
Di ruang tamu mansion tempat singgah para pahlawan di kota Darion. Terlihat banyak orang yang sedang duduk dan mengobrol di kursi mereka masing-masing.
Salah satunya adalah Erika serta empat pahlawan yang ada di alun-alun siang tadi. Orang lainnya merupakan keluarga pemilik mansion itu dan beberapa pelayang yang sedang berdiri dibelakang.
Ruang tamu itu terlihat sangat luas dan klasik, juga banyak furniture indah menghiasinya. Mereka duduk dikursi mewah mengelilingi meja dengan jamuan yang biasanya seorang bangsawan sediakan.
Ruangan itu adalah bagian mansion dari salah satu bangsawan, dan bangsawan itu merupakan anggota kerajaan yang memegang tanggung jawab sebagai perwakilan pahlawan di kota Darion.
"Sepertinya hujan akan terus turun sampai besok pagi..." Seorang pria paruh baya berkata sembari melihat keluar jendela kaca yang dekat dengan ruang tamunya.
"Iya sayang, hujannya semakin deras. Apalagi langitnya terlihat sangat gelap, tidak ada tanda-tanda mau reda!" Sahut seorang wanita yang duduk disampingnya.
"Memangnya kenapa kalau terus hujan? Bukan kah itu bagus? Lagipula ada kakak Erika disini." Seru seorang anak perempuan yang sedang dipangku oleh Erika di kursi yang berbeda.
Mereka bertiga adalah keluarga bangsawan yang bertanggung jawab atas para pahlawan dan merupakan anggota kerajaan yang memiliki mansion itu. Pangkat bangsawan nya adalah seorang Duke.
Erika yang mendengar ucapan bocah itu hanya bisa tersenyum dan mengelus-elus kepalanya.
"Hei Lilith, bukankah kau seharusnya turun dari pangkuan Erika? Lihatlah..., Dia sangat kelelahan." Seru Asren yang duduk bersama dua pahlawan lainnya. Sedangkan Erika sedang duduk bersebelahan bersama Eciela.
"Gak mau... Kakak Erika terasa sangat nyaman, dia terlihat seperti cahaya kristal dan bau nya sangat wangi." Ucap anak yang bernama Lilith itu.
"Tidak seperti kak Asren yang terlihat seperti tanah dan bau peternakan. Bleeh..." Lanjutnya mengejek yang di jawab dengan beberapa tawaan dan wajah kaget dari Asren.
"A... Apakah aku terlihat seperti itu?" Ucap Asren menunjuk dirinya.
"Hahaha... As...! Kau memang pantas dikatain begitu. Lilith, kau benar sekali soal bau kandang ayam itu tentang nya. Hahaha, kau memang hebat." Seorang pria berkacamata tertawa terbahak-bahak sembari mengejek nya.
"Sejak kapan kau bisa tertawa seperti itu? Ku pukul kau jika tak mau berhenti." Seru Asren sedikit marah.
"Sudah sudah. Hentikan kalian semua." Seorang pria paruh baya melerai kehebohan yang ada. Dia adalah Oliver Alnoid, kepala keluarga Duke Alnoid dan saudara dari raja kerajaan Otuhl.
"Lilith, kau tidak boleh bicara seperti itu pada Asren. Apapun yang kau lihat darinya, dia pasti orang yang hebat karena dia adalah salah satu pahlawan yang diutus oleh dewa." Lanjut Oliver tegas memarahi anaknya.
"Maaf..." Seru Lilith menundukkan kepala nya.
"Hah..., Sudah tidak apa-apa. Kau juga hanya berbicara jujur, jadi tidak masalah bukan?" Ucap Oliver memberikan kode pada Asren.
"Y...ya... Buat ku sih tidak apa-apa. Asalkan lain kali jangan terlalu jujur mengatakan nya." Seru Asren yang masih membuat Lilith menunduk.
"Nah dengar itu Lilith, kau itu punya kekuatan yang istimewa. Kau bisa melihat sosok asli seseorang hanya dengan melihatnya saja." Kata Oliver menasehati anaknya.
"Lain kali jangan terlalu jujur mengatakan nya, apalagi tepat dihadapan orang itu. Karena itu bisa menyinggung nya ataupun membuat mu dalam bahaya. Gunakan kekuatan mu dengan bijak dan hargailah orang lain. Ingat itu..." Lanjutnya.
__ADS_1
"Baik ayah..."
Dan mereka pun melanjutkan obrolan obrolan ringan lainnya.
•
•
•
Tak lama kemudian, saat semua orang masih mengobrol. Erika sedikit terkejap merasakan kehadiran seseorang yang akan muncul didekat nya dan dia pun terdiam mencoba untuk memeriksanya.
"Ah...! Lilith merasakannya, rasa manis madu dan permen yang menyengat mendekati Lilith." Ucap Lilith dengan senang yang membuat semua orang keheranan melihatnya.
Erika yang dari tadi sedang memeriksa perasaannya mulai berdiri dan melompat jauh kebelakang sambil menggendong Lilith yang masih kesenangan.
Semua orang kaget melihat Erika yang melompat jauh kebelakang sambil menggendong Lilith. Mereka bangun dengan wajah heran dan khawatir akan terjadi sesuatu pada Lilith.
"Erika? Ada apa?" Seru Asren bertanya.
"Tidak ada apa-apa, Asren. Hanya..., seseorang yang aku kenal akan kesini." Jawab Erika menurunkan Lilith yang masih bergembira.
"Apa maksudmu seseorang yang kau kenal akan kesini?" Ucap Asren bersamaan dengan banyaknya pertanyaan pertanyaan yang ada pada pemikiran semua orang.
Saat semua orang masih bertanya keheranan akan perkataan Erika. Bocah yang bernama Lilith itu malah semakin semangat dan heboh sendirian disana.
Bertepatan dengan ucapan gembira Lilith, tiba-tiba sebuah sosok yang entah dari mana datangnya muncul tidak jauh di depan Erika.
Sebuah sosok anak laki-laki dengan pakaian yang agak basah dan berwarna serba hitam. Dari rambut hitam, jubah hitam, celana hitam, bahkan saat membuka matanya. Dia memperlihatkan iris mata berwarna hitam dengan wajah yang begitu tampan.
Semua orang dibuat terdiam kaget akan sosok yang baru saja muncul itu, rasa takjub akan ketampanan pun diperlihatkan oleh para wanita disana.
Baik para pelayan, seorang pahlawan perempuan, ataupun nyonya besar keluarga bangsawan, dibuat terpesona oleh nya.
Sedangkan saat semua orang memiliki ekspresi masing-masing menanggapi sosok yang baru saja muncul tiba-tiba disana. Sosok itu malah kebingungan akan banyaknya orang yang bisa dia lihat hanya dengan sekali lirikan saja.
"Aku... Dimana?" Gumam Zyden yang merupakan sosok anak laki-laki tersebut.
Zyden dibuat bingung dengan situasi dan tempat tujuan teleportasi nya itu. Dia sangat yakin akan perhitungannya yang tepat, dan dia berfikir jika Erika pasti sedang ada di rumah atau kamar yang pastinya tidak seramai ini.
Tapi ekspektasi tidak selancar kenyataan nya. Zyden tidak memperhitungkan jikalau Erika masih bersama dengan kelompok pahlawan yang ada dihadapannya.
"Aku benar, ternyata itu kau!" Ucap Erika yang membuat Zyden berbalik melihatnya.
__ADS_1
"Huh. Ternyata kau ada disitu? Aku pikir aku nyasar dan berakhir di tempat ini." Seru Zyden pada Erika.
"Sepertinya kau dalam suasana hati yang bagus? Apa yang sudah kau lakukan?" Ucap Erika bertanya.
"Aku tidak melakukan apapun. Yang lebih penting, apa yang kau lakukan disini? Ini tidak terlihat seperti penginapan ataupun tempat tinggal yang kau beli." Seru Zyden melihat sekeliling dan banyaknya orang disana.
"Aku sedang berada dikediaman para pahlawan." Ucap Erika singkat. "Aku sudah menjawab mu, sekarang giliran mu menjawab pertanyaan ku! Apa yang sudah kau lakukan, beberapa saat yang lalu aku samar-samar merasakan monster itu." Lanjutnya yang membuat Zyden mengernyitkan alisnya.
"Aku hanya berburu beberapa tikus. Dan kenapa kau juga memanggilku monster sama seperti mereka?" Kata Zyden agak kesal.
"Aku tahu ada sesuatu disini, dari awal kita juga tidak tahu apa itu? Tapi kenapa harus monster? Apa tidak ada panggilan lainnya, aku tidak nyaman mendengar itu." Lanjutnya.
"Sepertinya kau belum sadar juga tentang apa yang sudah aku katakan sebelumnya. Jika kau menggunakan nya, bukan raja iblis yang akan mereka buru. Tapi kau lah yang akan diburu saat mereka melihat mu." Seru Erika menatap tajam.
"Iya iya, kau sudah mengatakan nya. Dari tadi aku tidak menggunakan nya didepan orang lain, jadi berhentilah menatap ku seperti itu." Sahut Zyden.
"Dan tolong, hentikanlah tatapan anak yang ada didekat mu itu. Aku agak takut dengan pandangan nya." Lanjut Zyden pada Lilith yang terus melihatnya dengan mata berbinar-binar.
"Jelas-jelas kau tidak mengerti apa yang aku katakan." Gumam Erika, lalu dia mengelus-elus rambut bocah yang ada didekatnya itu. "Lilith? Apa kau mau memeluknya?" Lanjutnya.
"Benarkah? Apa aku boleh memeluk nya?" Seru Lilith cepat dan bersemangat.
"Hei! Bukankah aku menyuruh mu untuk menghentikannya. Bukannya malah menghasutnya!" Ucap Zyden yang diacuhkan oleh Erika.
"Tentu saja kau boleh." Jawab Erika sembari tersenyum. 'aku yakin kau tidak akan menolaknya kan, tuan rubah bermuka dua.' lanjut Erika dalam fikiran nya.
"Yey..." Seru Lilith bersorak, lalu dia langsung berlari menuju ke arah Zyden dengan pose menyambar sebuah mainan.
Tapi saat Lilith sudah setengah jalan pada tujuannya, seorang pria paruh baya merangkul dan membawanya ke sebelah Erika.
Empat pahlawan lainnya juga ikut ambil bagian dari tindakan pria itu.
Asren dan dua pahlawan lainnya mengacungkan senjata mereka mengarah pada Zyden. Sedangkan Eciela bersiaga di sisi lain Erika.
"Siapa kau?" Seru Asren dengan tombak yang siap digunakannya.
"Aku? Apa tuan pahlawan sudah lupa padaku? Padahal kita baru bertemu beberapa jam yang lalu?" Kata Zyden dengan nada sok akrab.
"Beberapa jam yang lalu? Berhenti berbohong dan katakan apa tujuan mu!" Ucap Asren dengan nada agak tinggi.
"Hah? Apa mungkin..." Seru Zyden menyentuh pipinya dengan telunjuk tangan kanannya. Dia agak kaget sebab baru saja sadar kalau wajahnya terlihat sangat jelas oleh orang-orang karena dia tidak memakai topeng.
'jadi ini yang membuat mereka berekspresi konyol tadi! Haaah..., Aku sungguh sangat bodoh.' pikir Zyden menciptakan topeng hitam dari ketiadaan dan langsung memakai nya.
__ADS_1
"KAU KAN...!!"
*Chapter 59 end*