
'ini tidak bisa terus berlanjut, aku harus mengakhiri semua ini.' pikirku berhenti melepaskan diri dari Sofia. "Baiklah, apa yang kau inginkan, Sofia?" Ucapku dengan nada lembut.
Sofia mulai berhenti menangis, dia mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya ke dadaku. "Aku..., Ingin selalu bersamamu!" Ucapnya yang terdengar lirih.
Walau suaranya kecil, tapi itu dapat didengar oleh semua yang ada di ruangan itu. Semua orang memperhatikan Sofia dan mendengar kan apa yang ingin dikatakannya.
"Aku ingin melakukan perjalanan bersamamu. Aku ingin melakukan quest bersamamu. Aku ingin membantumu. Selalu dekat denganmu. Selalu melihat wajahmu..." Ucapnya mengeratkan pelukannya dan berhenti sejenak. "... Aku ingin hidup denganmu!"
"Apa?" Semua orang terkejut dengan apa yang mereka dengar.
'belum seminggu aku di dunia ini, tapi aku sudah dilamar 2X . Kemarin pak tua Kenneth yang menyerahkan putrinya dan sekarang, seorang elf yang tidak takut dengan mana ku padahal dialah yang paling tau akan hal itu.' pikirku terdiam. Lalu akupun berbicara...
"Kenapa kau ingin bersama ku? Sudah jelas aku adalah orang asing, lalu manaku! Itu bukanlah hal wajar di dunia ini, apalagi kaulah yang melihatnya" Ucapku dengan nada dingin. "Bukankah itu tidak masuk akal kau ingin selalu bersamaku? Apa yang kau rencakan?" Lanjutku bertanya.
Sofia tidak menjawab, dia mengendorkan pelukannya dan menunduk. Untuk orang-orang yang ada disana, semuanya terdiam.
"...Itu memang sudah jelas? Kau bermain-main denganku! Sepertinya kalian berfikir ini lucu, mengolok-olok kalau diriku sebagai monster. Lalu, kau bersimpati saat aku terganggu dengan sebuah ejekan agar aku jatuh dalam permainan kalian." Kataku serius.
"Ti..tidak! Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Aku..., aku hanya..." Seru Sofia melihatku.
__ADS_1
"Hanya apa? Hanya diperintahkan oleh teman-teman mu?." Tanyaku yang di jawab dengan diam oleh Sofia. "Lihat, aku benarkan? Maaf saja, aku adalah orang yang sibuk. Aku tidak punya waktu untuk bermain dengan kalian. Jadi, lepaskan aku sekarang!"
'chup'
Sebuah ciuman melayang di bibirku.
"Ini adalah bukti, aku ingin selalu bersamamu. Aku tidak bisa memberitahu alasannya disini, tapi aku bisa memberitahu mu saat kita hanya berdua saja." Ucap Sofia merangkul leherku.
Semua orang terdiam kaget, termasuk aku.
'ciuman pertamaku yang sudah aku lindungi mati-mati an, diambil begitu saja oleh orang yang baru aku temui kemarin. Jika saudari sepupuku melihat ini, mereka mungkin akan membunuhku.' Pikirku mengingat kerja keras yang dilakukan oleh para wanita dihidupku dulu.
"Sofia! Apa yang baru saja kau lakukan!" Seru Nika marah dan berjalan ke arah kami.
Sofia turun dari rangkulannya dan dia berbalik melihat kearah Nika. Sedangkan untukku, aku tidak bisa me-loading apa yang sedang terjadi.
Jujur saja ini sangat memalukan bagiku, aku tahu ini memang bodoh. Seseorang yang dapat membunuh siapapun, Orang tua atau muda, bayi baru lahir atau kakek yang hampir menutup usia, bisa diam tak berdaya hanya karena ciuman pertama. Ini sangat memuakkan dan naif sekali.
Se-sampainya didepan kami, Nika langsung menarik tangan kiri Sofia dengan cepat.
__ADS_1
"Sebenarnya kau ini kenapa? Kemarin kau menangis, dan sekarang kau ingin hidup dengan orang asing!" Ucap Nika sedikit membentak.
Lalu, dia melihat kearahku dengan wajahnya yang jengkel. "Apa kau menyihir Sofia hingga seperti ini?" Serunya dengan serius yang membuat semua orang terheran kaget.
"Apa yang baru saja kau katakan, Nika?" Ucap Sofia melepaskan tangannya. "Beraninya kau berbicara seperti itu padanya!." Lanjut Sofia.
"Bukankah itu benar? dan sekarang dia sedang menyihir mu agar begini." Kata Nika menjelaskan. "Jika bukan sihir lalu apa? Sofia yang ku kenal tidak akan bertindak seperti ini." Lanjutnya.
"Memangnya seperti apa Sofia yang kau kenal? Orang pendiam, dingin, tidak banyak bicara, atau Sofia yang acuh akan sesuatu." Seru Sofia tinggi.
"Jika Sofia yang kau kenal adalah orang seperti itu, maka aku bukanlah Sofia yang kau kenal." Ucap Sofia berbalik dan memelukku lagi. "Sofia yang sekarang akan cerewet, banyak bicara, selalu perhatian, selalu peduli, dan akan selalu ada untuknya. Aku tidak akan meninggalkannya."
Kata-kata Sofia membuat Nika tidak dapat merespon, tapi dia memasang wajah marah atas apa yang dikatakan Sofia.
"Baiklah..." Kata Nika menunduk dan mengepalkan tangannya. "Dengar namaku, aku Nika Reso memanggilmu!"
"Apa?, ...Tidak Nika!" Seru Arnold mencoba menghentikan dengan kata-kata.
"Lantunan merdu akan kedatanganmu, jawablah panggilanku dan dentumkan suaramu pada musuhku. Glao Spiorad."
__ADS_1
'Boom'