![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
"Percaya padaku, aku takkan mencuri atau berbuat apa pun pada majikan kalian." Naura berujar tegas, meyakinkan pada dua security di depannya. Nada suaranya pun tidak terdengar gugup sedikit pun - meski bahasa Koreanya masih belum lancar dan terbata-bata. Irisnya menatap penuh harap pada dua pria warga asli Korea yang saling berpandangan itu, agar mengizinkannya masuk ke rumah mewah ini.
Sebelumnya, dua jam yang lalu, ketika dirinya masih bekerja tadi. Neil meneleponnya, memberi tahunya bahwa pria bermata bulat itu sakit selama semingguan ini. Pantas saja ia tidak pernah melihat batang hidung Raka di sekitarnya. Ternyata masih sakit. Dia pikir pria dengan sifat dominannya itu sudah menyerah atas niatnya. Itu mengingatkannya akan kejadian beberapa bulan yang lalu, ketika semingguan tidak melihat Raka.
Tak ingin kejadian itu terulang kembali, lagipula Raka sakit karena dirinya. Tanpa berpikir lagi, sepulang dari bekerja Naura bergegas pulang ke apartemen tanpa menghiraukan ajakan Jongin untuk mengantarnya pulang. Yang dilakukannya saat ini tentu saja memasak bubur hangat kesukaan Raka---dahulu ketika mereka masih berpacaran, ketika sakit pria itu sering sekali memintanya membuatkan bubur---lalu kembali ke rumah Raka secepatnya.
Satu hal yang sosok manis ini tak habis pikir pada pola pikir pria dengan body goals-nya itu kenapa setiap sakit, pria itu tidak mau dirawat di rumah sakit. Bahkan menurutnya itu lebih baik ketimbang dirawat di rumah yang tentu saja takkan ada yang merawatnya. Serta jauh dari perhatian kedua orang tua. Tapi, kembali lagi pada sifatnya yang tidak mau diatur. Apa yang menurutnya baik baginya, tentu saja baik. Padahal belum tentu baik bagi orang lain.
Sama seperti pilihannya. Kadang wanita muda ini bertanya dalam hati. Pilihannya ini sudah tepatkah? Membesarkan anaknya tanpa menikah? Tidak menerima permintaan Raka. Tidak memberi kesempatan Raka memperbaiki kesalahannya. Semuanya sudah tepatkah?
"Kumohon, Pak." Naura berujar lagi, memecahkan keheningan di ruang yang penuh dengan layar monitor CCTV di seluruh penjuru rumah mewah ini.
Salah satu dari security dan terlihat lebih muda ini menggaruk bagian belakang kepala sambil berpikir. Sekali lagi menatap sosok wanita muda ini di depannya. Baik dia dan rekannya ini bimbang. Tidak ada pesan atau instruksi apa pun terkait wanita hamil di depannya ini dari boss besarnya. Hanya berpesan harus izin terlebih dahulu bila memasuki kediamannya ini. Sementara untuk saat ini sang boss besar hanya ingin sendiri dan tak ada yang boleh mengganggunya kecuali Neil. Dokter muda itu diizinkan keluar masuk selama semingguan ini.
"Kumohon, Pak," pinta Naura memelas. Sekali lagi berusaha meyakinkan dua pria di depannya ini. Sekilas irisnya menatap pada paper bag di sampingnya. Meremat ujung coatnya. Bila setengah jam lagi tidak diizinkan masuk, mungkin bubur buatannya akan mendingin dan tidak enak untuk dimakan lagi. Dan sepertinya dirinya pun akan menyerah, pulang kembali ke apartemen dengan harapan kosong.
"Bukankah boss kalian sudah seminggu ini sakit?" Naura mengelus perut buncitnya. Terlihat jelas kerutan di dahi wanita muda ini ketika meringis manakala bayinya menendang. Seolah merasakan apa yang dirasakannya saat ini.
"Memang betul." Salah satu security yang lebih tua menjawab usai meneguk minuman kopinya.
"Dan biarkan aku menengok boss kalian."
"Tidak usah repot, Aga---"
"Aku tidak repot," sergah Naura buru-buru memotong ucapan pria berambut cepak di depannya. Pandangannya semakin memelas dengan memancarkan puppy eyes andalannya. Andaikan saja yang berada di depannya ini adalah Raka, Neil, atau pun Sunny mungkin akan luluh seketika melihatnya. Apakah kali ini juga berhasil pada kedua penjaga keamanan di depannya ini? Sosok manis ini juga berharap begitu.
Salah satu dari security itu berdeham. Kemudian saling berpandangan. Mereka lalu mengangguk. Melihat penampilan wanita muda ini sepertinya tidak akan membahayakan bagi boss mereka saat ini. Ingatan mereka kembali ke beberapa bulan yang lalu. Wanita muda ini pernah berkunjung ke sini. Dan ketika mendengar nama sosok manis ini, boss besar mereka langsung menyuruh mereka untuk mengizinkannya masuk dengan suara terdengar begitu bahagia. Seolah sang boss akan menyambut kepulangan kekasih hati ke rumahnya.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu ..."
Sosok manis ini menarik napas lega mendengar salah satu dari security itu sepertinya luluh akan permintaannya.
"...tapi, kami harus memint---"
"Jangan!" Tiba-tiba saja sosok manis ini menjerit dengan suara melengking layaknya penyanyi diva dunia sedang melakukan pertunjukkan konsernya. Kedua laki-laki di depannya nyaris melompat saking terkejutnya. Bahkan salah satu dari mereka hampir menumpahkan gelas kopi ke pahanya.
"Kurasa tidak usah. Aku tidak ingin membangunkan boss kalian yang lagi sakit," imbuh Naura sembari menyelipkan poninya yang menjuntai ke samping telinga kanannya. Ia berdeham dengan wajah merah merona, sedikit malu dengan lengkingan suaranya tadi.
"Tap---"
"Percaya padaku." Naura kembali memotong ucapan salah satu laki-laki di depannya. "Dan andaikan saja kalian dimarahi oleh boss kalian, katakan saja aku menyuruh kalian. Jadi ... berikan saja kunci rumahnya padaku.”
Kedua pria ini saling berpandangan sekilas. Tampak raut wajah mereka sedikit ragu. Tetapi melihat ekspresi polos serta wanita muda ini dalam keadaan hamil yang mungkin saja takkan berbohong. Mereka akhirnya luluh dan memberikan kunci rumah pada Naura dengan harapan semoga mereka tidak dipecat oleh boss mereka setelah memberikan kunci rumah ini.
Dengan sangat hati-hati Naura membuka kunci kamar paling besar di antara kamar lainnya yang terletak di lantai dua. Kamar utama di rumah mewah ini, setelah sebelumnya sosok manis ini bertanya terlebih dahulu pada penjaga keamanan di mana letaknya. Dia memang pernah sekali ke rumah ini. Tetapi itu hanya sebatas di ruang tamu dan tidak lebih dari satu jam berada di rumah ini.
Ketika membuka pintu kamar, hal yang pertama kali menyambut sosok manis ini adalah aroma mint bercampur musk khas pria bermata bulat itu dengan bibir sensualnya yang sering seringkali melontarkan godaan untuknya, serta cahaya kamar yang tampak remang-remang. Cahayanya hanya bersumber dari cahaya bulan yang mengintip dari balik tirai jendela yang dibiarkan terbuka lebar. Bagaikan dekapan hangat seorang ibu yang membuai sang buah hati dalam tidur nyenyaknya.
Dalam cahaya remang-remang itu Naura menyipitkan mata, membiaskan penglihatannya pada sosok tampan yang terbaring lemah di atas tempat tidur berukuran king. Iris wanita muda ini kemudian beralih pada sekitarnya, seolah menelisik ruangan ini tanpa ada yang tertinggal layaknya seorang detektif mencari bukti.
Ini untuk pertama kalinya, ia menginjak kamar pribadi pria yang suka sekali olahraga setiap paginya ini. Tak ada yang istimewa dan spesifik dari kamar---yang menurut Naura---selain kemewahan dengan harga selangit yang ditampilkan di kamar bernuansa golden itu. Dari tirai serta funiture-nya semuanya kuning keemasan. Dindingnya dibiarkan berwarna biru polos tanpa ada hiasan di sana. Tak ada lukisan layaknya menghiasi kamar-kamar mewah kaum elit, sebab Raka memang tidak suka dengan lukisan. Meski pria dominan itu sangat suka dan menghargai nilai seni, tetapi---terkhusus---untuk kamarnya, Raka lebih suka kamarnya dibiarkan polos.
__ADS_1
Sejenak menahan napas kala sosok manis ini berusaha menyeret langkahnya menuju nakas di samping tempat tidur, berusaha tidak mengusik Raka yang tertidur pulas, dan tentunya setelah memastikan pria itu takkan bangun olehnya. Naura meletakkan paper bagnya. Kemudian memutar tubuh menghadap Raka. Lama ia memandang wajah bak pahatan patung dewa yunani di bawah sinar rembulan yang memayunginya. Sosok manis ini bergeming. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Ekspresinya tidak terbaca dalam cahaya remang-remang itu.
Setelah lima menit berlalu hanya diam berdiri bagaikan manekin di etalase butik, akhirnya Naura memutuskan untuk duduk di sisi tempat tidur Raka, usai melepas coat merah muda yang harganya nyaris menyamai gajinya. Coat yang dibelikan oleh Raka. Setengah bulan yang lalu ketika dia iseng pergi berbelanja ke butik untuk melihat baju-baju resmi ke pesta - mengingat persediaan pakaian pestanya hanya dua buah saja memenuhi lemari kecilnya. Saat itulah ia tak sengaja melihat coat yang mencuri hatinya. Ketika melihat harga di baliknya. Sosok manis ini hanya bisa menelan air liur.
"Well, Baby. Mommy hanya bisa bermimpi punya coat ini. Saat ini dan di masa depan, kebutuhanmu-lah yang nomor satu," gumam Naura kala itu sembari mengelus perut buncitnya.
"Tapi ... setidaknya elus-elus coat-nya saja biar nggak ngiler dan kebawa mimpi, he he he, (=^▽^=)" sambungnya terkekeh geli sambil memeluk coat yang dipajang dalam manekin itu. Setelah puas Naura keluar dari butik dengan tetap membeli pakaian. Karena di butik ini tidak ada pakaian pesta menurut seleranya, jadilah ia hanya membeli pakaian dalam saja.
Puas berkeliling, Naura singgah di cafe depan butik tadi, meminum cokelat panas kesukaannya. Ketika asyik menikmati minuman cokelatnya, entah dari mana datangnya, Raka telah duduk santai di depannya dengan senyum mempesonanya.
"Buatmu.” Raka menyodorkan paper bag ke hadapan sosok manis ini. Dahi Naura mengernyit menatap paper bag di depannya.
"Apa itu?" tanyanya tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Nanti kau tahu sendiri. Setidaknya, tidak membuatmu ngiler dan kebawa mimpi lagi. Serta menggantikanku memeluk tubuhmu untuk sementara waktu, sebelum kita resmi menikah." Seperti biasa pria ini berkata penuh percaya diri.
Naura tersenyum tipis manakala mengingat kenangan setengah bulan yang lalu itu sembari melipat coatnya dan meletakkan di samping duduknya. Sedikit menggeser duduknya---lebih mendekat---pada Raka. Dengan pelan menyibak poni yang sedikit menutupi dahi pria ini, lalu meletakkan telapak tangannya di atas dahi lebar dan sedikit berkeringat itu. Memeriksa suhu tubuhnya. Samar sosok manis ini mengernyit saat merasakan telapak tangannya terasa terbakar. Cepat ia meraih tasnya, mencari plester kompres demam untuk dewasa yang memang selalu sedia di dalam tasnya ke mana pun ia pergi. Lantas meletakkannya di dahi Raka, sekilas pria ini mengernyit dan bergumam tidak jelas. Sedetik kemudian kembali tenang.
Sembari menunggu suhu di tubuh Raka menurun, dengan telaten sosok manis ini menyeka keringat yang bermunculan sebesar biji jagung di pelipis pria ini memakai sapu tangan miliknya. Setelah berhasil menyingkirkan bulir-bulir keringat di dahi Raka untuk sementara waktu. Naura menoleh pada paper bag di atas nakas dan mengeluarkan isinya. Ia menghela. Buburnya mulai sedikit mendingin, tidak sepanas ketika datang kemari. Kemudian irisnya kembali melirik Raka di sampingnya. Sosok manis ini mengetuk tempat buburnya, menimbang dalam hati. Apakah sebaiknya dibangunkan atau dibiarkan saja. Tetapi, bagaimana kalau Raka belum makan apa pun sejak pagi tadi, atau mungkin dari kemarin?
Iris Naura kemudian beralih pada jam tangannya. Baiklah. Ia telah memutuskan. Lima belas menit--- atau paling lama setengah jam lagi, membangunkan pria ini untuk mengisi perutnya, sembari menunggu suhu di tubuhnya benar-benar turun.
Sembari menelusuri rahang tegas Raka, sosok manis ini berkata, “get well soon, kodok sawah. (,,◕ ⋏ ◕,,)”
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1