
"Aku tidak akan membiarkan kalian menyentuh Zyden!"
Nada yang serius mengiringi kata-kata perempuan berambut ungu itu. Dia... Erika, benar-benar bertekad akan ucapan nya.
"Menyingkirlah Erika, pergi dari sana!" Seru Lester tinggi. "Apa kau berpihak pada monster itu karena dia adalah tunangan mu? Atau jangan-jangan..."
"...Kau memang bersekutu dengan nya dari awal untuk menyerang kami para pahlawan?" Lanjut Lester yang membuat semua orang ikut curiga dan bersiaga kepada Erika.
"Aku tidak berniat menyakiti siapapun, ini adalah sebuah kecelakaan." Jawab Erika mencoba menenangkan orang-orang, termasuk Oliver yang memegang senjata pedangnya dengan erat.
"Kecelakaan?" Kata Oliver dengan tenang. "Orang yang menebas seorang dewi, menghancurkan panah Eciela dan mengarahkan aura mengerikannya kepada keluarga ku adalah sebuah kecelakaan? Apakah begitu?" Lanjutnya menyatakan semua perbuatan Zyden yang dianggap sebagai kejahatan.
"Dan jangan lupakan tentang monster itu juga, paman?" Sahut Lester menimpanya.
"Dengar Erika! Aku mengizinkan mu berada disini karena Asren dan yang lainnya membawa mu kemari." Ucap Oliver menjelaskan pemikiran nya.
"Lilith juga melihatmu sebagai orang yang baik, begitu pula pemuda itu." Lanjutnya yang membuat Erika memiliki sedikit harapan.
"Tapi... Itu adalah penglihatan Lilith sebelum kejadian ini terjadi. Aku tidak perduli bagaimana keadaan pemuda itu atau permasalahan yang terjadi padanya."
"Namun yang pasti aku perdulikan yaitu, Lilith yang menangis sangat keras setelah melihat wujud asli dari pemuda yang kau anggap sebagai tunangan mu."
"Lilith belum pernah menangis ketika melihat seseorang sebelumnya, dia mungkin hanya akan merengek atau menjauhi orang-orang yang dianggap nya sebagai orang yang jahat."
"Namun sekarang, dia berteriak menangis sampai-sampai memeluk ibunya dengan kencang yang menandakan kalau dia melihat sesuatu yang sangat jahat."
"Dan sesuatu yang sangat jahat itu berada tepat dibelakang mu." Ujar Oliver melakukan kuda-kuda.
Kemudian, Oliver menyerang Erika dengan pedang yang siap membelah apapun. Erika tidak bergerak menandakan bahwa dia tidak akan menyingkir atau berlindung.
Dia masih mempertahankan posisinya dimana dia rela menjadi tameng hidup yang dapat diserang kapan pun.
"Hiya....."
'Tengg....'
Sepotong kayu pendek menahan ayunan pedang Oliver. Kayu itu adalah potongan dari panah yang hancur milik Eciela, dan orang yang memakai potongan kayu itu ialah Liya dengan aliran kabut biru menyelimuti kayu nya.
"Berani sekali makhluk rendahan seperti mu mengarahkan senjata nya pada Ratuku. Kau pantas dihukum mati!!" Serunya dengan niat membunuhnya.
__ADS_1
"HENTIKAN PERTIKAIAN KALIAN !!"
Suara lantang nan halus milik Freya menggema ke seluruh ruangan.
"Siapapun yang bergerak, akan aku hancurkan." Lanjutnya mengarahkan sebuah tongkat dengan ujung akar yang melingkar.
Semua orang terdiam, mereka tidak berani melakukan apapun dikarenakan tongkat yang dipegang oleh Freya mengeluarkan cukup banyak mana yang terfokus pada ujungnya.
Dan semua orang tahu! Jika mereka bergerak tiba-tiba, mereka pasti akan mati. Sebab insting mereka yang mengatakan begitu sesaat Freya menunjukkan wajah marahnya.
"Sekarang!! Liya Citos... Oliver de Alnoid Gith! Aku perintahkan kalian berdua mundur perlahan, dan turunkan senjata ditangan kalian. SEKARANG!!"
Dengan suara yang tinggi, serta keanggunan yang menyertai suara itu. Freya membuat semua orang tunduk patuh pada perkataannya.
Oliver menyarungkan pedangnya lalu mundur bersama para pahlawan dan keluarga nya. Sedangkan Liya merasa enggan, tapi dia juga ikut mundur ke samping Erika yang sudah bersikap normal.
"Oliver de Alnoid Gith, biarkan kami singgah disini dan jangan ganggu kami. Aku akan menjelaskan semuanya pada kalian nanti. Untuk sekarang, biarkan kami sendiri."
"Ini adalah perintah dariku, sekaligus permintaan ku." Ucap Freya.
• • •
Mereka semua pergi tanpa sepatah kata pun, termasuk Lester yang menatap tajam pada Zyden pada saat dia menggendong Eciela yang masih tak sadar diri.
Creaaak.... Bam!
Pintu tertutup rapat menyisakan 4 orang didalamnya.
"Zyden!!"
Erika bergegas menuju anak laki-laki yang tengah terbaring itu sebelumnya, dia mendekapnya dengan rasa khawatir dan takut akan terjadi apa-apa pada anak laki-laki itu.
Lalu Erikapun memanggilnya beberapa kali, dan sesekali juga dia memeriksa keadaan tubuh anak laki-laki itu.
"Tenanglah Erika. Cyan baik-baik saja! Dia hanya pingsan karena pemisahan kendali paksa antara dirinya dengan monster yang ada ditubuhnya itu." Seru Freya berjalan mendekat dengan tangan menutupi luka diperutnya.
"Monster itu..., Apa kamu tau sesuatu tentang monster itu, Dewi Freya?" Ucap Erika bertanya.
"Ah! Sebelum itu, Liya. Bisa kau menyembuhkan luka yang ada diperut dewi Freya? Aku mengizinkanmu untuk menggunakan semua kekuatan mu, dan itu juga berlaku untuk kedepannya." Lanjutnya.
__ADS_1
"Baik, Ratuku." Liyapun langsung mencoba menyembuhkan Freya dengan segenap kekuatannya.
"Permisi Dewi Freya." Seru Liya mengulurkan tangannya ke luka yang ada diperut Freya.
Cahaya kehijauan mulai muncul kesekitar mereka dan mengalir dari tangan Liya ke dalam luka sayatan itu. Sedikit demi sedikit, luka itu mulai menutup hilang sampai tidak ada bekas luka apapun diperut Freya.
'kekuatan penyembuh yang luar biasa, bahkan regenerasi milikku tidak bisa menyembuhkan luka dari serangan Cyan tadi. Tapi dia... bisa melakukan nya dengan sangat baik.' pikir Freya melihat Liya yang sedang menyembuhkan nya.
'andai aku mempunyai sihir penyembuh itu, apakah aku bisa lebih berguna bagi Cyan.' lanjutnya dalam hati dengan sebuah kekecewaan.
'tidak-tidak, apa yang aku pikirkan. Cyan tidak mungkin terluka dengan mudah. Dan lagi, aku masih memiliki kekuatan ini. Kekuatan yang Cyan butuhkan sekarang untuk membantu nya menangani monster itu.'
'monster yang dapat membawa kematian bahkan untuk dewa sekalipun.'
"Dewi Freya? Kenapa kau melamun?" Tanya Erika saat Liya selesai dengan tugasnya.
"A-aku tidak melamun." Sahut Freya menjawabnya.
"Kalau begitu, apa kau tidak keberatan memberitahuku tentang monster yang ada didalam tubuh Zyden?" Seru Erika menatap teguh Freya.
"..., Apa kau yakin ingin mendengarnya dariku?" Ucap Freya yang membuat Erika heran.
"Apa maksudnya itu?"
"Yah... Kau tahu! Aku adalah belahan hidup Cyan, dengan kata lain. Aku... adalah rivalmu. Apa kau yakin ingin mendengar tentang Cyan dari rivalmu ini?" Kata Freya dengan nada khas suaranya.
"Rival? Apa itu rival?" Ucap Erika dengan ketidaktahuannya.
"Ehmm... Rival itu ya..., Saingan atau bisa dibilang lawan tandingmu dalam menentukan sebuah kemenangan. Dan aku adalah lawanmu untuk menjadi pasangan tidurnya Cyan setiap malam." Seru Freya menjawabnya dengan penuh harga diri.
"Jadi maksudnya, kita akan bersaing untuk menentukan siapa yang bisa bermalam dengan Zyden, begitu?" Ucap Erika.
"Ya... Dengan kata lain Rival berarti seperti itu." ('mungkin') lanjut Freya dalam hatinya. 'tadi aku mendengar dari percakapan Asren dan Cyan sih begitu.' lanjutnya.
"Permisi, maaf mengganggu obrolan kalian berdua yang menyenangkan. Tapi Ratuku, bukankah lebih baik kita membaringkan tuan diatas kasur saja daripada dilantai? Itu mungkin lebih baik." Sahut Liya memberikan usulannya.
"Ah iya, Zyden! Aku hampir melupakan nya."
Lalu Zyden pun diangkat dan dipindah kan kekasur yang sudah ada sebelum nya. Dan kita berhutang budi pada Liya karena menengahi mereka.
__ADS_1
*Chapter 68 end