![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
"Kak Neiiil, maaf, baru bisa beri kabar, habisnya selama seminggu ini sibuk banget." Naura langsung mencerocos ketika teleponnya tersambung ke Indonesia, di mana Neil berada.
Saat ini, sosok manis ini sedang sendirian, beristirahat makan siang di rooftop perusahaan. Menjadi seorang karyawan di tempat kerja baru, membuat sosok manis ini harus kembali beradaptasi dengan lingkungan perusahaan. Baik itu masalah pekerjaan, atau pun bersosialisasi dengan pegawainya.Satu hal yang membuat Naura senang dan nyaman di lingkungan kerja barunya, dirinya tak perlu menyembunyikan kehamilannya.
Karena sebagian masyarakat Korea dikenal menjunjung tinggi nilai kejujuran, dan dari pada nantinya berujung bermasalah, hingga akhirnya mendorong Naura untuk berterus terang soal kehamilannya, melalui proses inseminasi tanpa menikah, pada semua orang di perusahaan.
Syukurlah, reaksi semua orang welcome dan open minded soal keputusannya. Meski tak semua orang setuju akan keputusannya, masih ada satu dua orang yang tak suka. Naura paham akan hal itu. Tak mudah membuat semua orang suka akan apa yang kita lakukan
"Maaf, ya, Kak," sambung Naura berkata memelas.
"Nggak apa-apa. Kakak juga, dalam minggu ini sibuk ngurusin pindah tugas. Jadi tak sempat juga nelepon kamu."
Kening Naura bekernyit dalam, mendengar ucapan ganjil Neil. Akan tetapi, tak terlalu dicernanya. Rasa lapar mengalahkan logikanya.Sosok manis ini duduk bersilang menikmati bekal buatannya. Ia memasak sendiri bekalnya, meski cuma mie yang dimasaknya, dicampur dengan beberapa sayuran, telur dan sosis, namun itu terlihat lezat. Lucunya, walau berada di Korea, Naura justru memakai mie bermerk Indonesia.Baru juga seminggu berada di Korea, Naura sudah rindu makan mie buatan negara sendiri. Mungkin faktor kehamilannya, membuatnya mengidam makan mie merk dari Indonesia.
"Sekarang masih sibuk?" tanya Naura.
"Gak juga. Lagi ngecek daftar pasien yang baru."
"Aku ganggu?"
"Enggak. Kakak malah senang, akhirnya kamu memberi kabar. Tadinya Kakak yang mau nelepon."
"Oh."
"Gimana kondisi kehamilanmu?"
"Baik-baik saja, Kak. Dedek bayinya sehat, akunya juga." Naura mengelus perut buncitnya dari balik blazer birunya yang terbuka - sengaja tak dikancingnya, agar memudahkannya menarik napas. Samar telinga Naura menangkap Neil mengembuskan napas lega di seberang telepon.
"Syukurlah. Ada keluhan lainnya?"
"Hmmm." Naura mengelus bibir. "Sampai sejauh ini belum ada, cuma sering muntah-muntah saja."
"Itu normal diawal kehamilan. Kalau sudah lewat tri semester pertama, kau gak akan lagi merasakan mual dan ngidam. Kau juga ngidam, kan?"
"Iya. Malah sekarang lagi ngidam makan mie buatan Indonesia." Naura mengerucutkan bibir plum tipisnya.
"Ada-ada saja kau ini, jauh-jauh merantau ke negeri orang, makannya mie." Neil terkekeh geli.
"He he he, begitulah ..." Naura mengedikkan bahu.
"Sekarang kau tinggal di mana?"
"Numpang sementara di apartemen Sunny."
Selama lima belas menit Naura menghabiskan waktu, berbicara di telepon bersama Neil. Naura mengakhiri obrolannya, ketika salah satu rekan kerja memanggilnya. Lekas Naura membereskan kotak bekal sisa makanannya.
"Sudah ya, Kak, Naura mau kerja lagi. Nanti malam aku telepon lagi."
"Oke."
🍃Dear, My Baby🍃
Sesuai ucapannya siang tadi di kantor. Malamnya, Naura kembali menelepon Neil, membicarakan soal kandungannya.
"Kakak, aku mau tanya."
"Tanya apa?"
"Kandunganku besok menginjak bulan kedua."
"Terus?"
"Aku mau check up. Tapi, aku bingung."
"Bingung kenapa?"
"Aku bingung mau check up ke dokter mana. Soalnya, aku belum pernah datang ke rumah sakit di sini (pulau Jeju), terus, bahasa Korea aku juga masih tingkatan bayi baru merangkak," cerocos Naura.
"Kalau begitu, minta antar sama Sunny saja."
"Mulai malam ini, dan seminggu ke depannya, Sunny gak ada di apartemen."
"Eh? Memangnya Sunny ke mana?"
"Dia pulang ke Indonesia sama pacarnya," jelas Naura, mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping. Sementara tangannya memainkan mata besar boneka kodok--- entah siapa yang mengirimnya, sosok manis ini tak tahu. Kemarin malam, Naura sempat cerita sama Sunny, mengidam ingin peluk boneka kodok. Keesokan paginya ia mendapatkan kiriman tanpa nama untuknya. Saat dibuka, ternyata itu boneka kodok. Ketika sosok manis ini tanya sama Sunny, apakah dia mengirimnya, Sunny jawab tidak.
"Masa gue ngirim bonekanya ke apartemen gue sendiri. Kalau mau kasih, langsung saja ke elo, gak usah sok misterius segala," jawab Sunny pagi tadi, menyisakan tanya sampai sekarang, soal siapa pengirim boneka kodok ini.
"Jadi, gimana, Kak?" tanya Sunny.
"Hmmm, kamu datang saja ke rumah sakit Universitas Nasional Jeju. Tahu, kan rumah sakitnya?"
"Tahu. Kebetulan dekat dengan kompleks apartemen Sunny."
"Besok kau datang ke bagian adminnya. Kasih saja namamu ke susternya, nanti susternya akan mengantarmu ke dokter yang bersangkutan."
"Oke. Sudah dulu ya, Kak. Kayaknya ada tamu."
"Ya."
Setelah mendengar jawaban dari seberang telepon, Naura mengakhiri panggilannya. Meninggalkan smartphone kesayangannya tergeletak begitu saja di atas tempat tidur. Lantas bergegas membukakan pintu.
__ADS_1
Siapa lagi tamu pemilik apartemen kali ini? Seketika Naura merasakan feeling tak enak.
"Kamu!!"
Naura mendengkus sebal setelah membukakan pintu.
Raka. Lagi-lagi bertamu di saat sang pemilik apartemen tak ada di sini, setelah minggu lalu juga datang ke sini. Sampai Raka pulang sendiri. Naura tak keluar dari kamarnya sama sekali. Malas berhadapan dengan pria yang pernah menancapkan luka batin padanya.
Kali ini, apa lagi alasan Raka datang ke sini?
Naura menyipitkan mata, menatap paper bag di tangan Raka.
Apa lagi yang dibawanya?
Dari bau-baunya, Naura mencium bau rendang. Seketika perutnya keroncongan minta diisi. Padahal sejam yang lalu sudah makan. Tetapi, karena mencium bau rendang kesukaannya, ia jadi lapar kembali. Apalagi semenjak tinggal di pulau Jeju ini, Naura belum tercicip sama sekali dengan makanan favoritnya itu. Makin membuat Naura kesal. Tiba-tiba saja ingin makan rendang yang dibawa Raka, bagaimana pun caranya.
Naura mencebik Ternyata, mengidam itu sungguh merepotkan. Semakin jengkel, Naura tak bisa berterus terang pada Raka, bahwa ia menginginkan rendang yang dibawanya itu.
"Pemilik apartemennya tak ada di sini. Kedua-duanya lagi pergi." Naura berkata ketus di tengah berusaha menelan ludah. Berkali-kali sosok manis ini mengibaskan tangan di hidungnya, menghalau aroma rendang yang begitu menggodanya.
"Terus?" Raka balik bertanya, membuat Naura makin jengkel akan pertanyaannya itu.Seharusnya Naura yang bertanya seperti itu, bukan pria yang menyebalkan ini. Lebih baik lagi, bila ia bisa mengusirnya.
"Yaaah, kau tahu dirilah, kalau tak ada pemilik apartemennya," jawab Naura dingin.
"Hm." Raka hanya menggumam.
"Ka--- Hei!" Naura memelotot sebal, saat Raka masuk begitu saja menuju sofa tunggal di ruang keluarga. Tak menggubris Naura yang berteriak kesal padanya.
"Kodok sialan. Dia pikir ini apartemennya, heh!" Naura mengumpat kesal. Menutup kembali pintu apartemen, segera menyusul Raka.
"Kebetulan aku bawa rendang." Raka berkata santai sambil meletakkan paper bag ke atas meja.
Mata elangnya menatap lekat Naura, berkacak pinggang di depannya. Raka nyaris tertawa lepas melihat sosok manis ini bila sedang marah padanya. Ekspresinya itu, membuatnya ingin mengunci bibir mengerucut itu dengan bibirnya.
"Dari pada berkacak pinggang begitu, lebih baik kau bawa piring dan sendok ke sini. Kita makan bersama."
"Ambil saja sendiri. Bukankah kau sudah terbiasa di sini."
"Aku lapar. Kita langsung makan saja."
"Aku tidak lapar."
"Selain rendang, aku juga bawa kimchi."
"Aku tak tertarik."
Naura memutar bola mata. Kekesalannya makin memuncak saat Raka tak menganggap ucapannya sedari tadi. Seolah-olah ia hanya berbicara dengan manekin.
"Kimchi dicampur rendang. Hm. Bagaimana rasanya ya?" gumam Raka membuka paper bag-nya.
"Yuk, makan bersama," ajak Raka. Pria ini mendongak, menatap wajah cemberut Naura.
"Naura?"
"Makan saja sendiri! Aku tidak lapar. Kau dengar?!" teriak Naura kencang. Mengentakkan kaki ke lantai meninggalkan Raka sendirian ke kamarnya.
Satu hal yang harus diketahui oleh Raka. Naura tidak bisa bersikap seperti tak terjadi apa-apa di antara mereka berdua. Ia tak bisa bersikap tenang, tak bisa mengendalikan perasaannya, emosinya, atau lainnya, seperti Raka yang begitu santai ketika mereka bertemu. Ia tak bisa.
Jujur. Ia masih sakit hati terhadap perlakuan Raka terhadapnya di masa lalu. Dan itu sangat membekas sampai sekarang di hatinya. Tidak bisa dilupakan begitu saja, semudah membalik telapak tangan.
Maafkan Mommy, Baby. Kali ini saja, kau harus mengerti. Mommy enggak bisa memenuhi permintaanmu sekarang, batin Naura mengelus sayang perutnya.
"Huft!" Berkali-kali Naura menghela, menekan perasaan tak karuan menyergap batinnya. Rasa ngidamnya lenyap begitu saja saat emosinya naik tadi. Besok Mommy janji, kita makan es krim sepuasnya. Oke, Baby.
🍃Dear, My Baby🍃
Sesuai instruksi Neil kemarin malam. Esoknya, Naura datang ke rumah sakit Universitas Nasional Jeju. Memberikan kartu namanya pada suster penjaga. Kemudian sosok manis ini diantar langsung ke salah ruang praktik dokter.
"Gamsahamnida (terima kasih)." Dengan sopan Naura membungkukkan tubuh ke suster penjaga. Setelah suster itu pergi, Naura memutar tubuh, kembali menghadap pintu yang tertutup rapat di depannya. Kemudian mengetuknya.
"Masuk."
Naura mengernyit mendengar jawaban dari dalam, bahasa Indonesia?
Selain itu, dia juga mendengar suara Neil?
Masa, Kak Neil ada di rumah sakit ini, batin Naura mengelus alisnya yang terasa gatal.
Tanpa berpikir lagi, sosok manis ini segera membuka pintu. Mata Naura membelalak lebar. Benar saja, dokter yang ditemuinya adalah Neil. Juga ....
Raka?
__ADS_1
🍃Dear, My Baby🍃
"Aku permisi dulu. Sepertinya kau punya tamu." Raka berdiri dari duduknya. Neil mengangguk paham dengan pandangannya tak pernah beranjak dari ambang pintu. Sedangkan Naura berdiri mematung menatap lekat Raka di depannya.
"Kapan-kapan kita sambung lagi pembicaraan kita," sambung Raka. Memutar tubuh proporsionalnya, berjalan santai dengan sebelah tangan masuk ke dalam saku celana Chino hitamnya. Cowok bermata abu-abu ini menghentikan laju langkahnya, tepat di depan Naura. Mencondongkan tubuhnya sedikit ke bawah, mensejajarkan dengan tinggi sosok manis ini, atau bisa di sebut dengan mantan kekasihnya tiga tahun silam.
Naura mundur selangkah, menjaga jarak dari Raka. Tak ingin sesuatu di dalam dadanya yang telah lama tak berdetak itu, perlahan-lahan berdetak kembali. Cukup beberapa hari ini, kehadiran Raka di depannya, membuatnya jadi tak menentu. Mau ini itu semua serba salah.
Tidak. Hal itulah yang Naura hindari sekarang ini. Tak ingin terpengaruh lagi akan kehadiran Raka, setelah beberapa kali mereka bertemu. Ia sudah bangkit dari rasa sakit hatinya. Sudah melupakan semua kenangan pahit itu. Meski nyatanya, hingga kini, kenangan pahit itu menjadi mimpi paling buruk untuknya.
"Kenapa mundur," bisik Raka. Suara basnya begitu menggelegar di telinga Naura, hingga membuat tubuhnya bergetar.
Naura diam tak menyahut.
"Sampai bertemu lagi," lanjut Raka berbisik, berlalu begitu saja di hadapan sosok manis ini.
Naura mengepalkan tangan begitu kuat. Samar menggerutukkan gigi. Marah. Untuk kali ini, ia takkan diam saja. Takkan ia biarkan pertemuan ini kembali terjadi. Takkan ada pertemuan selanjutnya. Sebisa mungkin Naura akan menghindarinya.
Pria sialan. Setelah menancapkan luka begitu dalam. Dia merasa tak bersalah sama sekali bertemu dengan gue. Shit. Dasar cowok bajingan. Naura mengumpat keras dalam hati. Berdo'a semoga dia tak dipertemukan kembali pada pria itu."Tunggu."
"Kau berbicara padaku?"
Raka memutar tubuh. Menatap punggung belakang Naura yang enggan untuk berhadapan dengannya.
Naura memejamkan mata sejenak, lalu membukanya dengan pandangan sedingin es kutub utara.
"Mulai detik ini. Tak usah lagi kita bertemu. Jangan lagi kau datang ke apartemen, dengan alasan apa pun." Naura berucap dingin.
Hening beberapa saat. Raka tak menjawab. Samar Naura mendengar langkah kaki serta pintu ditutup di belakangnya.
Raka pergi tanpa berucap sepatah kata pun, meninggalkan keheningan yang memenuhi ruangan full AC ini, menyelimuti sekujur tubuhnya yang tiba-tiba jadi menggigil.
🍃Dear, My Baby🍃
"Naura?" panggil Neil hati-hati - setelah lima belas menit Raka pergi dari ruangan.
Naura menengadah, segera terbangun dari rasa bergemingnya.
"Mau sampai kapan, berakting jadi patung security di depan pintuku?"
"Um..."
"Kemarilah!" perintah Neil sambil menunjuk kursi di depannya, sebelumnya di tempati oleh Raka.
Naura menghela sesaat. Lalu mengikuti perintah Neil.
"Kakak, kenapa bisa ada di sini (rumah sakit Universitas Nasional Jeju)?" tanya Naura setelah duduk di depan Neil.
"Aku direkomendasikan seseorang untuk menimba ilmu di sini."
"Aku gak ngerti, Kak."
"Maksud Kakak." Neil berdeham, menarik kursinya lebih mendekat ke meja kerjanya.
"Kakak diperintahkan bekerja di rumah sakit ini selama setahun, mempelajari tata cara kerja pihak rumah sakit di sini, kemudian diterapkan ke rumah sakit kita di Indonesia."
"Oh, begitu." Naura mengangguk kecil. Sedikit paham.
"Lalu kenapa dia juga ada di sini?" tanya Naura ingin tahu.
Neil terkekeh geli.
"Jangan ketawa begitu, Kak." Naura memutar bola mata.
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Kenapa ingin tahu tentang Raka."
"Itu ... itu ... itu ..." Naura tergagap. Sosok manis ini sendiri juga bingung, kenapa justru bertanya di luar pikirannya. Pertanyaannya tadi sama saja dengan bunuh diri. Bilangnya sudah move on dan tak mau tahu urusan mantan pacarnya. Kenyataannya ....
"Mau tahu saja atau mau tahu banget?" goda Neil, mengedipkan sebelah matanya.
"Gak usah dijawab. Anggap saja tadi hanya angin kentut yang numpang lewat."
__ADS_1