
'Dewi Freya!!'
'Liya!? Ini... Ini tidak mungkin bukan?' Seru Erika dalam telepati nya.
'tidak nona, itu mungkin memang benar-benar Dewi Freya yang sama dengan apa yang sedang kita pikirkan.' jawab Liya memperjelas.
'tapi, bagaimana bisa? Dari banyaknya dewa-dewi yang ada, perjalanan pertama kita adalah bertemu dengan para pahlawan yang telah dipanggil oleh nya.' Ucap Erika cepat. 'ini tidak mungkin hanya sebuah kebetulan saja bukan?' lanjutnya dengan resah.
'saya... Tidak tahu nona.' kata Liya meyakinkan nya. 'kemungkinan, ini cuma sebuah kebetulan saja. Dari apa yang telah terjadi, kita hanya mengacak tempat pertama kita di dunia manusia. Kita tidak bisa memikirkan hal lain selain sebuah kebetulan semata.' lanjut Liya mengungkapkan argumen nya.
'aku... Punya firasat buruk soal ini.' pikir Erika.
'tenanglah nona. Kupikir, tidak akan ada yang terjadi.' ucap Liya.
'tidak Liya, aku tidak berpikir demikian. Jika saja Dewi Freya tau bahwa Zyden adalah seorang reinkarnasi dari dewa Cyan. Perang antara Zyden dengan para pahlawan ini pasti akan terjadi.' seru Erika khawatir.
'tapi nona! Dewi Freya tidak memiliki alasan untuk memulai perang apalagi bermusuhan dengan tuan. Tuan hanya manusia biasa yang tidak perlu diperhatikan oleh seorang dewi.' ucap Liya menenangkan.
'Liya! Apa kau lupa? Manusia yang dipanggil oleh dewa, berbeda dengan manusia yang direinkarnasi kan oleh dewa.' seru Erika mengingatkan Liya.
'manusia yang dipanggil dari dunia lain cuma mengambil manusia secara acak dari berbagai tempat yang diinginkan. Sedangkan untuk manusia yang di reinkarnasi, itu merupakan kejadian dimana seorang dewa menghidupkan dirinya sendiri ke dunia ini.'
'dewi Freya pastinya akan melihat Zyden sebagaimana dia melihat dewa Cyan. Dan tidak butuh banyak alasan bagi Dewi Freya untuk memerintah kan para pahlawan nya memerangi Zyden.'
'dia bisa saja mengatakan kalau Zyden adalah musuhnya atau salah satu dari bawahan raja iblis karena mana hitam yang sering dia keluarkan. Dengan alasan itu, sudah cukup bagi dewi Freya untuk memerangi Zyden.' lanjut Erika dengan semua kemungkinan yang ada.
"Erika? Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat sangat pucat, apa kau sakit?" Seru Eciela tiba-tiba yang membuat Erika tertegun.
'Zyden pasti akan membunuh mereka jika mereka berniat membunuhnya.' pikir Erika membayangkan hal itu.
"A-aku... baik-baik saja." Jawab Erika ragu. 'Liya, apa yang harus aku lakukan?' lanjutnya penuh kekhawatiran.
"Baiklah, lalu... bagaimana dengan meminjam dapurnya?" Ucap Eciela.
"A... Aku, aku tidak tahu." Kata Erika.
"Hah? Tidak tahu? Erika, apa kau benar baik-baik saja?" Seru Eciela heran.
'tenanglah nona, hal itu belum tentu terjadi.' ucap Liya bertelepati. 'jika hal itu memang terjadi, kita hanya perlu memperjelas semua nya. Kita pasti bisa menyelesaikan hal itu nona, namun jika kita tidak bisa.'
'maka pilihan kita hanyalah meminta bantuan dewa Asteria atau pergi dari sini sebelum hal itu terjadi.' lanjutnya memberikan solusi.
Eciela yang melihat Erika dan Liya masih diam saja, dia memilih untuk membuat pilihan untuk mereka.
"Paman! Boleh kah kami menggunakan dapur mu sebentar, Erika ingin membuat sesuatu untuk orang yang berambut hitam nya itu." Seru Eciela.
"Oh? Memangnya Erika ingin membuat apa?" Ucap Oliver bertanya.
Erika agak terkejut ditanyai oleh Oliver tiba-tiba. Liya yang melihat itu, mencoba untuk menenangkannya.
'nona! Bersikaplah seperti biasa, jangan sampai semua orang tahu jika anda menyembunyikan sesuatu. Kalau anda seperti ini, mereka mungkin akan mencurigai anda dan semuanya akan semakin buruk.' ucap Liya pada ratu nya itu.
'iya, baiklah.' "Ah... I-itu paman. Aku ingin membuatkan Zyden beberapa minuman dari daerah tempat ku tinggal. Dia terlihat capek dan katanya dia ingin sedikit mabuk untuk hari ini." Seru Erika menjawabnya.
"Sebuah bir? Sepertinya itu pilihan yang bagus untuk hari yang berhujan saat ini." Ucap Oliver memuji. "Erika? Apa kau juga bisa membuatkan kami minuman mu itu, kami juga bisa mendapatkan pengalaman yang baru dari minuman khas daerah mu itu." Lanjutnya.
"Sayang? Kenapa kau meminta nya juga, kau membuat Erika kerepotan." Seru Avina agak tinggi.
__ADS_1
"Iya, Paman, lagipula kami belum diperbolehkan meminum minuman yang memabukkan." Sahut Lester berkata.
"Kenapa tidak boleh? Lester! Disini, kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan. Meminum alkohol milik Erika bisa menjadi pengalaman yang tidak bisa kau dapatkan didunia mu itu." Seru Oliver.
"Dan itu bukan permintaan yang besar bukan, Erika? Kau hanya perlu membuatnya sedikit lebih banyak." Lanjutnya meminta.
"Iya paman, itu tidak masalah." Seru Erika menjawab. "Aku juga akan membuat kan kalian beberapa minuman yang tidak kalah dari yang ada dikota ini."
"Dan juga paman, sepertinya Lilith juga ingin membuat sesuatu untuk Zyden. Apakah dia boleh ikut bersama kami?" Lanjutnya bertanya.
"Iya, Lilith ingin membuat kue untuk kak bintang?" Ucap Lilith senang.
"Kak bintang? Siapa itu? Apa itu sebutan untuk anak berambut hitam tampan itu?" Seru Avina pada putri nya.
"Ya ibu. Dia adalah kak bintang karena banyak sekali bintang yang bersenang senang memutarinya." Ucap Lilith bersemangat.
"Kalau begitu, apakah ibu juga boleh membantu Lilith membuat kue untuk kak bintang?" Kata Avina halus.
"Tentu saja boleh, kita bisa membuat kue yang sangat besar." Ucap Lilith melebarkan tangannya.
"Hahaha, ayo kita buat kue yang super besar untuk kak bintang itu. Ibu tidak sabar membuatnya bersama Lilith." Seru Avina berdiri melihat putrinya senang.
"Hei, apa kau tidak ingin membuatkan ayah kue juga?" Kata Oliver pada Lilith.
"Nggak, ini khusus untuk kak bintang." Ucap Lilith yang membuat Oliver kaku dengan nada dan jawaban cepat putri nya itu.
"Baiklah, ayo kita ke dapur. Kita bisa langsung membuatnya." Seru Avina mengajak para perempuan itu, dan mereka pun pergi membuat sesuatu yang enak untuk dinikmati.
•
•
•
Anak itu berambut hitam, berpakaian hitam dan diselimuti oleh kabut yang juga berwarna hitam. Anak itu duduk sangat tenang sampai-sampai tidak menyadari kalau ada seseorang yang berdiri melihat tidak jauh darinya.
Seorang perempuan berumur sekitar anak SMA an, berpakaian putih ala orang romawi, memiliki telinga yang sedikit runcing, berambut pirang menyala, dan iris mata keemasan dengan sedikit pola di dalamnya.
Perempuan itu melihat anak laki-laki yang sedang diselimuti oleh kabut hitam dengan senyuman yang sangat menawan.
Lalu, perempuan itu mendekati anak itu dengan santai nya tanpa diketahui dan dicurigai oleh siapapun. Saat perempuan itu hampir sampai, dia berhenti dan melihat anak laki-laki itu lagi dengan pandangan yang berbeda.
"Cyanku sayang, kau terlihat sangat menderita. Kau bahkan tak menyadari kalau aku ada disini untuk bertemu dengan mu." Seru perempuan itu dengan nada sedih.
"Sebegitu menderita nya kah dirimu karena monster itu, sampai-sampai kau sangat mudah untuk didekati oleh ku?"
"Ah! Cyanku yang malang. Aku akan membantumu dan aku tidak akan pernah melepaskan mu untuk yang kedua kalinya lagi." Lanjutnya memeluk anak laki-laki itu dan mencium nya.
Seketika, kabut hitam yang menyelimuti anak itu hilang tiba-tiba entah kemana. Lalu dia menyandarkan kepala anak itu dipangkuannya dan memainkan rambut anak itu tanpa membangunkan nya.
•••
Sementara itu, di alam para dewa dimana keindahan dunia berkumpul. Keributan besar sedang terjadi. Semua orang yang ada disana sedang dalam keadaan yang tidak dapat dikatakan damai ataupun tentram.
Mereka semua berlarian kesana kemari mengurusi pekerjaan mereka masing-masing. Dan..., Kehebohan itu pun masuk ke tempat dimana sebuah taman yang pernah Zyden datangi.
"Cyan! Cyan! Kabar buruk! Ini adalah kabar buruk!" Seorang pria paruh baya berambut pirang terus berteriak memanggil orang yang sedang duduk menikmati tehnya.
__ADS_1
"Hm..! Ada apa Asteria? Kenapa kau sangat berisik." Ucap dewa Cyan yang sedang menikmati teh nya itu.
"Kejadian buruk sekarang sedang terjadi. Huft... Huft." Seru dewa Asteria. "Freya! Dia..., Dia meninggal kan gelarnya sebagai seorang dewi." Lanjutnya penuh dengan kegelisahan.
Dewa Cyan yang mendengar hal itu pun berhenti bergerak untuk sejenak. Dia terkejut atas apa yang baru saja dikatakan oleh dewa Asteria.
"Dan lebih buruknya lagi..., dia meninggalkan gelarnya untuk pergi ke Bessara dan bertemu dengan manusia yang telah kau reinkarnasi." Ucap dewa Asteria menjelaskan.
Belum ada respon dari orang yang sedang diajak bicara itu. Dia tertegun lalu meletakkan gelas yang sedang ia gunakan ke atas meja.
"Cyan! Bagaimana ini? Ini adalah masalah besar." Ucap dewa Asteria lagi, dan kali ini. Respon yang diberi oleh orang yang ada didepannya itu adalah, sebuah tawaan.
"Ha-ha-ha... Hahaha! Kau memang hebat, Freya! Aku... Aku bahkan tidak menduga hal ini akan terjadi. Hahaha!" Seru dewa Cyan menanggapi kabar buruk yang baru saja ia dengar.
"Aku tahu jika kau akan melakukan sesuatu pada Zyden! TAPI, aku tidak menyangka kau akan melakukan sesuatu yang gila seperti ini. Hahaha!" Dewa Cyan terus tertawa, entah itu tertawa senang. Ataupun sebaliknya.
"FREYA!! Kau memang dewi paling berani di alam ini. Kau bahkan berani meninggalkan gelar seorang dewi untuk perasaan mu, aku tidak habis pikir akan hal itu." Teriak dewa Cyan sangat keras berharap Freya mendengar nya.
"Sebesar itukah cinta mu itu! Atau mungkin, kau sudah gila karena cinta hingga membuang gelar seorang dewi! Hahaha..., Aku masih tidak habis pikir. Aku memujimu... Freya." Lanjutnya berteriak dengan puas.
"Cyan? Kenapa kau begitu senang? Ini adalah kabar buruk, baik bagi kita atau bagi Freya sendiri." Ucap dewa Asteria.
"Yah... Mau bagaimana lagi bukan, Asteria? Kita tidak bisa melakukan apapun untuk ini, biarkan saja semua nya berjalan sesuai aturannya." Seru dewa Cyan berpasrah.
"Ugh... Itu memang benar, tapi...?" Kata dewa Asteria gelisah.
"Tenang saja, Asteria. Biarkan aku yang menanggung perbuatan Freya bagi kita. Kau hanya perlu khawatir kan saja putri mu itu. Bagaimana pun, dialah yang akan memiliki perubahan paling drastis diantara kita." Ucap dewa Cyan menenangkan.
"Aku tidak terlalu khawatir akan Erika." Seru dewa Asteria sembari tersenyum. "Karena dia adalah putriku." Lanjutnya membanggakan kata-katanya.
•
•
•
Kembali ke sebuah kamar, dimana seorang anak laki-laki yang sedang tertidur dipangkuan anak perempuan.
Anak perempuan itu masih memainkan rambut hitam yang dimiliki anak laki-laki itu, dan anak laki-laki itu adalah Zyden. Seorang Reinkarnator yang dibicarakan oleh dewa Asteria tadi.
Anak perempuan itu terlihat sangat senang bisa memainkan rambut hitam Zyden yang masih belum bangun. Dia tersenyum manis seakan-akan dunia adalah milik mereka.
Setelah beberapa saat, Zyden pun mulai terganggu dan mulai membuka matanya memperlihatkan iris mata sehitam malam.
Zyden samar-samar melihat perempuan yang ada didepan wajahnya. Dia berpikir kalau perempuan yang ada didepannya merupakan orang yang dia kenal.
"Kakak?" Ucap Zyden lirih mengatakan hal itu.
"Maaf ya... Sayangnya, aku bukanlah kakak mu." Jawab perempuan itu halus dan sangat tulus.
*Chapter 64 end*
[*FREYA'S SMALL VERSION *]
__ADS_1