
"Cyan bersikeras mengalahkan raja iblis, karena dia ingin kembali ke dunia aslinya."
"Apa? Kembali ke... Dunia aslinya!! Apa itu mungkin untuk dilakukan?" Ucap Erika penasaran.
"Jika Reinkarnator pada umumnya, itu tidak mungkin. Tapi bagi Cyan yang sekarang, itu sangatlah mungkin untuk dilakukan karena dia adalah manusia yang terpilih oleh alam semesta." Seru Freya.
"Manusia yang terpilih oleh alam semesta! Apa maksudnya?"
'Crack... Crekack...'
Suara retakan terdengar cukup keras yang membuat semua orang memperhatikan nya.
'Crack... Crekack, crack!'
Suara retakan itu semakin bertambah dan terus bertambah. Itu adalah suara retakan dari pelindung yang dibuat oleh Freya untuk memisahkan Zyden dari yang lainnya.
Namun, pelindung itu sedikit demi sedikit pecah dan merembeskan sebuah kabut hitam menuju semua orang. Dan sekali lagi, ketakutan menyerbu orang-orang yang ada dibelakang.
Kali ini Erika dan Liya tidak hanya diam saja, mereka mulai menyiapkan sebuah sihir untuk melindungi orang-orang dari kabut itu.
Para pahlawan dan anggota bangsawan juga bersiap untuk menghadapi hal terburuk yang bisa mereka dapatkan dari anak laki-laki yang dikenal sebagai tunangan nya Erika itu.
Mereka saling melindungi satu sama lain dan mempersiapkan senjata mereka masing-masing.
Tapi pada saat puncak pecahnya pelindung, Freya menyuruh mereka berhenti dan hanya harus fokus pada diri mereka sendiri.
"Aku akan membuat Cyan tertidur, kalian bersiap saja pada pertahanan jikalau Cyan menyerang kalian!" Ucap Freya memberikan kode dengan tangannya.
"Oi, Ja-lang sialan! Dari mana kau bisa tahu berita seperti itu? Apa dewa bajingan itu yang memberitahu mu?" Seru Zyden dingin dari balik pelindung, lalu...
'Prangg!!'
Pelindung yang Freya buat hancur berkeping-keping memperlihatkan Zyden yang sedang berdiri dengan tangan sehabis menggenggam sesuatu diudara.
"Sepertinya kalian berdua sudah saling kenal ya, Erika?" Ucap Zyden menahan dirinya. "Kali ini, aku akan berbaik hati jika kenalanmu itu memberitahu ku. Darimana dia bisa mengatakan semua omong kosong itu." Lanjutnya menatap tajam Freya.
"Hehehe! Oh Cyan ku yang manis, mengapa kau repot-repot meminta pada Erika jika kau bisa bertanya langsung padaku." Seru Freya.
"Kalau begitu... Katakan padaku! Bagaimana kau bisa tahu jika aku ingin kembali ke dunia asalku, dan apa yang kau tahu tentang pertemuan waktu itu?" Ucap Zyden datar dan sangat dingin.
Freya tersenyum mendengar perkataan Zyden, lalu dia pun berucap dengan nada istimewanya. "Aku akan memberitahu mu, asalkan kau mau mencium ku."
__ADS_1
'slash'
Sebuah sayatan hitam terlintas pada tubuh Freya membuat sebuah luka yang cukup dalam padanya.
Semua orang terpaku melihat Freya yang tiba-tiba tertebas tanpa adanya peringatan ataupun tanda-tanda sebuah serangan. Dan sayatan hitam itu terhenti tepat setelah ayunan pedang dari tangan Zyden.
"Dewi Freya!!" Seru Eciela melihat Freya yang terluka dan mengeluarkan banyak darah.
Freya terlihat sedikit kesakitan setelah menerima luka itu, dia juga tertunduk jatuh karena serangan yang diberikan oleh Zyden.
Eciela mendekati Freya dengan penuh kekhawatiran sebelum kemarahannya tertuju pada orang yang melakukan semua itu.
"SIALAN KAU!! Apa yang telah kau lakukan pada dewi Freya..."Seru Eciela mencoba memukul Zyden dengan busurnya. "Aaaa...."
"Seorang pemanah yang mengayunkan panahannya, sepertinya dunia mu itu adalah tempat sampah." Ucap Zyden menghancurkan busur Eciela dengan pedang ditangan kanannya.
'brakkh!!' "Argh..."
Eciela terpental karena dampak dari hancurnya busur yang dia miliki, dan dia terhempas cukup kuat.
Lester yang melihat itu, dia bergegas melompat untuk menangkapnya.
"Eciela, apa kau tidak apa-apa? Hey, hey! Eciela?" Seru Lester mencoba membangunkan temannya itu yang tidak sadarkan diri.
Makhluk itu menyipitkan matanya dan tersenyum lebar memandang semua orang yang gemetaran.
Lester, Gilbert, Oliver, dan bahkan Avina yang sudah duduk lemas ketakutan ditanah, serta beberapa orang yang berteriak namun tidak mengeluarkan sedikitpun suara merasakan betapa mencekam dan menakutkan nya makhluk yang sedang mereka lihat itu.
Hanya Freya, Erika dan Liya sajalah yang tidak merasakan ketakutan dari makhluk itu. Namun, mereka bertiga merasakan sesuatu yang berbeda darinya.
Bukan rasa takut atau kebencian, bukan kemarahan ataupun kedengkian, melainkan sesuatu seperti rasa keputusasaan di antara kehidupan dan kematian.
Itu sulit untuk dijelaskan bahkan bagi orang seperti Freya sekalipun, perasaan yang sedang mereka rasakan saat ini adalah keadaan yang absurd bagi makhluk hidup.
Dan itu terlihat jelas dari wajah mereka yang mengeluarkan banyak keringat dan ekspresi wajah ketidakberdayaan akan suatu keadaan.
Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang berbicara, tidak ada.......
'Kreck'
"HOLY SAPHYER!!"
__ADS_1
Freya berteriak menggunakan sihir yang dia punya setelah dia menggigit lidahnya hingga berdarah. Seketika itu, cahaya terang keemasan bersinar dari tubuh Freya menyinari semuanya.
Tidak ada sesiapapun atau apapun yang tidak terkena cahaya terang tersebut, sehingga semua yang terkena cahaya itu mendapatkan dampaknya.
Orang-orang yang terduduk gemetaran mulai kembali tenang setelah terkena cahaya itu.
Sedangkan makhluk yang membuat semua nya menjadi berantakan itu menghilang tanpa jejak sedikitpun meninggalkan Zyden yang terkapar pingsan dilantai.
Sekarang, keadaan mulai terkendali kecuali Freya yang tengah kesakitan dan terengah-engah kelelahan.
"Dewi Freya, apa kau baik-baik saja?" Ucap Liya memeriksanya. "Biar saya bantu menyembuhkan luka anda." Lanjutnya menggunakan sebuah sihir.
Cahaya hijau menyejukkan muncul dari tangan Liya menyinari luka yang ada didada Freya. Namun, luka tersebut sama sekali tidak membaik ataupun memperlihatkan tanda-tanda akan kesembuhan.
"Kugh..., Seperti nya ini bukanlah luka biasa. Luka ini sama sekali tidak mau menutup." Seru Liya dengan nada khawatir.
"Nona, saya sama sekali tidak bisa menyembuhkan luka ini. Tolong izinkan saya menggunakan kekuatan alam untuk menyembuhkannya?" Lanjutnya ke Erika yang sedang melihat Zyden dengan wajah sedih.
"Ratuku...?" Nada lirih terucap dari bibir Liya merespon ekspresi ratunya itu. Dan kemudian...
"A.a.a... APA-APAAN MONSTER TADI!!" Sebuah teriakan yang memecahkan kedamaian setelah badai pun mulai terdengar.
"Hey, kalian juga melihatnya bukan? Iya kan? Monster gila mengerikan yang baru saja muncul dari dalam tubuh nya? Benarkan, tolong jawab aku!!" Suara itu adalah Lester yang berteriak dan bertanya dengan gelisah akan kejadian yang baru saja dia lewati kepada semua orang yang ada dibelakangnya.
Semua orang diam tak menjawab, mereka masih dalam keadaan shock akan pemandangan yang memang bisa dikatakan sebuah kejadian ekstrim tersebut.
Mereka tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu. Walaupun tubuh mereka sudah membaik seperti semula, namun pikiran dan mental mereka masih memproses semuanya.
"Kenapa kalian diam saja? Paman, Paman Oliver! Apa kau akan membiarkan monster itu tetap hidup seperti ini?" Ucap Lester yang masih memegang Eciela dalam pelukannya.
"Ini adalah kesempatan kita untuk membunuh monster itu. Apa yang kalian tunggu sekarang?!" Lanjutnya memberikan arahan pada semua orang yang masih terduduk akibat lemas.
"Be... Benar. Ini adalah kesempatan kita untuk melenyapkan monster itu. Kita tidak boleh menyia-nyiakan nya." Seru Oliver mengambil pedang yang tergeletak disampingnya dan langsung segera bangun.
Oliver berlari kearah Zyden yang tengah terkapar dilantai tak sadarkan diri, dia berniat untuk menusuk Zyden lalu membunuhnya.
Tapi... Oliver tiba-tiba berhenti di tengah-tengah jalan dikarenakan ada perempuan berambut ungu yang menghadang jalannya.
Perempuan itu merentangkan kedua tangannya menghadang dengan tegas, memberitahukan bahwa dia bertekat dengan perbuatannya.
"Aku tidak akan membiarkan kalian menyentuh Zyden. Tidak akan! Bahkan jika kalian cuma menyentuh sehelai dari rambutnya sekalipun, aku akan menghentikan kalian."
__ADS_1
*Chapter 67 end