![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
"Kau kenapa, Na?"
"Eh? Ah? Ya?" Naura tergagap. Ia mendongak. Irisnya segera beradu pandang dengan iris hitam pekat milik Richard di depannya. Sosok manis ini tersenyum canggung. Menyelipkan poninya ke samping telinga. Wajahnya memanas. Ia malu ketahuan melamun di tengah istirahat makan siang. Padahal atasannya ini sudah susah payah mengajaknya makan di kawasan kota Jeju di resto Samseonghyeol Haemultang, yang terkenal menyajikan hidangan laut dengan menu andalan gurita yang masih hidup atau disebut Sannakji.
Ketika pertama kali melihat menu ini Naura bergidik ngeri. Ia pun menolak untuk memakannya. Dan lebih memilih memakan jenis seafood lainnya yang sesuai dengan isi perut dan lidahnya. Kerang atau kepiting besar menurutnya lebih baik. Berbanding dengan sosok manis ini, Jongin sangat menikmati menu gurita hidup itu.
"Maaf? Apa yang kau katakan tadi, Rick?" Naura meringis ketika Jongin dengan lahapnya memakan tengtakel yang masih bergerak-gerak di sumpit pria berkulit cokelat ini. Cepat wanita ini mengalihkan perhatiannya ke atas piring ketika irisnya menangkap potongan tengtakel gurita yang bergerak-gerak di sudut mulut atasannya - sebelum isi perutnya melonjak naik ke atas dan mengeluarkan semuanya.
Richard menelan potongan tetangkel gurita setelah mengunyahnya sekilas. Kemudian meminum beer untuk menghangatkan perutnya. Pria ini kembali menatap wajah manis Naura yang sedikit memerah itu setelah meletakkan gelas beernya. Ia menghela napas pendek. Melihat ekspresi datar sosok manis serta sedari tadi tampak melamun, sepertinya dia salah membawa wanita ini ke sini.
"Kau kenapa? Kulihat sedari tadi terlihat tidak nafsu makan."
"Itu ..." Naura kehabisan kata, tak menyangka Richard akan memperhatikannya.
"Apa tidak suka dengan menunya?"
"Enggak, kok." Naura menggeleng cepat. "Aku suka menunya. Seafood termasuk menu favoritku, kecuali ... gurita hidup, he he he." Sosok manis ini tercengir lebar.
"Tapi, kalau guritanya sudah dimasak, aku mau memakannya, kok. He he he. Maaf, aku nggak bermaksud untuk menyinggungmu," tambah Naura cepat. Tak ingin pria di depannya ini salah paham karena sikapnya. Jujur, sosok manis ini memang tidak suka dengan makanan gurita hidup. Seumur hidup belum pernah makan yang beginian. Cuma sering saja melihat di drama-drama Korea. Dan hari ini ia tak menyangka akan langsung melihat makanan gurita hidup ini langsung.
Richard tersenyum dan mengedikkan bahu. "Tidak masalah. Aku mengerti."
"Terima kasih."
"Atau kau ingin makan yang lainnya? Panggil saja pelayannya kalau kau mau," sambung Richard lagi sembari menyingkirkan gurita hidup ke sampingnya. Ia lebih menghormati sosok manis di depannya ini.
"Enggak. Gak usah." Naura menolak. "Kepiting besar ini saja sudah cukup, kok," imbuhnya sambil menunjuk kepiting besar di depannya.
"Atau kau sebenarnya sakit?" tanya Richard khawatir.
"Enggak. Aku gak sakit, kok. Benaran. Gak bo'ong,” kata sosok manis ini meyakinkan.
"Syukurlah. Semoga saja memang begitu," sahut Richard memperhatikan lekat wajah memerah Naura.
"En." Sosok manis ini mengangguk kecil. Sedikit risih dalam duduknya kala mata elang Richard hanya tertuju padanya. Diraihnya smartphone di sampingnya, berpura-pura mengecek sosmednya.
"Naura," panggil Richard saat keheningan melanda mereka sekitar dua menitan.
Sosok manis ini menengadah dan meletakkan smartphonenya ke atas meja sebelum menjawab panggilan Richard. "Ya?"
__ADS_1
Richard menarik napas dalam-dalam. Mata elangnya menatap lekat iris cokelat Naura yang berpenda-pendar bagaikan kunang-kunang di dalam hutan. "Bagaimana dengan kandunganmu?"
Naura meremat ujung coatnya di bawah meja. Baik Richard dan Raka sama saja. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini bermuara nantinya. "Baik," jawabnya singkat sembari mengelus perut buncitnya.
"Naura, apa kau sudah memik---"
"Maaf, Rick. Aku belum berpikiran untuk menikah sekarang," potong Naura cepat. Sangat paham akan perkataan yang akan dilontarkan oleh Richard itu.
"Aku ..." Sosok manis ini menarik napas dalam. "...kurasa kau---" Naura menghentikan ucapannya manakala hidungnya mencium aroma maskulin persis di sampingnya. Tanpa melihatnya ia sudah tahu. Naura menghela napas pendek. Siapa lagi kalau bukan Raka. Si kodok sawah mesum.
"Aku bisa mentraktir kalian berdua makan di tempat yang lebih bagus dari ini, sekelas restoran bintang lima!" seru Raka penuh penekanan. Mata elangnya melihat tempat di sekitarnya. Sudut bibirnya tersenyum miring penuh sarkasme. Sebenarnya Raka bukan bermaksud menghina tempat ini. Hanya saja ingin menyindir saingan cintanya ini. Ditatapnya lekat Richard dengan ekspresi masam melihat wajahnya. Keduanya saling berpandangan tajam.
Sudah kuperingatkan padamu,Richard. Jangan mendekati milikku. Raka melotot sembari berbicara lewat tatapannya.
Cih, aku tak peduli dengan peringatanmu. Naura bukan milikmu seutuhnya. Sebelum menjadi istri orang, dia milik siapa pun. Richard pun tak mau kalah berdialog dalam hati lewat tatapannya.
🍃Dear, My Baby🍃
"Mau kuantar pulang?" suara Richard mengagetkan Naura ketika berada di lobi perusahaan. Sosok manis ini menoleh cepat ke belakang. Ia tersenyum canggung memperhatikan Richard yang mengapit tas kecilnya, sementara sebelah tangan lainnya berada di saku celana slim fit hitamnya. Pria ini begitu tampan dengan setelan kemeja putih polosnya. Namun kendati wajahnya tampan atau penampilannya yang elegan, yang mampu membuat kaum hawa menjerit kesetanan di dekatnya, tetapi tetap tak mampu menggoyahkan hati sosok manis ini - menaruh hati lebih dari sekedar atasan dan bawahan, tidak lebih.
"Um, enggak usah, terima kasih saja," tolak Naura halus. "Soalnya aku sudah pesan taksi online. Gak enak dibatalin," sambungnya memberikan penjelasan. Lagipula dia tidak langsung pulang ke apartemen. Sebelumnya sudah ada janji dengan Neil untuk pemeriksaan rutin kandungannya di tempat praktek dokter muda ini.
Richard mengangguk paham. "Oh ... kalau begitu, biarkan aku menemanimu sampai taksi-nya datang."
"Eung ..." Naura hanya menggumam samar. Tidak terlalu menggubris ucapan pria ini. Ia justru tertarik menggulirkan bola matanya kesana kemari memperhatikan sekelilingnya. Mungkin saja ada penampakan kodok sawah. Entah mengapa akhir-akhir ini kehadiran Raka membuatnya jadi terbiasa menerimanya. Sedetik kemudian sosok manis ini menghela napas panjang. Samar ekspresi wajahnya tampak kecewa. Entah mengapa ia sedikit merasa kehilangan saat merasakan tak ada tanda-tanda kehadiran pria bermata bulat itu di sekitarnya.
Huft. Ke mana perginya si kodok sawah, ya ? (︶︿︶)
🍃Dear, My Baby🍃
Naura tak menyangka akan bertemu Raka di tempat praktek Neil malam ini. Pantas saja pria ini tidak berada di sekitarnya beberapa jam yang lalu. Ternyata ada di sini.
"Naura." Raka dan Neil berbicara bersamaan ketika sosok manis ini berjalan menuju kursi di samping Raka.
Ngapain dia di sini? Sosok manis ini mengerutkan dahi menatap wajah tampan penuh senyum semringah Raka. Seolah bersiap menanti kehadiran sang pengantin wanita dari balik pintu pada saat acara akad nikah.
"Kenapa ti...haaachim...telepon aku dulu, hum. Aku bisa...hachim...menjemputmu." Raka berujar di tengah dirinya bersin sembari menutup mulut, tak ingin dua orang yang berada di ruangan sama dengannya tertular virus. Terutama untuk sosok manisnya.
Naura memutar bola mata akan ucapan Raka. Bosan mendengarnya. Bagaikan dirinya seorang remaja tanggung yang ke mana pun harus melapor pada kedua orang tuanya.
"Ngapain kamu di sini?" Naura berkata sengit, alih-alih menjawab pertanyaan Raka - yang akan selalu bertanya seperti itu ketika mereka bertemu. Ia menyelipkan poni ke belakang telinga setelah mendudukan buttnya di samping pria ini.
Pria muda ini menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan sosok manisnya.
"Ada sedikit urusan," katanya berusaha menahan untuk tidak bersin terlalu keras. Ketika berbicara mata elang Raka segera beralih pada Neil untuk tidak membicarakan apa pun. Lewat tatapannya sepertinya dokter muda ini keberatan akan kode dari Raka.
"Hum---"
__ADS_1
"Kau ingin memeriksakan kandungamu, kan," sela Raka memotong ucapan---atau hanya gumaman dari sosok manis-nya. Pandangannya segera tertuju pada perut buncit Naura di balik gaun hamilnya.
Naura melirik ke arah Neil meminta jawaban. Sebenarnya ia malas berkonsultasi soal kehamilannya bila ada Raka di sini.
"Ya, memang tujuan Naura datang ke sini karena hal itu." Kali ini Neil yang menyela.
Wanita muda ini melotot mendengarnya. "Kak---"
"Tidak apa-apa." Dokter muda ini mengedipkan sebelah mata. "Bagus juga untuk Raka tahu. Bukankah dia ayah kandungnya? Sesekali perlu dilibatkan soal beginian."
🍃Dear, My Baby🍃
"Na, maafkan kakak soal semalam. Sungguh kakak enggak bisa berbuat apa pun semalam." Neil berkata penuh sesal kala mengingat dirinya tidak bisa datang di tengah cuaca buruk ke tempat sosok manis ini - setelah mereka menyelesaikan acara konsultasi kehamilan Naura. Ditatapnya lekat iris wanita muda ini.
"Enggak apa-apa, kok, Kak." Naura tersenyum. Ekor matanya melirik Raka di sampingnya, sibuk memainkan smartphonenya. Ia yakin, sedari tadi dia berkonsultasi dengan Neil, Raka mendengar semuanya.
"Lagipula, ada dia kok semalam," lanjut Naura dengan menekankan kata 'dia' sedikit keras, sengaja. Benar dugaannya. Raka menghentikan kegiatannya. Kemudian memasukkan benda persegi panjang itu ke dalam saku hoodienya.
"Syukurlah," balas Neil lega, lalu beralih menatap wajah tampan Raka sedikit merah dan berkeringat. "Oh, jadi begitu ceritanya, pantas saja kamu hari ini datang padaku," lanjut dokter muda ini berujar ambigu.
Naura mengerutkan dahi tak mengerti. Sementara Raka melotot tajam pada Neil yang sepertinya gatal ingin menceritakan perihal kedatangannya hari ini ke tempat praktiknya pada wanita muda di sampingnya ini.
"Sepertinya urusanku sudah selesaikan, Kak?" tanya Naura.
"Ya." Neil mengangguk singkat. "Terus jaga kesehatanmu dan kandunganmu, ya. Jangan terlalu lelah."
"Ho'oh. Sudah pasti itu." Naura berdiri diikuti Raka di sampingnya.
"Tuh, dengar kata Neil. Kau jangan terlalu lelah. Dengan bekerja hampir pulang malam begini pun juga bisa membuat kondisimu tidak baik. Berhentilah bekerja," timpal Raka bersedekap penuh percaya diri, seolah dirinya punya pegangan kuat untuk mempertegas ucapannya pagi tadi.
Naura memandang datar pada tembok di depannya. Menjawab pun percuma, lebih baik diam saja.
"Kau juga, Bro. Jaga kesehatanmu." Pada akhirnya Neil tak mampu lagi menahan kata-kata yang sudah berada di ujung lidahnya - sedari tadi gatal ingin di keluarkan. Pria bermata sipit ini menepuk pundak Raka berulang kali.
"Terutama kepalamu yang sedikit terbentur itu. Tapi syukurlah tidak terjadi apa pun, hanya luka ringan dan memar sedikit. Beruntung sudah diobati oleh Naura, iya, kan." sambung Neil cepat dan panjang lebar, seolah memberi tahu sosok manis di depannya---memasang wajah terkejut---agar tidak terlalu khawatir.
"Iya, aku tahu." Raka menjawab dengan nada sedikit kesal. Padahal sudah diperingatkan pada dokter muda ini untuk tidak berbicara apa pun pada wanita-nya ini. Sudah pasti sosok manis ini akan berpikir soal semalam. Dan itu memang benar. Karena hujan semalam, ia jadi sedikit demam. Yang awalnya tubuhnya memang tidak dalam keadaan fit, jadi makin parah karena berhujan-hujanan
Sementara itu. Naura yang mendengar ucapan Neil seketika menatap lekat wajah Raka, menelisiknya, sedari tadi dia memang tidak terlalu memperhatikannya. Memang benar. Wajah pria ini begitu merah.
Ternyata si kodok sawah juga bisa demam, eoh.
“Tidak perlu cemas, cuma flu doang. Bentar lagi sembuh.” Raka tiba-tiba menepuk pucuk kepala sosok manis ini. Kemudian berjalan duluan meninggalkan Naura dan Neil di belakangnya, menatap punggung lebarnya.
“Siapa yang cemas,” gumam Naura, meski ucapan yang meluncur dari belah bibirnya bertolak belakang dengan kata hati yang sebenarnya.
__ADS_1
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.