![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
Ketika Limousine itu berhenti tepat di depan villa mewah, matahari telah berada di atas kepala. Ternyata perjalanan yang ditempuh dari kantor lama Naura ke villa pribadi Mr. Brown memakan waktu satu jam lebihan. Mempertimbangkan fakta bahwa dirinya berada di kediaman pribadi kakak kandungnya, Naura seharusnya tidak mencurigai apa pun.
Menggigit bibir. Menyingkirkan perasaan tak enak merayap di hati, ketika mengingat wajah cemas kekasihnya sembari mengelus perut buncitnya---entah kenapa ikut-ikutan merasa mulas. Tidak, ia rasa sepanjang perjalanan menuju kemari perutnya terasa tidak enak. Sekembalinya dari villa, ia meminta Raka untuk menemaninya periksa ke dokter kandungan. Sudah seharian ini perutnya teras mulas, tapi tidak ingin buang air besar.
Menghela napas. Mengelus perut buncitnya. Dalam hati meminta maaf pada Raka. Mungkin dirinya bisa meminjam charger pada Mr. Brown ketika sampai di dalam nanti dan segera menghubunginya.
“Naura?”
“Hum.” Naura hanya menggumam ketika Mr. Brown memanggilnya dan membuka pintu untuknya lebar-lebar. Menyampirkan Flapbag bercorak hitam ke bahunya, dengan langkah pasti, menurunkan kedua kakinya dari mobil.
Memandang sekilas bangunan mewah di depannya--takjub pada bangunan villa yang dibentuk seperti kastil mini ala eropa abad pertengahan itu. Naura pun mengikuti langkah Mr. Brown menuju pintu ganda berbahan kayu jati dengan dicat warna cokelat tua, tertutup rapat itu. Mr. Brown menghentikan laju langkahnya ketika berada di depan pintu ganda tersebut.
Begitu pun dengan Naura, berhenti di belakangnya. Beberapa saat kemudian pintu ganda itu terbuka lebar menampilkan pasangan tua. Dilihat dari raut wajahnya, kedua orang tua itu berasal dari Indonesia.
“Oh, tuan sudah datang.” Wanita tua itu menyapa Denny sembari membungkukkan tubuhnya. Naura membungkuk sekilas pada wanita dan lelaki tua itu ketika dirinya melewati keduanya. Wanita tua itu mengikuti langkah Denny, sementara suaminya menutup pintu dan menghilang ke arah dapur.
“Bagaimana keadaan Theresia?” tanya Mr. Brown langsung, menghentikan langkahnya di tengah ruangan sambil menengadah ke lantai dua.
“Nona ...” Wanita tua itu melirik sekilas pada Naura, ragu-ragu untuk berbicara.
“Katakan saja, Bi,” sergah Denny melihat keraguan di mata wanita tua itu.
“Eum ... nona tidak mengamuk lagi setelah tuan pergi tadi.”
Denny menarik napas lega. Menoleh sekilas pada Naura. “Ikut aku,” katanya. Kembali berjalan, dengan langkah tegas menapaki satu persatu tangga di depannya.
“Eum, Bi ... boleh pinjem cas-an nggak?” tanya Naura nyaris berbisik.
“Boleh. Tapi lihat dulu HP-nya, takut nantinya nggak semasukan.”
Naura segera mengeluarkan benda kesayangannya dan memberikannya pada wanita tua itu.
“Oh, kayaknya semasukan deh, Non. Bibi langsung cas aja, ya, Non. Nanti, ambil aja di situ.” Wanita tua itu menunjuk meja telepon di sudut sofa.
Naura mengangguk “Makasih ya, Bi.”
Setelahnya, buru-buru wanita muda ini mengikuti langkah Mr. Brown telah setengah perjalanan tangga. Pria paruh baya itu menghentikan langkahnya tepat berada di kamar nomor dua. Membalik badannya. Menatap Naura juga berhenti.
Menarik napas pendek. Mr. Brown membuka pintu kamar dengan hiasan Teddy Bear menggantung di pintu bercat krem. Teddy Bear, Naura sangat ingat jelas boneka kesayangan kakaknya ini. Dalam hati jadi bertanya, apakah Theresia masih suka mengoleksi boneka besar berwarna cokelat tua itu.
Naura menengadah ketika Mr. Brown menepuk bahunya. Kemudian mengikuti ke mana arah tunjuk Mr. Brown tertuju. Seketika ia membeku manakala menatap sosok rapuh Theresia di atas tempat tidur. Memunggunginya. Menatap fokus ke luar jendela.
“Bicaralah baik-baik.” Untuk kedua kalinya Mr. Brown menepuk bahu Naura. Menutup pintu dan meninggalkan hanya dua kakak beradik saja di kamar bernuansa serba pink.
Samar Naura tersenyum. Selera Theresia tetap sama seperti dulu. Jadi ingat ketika mereka masih kanak-kanak. Theresia bermimpi ingin hidup seperti puteri dalam dongeng. Dan sepertinya impian gadis berambut cokelat sebahu itu terkabulkan. Ia hidup bersama Mr. Brown yang kaya raya tanpa kekurangan apa pun.
Dengan langkah pelan, bahkan rasanya ia tidak menapak di lantai ketika berjalan. Menghampiri Theresia.
“Kak---”
“Apa kau berubah pikiran?”
Naura menghentikan laju langkahnya. Menatap rambut cokelat yang tergerai di depannya, bergerak-gerak tertiup angin.
Mengerutkan dahi dan mengelus perutnya. Lagi-lagi terasa sakit. Naura menatap lekat punggung ramping Theresia. Gadis itu masih belum membalik tubuhnya, menatapnya. “Maksud Kak Tere?”
“Jangan berpura-pura enggak tahu, deh.” Theresia membalik tubuhnya. Naura terhenyak menatap kondisi saudara kandungnya. Sangat tidak baik. Rambut acak-acakan. Mata bengkak dan berkantung.
“Kau ke sini pasti ingin menyerahkan Raka padaku, kan. Dan membatalkan pernikahan kalian.” Theresia berkata yakin dengan pandangan tajam menusuk.
Naura meremat ujung blazer-nya. Pandangannya menyendu. Sungguh ia prihatin pada kakaknya. Sebegitunya menginginkan calon suaminya?
“Kakak, maafkan aku. Soal itu---Kakak pasti mengerti, itu gak mungkin.”
“Jadi, kau datang ke sini hanya ingin melihatku sengsara begitu, kan. Hanya ingin mengolok-olokku, kan. Sialan!”
Theresia melemparkan bantal ke arah Naura. Bunyi gedebugh pada bantal yang mengenai kepala Naura begitu terdengar lantang di ruangan yang sunyi ini. Wanita muda ini menahan napas. Kepalanya terasa berdenging sementara. Tak sempat ia menghindarinya tadi.
Naura menatap ujung jari-jari kakinya. Pandangannya memburam. Sungguh. Ia datang ke sini bukan untuk mengolok-olok kakaknya. Bukan untuk melihat keadaan kakaknya yang terpuruk. Jauh dari itu, ia khawatir pada kondisi Theresia.
Mengabaikan rasa sakit di kepala dan perutnya, Naura berkata parau, “Kakak, aku datang ke sini mencemaskanmu.”
“Omong kosong. Kau pasti menahan tawa saat ini. Menertawakan keadaanku.”
Naura menggeleng. Menarik napas, mencoba menahan cairan bening yang terkumpul di pelupuk matanya. “Sama sekali enggak, Kak. Aku---”
__ADS_1
“Kalau kau memang mencemaskan keadaanku yang terpuruk ini, maka relakan Raka denganku.”
“Kakak, itu enggak mungkin. Aku mengandung anaknya. Itu takkan terjadi. Kumohon mengertilah, Kak,” pinta Naura memelas.
“Tidak. Aku tidak mengerti. Aku hanya ingin Raka.”
“Kakak, andaikan saja aku enggak hamil mungkin sudah kurelakan Raka dengan Kakak. Tapi kondisku berbeda. Aku hamil. Kurasa sesama perempuan Kakak akan mengerti perasaanku. Kakak bisa mencari lelaki yang lebih baik dari---”
“Cukup! Aku gak butuh ceramahmu!” Theresia melotot sambil menutup kedua telinganya rapat-rapat.
“Kakak ...”
“Bayimu itu ...” Theresia menunjuk perut buncit Naura. Seketika ia berdiri, dalam sekian detik telah berada di depan Naura. Dicengkramnya erat bahu kurus wanita muda ini.
“Ini pasti bukan anak Raka. Kau pasti menipunya.”
“Kakak salah. Bayiku anak kandung Raka,” jawab Naura tegas. Dipandangnya dengan berani mata cokelat bening Theresia sembari berusaha melepaskan cengkraman tangannya di bahunya. Andaikan saja perutnya tidak terasa mulas, mungkin ia bisa melepaskan cengkraman Theresia dengan mudahnya.
“Jangan berbohong, Na. Kau bisa membohongi Raka. Tapi enggak denganku. Katakan anak siapa itu.”
“Sudah kubilang ini anak Raka.”
“Ayolah, Naura. Enggak usah merasa takut. Di sini rahasiamu aman bersamaku. Aku tahu sifatmu, kau sama liciknya dengan ibu kita.”
“Kakak salah. Aku nggak merasa takut pada siapa pun. Dan aku gak punya rahasia apa pun.”
“Oh, ya?” Theresia semakin mencengkram erat bahu Naura. Bahkan membuat Naura terpundur ke belakang.
“Justeru sebaliknya, seharusnya Kakak sadar. Relakan Raka untukku.”
“Merelakan Raka padamu?” Theresia mendelik tajam. “Hanya karena kau hamil kau merasa menang, huh.”
“Kakak, ukh! To--long lepaskan tangan...mu.” Naura merintih kesakitan, tiba-tiba saja perutnya makin terasa mulas. Mungkin karena tekanan Theresia membuat perutnya terasa diaduk-aduk.
Theresia menyeringai melihat wajah kesakitan saudaranya. Sementara Naura berusaha menjauhkan tangan gadis ini dari bahunya.
“Ya. Kau benar, Na. Raka menikahimu karena kau hamil.” Sontak dilepaskannya cengkramannya dari bahu Naura. Membuat sosok manis ini tidak siap ketika ia melepaskannya. Spontan Naura terpundur. Malang bagi wanita muda ini, ia terjegal kakinya sendiri hingga punggungnya menyentuh sisi tempat tidur di belakangnya.
“Ukh!” Naura mengerang kesakitan memegangi perut buncitnya. Ia terduduk. Kepalanya rasanya berputar-putar. Meringis. Darah segar mulai merembes di balik gaun hamilnya. Berkelok-kelok darah pekat itu di ujung kakinya.
“Kak Tere ... tolong aku ...” rintihnya.
Sementara Theresia hanya diam mematung. Tak berkedip menatap darah pekat di paha Naura. Tidak. Ini jauh di luar pikirannya. Ia tidak---
Meninggal? Theresia membeku. Senyumannya seketika sirna. Kembali menatap Naura dengan wajah pucat tak berdaya. Seharusnya ia bahagia melihat saudaranya tak berdaya seperti itu, tapi kenapa dia ...
Cklek!
Pintu di belakang Theresia terbuka lebar. Muncullah Mr. Brown.
“Theresia, apa yang terjad---ya, Tuhan! Bibi telepon ambulans! Cepat!!”
🍃Dear, My Baby🍃
Raka menyesap minuman mocca-nya. Meletakkan cangkir mocca-nya ke atas meja setelah menyelesaikan beberapa teguk minuman. Disandarkan dengan nyaman tubuh atletisnya ke sandaran kursi kerjanya sambil meraih satu kartu undangan.
Sudut bibirnya tersenyum simpul manakala mata elangnya membaca tulisan namanya dan Naura tertera di atas sana. Dadanya berdebar kencang seiring tinggal menghitung mundur hari pernikahannya---empat hari lagi.
“Ya, Tuhan!” Raka tak bisa menggambarkan perasaan campur aduknya, bahagia bercampur gugup. Pandangannya menerawang ke atas, membayangkan wajah manis kekasihnya. Bagaimana dengan keadaan kekasihnya saat ini?
Meraba saku jasnya, mengeluarkan smartphone-nya sembari mengumpat kesal. Seharusnya dirinya tidak berada di ruangan ini. Tidak usah mempedulikan rapat. Tidak usah mempedulikan urusan kantor. Yang seharusnya dilakukan calon pengantin adalah mengurusi urusan pernikahannya. Sayangnya, semua urusan pernikahannya sudah mendekati 95%---itu pun berkat campur tangan ibunya.
Sembari mengetuk meja kerjanya, dengan sabar menunggu panggilannya diangkat sang kekasih. Mengerutkan dahi, ditatapnya layar gawai di tangannya. Panggilannya dijawab sang operator.
__ADS_1
Ke manakah sosok manisnya?
Sudah selesaikah urusan di perusahaannya?
Pagi tadi Naura meminta izin padanya. Tapi ini sudah hampir tengah hari. Kenapa Naura belum juga meneleponnya? Bukankah sudah dikatakannya, bila selesai urusan di perusahaannya, segeralah meneleponnya agar bisa menjemputnya.
Mendesah sekilas. Menyerah untuk menerka-nerka. Lekas bangun dari duduknya. Meraih kunci dan dompet. Lebih baik langsung menuju perusahaan. Menjemput sosok manisnya. Baru saja hendak memutar handle pintu. Smartphone-nya kembali berdering.
“Ah, ini mungkin dia,” gumam Raka tersenyum. Namun senyumnya hilang manakala iris abu-abunya menangkap nama Mr. Brown tertera di layar gawainya.
Mengerutkan dahi. Menduga-duga. Ada urusan apalagi pria tua itu padanya. Bernapas sejenak dan menggeser tombol jawab. Dengan nada dingin menjawab panggilan Mr. Brown.
“Ya---”
“Raka, segera ke rumah sakit. Naura ... Naura ...”
Degh!
Seketika jantungnya berpacu cepat. Rasanya ia tidak berpijak lagi di bumi. Berlari cepat menuju lift dengan sambungannya terputus begitu saja ketika mendengar nama Naura dan rumah sakit. Dua hal yang ditakutinya. Sesuatu telah terjadi pada Naura dan kandungannya.
🍃Dear, My Baby🍃
“Apa yang kau lakukan padanya, hah.” Raka menarik kerah baju Mr. Brown. Pandangannya begitu nyalang menatap pria paruh baya di depannya.
“Maafkan aku, Raka. Kuakui aku salah. Tidak seharusnya membawa Naura ke villa.”
Rahang Raka mengeras. Tanpa Denny menjelaskan lebih detail lagi, ia tahu apa yang menyebabkan Naura mengalami pendarahan. Ini semua pasti ulah putri tirinya. Astaga! Kenapa Naura begitu mudahnya menemui Theresia tanpa ada dirinya menemani.
“Kau---”
“Hentikan, Raka! Bukan saatnya untuk marah padanya. Naura harus melahirkan.” Neil menyela pembicaraan Raka dan Mr. Brown. Baru saja dirinya selesai liburan dari tanah air. Sekembalinya pagi tadi ke pulau Jeju, siang ini dirinya mendapatkan kabar dari Raka untuk menangani Naura. Entah apa yang terjadi, Naura mengalami pendarahan.
Dokter muda ini sedikit menyesali apa yang terjadi dengan sosok manis yang terbaring lemah di atas brangkar itu. Sedari awal hamil, dirinya sudah memperingatkan Naura dan Raka untuk menjaga bayi hasil inseminasi mereka dengan baik-baik. Resiko kegagalan rentan terjadi. Kali ini tak ada jalan lain lagi, Naura harus segera melahirkan untuk menyelamatkan keduanya.
“Bila terjadi apa pun pada Naura dan kandungannya. Kutuntut kau dan Theresia. Enyahlah dari sini!” Raka mengumpat. Dengan kasar melepaskan cengkramannya di kerah baju Mr. Brown. Nyaris pria paruh baya itu tersungkur ke lantai, andaikan saja Neil tidak memegangi lengannya.
Mengembuskan napas. Dengan gegas Raka berjalan menuju brankar. Di mana sang kekasih merintih kesakitan--baru saja Naura siuman dari pingsannya. Beberapa orang suster mencoba membantu menenangkannya. Beruntung pendarahan Naura tidak terlalu membahayakan. Ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit, Naura tidak mengalami pendarahan lagi.
“Kau pasti bisa melewati ini semua, Na. Percaya padaku.” Raka menggenggam tangan Naura yang gemetaran dan begitu dingin. Keringat dan air matanya menyatu di wajah pucatnya. Naura kini dipindahkan ke ruangan bersalin. Hanya ada beberapa bidan dan dokter kandungan di ruangan yang mulai disterilkan---dengan Raka selalu menemani Naura.
“Huks ... Raka, a-apa ba...yinya a...kan baik-baik sa...ja,” lirih Naura menahan sakit luar biasa di perutnya.
“Tentu,” jawab Raka serak berkali-kali menyeka keringat di dahi dan pelipis Naura. Serta melayangkan kecupan. Sementara tangannya terus menggenggam tangan Naura. Sesuai janjinya pada sosok manis ini. Apa pun yang terjadi, dirinya akan terus berada di sisinya ketika melahirkan.
“Raka, huks ...”
“Ssst! Jangan menangis.” Dengan hati yang dikuatkan--tak ingin terlihat goyah di mata Naura--Raka menyeka air mata wanita muda ini.
“Nyonya ...” Suara dokter dari belakang Raka menyela. “Mulailah tarik napas panjang. Tahan ... embuskan ...”
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1