![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
Untuk kedua kalinya, ketika Naura membuka pintu pagi ini saat ingin pergi bekerja dirinya dikejutkan dengan Raka yang duduk memeluk lutut. Sosok manis ini mengerutkan dahi memperhatikan pria di samping pintunya. Sepertinya tertidur? Dilihat dari penampilannya yang tetap sama seperti semalam, sepertinya Raka tidak pulang semalaman.
Astaga. Ngapain dia tidur di sini? Mata Naura tak berkedip memperhatikan Raka dengan matanya yang terpejam. Sama sekali tidak menyadari kehadiran Naura.
"Ra---" Naura menelan kembali kata-katanya. Mengelus batang hidungnya.
Ah, masa bodoh. Mau dia tidur, kek. Mau dia guling-guling, kek. Terserah. Memang gue pikirin, huh. Dia bukan siapa-siapa lagi bagi gue.
Sosok manis ini mengedikkan bahu. Kemudian melangkah santai meninggalkan Raka yang tetap meringkuk di belakangnya. Baru beberapa kali melangkah tiba-tiba sosok manis ini memutuskan berhenti. Ia menghela napas sekilas, lantas memutar kembali tubuhnya dengan ekspresi cemberut.
Sepertinya pernyataan masa bodoh-nya itu hanya bertahan beberapa detik saja. Dengan langkah lebar-lebar sosok manis ini menghampiri Raka.
"Yaaa, kodok sawah, bangun!" Naura menendang tungkai Raka yang tertekuk. Dengan sabar sosok manis ini menunggu pria ini menggeliat sebentar.
Raka mengernyit memperhatikan sekitarnya. Otaknya mencerna di mana dirinya berada. Sedetik kemudian ia mulai mengingat semuanya. Semalam memang sengaja berada di sini, dan tanpa disadarinya justru ketiduran.
Setelah mengantar Naura sampai ke depan pintu apartemennya dan memastikan sosok manis ini benar-benar masuk, barulah dia memutar arah. Saat itulah, ketika hendak melangkah ia tidak sengaja melihat siluet Jongin yang bersembunyi. Tentu saja Raka tahu alasan pria berkulit eksotis itu. Ke mana lagi kalau bukan bertamu ke apartemen sosok manis-nya malam-malam begini.
Hell. Itu sebabnya dia sengaja menginap di depan pintu apartemen Naura, untuk menghalangi niat pria itu bertamu. Takkan ia biarkan Jongin kembali menusuknya dari belakang.
"Naura?" Raka tercengir lebar menatap sosok manis-nya yang berkacak pinggang dengan mata melotot, berdiri menjulang di depannya. Pria bermata bulat ini berdiri sembari menyugar rambutnya yang sedikit berantakan.
"Kalau mau tidur jangan di sini. Nanti kamu dikira gembel." Usai berkata ketus, Naura memutar tubuhnya. Berjalan menuju lift.
"Oh, ya? Kau mengkhawatirkanku?" Raka tersenyum lebar. Melangkah cepat menyamai langkah sosok manis ini. Memejamkan mata sejenak menikmati aroma parfume vanilla yang menguar dari tubuh Naura. Seketika membuat otaknya rileks.
"Astaga. Pagi-pagi begini kamu sudah menggigau," sindir Naura dengan bibir tersenyum miring mengejek.
"Mau kerja?" tanya Raka, tak menggubris sindiran sosok manis ini.
"Iyalah. Masa mau ke WC," sarkas Naura sembari memutar bola mata. Raut wajahnya tampak jengkel.
"Kalau begitu kuantar."
Naura menoleh cepat pada Raka. "Nggak usah."
__ADS_1
Raka hanya mengedikkan bahu. Tidak berapa lama pintu lift terbuka. Sosok manis ini pun melangkah diikuti Raka di belakangnya.
Lagi, sama seperti semalam, Naura dan Raka terjebak di dalam lift bersama pasangan kekasih yang sedang bercumbu di belakang mereka.
Astaga, kenapa sih manusia sekarang enggak ada malu-malunya sedikit. Cari kamar kek, apa kek. Errr ... benar-benar menjengkelkan deh. (︶︿︶)
Naura mencebik, bersungut-sungut kesal dalam hati sembari menunduk menatap ujung sepatu pansusnya, menyembunyikan wajahnya yang memerah sempurna. Terlebih ketika telinganya mendengar suara kecapan-kecapan dari pasangan di belakangnya ini. Ekor matanya melirik Raka di sampingnya. Berbeda dengannya, Raka tampak biasa saja, bahkan ekspresi wajahnya tetap datar sembari menyilangkan kedua tangan di dada.
Astaga! Kuatkan imanku. Naura mengelus dada. Sesekali melirik pada pasangan kekasih yang sedang berciuman hot lewat pantulan kaca di depannya. Seketika Naura menelan air liur. Entah kenapa ia jadi makin terangsang. Hormonnya kembali naik.
Ya, ampun. Apa kali ini gue bisa menahannya. Anjir. Benar-benar sialan. Sangat enggak enak kejebak kek begini.
Naura terus saja mendumel dalam hati. Kesal melihat adegan di belakangnya. Karena adegan itu ia jadi uring-uringan.
Well. Tak masalah bila dirinya punya pasangan. Langsung saja minta ML. Nah, kalau sosok manis ini. Mau minta ke siapa coba. Bermain solo? Asal tahu saja. Selama hidup sampai sekarang, sosok manis ini tidak pernah melakukan hal begituan.
Naura mencebik dengan wajah merah padam. Tanpa disadari sosok manis ini, tingkah lakunya diperhatikan lekat oleh mata elang Raka di sampingnya. Pria ini menyenggol ringan lengan Naura.
"Apa?" Sosok manis ini melotot tajam, tergambar jelas mode mood-nya 'jangan diganggu kalau masih punya nyawa cadangan' di wajah manisnya. Atau sebenarnya hanyalah kamuflase belaka, menutupi dirinya yang dalam keadaan terangsang.
"Jujur saja padaku, Naura. Kau juga ingin berciuman seperti itu. Iya, kan. He he he." Raka menaik turunkan sebelah alisnya.
Entah sudah berapa kali---semenjak bertemu kembali---dirinya menggoda sosok manis ini. Rasanya sangat senang melihat sosok manis ini marah padanya.
"Geez. Dasar kodok sawah mesum. 💢"
"Ha ha ha." Raka hanya tergelak mendengar umpatan Naura.
"Hm, tak usah sewot begitu, Naura." Raka berujar ambigu setelah menghentikan gelak tawanya.
Melarikan sebelah tangannya ke celana jeans-nya, berupaya mengalihkan gairahnya yang berkumpul di area pusar, sangat terangsang adegan panas di belakangnya. Kemarin malam dirinya bisa melewatinya. Entahlah bila untuk yang kedua kalinya ini. Ia tak menjamin dirinya sendiri.
Shit. Sepertinya aku butuh pelampiasan segera.
Raka berkali-kali berdeham di tengah mengumpat dalam hati. Sesekali tubuhnya menggeliat, mencoba menurunkan libido-nya yang menumpuk di bawah pusarnya itu.
Sosok manis ini memiringkan kepala. Dahinya berkerut samar saat mendengar berkali-kali pria ini berdeham tidak nyaman.
__ADS_1
"Maksudmu aku sewot?" Naura menaikkan sebelah alis simetris-nya. Mengabaikan ekspresi Raka mulai berubah. Tidak lagi menjadi datar.
"Yaaah, gini nih. Ditanya dikit saja sudah marah." Raka menjawab santai.
Samar mengembuskan napas lega kala bisa mengenyahkan sedikit rasa gairahnya. Dengan terus memancing sosok manis ini marah-marah padanya, bisa mengalihkan hasrat seksualnya.
Naura memutar bola mata. Mendengkus kesal tak kentara. "Ya, terserah aku dong, mau sewot apa kagak. Nggak ada hubungan juga denganmu kali."
"Well, itu hanya alasanmu saja." Raka menyeringai.
"Apa katamu!!" Naura mendelik tajam.
Sekuat tenaga Naura menginjak kaki Raka, hingga mengaduh kesakitan. Suaranya yang begitu kuat dan besar sukses mengacaukan kesenangan pasangan hot di belakang mereka. Sontak pasangan itu memisahkan diri dengan wajah merah padam.
Melihat pasangan di belakangnya. Samar sudut bibir sosok manis ini tersenyum senang.
Aih, coba deh dari tadi gue pakai cara kek begini. Gue injek terus kaki si kodok sawah ini biar pasangan mesum di belakang nyadar diri. He he he. (=^▽^=)
Untuk kedua kalinya, karena ketagihan Naura berniat hendak menginjak kembali kaki Raka. Namun sayangnya, dijegal oleh pria ini terlebih dulu. Sosok manis ini pun nyaris saja terjungkal ke belakang. Beruntung Raka dengan sigap menarik pinggangnya, hingga dengan sukses jatuh ke dalam pelukannya.
"Lepaskan aku, bodoh." Naura berontak dalam dekapan Raka.
Pria ini terkekeh samar tepat di telinga sosok manis ini hingga membuat tubuhnya merinding. Seakan mengerti bahasa tubuh Naura yang tak nyaman dipeluknya, Raka segera melepaskan rengkuhannya di pinggang sosok manis ini.
Masih terkekeh geli Raka menggoda sosok manis ini. "Biasa saja, Naura. Tidak usah kepancing begitu. Kita sudah sama-sama dewasa. Bila kau memang butuh pelamp---"
"Main saja sendiri, nappeun namja, huh 💢 (pria berengsek)." Naura mengumpat keras tepat di depan wajah Raka bersamaan pintu lift terbuka. Seolah memiliki kekuatan ninja, sosok manis ini memelesat meninggalkan Raka dalam hitungan detik saja.
Hmmm. Sebaiknya Naura pindah apartemen secepatnya. Bila terus-terusan tiap hari melihat adegan panas begini bisa bahaya. Tidak baik buat mata dan perkembangan janinnya.
Raka mengelus dagu sembari melirik sekilas pada pasangan di belakangnya yang bergandengan tangan ke arah lain sebelum akhirnya ia pun melangkah mengikuti Naura.
__ADS_1