
"Ah... Tadi itu ternyata hanya mimpi." Seru Zyden terkejap bangun dari tidurnya. "Bagaimana bisa aku bermimpi tentang mereka?" Lanjutnya tanpa sadar meneteskan air mata.
"Eh? Ke... kenapa aku menangis, dan kenapa dadaku serasa sakit sekali?" Ucap Zyden mengulap air matanya dengan tangan kanannya.
"Aha... Ahahahaha! Apakah ini yang disebut kerinduan setelah kematian! Benar-benar, apakah ini masih diriku yang dulu?" Serunya menenangkan diri, lalu menangis seperti anak kecil.
Zyden menangis sekitar 10 menit lamanya, dia mengeluarkan semua kerinduan dengan tangisan yang tidak akan pernah dia lakukan di bumi.
Tapi, Zyden tetaplah Zyden. Dia adalah pemburu di Bumi dan juga pemburu di Bessara. Misi adalah yang paling penting baginya.
"Aku baru ingat! Di bumi, aku tidak pernah merasa kesepian walau aku adalah pemburu solo, ternyata itu karena keluarga ku yang selalu menunggu ku?" Seru Zyden duduk dikasurnya.
"Namun didunia ini, sudah tidak akan ada orang yang menungguku. Apa aku masih akan baik-baik saja disini?" Zyden mulai ragu, terdengar dari nada kata-kata nya.
'KAMI AKAN SELALU ADA DI SISI MU'
Sebuah kenangan tiba-tiba terlintas di benak Zyden.
"..., Tapi sekarang, tidak ada siapapun yang berada disisi ku!" Gumam Zyden mengenang kehidupan nya dulu.
Selagi Zyden mengenang masa lalunya, seekor kunang-kunang terbang tepat melewati matanya. Yang membuat dia tersadar dari lamunan nya dan melihat kunang-kunang itu.
Alangkah tak terduga nya. Bukan hanya satu, tapi puluhan sampai ratusan kunang-kunang terbang ke sana kemari mengelilingi Zyden.
Zyden agak terpana melihat banyaknya kunang-kunang dalam satu tempat yang sama. Dan lagi, cahaya yang dikeluarkan oleh kunang-kunang itu bukan hanya cahaya biasa.
Cahaya cantik dan terang melebihi cahaya dari batu kristal yang digunakan sebagai hiasan pada suatu ruangan.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Zyden mulai sadar bahwa kunang-kunang itu berbeda dari kunang-kunang biasanya. Mereka berbentuk seperti bola-bola kecil yang memancarkan cahaya berwarna-warni yang sangat indah.
Tidak sedikit kunang-kunang yang terbang, lalu menempel pada tubuh Zyden lalu terbang lagi. Hal itu terlihat sangat aneh, tapi itu juga membuat Zyden merasa nyaman dan menghilangkan keraguan yang ada di hatinya.
"Ternyata sudah larut malam." Ucap Zyden melihat kearah jendela. "Huft... Sebaiknya aku keluar jalan-jalan untuk mendinginkan kepalaku." Lanjutnya berdiri dan melangkah keluar pintu.
'click'
Zyden mulai menyusuri lorong-lorong istana mencari cara untuk keluar agar bisa berjalan-jalan di luar istana.
Dia memilih berjalan dari pada teleport karena itulah tujuannya, menghabiskan waktu untuk menjernihkan pikirannya dari ingatan masa lalunya.
Dengan skill eyes of knowledge, sangat mudah bagi Zyden menemukan pintu keluar dari dalam istana itu.
Selepas keluar, dia memilih berjalan ke arah kanan yang berisi pepohonan dari pada taman bunga dan air mancur yang besar disebelah kirinya.
Setelah beberapa menit Zyden berjalan, akhirnya dia sampai pada tempat yang dia tuju. Sebuah danau bening seperti cermin yang memantulkan cahaya bulan ke area sekitarnya.
Zyden mulai duduk ditanah menikmati cahaya kunang-kunang dan cahaya bulan yang dipantulkan oleh danau ke sekitarnya. Tapi, ada satu hal yang membuatnya kepikiran.
'bukannya ini masih malam ya? Lalu, kenapa banyak sekali orang yang bersembunyi melihat ku?' pikir Zyden merasakan kehadiran banyak orang di balik pohon dan semak-semak yang ada.
'untung saja mereka tidak punya niat membunuh padaku, jika mereka punya... Akan aku gunakan mereka sebagai pelampiasan ku saat ini.'
'Haah... Bad Mood banget, jarang-jarang aku gini!' lanjutnya menikmati malam dan menghiraukan orang-orang yang memperhatikan nya.
• • •
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian.
"Em..., Tuanku? Boleh kah saya... duduk didekat anda...?" Suara wanita terdengar yang membuat Zyden berbalik melihatnya.
Seorang wanita berambut putih keperakan dengan pakaian ala pelayan berbicara setelah keluar dari balik pohon tempat nya bersembunyi.
Dia adalah Liya, pelayan pribadinya Erika. Liya sudah memperhatikan Zyden pada saat dia keluar dari istana sampai sekarang.
Itu juga yang dilakukan oleh semua orang yang sedang bersembunyi dibalik pohon atau semak-semak disekitar danau.
Liya tidak tahan cuma melihatnya dari jauh, dia bertekad dan meminta izin agar bisa melihatnya lebih dekat.
Zyden meresponnya dengan diam dan berbalik mengabaikannya, dia memilih menikmati malamnya daripada meladeni Liya yang berekspresi aneh.
Liya agak ragu karena Zyden tidak berbicara atau menjawabnya. Kemudian, Liya mulai memberanikan dirinya dengan berjalan dan duduk tidak jauh disamping kiri Zyden.
Zyden masih menghiraukan nya yang langsung duduk disampingnya. Dia tidak melarang tapi mempertanyakan, kenapa pelayan pribadi ratu ada disampingnya malam-malam.
Zyden hanya meliriknya untuk melihat Liya yang sedang bermain-main dengan kunang-kunang itu.
"Aku senang kau mau berpetualang dengan nona Erika, Tuanku!" Ucap Erika masih bermain-main. "Aku dengar kalau Tuanku menolak perjalanan ini saat pertama kali bertemu dengan nona Erika." Lanjutnya berbicara.
"Itu juga pertama kalinya nona Erika ditolak orang lain selama hidupnya. Aku jadi khawatir dengan keadaan nona Erika waktu Tuanku menolaknya."
"Tapi sepertinya, semua kekhawatiran ku itu percuma. Melihat nona Erika yang perhatian dengan Tuanku waktu dikamar, dan melihat keakraban kalian waktu di lorong tadi siang."
"Saya sungguh sangat lega. Terimakasih karena Tuanku sudah ada disini dan memberikan hari-hari yang berwarna untuk nona Erika." Lanjut Liya senang dan tersenyum.
__ADS_1
Zyden masih diam tak menjawab, dia melihat Liya dengan tatapan kosongnya.
"A..., Apa kau punya bir disini?" Ucap Zyden halus.