
"Apa yang kalian tunggu? Apa kalian tidak mau masuk kedalam?" Tanya Zyden pada Erika dan Liya yang masih melamun.
"Ah... Iya!" Seru Erika menjawab.
"Sebelum itu, apa kalian punya kartu identitas?" Tanya Zyden penasaran.
"Ah... Iya, kami punya kok kartu identitas sendiri." Ucap Erika mengambil kartu yang diberikan oleh Liya dari sihir dimensinya.
"Kami membuatnya beberapa bulan yang lalu, saat ayah menyuruh pahlawan yang dipanggilnya untuk berpetualang bersamaku."
"Untungnya Liya sudah mendapatkan kartu id nya dari dulu, jika tidak. Maka akan susah untuknya ikut bersama kita. Apalagi kartu itu dibuat selama bertahun-tahun dan sangat sulit untuk membuatnya."
"Kita benar-benar beruntung." Lanjut Erika dengan rasa lega dan gembira.
"...., Kenapa kau sangat senang hanya karena punya sebuah kartu id? Dan siapa yang memberitahu mu bahwa membuat kartu id sangat sulit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun?" Seru Zyden sedikit tajam.
"Memangnya kenapa? Apa itu salah? Tidak mungkinkan itu salah! Ayah sendiri yang memberitahuku beberapa bulan yang lalu, jadi itu tidak mungkin salah?" Ucap Erika percaya diri.
"Hah..., Kenapa kau sangat yakin dengan kata-kata ayah mu itu." Seru Zyden bertanya.
"Ayahku adalah orang yang hebat, dia tidak mungkin berkata salah padaku." Kata Erika membela ayahnya.
"Bagaimana bisa sebuah kartu id dibuat selama bertahun-tahun, dalam hitungan menit saja itu sudah jadi." Ucap Zyden memberi penjelasan.
"Hah! Kau saja yang tidak tahu keistimewaan kartu id milikku ini." Seru Erika membanggakan kartu idnya.
"Keistimewaan? Memangnya kartu id memiliki keistimewaan apa?" Ucap Zyden bertanya.
"Lihat, kau saja yang tidak mengetahuinya. Liya, jelaskan itu padanya!" Titah Erika pada Liya.
"Baik Ratuku." Sahut Liya menjawab. "Maaf kalau saya lancang, Tu... Tuan? Kartu id ini berbeda dengan sebuah kartu id biasanya."
"Kartu ini dapat merubah ras, umur dan beberapa hal lain sesuka pemiliknya. Kartu ini juga dilengkapi dengan sihir pelindung tingkat tinggi dan sihir pemanggil jikalau kartu ini hilang atau dicuri oleh seseorang."
"Oleh karena itu, kartu ini sangat sulit untuk dibuat dan membutuhkan bertahun-tahun untuk membuat nya." Seru Liya menjelaskan tentang kartu id milik Erika.
__ADS_1
"Hanya untuk sebuah kartu kau menambahkan sihir didalamnya? Apa ayahmu masih waras?" Ucap Zyden dengan nada aneh.
"Hei! Apa kau baru saja meledek ayahku?" Kata Erika sedikit marah.
"Aku tidak meledeknya, aku hanya bertanya?" Sahut Zyden menjawab.
"Tapi pertanyaan mu seperti meledek nya. Baiklah tidak masalah, ayo kita masuk! Kau membuat ku menunggu sangat lama untuk berkeliling di kota." Kata Erika berjalan yang diikuti oleh Liya.
'hah? bukannya dia sendiri yang bengong tadi?' pikir Zyden. 'dasar wanita!' lanjutnya dalam hati.
Zyden dan Erika, lalu Liya yang hanya tambahan mengantri agar bisa masuk ke kota Darion. Banyak orang yang melihat mereka bertiga, tapi semuanya fokus pada kecantikan Erika dan Liya.
Walau Erika memiliki postur tubuh yang lebih kecil dibandingkan yang aslinya, namun tidak disalahkan. Dia masih sangat nikmat untuk dipandang.
Rambut ungu yang menghipnotis siapapun, wajah cantik dan mulus putih bersih dan bentuk tubuh proporsional seorang remaja yang membuat semua iri melihatnya.
Lalu Liya. Rambut keperakan nya yang bisa membuat orang berkaca-kaca, bentuk tubuh bagus khas wanita, dan pakaian maid pas membuatnya terlihat penurut.
Benar-benar sebuah pemandangan yang berbeda dari batu-batu besar dan pohon-pohon dihutan.
Setelah beberapa saat menunggu dan di... lihat, sekarang giliran mereka bertiga untuk masuk ke kota.
Mereka masuk sebagai seorang petualang. Zyden menggunakan kartu yang dia dapatkan di kota Larkxa.
Lalu, Erika serta Liya menggunakan sihir untuk merubah kartunya menjadi kartu petualang walau mereka belum terdaftar secara resmi sebagai petualang.
Tidak ada kecurigaan pada kartu mereka bertiga, mereka bisa masuk dengan santai menggunakan kartu id yang pernah membuat sebuah kota hancur atau sebuah kartu palsu yang sangat mirip dengan aslinya.
Yah walau hanya dengan sebuah kartu, itu sudah menandakan bahwa mereka adalah petualang dari guild.
Setelah mereka masuk melewati pintu tembok kota, mereka harus berjalan sebentar untuk benar-benar sampai di kota. Mereka berjalan sekitar 5 menit menyusuri tanah kosong dan beberapa orang mengobrol disekitar tembok.
Dari ketiga orang itu, hanya Erika yang terlihat sangat senang dan itu terlihat sangat cocok dengan tubuhnya yang seperti anak-anak.
"Woah... Banyak sekali manusia ditempat ini, dan bangunan-bangunan apa itu. Kenapa bentuk mereka persegi dan berjejer jejer pula, hahaha. Aku baru lihat yang beginian." Seru Erika senang melihat banyak bangunan bertingkat.
__ADS_1
"Kau senang sekali, seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan." Ucap Zyden dengan nada meledek.
"Memangnya kenapa? Apa kau tidak suka dengan perilaku ku?" Kata Erika dengan jengkel.
"Bukannya tidak suka. Tapi, kau terlalu banyak menarik perhatian orang-orang. Lihat sekitarmu!" Seru Zyden menyuruh Erika melihat sekeliling.
Erika menengok kanan kirinya, dan ternyata banyak orang yang melihat ke arahnya. Orang-orang itu terpana dengan penampilan Erika, atau tertawa dengan perilakunya yang seperti anak desa.
"A... Apa aku... Terlalu mencolok disini?" Ucap Erika agak ragu.
'yang benar saja! Apa kau baru sadar sekarang?' hujat Zyden dalam hatinya.
"Akh... Bodo amat lah. Karena kita baru saja tiba dikota, dan ini juga awalan untuk rencana kita. Lebih baik kita santai aja dulu oke." Seru Erika bersemangat melihat ke arah Zyden.
"Tidak! Kita akan langsung menuju guild petualang dan cepat-cepat menaikkan rank. Aku tidak mau bersantai-santai, aku ingin menyelesaikan misiku secepat mungkin." Ucap Zyden seperti biasanya.
"Oh... Ayolah Zyden." Seru Erika menarik tangan kiri Zyden. "Kita berkeliling dulu yah?" Lanjutnya dengan nada nakal.
"Tidak!" Jawab Zyden dingin.
"Hihihi. Liya, tolong carikan tempat tinggal yang bagus untuk kita selama disini. Aku ingin berkeliling dulu." Ucap Erika pada Liya yang dari tadi masih diam.
"OY!" Seru Zyden keberatan.
"Baik Ratuku." Sahut Liya menjawab.
"Baiklah Liya, kami tinggal dulu yah." Seru Erika menarik tangan Zyden.
"Hey, lepaskan aku. Kenapa kau membawaku juga? Jika kau ingin berkeliling, pergi saja sendiri." Ucap Zyden sedikit memberontak.
"Hehehe... Lebih baik kau ikut denganku, kita akan melihat banyak hal menarik dikota ini."
Mereka berdua pun pergi ke kiri, daerah pasar. Sedangkan Liya ke arah sebaliknya.
*Chapter 50 end*
__ADS_1