Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
11| Identitas Pendonor


__ADS_3


Entah berapa lama Naura berdiri mematung tak berkedip menatap rupa pria di depannya. Seolah wajah Raka lebih menarik dari double es krim yang sering dimakannya diam-diam tiap malam.


Tak salah dengarkah ia tadi?


Raka ingin bertanggung jawab padanya.


Tapi soal apa?


Apa mungkin soal kehamilannya?


Tetapi ... ia tidak pernah memberitahukan soal kehamilannya pada Raka. Entah juga bila Raka tahu dari Sunny, Do-jin, atau mungkin dari Neil? Astaga! Seharusya ia memperingatkan sebelumnya pada ketiga orang tersebut untuk tidak berbicara ember pada Raka. Dan sepertinya itu sudah terlambat.


Naura menarik napas dalam-dalam, dan diembuskan perlahan-lahan. Mencoba tenang, tak ingin terpengaruh akan ucapan Raka. Siapa tahu maksud ucapan Raka bukan mengarah soal kehamilannya.


"Bertanggung jawab?" Naura bertanya, keningnya berkerut dalam, seolah memang tak mengerti akan ucapan Raka. Diam-diam Naura menelan ludah melihat Raka tersenyum miring padanya.


Raka bersidekap, menatap tajam Naura yang seakan menyusut beberapa centi di depannya. "Kau seperti buku yang terbuka, Naura."


Debar di dada Naura meningkat tajam mendengar namanya keluar dari belah bibir Raka. Setiap namanya disebut oleh Raka, ada perasaan berbeda yang tak bisa dijabarkannya. Jantungnya selalu berdegup kencang. Tak pernah berubah semenjak dari dulu. Berbeda bila yang memanggilnya orang lain. Ia tampak biasa saja.


"Meski sudah dua tahun kita tak menjalin hubungan, aku masih hafal semua sifatmu."


Untuk kesekian kalinya Naura menelan ludah, kali ini tak bisa mengelak lagi. Akan tetapi demi gengsi di depan pria ini, Naura tersenyum tipis, seolah memang tak tahu.


"Oh, ya? Aku memang tak mengerti ucapanmu. Sepertinya kau butuh minum?" Naura menyunggingkan senyuman meledek, kembali memperhatikan penampilan berantakan Raka. Raka mengangkat sebelah alisnya, kembali tersenyum miring. Lagi-lagi Naura menelan ludah. Terprovokasi akan senyuman satir Raka. Ia salah berucap. Tidak seharusnya memancing Raka. Ia mengenal salah satu sifat Raka, paling tidak suka diintimidasi. Maka pria ini akan menyerang balik tiga kali lipat mengintimidasi lawannya.


"Kalau begitu biarkan aku masuk, aku ingin minum langsung ke dapurmu."


See, Naura menghela. Menyesal telah melontarkan kata-kata sarkas pada Raka. Pria ini malah membuatnya jadi nyata.


"Hn! Maksudku bukan begitu." Naura mengusak poninya menjadi berantakan.


"Bukan begitu bagaimana?" Raka mulai mengintimidasi. Pandangannya tepat menusuk ke iris cokelat bening Naura.


"Yaaah, begitulah. Aku hanya meledekmu saja, tahu." Naura menggembungkan pipi, sudut matanya melirik pada lorong apartemen, sepi bagai keduanya berada di dunia lain.


"Meledekku saja?"


Naura mengangkat bahu. Tak bisa lagi mengelak.


Dasar cowok idealis, maki Naura kesal. Ingin rasanya mengumpat keras tepat di depan wajah kusut Raka, jadi cowok jangan terlalu memegang teguh prinsipnya yang mungkin saja itu salah. Contoh kecilnya saja, Raka bersikukuh meminta mereka putus karena Naura tak bisa memberinya keturunan. Padahal banyak jalan untuk memperoleh keturunan di zaman serba canggih ini. Seperti ia misalnya, tanpa menikah pun masih bisa punya anak dengan jalan inseminasi. So, apa yang seharusnya mereka takutkan. Tetapi itu dulu, sekarang Naura sudah tak peduli lagi.


"Oke, lupakan masalah itu. Sekarang biarkan aku masuk dulu."


Naura menengadah, kembali menatap mata bulat Raka.


"Tumben sopan," sindirnya, biasanya Raka langsung menyerobot masuk tanpa meminta izin terlebih dahulu padanya.


"Kenapa kalau aku meminta secara sopan? Apa kau tetap tak membolehkanku masuk? Bagaimana dengan pria berkulit sawo matang tadi? Pria itu bebas keluar masuk apartemenmu." Suara Raka meninggi.


Raka mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Bila diukur dengan nilai, angka kesabarannya dia beri nilai enam. Coba ketika bertemu di lift tadi, ia hajar saja Richard habis-habisan sampai babak belur, sampai pemuda itu tidak bisa berjalan selama sebulan dan tak bisa mengganggu Naura lagi. Tidak peduli bila harus berurusan dengan pihak berwajib karena telah memukuli orang. Tak seharusnya ia mempercayai Richard seratus persen. Mempercayakan Naura pada Richard, menjaga sosok manis itu untuknya. Sialnya. Richard justru menikamnya dari belakang. Ternyata juga menaruh hati pada Naura. Sahabat macam apa itu.


Masih segar dalam pikirannya kejadian tadi pagi. Richard datang ke apartemen Hyun-sik, di mana selama dua mingguan ini Raka bersembunyi mengawasi Naura dari kejauhan. Dengan percaya dirinya. Richard mengatakan agar tak usah lagi mempercayakan Naura untuk menjaganya. Sebab, mulai sekarang dia sendiri-lah yang menjaga dan bertanggung jawab pada Naura, bukan atas nama Raka.


Sempat Raka memperingatkan Richard agar tak mengambil yang telah menjadi miliknya. Namun sepertinya Richard mengabaikan peringatannya. Meski Richard belum memberi tahukannya, Raka merasakan kalau Richard sudah berbicara pada Naura, siap bertanggung jawab pada sosok manis ini. Maka dari itu, hari ini ia pun datang ke Naura. Tak ingin kalah dari Richard. Sudah cukup bermain petak umpet. Terus-terusan bersembunyi bagai penjahat yang buron dari polisi.


"Maksudmu pria itu Richard? Bagaimana kau bisa tahu Richard berada di apartemenku?" Naura terbeliak. Terkejut bukan main. Suara cempreng Naura seketika membuyarkan lamunan Raka tentang penikung-nya.

__ADS_1


"Astaga!" Sontak Naura menutup mulut. Ia sekarang tahu jawabannya. Pantas selama seminggu menempati apartemennya, ia merasa seperti ada sepasang mata tajam yang mengawasinya dari balik jendelanya. Ternyata itu Raka.


“Jadi kau menguntitku dari apartemen lainnya?" tuduh Naura.


"Bukan urusanmu." Raka menjawab dingin.


"Bukan urusanku? Tapi, aku tak nyaman akan ulahmu itu, tahu!" Naura menggeram. Ujung matanya berdenyut-denyut meredam kesal di dada. Napasnya mulai tak beraturan.


"Kita bahas masalah itu lain kali saja. Jangan mencoba mengalihkan pokok pembicaraan utama kita," tekan Raka serius.


Naura menjengit. Itu memang benar, alasannya semula agar Raka lupa soal tanggung jawab---entah itu apa--- lalu ia bisa mengusirnya karena alasan tadi.


"Kalau begitu, sampai jumpa lain kali. Saat ini aku tak mau membahasnya." Tanpa melanjutkan lagi ucapannya, Naura segera menutup pintunya kembali. Sedetik kemudian Naura kembali menggeram kesal.


"Jauhkan kakimu!" hardik Naura memelotot pada Raka yang menjadikan kakinya palang pintu. Menjegalnya. Berusaha menghalanginya.


"Yaaak, kubilang jauhkan kakimu!" pekiknya mulai kesal melihat Raka hanya bergeming. Ia menelan


ludah menatap wajah Raka, mengintimidasinya lewat tatapan dinginnya.


"Fine." Naura mengangkat kedua tangannya sesaat. Menyerah. Lebih memilih mengalah dari pria menyebalkan di


depannya ini.


"Apa yang ingin kau bertanggung jawabkan padaku, heh,” sambungnya bersidekap.


"Nah begitu, seharusnya sedari tadi seperti ini. Tak perlu pakai urat saraf.” Raka menyunggingkan senyuman lebar. Sementara Naura memutar bola matanya.


“Tapi sebelum berbicara serius, biarkan aku ..." Raka menunduk, mensejajarkan tingginya dengan Naura, berusaha menjangkau wajahnya - entahlah apa yang ingin dilakukan Raka terhadap sosok manis ini. Naura terkesiap, ia pun segera mundur selangkah, hingga memberi celah Raka untuk menerobos pertahanan lemahnya.


"...masuk," lanjut Raka enteng ketika telah berada di dalam apartemen Naura. Segera memelesat masuk, meninggalkan Naura yang mematung sejenak di depan pintu. Naura meraba bibirnya, lalu menggeram kesal.


"Sialan!" Naura menendang pintu sebelum menutupnya, entah apa yang membuatnya kesal, kemudian beranjak mengikuti Raka menuju sofa panjang tunggalnya.


Raka memandang lekat Naura, telah berdiri berkacak pinggang. Sekilas ujung matanya menyipit, menatap tajam perut Naura di balik baju dasternya, lalu memandang Naura secara keseluruhan. Begitu seksi dan sangat menggoda iman. Membuatnya selama dua minggu ini uring-uringan. Terlebih setelah kepindahan Naura ke apartemen barunya, ditambah sosok Jongin yang selalu lengket di dekat Naura, makin membuatnya galau sepanjang hari. Karena hal itu jugalah, hingga mendorongnya untuk berterus terang, sebelum Jongin semakin mendesak sosok manis ini untuk menikahinya.


"Aku serius, akan bertanggung jawab padamu.” Raka menumpu sebelah kaki kanannya ke atas kaki kirinya. Bergaya ala eksekutif muda ketika berbicara di depan kolega bisnis-nya.


"Bertanggung jawab soal apa?!" Suara Naura langsung meninggi. "Atau kau ingin bertanggung jawab soal sikap kasarmu di masa lalu?"


Hening seketika setelah Naura berucap. Hanya terdengar deru napas Naura yang naik turun, seolah mendaki gunung tertinggi dengan rintangan yang mengiringinya. Serta suara televisi yang dibiarkan menyala, bagai penonton yang menyaksikan Naura dan Raka di depannya.


Raka mengembuskan napas. Memecah sunyi yang menyesak lewat suara seraknya.


"Salah satunya itu,” ujarnya dengan dada bergemuruh, bagaikan api abadi yang tak pernah padam, rasa


cintanya di dalam hatinya makin berkobar dan menggelora terhadap sosok manis ini.


Naura membelalak tak percaya. Apakah itu artinya Raka menyesali perbuatannya?


"Salah satunya? Itu artinya, ada yang lainnya lagi." Naura berujar datar, sebisa mungkin menekan jantungnya yang berdegup liar. Bila bukan seutuhnya bertanggung jawab pada perbuatannya di masa lalu, maka Raka ....


"Ya." Raka mengangguk membenarkan, menjawab apa yang diterka Naura. "Aku ingin bertanggung jawab padamu dan juga anak kita."


"Anak kita?!!" Naura terkesiap kaget. Seketika tangannya berada di atas perutnya. "Jangan ngarang kamu. Apa maksudmu dengan anak kita?"


"Bayi yang ada dalam perutmu itu anakku, Naura Almira Atmajaya!"


"Hn! Anakmu?" Sudut bibir plum Naura tertarik ke atas. Tersenyum sarkas. "Kamu mabuk?" tanyanya datar, seolah berbicara pada tiang besi yang terpancang erat di tanah, tak terpengaruh sama sekali akan bisikan mesra angin yang meniupnya, mencoba mengajaknya bergoyang.

__ADS_1


Raka hanya mengangkat bahu, acuh.


"Cih! Anak dari Hongkong. Hamil saja tidak." Naura berkata nyaris berbisik di ujung kalimatnya. Menyelipkan poni yang menjuntai ke samping telinganya. Ia menelan ludah menutupi rasa gugupnya.


"Jangan mengelak lagi, Naura. Kau memang hamil!" tegas Raka, membuat Naura nyaris melupakan di mana kakinya berpijak saat ini. "Dan kau mengandung anakku!" tegasnya.


Naura tertegun. Selama beberapa detik menahan napas. Otaknya membeku, seolah berada di kutub utara, tak mampu mencerna apa pun lagi, selain ucapan Raka yang berputar-putar di kepalanya. Memaksanya masuk kian dalam dan menancapkannya begitu kuat di dalam memorinya, bagaikan seniman yang tiada henti memahat hasil karya prestisius-nya hingga melahirkan ukiran yang begitu indah.


Mengandung anaknya,katanya. Cih! Jangan bermimpi. Naura mengepalkan tangan.


"Jangan asal bicara, kamu. Mengandung anakmu?! Kapan kita berhubungan intim? Bukankah kita sudah putus dua tahun yang lalu."


"Memang tak secara langsung berhubungan intim, tetapi ..." Raka memutus sebentar ucapannya, mengubah posisi duduknya. Sementara pandangannya tak berhenti menatap iris bening calon ibu dari anak-anaknya di masa depan. "...akulah orang yang mendonorkan ****** padamu."


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


Naura berjalan cepat menyusuri trotoar. Seolah tak peduli pada awan mendung yang menaunginya, berusaha mencoba meredamkan kepalanya yang panas, bagai gunung yang kapan pun siap memuntahkan lava. Naura mengetatkan mantelnya, membenahi tudung berbulu di kepalanya, menghindarkan butiran-butiran salju di atas kepalanya, seolah ingin menimpuk dan menambah beban di kepalanya saat ini. Langkahnya kian cepat menuju Jeju National University Hospital seiring ucapan Raka yang terus berputar-putar di kepalanya.


“Akulah orang yang mendonorkan ****** padamu ...”


Deru napas Naura kian memburu, setiap mengingat kata-kata donor ****** untuknya. Setelah Raka mengucapkan kalimat tersebut, tanpa babibu lagi, Naura mengusir Raka dari apartemennya dan bergegas menemui satu orang yang bertanggung jawab soal proses kehamilannya ini.


Dokter Neil Sutanegara. Mungkinkah tetangga kesayangannya ini berkomplot pada pria masa lalunya itu?


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


Neil mendudukkan pantat ke kursi empuknya. Pria bermata sipit ini mengembuskan napas lega setelah berhasil melakukan operasi pada pasiennya. Sekitar dua jam lebihan terjebak di dalam ruang operasi bersama satu rekan dokter, kepala tim dokter, serta lima assisten dokter. Mereka berusaha menyelamatkan nyawa pasien.


Kini, ia pun juga butuh menghirup udara segar dan merilekskan pikirannya. Neil mulai memutar musik player di komputernya. Mengalunlah lagu ballad menenangkan dari suara penyanyi wanita Korea dari speaker komputernya, memenuhi segala penjuru ruangannya, membuatnya merasa damai dan tentram. Sambil menikmati suara merdu sang penyanyi wanita, Neil menghirup secangkir kopi panasnya. Baru saja cairan hitam pekat itu singgah di mulutnya. Tiba-tiba pintu ruang kerjanya didobrak keras, bagai diseruduk banteng yang mengamuk karena melihat sang betinanya diambil pejantan lainnya.


"KAK NEIIIL."


Brush


Sukses cairan hitam di mulutnya menyembur keluar, telak menghujani jas dokternya. Neil mengerang melihat noda hitam di jas putihnya tertempel apik membentuk bulatan besar di sana.


"Astaga, Naura!" Neil menggerutu kesal, meletakkan cangkir kopi ke atas meja, buru-buru menyelamatkan jas dokternya agar tak semakin memburuk terkena cairan hitam kopinya. Tetapi sepertinya, terlambat sudah.


"Sialan." Neil kembali mengerang mengingat tak menyimpan cadangan jas di lemarinya, terpaksa membuka jas dokternya. Memperlihatkan kemeja kotak-kotak menutupi tubuh atletis-nya.


"Kenapa denganmu, Naura? Matamu masih jelas membedakan mana pelakor dan bukan, ‘kan?" sindir tajam Neil seraya menyampirkan jasnya ke sandaran kursi, lantas bersidekap memperhatikan tetangga manisnya ini menuju ke arahnya. Alis Neil menukik tajam melihat Naura. Napasnya kembang kempis, wajahnya memerah, matanya mendelik tajam, seolah ia adalah mangsa empuk yang siap disantap.


"Lebih parah dari pelakor saat ini, Kakak. (︶︿︶)”


"Lebih parah?" Garis-garis kerutan di kening Neil semakin beranak pinak.


"Kakak, kenapa enggak bilang padaku sebelumnya?!"


"Bilang apa?"


"Yang mendonorkan ****** padaku itu adalah RAKA!"

__ADS_1



__ADS_2