pikir seseorang adalah dengan melihat lingkungan sekitarnya. Tapi, aku tidak tahu dunia seperti apa yang mereka tempati dulu.'
'Akh! Aku tidak mau dipikir pusing tentang mereka, aku hanya perlu melihatnya langsung. Sekarang, dimana aku bisa menemukan mereka?'
"Sungguh, malangnya diriku!" Gumam Zyden mengasihani dirinya sendiri.
Tidak lama kemudian, ada suara yang memanggil nama Zyden tidak jauh dibelakang.
"Zyden! Zyden!" Suara itu lembut namun keras, dan suara itu terus-terusan memanggil.
Zyden yang mendengar namanya diteriakkan seseorang, mulai berbalik dan melihat ke arah suara itu.
Dan ternyata, sumber suara itu adalah Erika yang sedang melambaikan tangannya dan didampingi oleh beberapa orang.
Erika berlari ke arah Zyden sambil melambaikan tangannya yang membuat orang-orang disampingnya keheranan.
Lagi-lagi Zyden dibuat diam! Dibalik topengnya, dia membeku tak percaya dengan apa yang sedang dia lihat.
Pahlawan yang sedang dia cari dan dibuat pusing olehnya, sedang berada disamping orang yang berpetualang dengannya. Benar-benar sesuatu yang tidak terduga.
"Haaah... Sebenarnya apa yang sedang terjadi hari ini?" Ucap Zyden dengan helaan putus asa nya.
•
•
•
__ADS_1
"Hehe, lihat-lihat! Siapa yang ada didekat ku ini." Seru Erika menunjuk beberapa orang disampingnya.
Zyden tidak merespon, dia menatap Erika dengan heran. Lalu beberapa detik kemudian, salah seorang disamping Erika mulai berbicara.
"Erika. Siapa orang ini?" Tanya seorang pria dengan rambut merah pendeknya.
"Oh, dia? Dia tunangan ku!" Ucap Erika dengan santainya.
"HAH!" Zyden dan pria itu terkejut bersama-sama.
Sementara yang lainnya, memperlihatkan keterkejutan yang sangat jelas di wajah mereka tentang apa yang baru saja Erika katakan.
"Tunangan!" Seru pria rambut merah memastikan.
"Iya." Jawab Erika.
"Hei, apa yang kau katakan!" Ucap Zyden sedikit berteriak. "Tunangan apa yang kau maksud? Apa kita memang bertunangan!" Lanjutnya dengan nada ragu.
"Kau adalah orang yang disetujui oleh ayahku. Jadi, selain kata tunangan! Kata apa lagi yang cocok untuk kita?" Seru Erika pada Zyden.
"Kau ini kenapa? Berkata hal yang tidak masuk akal seperti itu. Apa kepalamu terbentur sesuatu, Erika!" Zyden bertanya dengan mendekatkan topengnya.
"Memangnya aku mengatakan hal yang konyol?" Sahut Erika.
"Ya! Entah kenapa aku lebih suka Erika yang bermusuhan saat pertama kali kita bertemu." Kata Zyden acuh.
"Bukannya kau sendiri yang sudah merubahku? Kenapa kau heran dengan itu!" Seru Erika menjawab.
"Apa! Memangnya aku melakukan apa padamu sampai bisa berubah. Bukannya hubungan kita buruk-buruk saja ya selama ini? Lalu, bagaimana aku bisa merubah mu!" Ucap Zyden.
"Pikirkan saja sendiri, dasar otak udang!" Seru Erika melipat tangan dan menutup matanya.
"A..." Kata Zyden yang terhenti karena tingkah Erika. 'sialan jala-ng ini, apa yang dia rencanakan?' lanjutnya berpikir.
Erika melirik Zyden yang diam, lalu menunjuk beberapa orang yang melihat mereka.
"Kau sudah tau mereka siapa kan?" Ucap Erika.
'Ya! Aku sudah tahu..., Baru saja!' pikir Zyden dingin melihatnya.
"Mereka adalah pahlawan!" Lanjut Erika bersemangat.
'Ya! Aku tahu, jadi jangan diulang.'
"Bukankah aku hebat, dapat bertemu pahlawan dalam hari pertama kita." Erika berkata dengan sedikit menyombongkan dirinya.
'Ya! Aku tahu, kau benar-benar diluar ekspektasi.' Zyden masih menjawab, tapi dalam pikirannya.
"Jadi... Apa kau punya pujian untukku!" Seru Erika dengan tingkah anehnya.
'HAH! PUJIAN? Yang benar saja! Dia ini kenapa sih? Pasti, dia pasti sudah gila! Aku yakin itu.' pikir Zyden melihat Erika.
__ADS_1
"Ehem! Aku punya pertanyaan. Bagaimana kau bisa bertemu dengan mereka?"