
"Apa? Alkohol?" Ucap Eciela terkejut. "Jadi, minuman yang kau maksud itu alkohol? Apa kau akan membuatkan dia alkohol?" Lanjutnya menunjuk pintu kamar mandi.
"Iya." Jawab Erika polos. "Apa itu terlalu aneh untukmu?" Lanjutnya.
"Bukankah kalian seumuran dengan kami, Erika? Kau menganggap alkohol seakan-akan itu adalah air putih." Seru Eciela.
"Seumuran? Aku ini ja.... Aaakh.. aw, aw, aw..." Ucap Erika yang terhenti karena dicubit oleh Liya dengan sebuah kode menyertainya.
"Nona Eciela! Mungkin didunia mu anak berumur 16 tahun bukanlah usia yang cukup untuk meminum alkohol." Seru Liya menyanggah ucapan Erika.
"Tapi didunia ini, umur segitu sudah dianggap dewasa. Kau bisa melakukan semua sesukamu dan menanggung perbuatan mu sebisamu."
"Didunia ini kebanyakan orang akan menganggap hal itu adalah hal yang wajar, kecuali beberapa orang yang sangat menjaga diri mereka atau anak saudara mereka." Lanjut Liya menjelaskan.
"Aku memang tahu jika didunia ini anak seumuran kita sudah dianggap dewasa. Tapi, aku tidak percaya Erika menganggap alkohol adalah hal yang ringan untuk dibicarakan." Seru Eciela.
"Itu karena, nona Erika sering melakukan sesuatu yang luar biasa. Oleh karena itu, mengatakan ataupun meminum alkohol adalah sesuatu yang mudah dilakukan oleh nona Erika." Ucap Liya. "Walau itu sudah cukup lama bukan, nona?" Lanjutnya bertanya dengan senyumnya.
"Iya, aku memang tidak ingat kapan terakhir kalinya aku meminum alkohol. Tapi sekarang itu tidak penting!" Seru Erika. "Eciela? Apa kita sekarang bisa membuatnya sebelum Zyden selesai?" Lanjutnya bersemangat.
"Kita bisa meminta izin sekarang, namun sebelum itu. Kita harus membereskan masalah yang ada pada Lilith." Ucap Eciela yang melihat Lilith sedang diam karena kelelahan.
"Oh kalau itu..." Kata Erika mendekati bocah itu. "Lilith? Apa kau mau ikut dengan kakak membuat hadiah untuk kak bintang?" Lanjutnya.
"Ehh... Membuat hadiah untuk kak bintang?" Seru Lilith heran.
"Iya." Jawab Erika.
"Hei Erika! Apa kau serius mengatakan nya? Bagaimana bisa kau mengajak Lilith untuk membuat minuman mu itu." Seru Eciela tak setuju.
"Memangnya kenapa? Apa itu tidak boleh?" Ucap Erika.
"Tentu saja tidak boleh!" Sahut Eciela.
"Lilith mau..." Seru Lilith menyela dengan senang.
"Diam Lilith! Jangan buat aku marah." Ucap Eciela keras yang membuat semuanya kaget terdiam.
"E... Apakah ini se-serius itu sampai kau seperti ini Ecil?" Tanya Erika canggung.
"Tentu saja ini sangat serius!" Ucap Eciela. "Oke, aku maklumi jika kau ingin membuat atau meminum alkohol. Tapi, jangan bawa bawa Lilith dalam rencana mu itu." Lanjutnya.
"Aku memang tidak berencana untuk membuat Lilith membantu ku. Bukankah kau yang menyuruh ku untuk menyelesaikan perihal Lilith?" Seru Erika.
__ADS_1
"Karena itu aku mengajaknya ke dapur agar dia bisa membuat hadiahnya sendiri disana. Dan terus mengawasi nya kan?" Lanjutnya.
"? Jadi kau tidak berpikir agar Lilith juga membantu mu membuat alkohol?" Tanya Eciela.
"Tidaklah..., Aku akan membuat alkohol ku sendiri. Walau mungkin akan membutuhkan bantuan Liya nanti! Tapi aku tidak berpikir aku membutuhkan bantuan Lilith. Apalagi dia masih kecil, apa yang bisa dilakukannya untuk membantu ku kan?" Kata Erika.
"Nanti didapur, Lilith bisa membuat kue atau apapun yang dia mau. Liya bisa membuatkan sesuatu yang enak untuk hadiahnya. Percayalah pada Liya, dia adalah peracik obat dan koki yang hebat." Lanjut Erika membujuk.
"Baiklah, ayo kita minta ijin pada paman Oliver." Ucap Eciela. "Pelayan! Pelayan!" Lanjutnya berteriak keras.
Setelah Eciela memanggil, pelayan yang ada didepan pintu pun masuk menyahutnya. "Iya nona?" Kata pelayan itu.
"Dimana pakaiannya Lilith? Bisa kau bawa kesini!" Seru Eciela yang di iya kan oleh pelayan itu, lalu pelayan itu membawa pakaian serta beberapa cemilan.
•
•
•
Beberapa saat setelah Lilith memakai pakaiannya. Mereka ber empat pun pergi ke ruang tamu untuk menemui Duke Oliver agar Liya bisa tinggal di mansionnya dan meminjam dapur mereka untuk sementara.
Dan tidak lama kemudian, Zyden menyelesaikan urusannya dan keluar dari kamar mandi. Zyden tidak menduga kalau saat dia keluar, dia di tinggalkan oleh semua orang yang ikut bersama nya tadi.
Pandangan yang bisa Zyden lihat hanya sebuah kamar mewah dengan kasur besar serta beberapa cemilan yang ada di atas sebuah meja kecil disamping kasur yang tidak ada siapapun.
Salah satunya kapan dia bisa kembali dan bagaimana cara dia memperalat 16 pahlawan yang ada disini, serta mempertahankan mereka setelah Zyden membawa banyak sekutu lainnya.
Dengan pakaian hitam, celana hitam, dan rambut hitamnya yang agak basah. Zyden berjalan santai menuju kasur yang ada dikamar itu tanpa memperhatikan sekeliling nya lagi.
Zyden duduk diatas kasur dengan tenang dan menutup matanya yang berwarna hitam sehitam malam. Zyden memfokuskan dirinya pada sesuatu yang ada didalam dirinya lagi, mencoba untuk mengendalikan apa yang ada didalam dirinya dan mulai terlelap dalam kefokusannya.
• • •
Diruang tamu, Erika dan lainnya baru saja sampai disana. Seperti yang lalu lalu, diruang tamu itu ada Duke Oliver, Duches Avina, serta dua pahlawan lainnya yaitu Lester dan Gilbert.
Melihat kedatangan Erika dan lainnya, semua orang yang ada di ruang tamu itu bertanya-tanya. Kenapa mereka ada disini, dan siapa wanita berambut perak dengan pakaian maid yang berada didekat mereka.
"Eciela? Mengapa kalian balik lagi kesini? Dan kemana Asren serta kenalannya Erika itu berada?" Seru Oliver memperhatikan mereka. "Juga, siapa orang ini?" Lanjutnya.
"Aku tidak tahu kemana Asren pergi, kukira dia sudah ada disini. Sedangkan orang berambut hitam itu sedang mandi dikamar nya." Jawab Eciela. "Kami balik lagi karena mau minta ijin padamu paman?" Lanjutnya.
"Ijin? Untuk apa?" Sahut Oliver dengan rasa heran yang ada diwajah semua orang.
__ADS_1
Eciela yang ditanyai pun menyenggol Erika agar Erika lah yang menjawab pertanyaan Oliver.
"Begini paman! Ini..., Adalah teman sekaligus pelayan ku yang bernama Liya." Ucap Erika memperkenalkan orang berambut perak disampingnya.
"Sebenarnya aku ingin meminta ijin agar Liya juga bisa tinggal disini bersamaku. Aku lupa meminta ijin paman sebelumnya karena Liya sedang mencari penginapan untuk kami bertiga."
"Apakah paman bisa mengijinkannya?" Lanjut Erika dengan nada yang sopan.
Oliver tidak langsung menjawabnya, dia melirik istrinya untuk menjawab hal itu.
"Aku tidak keberatan, tapi bagaimana menurut Lilith? Apakah kakak itu boleh tinggal disini?" Seru Avina setelah diberi kode oleh Oliver.
"Iya! Lilith tidak masalah. Kakak itu sama cantiknya dengan kak Erika." Jawab bocah itu yang sedang digendong oleh Eciela.
"Begitu..., Kalau itu yang Lilith mau, maka ayah dan ibu akan mengijinkan nya." Ucap Avina halus. "Erika, dia boleh tinggal disini." Lanjutnya.
"Benarkah! Terimakasih, Bibi, Paman." Kata Erika senang.
"Iya, sama-sama." Sahut Oliver.
"Tapi sayang, apa kau tidak memperhatikan kalau Erika dan temannya itu memang cantik." Ucap Avina bertanya.
"Hm..., Kau mungkin benar. Mereka berdua memang cantik." Jawab Oliver. "Bukankah kalian berpikir begitu juga, Lester? Gilbert?" Lanjutnya pada kedua pahlawan yang dari tadi diam.
"Jujur saja Paman. Semua wanita yang ada didunia ini itu... Memang cantik-cantik." Seru Lester menjawab nya. "Teman-teman ku juga, mungkin sudah ada yang mendapatkan pasangan mereka masing-masing."
"Tapi paman, apa kau tahu? Dari semua orang yang ada didunia ini, hanya satu orang yang menjadi awal dari semua nya." Lanjut Lester mengingat seseorang.
"Baiklah Lester! Aku tahu apa yang akan kau katakan, jadi jangan buat kami semua iri dengan pengalaman yang pernah kalian lihat itu." Seru Oliver mengungkapkan perasaan nya.
"Maafkan aku paman, aku hanya ingin menunjukkan bahwa seseorang yang kami lihat saat itu merupakan hal terindah dari yang pernah kami, 16 manusia dunia lain pernah lihat sebelumnya." Ucap Lester percaya diri dengan perkataan nya.
"Aku tahu seberapa besarnya rasa takjub kalian karena kalian selalu saja mengatakan hal itu yang membuat kami iri." Seru Oliver. "Dewi Freya merupakan salah satu dewi yang sangat dipuja didunia ini."
'Dewi Freya?' pikir Erika kaget setelah mendengar percakapan mereka.
"Dia adalah dewi perang yang terkenal akan kekuatan dan kebijaksanaan nya. Selain panggilan dari dewi perang, dewi Freya juga sering disebut-sebut sebagai dewi yang bisa menyaingi dewi kecantikan itu sendiri."
"Makanya, kalian yang pernah melihat langsung wujud dari Dewi Freya merupakan orang-orang yang sangat beruntung. Mendengar kalian yang terus pamer sungguh membuat telinga ku panas." Lanjut Oliver dengan semua penjelasan yang ada.
"Hahaha, maafkan aku paman. Jika membicarakan tentang Dewi Freya, kami pasti akan sangat bersemangat. Iya kan, Gilbert, Ecil?" Seru Lester yang diberi anggukan oleh mereka berdua.
'Dewi... Freya! Liya? Apa aku tidak salah dengar dengan nama itu?' Ucap Erika menggunakan telepati nya.
__ADS_1
'iya nona, tidak salah lagi. Orang yang sedang mereka bicarakan merupakan Dewi Freya, dewi yang bermusuhan dengan dewa yang me-reinkarnasi kan, tuan!' jawab Liya menyetujui nya.
*Chapter 63 end*