
"Ehem! Aku punya pertanyaan. Bagaimana kau bisa bertemu dengan mereka?" Ucap Zyden bertanya halus ke Erika.
"Em... Gimana ya, itu bukan sesuatu yang penting. Kalau tidak salah, waktu aku ingin pergi ke tempat Liya, aku bertemu dengan mereka..." Seru Erika mengingat-ingat apa yang terjadi.
"Aku tidak sengaja menabrak orang yang berada didepanku sampai terjatuh. Saat itu aku sedang marah, jadinya aku tidak melihat jalan dengan benar, lalu menabrak seseorang." Lanjutnya bercerita.
'bukh'
"Awh... Aduh, Siapa sih yang menghalangi jalanku." Seru Erika yang tengah duduk ditanah karena menabrak seseorang.
"Ugh, apa?" Seorang pria berambut merah terkaget ditanah karena ditabrak.
Pria itupun menengok kebelakang untuk melihat siapa yang menabraknya. Seorang anak perempuan berambut ungu yang sedang merasa kesakitan ditanah menarik perhatiannya.
"Hei, apa kau baik-baik saja?" Seru pria itu bertanya dengan rasa khawatir dan bergegas berdiri.
Erika yang merasa dirinya ditanyai seseorang, langsung melihat orang itu. "Hah? ... Aku tidak apa-apa, siapa kau?" Ucap Erika menjawabnya.
"Aku? Aku adalah orang yang baru saja kau tabrak!" Kata pria itu menjulurkan tangannya.
Saat itulah Erika tahu kalau orang yang ada didepannya adalah salah satu pahlawan yang dipanggil.
Dia tahu, karena dia melihat aura dari dewa yang memanggil pahlawan itu pada orang di depannya. Bagaimana pun Erika adalah roh setengah dewa.
"Dan begitulah aku mengenal mereka." Seru Erika menutup ceritanya.
"Hooh! Cerita yang menarik." Ucap Zyden menjawab. 'Sialan, aku merasa sangat bodoh. Susah payah aku mencari informasi tentang pahlawan dan hanya bisa mendapatkan fotonya saja.'
'Tapi, si jala-ng ini! Hanya berjalan selempengan kesana-kemari, bisa langsung bertemu dengan mereka. Sungguh, jala-ng yang beruntung.' hujat Zyden dalam hatinya.
"Kita lupakan hal itu." Seorang pria berambut merah menyela perkataan Zyden. "Aku ingin tahu, kau itu siapanya Erika?" Lanjutnya mendekat berhadapan dengan Zyden.
'cih, ba-bi sialan.' ujar Zyden menatap sinis orang didepannya. "Tuan pahlawan..." Seru Zyden dengan nada ceria menyambut.
"Aku sangat menyukai pahlawan. Aku ingin sekali bisa bekerja sama dengan pahlawan dan menyelamatkan dunia kita dari cengkeraman raja iblis."
"Aku berharap tuan pahlawan bisa membantu ku mengalahkan iblis iblis yang jahat itu." Lanjutnya berbicara.
__ADS_1
"Aku tidak perduli tentang apa yang kau katakan. Aku hanya ingin tahu, apa hubungan mu dengan Erika?" Seru pria itu meninggikan suaranya.
"Asren! Kenapa kau berteriak pada Zyden?" Erika menyeka kedepan Zyden dan bertatapan dengan orang yang dipanggilnya.
"Aku tidak berteriak, aku hanya bertanya padanya." Jawab Asren, salah satu dari anggota pahlawan.
"Tapi kenapa suaramu seperti berteriak pada Zyden." Seru Erika bermuka marah.
"Yaah, itu karena aku tidak menyukai nya." Ucap Asren menjawab.
"Hemm... Apa yang tidak kau sukai darinya." Tanya Erika.
"Semuanya." Jawab Asren.
"Kenapa kau tidak menyukai Zyden! Jika kau tidak menyukainya, berarti kau juga tidak suka padaku?" Erika menekan kata-katanya.
"Itu tidak benar. Aku tidak menyukainya, bukan berarti aku juga tidak menyukaimu." Ucap Asren.
"Lalu kenapa kau tidak menyukainya?" Erika bertanya sekali lagi.
"Itu karena dia dekat denganmu." Kata Asren menjawab.
'Melihat kalian berdua membuatku sedikit mual.' pikir Zyden sembari menyela.
Lalu Zyden membisikkan sesuatu pada Asren. "Tenanglah pahlawan, aku dan Erika tidak memiliki hubungan yang spesial. Aku hanyalah teman seperjalanannya saja yang ditunjuk oleh ayah Erika."
"Setelah Erika menemukan sesuatu yang dia inginkan, aku akan langsung berpisah dengannya. Bisa dibilang aku terpaksa."
"Jika kau bisa membuat Erika berpetualang denganmu, maka kau bisa bersamanya dan aku tidak akan pernah mengganggu."
"Bukankah itu terdengar hebat." Lanjutnya yang membuat Asren merenung.
'aku tidak tahu apakah ini cukup untuk membuat kami berpisah, tapi menurut eyes of knowledge. Selama dua orang memiliki keinginan kuat untuk berjalan masing-masing, maka sihir terkutuk ini pun akan hilang dengan sendirinya.' pikir Zyden tentang sihir yang mengikat mereka berdua.
'alasan sihir ini belum hilang karena Erika masih berpegang pada perintah ayahnya. Lalu melihat Erika yang bertingkah gila kali ini, itu membuat ku sangat khawatir."
'jika dia memberontak setelah aku membantah apa yang dia katakan tadi, semuanya pasti akan berantakan.'
__ADS_1
'dan itu bisa menghancurkan image ku didepan para pahlawan.' Lanjutnya melihat tiga orang pahlawan lainnya selain Asren.
Tiga orang itu terdiri dari dua laki-laki dan satu perempuan.
Berdiri disebelah paling kanan, ada laki-laki berkacamata, rambut biru pendek dan terlihat seperti pelajar SMA yang rajin belajar dengan pakaian petualang.
Disebelah lainnya ada pria berbadan besar, berambut coklat, berpakaian petualang ber armor, dan berekspresi bodoh.
Sedangkan ditengah-tengah mereka, ada perempuan berambut abu-abu panjang, memakai baju petualang dan tinggi yang tidak jauh berbeda dengan Erika.
Mereka berdiri melihat semua yang terjadi dengan diam dan santainya.
• • •
Setelah Zyden membisikkan kata-katanya, Erika menyeret jubah Zyden tiba-tiba kebelakang.
"Ack..." Ucap Zyden karena lehernya tercekik oleh jubah yang ditarik Erika.
"Apa yang kau gumam gumam kan padanya?" Seru Erika menariknya sejajar dengan kepalanya.
"Tck, apa yang kau lakukan!" Zyden berteriak sembari melepaskan jubahnya dari Erika, yang membuat 4 orang lainnya terkejut.
"Seharusnya aku yang mengatakan itu, apa yang kau lakukan bisik bisik pada Asren seperti itu?" Ucap Erika menjawabnya.
"Itu urusanku, kenapa aku harus memberitahu mu?" Seru Zyden.
"Urusanmu urusanku juga! Bukannya aku sudah memberitahu mu tentang itu!" Erika menekan kata-katanya dengan serius.
"Kau... Apa kau harus se-menyebalkan ini, kau membuat kesabaran ku hilang." Seru Zyden melontarkan kata-kata nya.
"Memangnya kenapa? Apa yang akan kau lakukan jika kesabaran mu itu hilang?" Erika bertanya dengan nada yang merendahkan.
Zyden yang mendengar hal itu mengepalkan tangannya dan menahan semua amarah yang bisa dia kumpulkan, lalu mereka berdua pun saling menatap mengancam satu sama lain.
Asren dan para pahlawan yang memperhatikan mereka hanya bisa melihat dengan heran dan khawatir.
Dan tidak lama kemudian, Zyden menghilang dari tempatnya berdiri mengejutkan Asren dan pahlawan lainnya.
__ADS_1
Sedangkan Erika tidak berkutik ataupun terkejut melihat Zyden yang hilang tiba-tiba. Dia kemudian menundukkan kepalanya merenungkan sesuatu.
*Chapter 55 end*