Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
13| Secret Agreement


__ADS_3


"Kapan kalian akan menikah?"


Sebait kalimat terlontar dari belah bibir sang kepala keluarga, Andrew Aksa Forrester, akhirnya memecah keheningan di ruang makan super luas ini. Kalimat pertanyaan dari Andrew mampu menohok Raka sampai ke tulang-tulangnya, membuatnya tak bernafsu lagi menyantap hidangannya. Dua hari ini pikirannya dibuat bimbang akan keputusannya, setelah Neil mendadak mengontaknya dan meminta hal aneh padanya. Tak serta merta ia menjawab permintaan Neil. Ia masih ragu. Setidaknya ia harus menyelesaikan masalah lainnya terlebih dahulu.


“Raka?”


“Iya, Daddy.” Raka meletakkan sendok garpunya ke atas piring.


"Aku belum memikirkannya sampai ke sana, Dad," terangnya dengan wajah masam.


"Belum? Kalian sudah bertunangan selama dua tahun. Dan kau masih belum memberi kepastian pada Daddy?"


"Aku punya masalah yang belum kuselesaikan sampai kini," kilah Raka mengelak.


"Masalah apa sampai kau menundanya selama itu?"


Masalah hati, jawab Raka cemberut, namun tidak dilontarkannya secara langsung. Cukup dia dan Tuhan yang tahu. Sebab, ayahnya tak mau tahu ia punya masalah atau tidak. Apakah hatinya terluka apa tidak. Ayahnya hanya peduli keberlangsungan perusahaan keluarga hingga seratus tahun ke depannya. Pernah ia menolak keinginan ayahnya, tetapi akhirnya, ibunya yang jadi tameng untuk ayahnya menekan dirinya. Ia sayang ibunya lebih dari apa pun. Ia tak ingin ibunya terluka, menangisinya karena tak akur pada ayahnya. Akhirnya, ia tunduk pada kediktatoran ayahnya demi ibunya.


Lagi pula, ia anak tunggal hingga semakin menyudutkan posisinya, dan berakhir memilih mengakhiri hubungannya bersama sang kekasih dan bertunangan dengan perempuan lainnya. Itu semua karena embel-embel demi masa depan. Demi penerus keluarga.


"Cepatlah selesaikan masalahmu itu, umurmu sudah 27 tahun, dan Daddy juga semakin tua, Daddy ingin melihat penerus keluarga Forrester berlangsung sebelum Daddy menutup mata selamanya."


Raka mengepalkan tangannya dengan erat di bawah meja kala mendengar penuturan ayahnya. Selalu mempermasalahkan penerus keluarga. Hal itulah yang membuat hatinya lemah dan tak punya pilihan lain.


Hm. Penerus keluarga ya. Raka mengelus bibir sensualnya. Bila ia memberikan penerus keluarga sekarang, apakah ayahnya takkan memaksanya lagi untuk menikahi wanita yang bukan pilihan hatinya itu?


Segaris senyuman penuh makna terbit di belah bibir sensual Raka, ketika sebuah ide brilian terlintas di benaknya. "Daddy ingin aku memberikan penerus keluarga, kan?"


"Tentu saja."


"Kalau aku memberikannya pada Daddy sekarang ...” Raka mengelus dagunya sembari menyeringai. “Apakah Daddy akan membiarkanku bebas?"


"Bebas? Maksudmu?"


"Hm. Daddy akan tahu nanti," jawab Raka bermain kata. Berdiri dari duduknya setelah meneguk habis minuman Latte-nya sampai tak bersisa. Berjalan santai meninggalkan ruang makan. Mengabaikan teriakan protes Cathie soal sisa makan siangnya yang masih banyak.


"Tunggu!" sergah Andrew, menatap tajam punggung Raka.


"Itu artinya kau memutuskan akan menikah secepatnya?" lanjut Andrew, setelah Raka memutar tubuh menghadapnya kembali.


"Tentu saja," jawab Raka yakin. Seringaian aneh lagi-lagi menari di belah bibirnya.


"Good boy. Seperti yang Daddy harapkan padamu." Andrew tersenyum senang.


Sedangkan Cathie hanya diam memandang penuh tanya pada punggung putranya. Bingung akan ucapan Raka. Ia mengenal putranya lebih dari siapa pun. Raka begitu saja memutuskan menikah secepatnya, segera memberikan mereka keturunan, setelah sekian lama membangkang, mengulur-ulur waktu untuk menikahi tunangannya, bahkan lari keluar negeri? Sungguh tak bisa dipercaya.


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


Neil mengacak rambutnya frustasi. Sudah dua hari berlalu semenjak mengirimkan foto Naura ke Raka. Tak ada respon sama sekali darinya. Apakah pria itu setuju atau tidak.


Mungkinkah Raka tak menyetujuinya?


Mungkinkah Raka sudah tak ingin berhubungan lagi dengan mantan kekasihnya itu?


Dan kemungkinan-kemungkinan lainnya yang membuat Neil bingung setengah mati, hingga menghancurkan harapan satu-satunya pada sahabatnya ini.


Haruskah ia menelepon Raka, menanyakannya langsung?


Tidakkah dirinya terlihat seperti teman yang tak tahu diri? Datang di saat ada maunya saja.


Ke mana saja ia selama ini? Bahkan ketika Raka menetap di kota Seattle, Amerika Serikat, pun tak tahu sama sekali. Sahabat macam apa dia ini.


"Errrgh!"


Neil mengerang frustrasi. Mengempaskan tubuh atletisnya ke kursi taman rumah sakit. Barusan saja selesai melakukan operasi pada pasiennya, dan ia butuh istirahat sejenak. Tetapi, bukannya mendapatkan rileks pada otaknya, justru kepalanya terasa makin berat dan runyam, setelah memikirkan Raka dan sperma supernya itu.


Neil berhenti mendesah, seiring dering smartphone-nya bernyanyi memanggilnya. Dengan lesu melihat siapa yang memanggilnya. Detik itu pula perasaan lesunya menguap entah ke mana, tergerus oleh segaris senyuman menari-nari indah di belah bibirnya. Raka meneleponnya. Seketika harap yang telah lenyap itu, kembali tumbuh, bagai bunga-bunga yang bermekaran indah di musim semi.


Neil berdeham sejenak. Mengatur deru napasnya yang naik, menekan gemuruh di dada, meski yang meneleponnya adalah sahabatnya, bukan sang istri yang selalu berhasil membuat jantungnya berdetak kencang. Tapi ini berbeda, ini Raka. Pria yang memberinya harapan tinggi. Walau sekarang harapannya berbanding lima puluh - lima puluh.

__ADS_1


"So, kau sudah memutuskannya, Bro?" Neil bertanya langsung tanpa embel-embel say hi terlebih dahulu.


"Sebegitunya kau membutuhkan spermaku, Neil?"


Neil mengerang. "Ayolah, aku gak punya waktu untuk bermain tebak-tebakan."


Neil menarik napas dalam. "Jadi?" ;anjutnya.


"Aku setuju."


Lama Neil terdiam. Seperti tidak yakin dengan pendengarannya sendiri.


"Hallo, Neil?"


"Hm. Ulangi lagi ucapanmu, Bro," tegas Neil.


"Aku setuju, dokter Neil."


Neil tersenyum lega. Akhirnya. Ia bisa tidur nyenyak malam ini. Permasalahan yang rumit ini akhirnya terpecahkan. Tinggal mengabari tetangga manisnya itu setelah ini.


"Oke, sebaiknya sekarang kau langsung datang ke tempatku, kita bahas masalah ini lebih detail lagi, Bro." Neil berucap penuh semangat, bagaikan mendapatkan kabar bahagia, sang istri kembali hamil anak kedua mereka.


"Tentu saja. Ada banyak pertanyaan yang ingin kuajukan padamu. Sayangnya tak bisa sekarang."


"Kenapa?"


"Aku masih punya urusan di kantor, mungkin dua hari ke depannya aku bisa ke tempatmu."


"Enggak masalah, yang penting kau sudah setuju."


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


"Wow. Makin tampan saja kamu, Ka, setelah lama tak bertemu," puji Neil, memperhatikan lekuk-lekuk tubuh proporsional Raka di balik pakaian kasualnya - setelah mengurai pelukan di tubuh atletis sahabatnya ini. Sedikit menengadah ketika berbicara pada Raka, mengingat tubuh Raka lebih tinggi darinya.


“Duduklah.” Neil menepuk kursi di sampingnya, kemudian memutari meja kerjanya, kembali ke kursinya sendiri.


"Ternyata kau sudah punya anak." Mata elang Raka memperhatikan bingkai foto di atas meja kerja Neil. Sedikit terkejut akan perubahan Neil setelah dua tahun tak bertemu.


"Iya. Bayi perempuan. Cantik, kan, putriku."


Raka mengangguk membenarkan. "Ya, secantik ibunya. Untung mirip Pretty."


"Kenapa bila mirip denganku?" tanya Neil sedikit tersinggung.


"Pasti jelek hasilnya."


"Sialan." Neil mendesis kesal. Sedangkan Raka tergelak-gelak senang. Sudah lama ia tak bertawa selepas ini. Bahkan ia lupa kapan terakhir kalinya tertawa bahagia usai putus dari Naura.


"So, bisa kita mulai membahas masalah pentingnya?" tanya Raka tanpa mengulur waktu lagi. Menatap serius sahabatnya, membenahi letak kacamata bulatnya.


Neil mengangguk singkat. Segera membuka file komputer, menge-print out file, seperti yang pernah dilakukannya pada Naura. Berisi beberapa panduan dan perjanjian soal proses inseminasi.


"Sebelumnya, aku tahu kau punya pertanyaan yang ingin kau ajukan padaku, 'kan?" tanya Neil seraya menunggu hasil print out-nya keluar.


"Betul."


"Apa itu?"


"Hm." Raka mengelus dagu. "Soal Naura. Dia bisa hamil?" tanyanya. Setahunya, Naura tak bisa hamil. Sosok manis itu pernah berkata padanya, bahwa ia tidak pernah menstruasi layaknya perempuan lainnya. Dengan kata lain, Naura takkan bisa hamil. Lalu kini, Naura bisa hamil?


"Sebenarnya ini rahasia antara aku dan pasien saja, tapi demi kepentingan proses inseminasi-nya. Kau juga harus tahu."


Raka mengedikkan bahu tanpa berkomentar, menunggu Neil melanjutkan kembali ucapannya.


"Naura divonis mengalami Sindrom Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser atau MRKH. Biar lebih jelasnya, kau baca saja sendiri di sini." Neil menyodorkan beberapa kertas hasil print out-nya ke hadapan Raka.


Butuh lima belas menit untuk Raka benar-benar detail membaca penjelasan dalam dokumen di tangannya. Sesekali mengerutkan dahi ketika serius membaca. Lalu mengembuskan napas panjang seraya menutup dokumennya kembali. Terlihat jelas guratan penyesalan di wajah tampan Raka.


“Jadi sebenarnya Naura bisa hamil? Ya Tuhan.” Kembali Raka mengembuskan napas berat, seiring sesal yang menghampirinya.


Neil berdecih mendengar keterkejutan Raka barusan. "Kau memang naif. Hanya karena Naura gak bisa hamil, kau tega memutuskan hubungan kalian yang telah berjalan lima tahun lamanya, membiarkannya terus terombang-ambing tanpa kepastian," sindir tajam Neil. Terang-terangan menampakkan wajah tak sukanya, akan sikap tidak gentleman Raka terhadap tetangga manisnya selama ini.

__ADS_1


"Bila memang nggak mampu memberi harapan pada Naura, gak usah berlama-lama kalian berpacaran, cukup satu dua bulan saja, bila hanya ingin memenuhi rasa penasaran satu sama lainnya."


Tak segan Neil melontarkan sindiran dingin pada Raka. Dan itu langsung menohok sampai ke jantung Raka, seolah ada tangan tak kasat mata ***-remas jantungnya. Sakit dan sesak. Memang benar apa yang dikatakan Neil. Tapi percayalah. Demi Tuhan. Ia sungguh serius ingin menjalin hubungan dengan Naura. Hanya saja .... ada suatu masalah yang tak bisa dijelaskannya pada Naura saat itu. Ia tak ingin Naura semakin sakit hati.


"Sudahlah, itu masa lalu kalian. Maaf akan ucapanku tadi," ujar Neil menyadari kesalahannya. Melihat ekspresi wajah Raka, sepertinya menyimpan kekecewaan terpendam. Tak seharusnya melontarkan kata-kata seperti tadi tanpa tahu kebenarannya dari sisi Raka. Mungkin Raka punya alasan kuat di balik kandasnya percintaan keduanya.


"Tak apa." Raka menjawab serak. Sedikit memaksakan tersenyum di tengah hatinya yang sakit.


"Omong-omong masih ada yang ingin kau tanyakan padaku?" tanya Neil kembali serius, mencairkan sedikit ketegangan di antara mereka berdua.


"Hm.” Raka mengalihkan sekilas pandangannya ke luar jendela. Menatap kerumunan burung merpati memakan jagung dari tangan pengunjung rumah sakit. Lalu beralih menatap wajah Neil. “Soal ... kenapa Naura ingin hamil, alasan apa yang mendasarinya berbuat begitu?”


"Huft, soal itu ya. Sampai sekarang aku penasaran kenapa dia ngebet ingin hamil.


"Bisa begitu?"


"Entahlah.” Neil mengangkat bahu. “Saat kutanya, jawabannya hanya ingin punya Baby saja."


"Aku tak mengerti."


"Sama." Neil kembali mengangkat bahu. Keduanya saling berpandangan cukup lama, kebingungan melanda keduanya, hingga Neil berdeham dan suasana kembali normal.


"Ada lagi pertanyaan lainnya?” tanya Neil lagi.


Raka mengelus dagu. Berpikir. "Soal biaya."


"Ya?"


"Biarkan aku yang membiayai semuanya."


"It---"


"Aku tak menerima penolakan apa pun. Aku yang mengurus semuanya," tekan Raka.


Neil menghela. Ditekan dari dua sisi yang berbeda dari dua sahabatnya ini, membuatnya tak berdaya. Dokter muda ini mengangkat bahu. "Oke, terserah kamu."


"Apa nanti Naura mengetahui identitas pendonor sperma?" tanya Raka sangat ingin tahu, sedari semalam pertanyaan ini selalu mengganjal pikirannya.


"Enggak. Naura gak mau tahu itu. Ia hanya ingin hamil."


"Wanita yang aneh."


"Untuk ucapanmu yang ini, aku setuju." Neil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, kau juga harus merahasiakan identitasku, soal yang membantu keuangannya."


"Oke, tak masalah. Satu lagi, kau harus berjanji padaku, jangan pernah berpikir membuat masalah pada Naura dikemudian hari. Sekecil apa pun itu." Neil berucap serius, seolah dirinya adalah kakak kandung Naura, satu-satunya keluarga yang harus dilindunginya.


"Soal itu serahkan padaku. Kau tenang saja."


Neil menghela napas lega, meski tak sepenuhnya ia mempercayai ucapan pria di depannya ini. Ia sangat tahu karakter Raka.


“Jadi ...” Neil berdeham, mulai mengurai hasil akhir kesimpulan diskusi penting mereka. “Semuanya telah clear.”


Raka mengangguk. “Yes.”


“Sebagai puncaknya, silakan tanda tangani ini. Dan ...” Neil menyodorkan beberapa lembaran kertas ke arah Raka sambil melanjutkan ucapannya.


"Dan pokok terpentingnya ... Cepatlah kau mengeluarkan sperma-mu, Bro!"


"Sekarang?" Raka terperanjat kaget sembari meletakkan bolpoint ke atas meja. Seolah baru saja ia diminta perempuan jalang untuk melecuti semua pakaiannya.


Neil mengangguk pasti. "Ya. Sebab dua jam kemudian aku dan Naura sefakat memulai menanamkan sperma-mu ke rahimnya."


"Secepat itu?"


"Bukankah lebih cepat lebih baik? Kenapa harus menunggu bila sudah ada sperma-nya?"


"Kau benar."


"Tunggu apa lagi ... Berikan aku sperma-mu, se-ka-rang!!"


"Sialan! Tidak semudah itu bodoh. Aku harus mastubarsi dulu buat ngeluarin cairan kental itu."


"Aku paham.” Neil mengangkat kedua tangannya. “Aku punya ruang tidur. Kau bisa melakukannya di sana." Tunjuk Neil pada ruangan di sampingnya.


"Nantinya, masukkan saja ke sini sperma-mu," lanjut Neil melemparkan botol kecil setinggi ibu jari ke Raka, secepat kilat Raka menangkapnya ketika mulai beranjak berdiri.


"Eh, tunggu dulu,” cegah Neil.


“Apa?” Raka menautkan kedua alisnya.


“Apa kau butuh bantuanku untuk bermastubarsi. Eum? Eum?" goda Neil menaik turunkan alisnya.


"Tidak, terima kasih saja. Sampai kapan pun aku tak tertarik dengan servis tangan atau mulutmu itu. Menjijikkan."


"Siapa juga yang mau," gerutu Neil. "Oh, yang paling penting, jangan mengeluarkan desahan kesepianmu itu, ya, Bro. Sama sekali aku enggak akan iba, apa lagi terangsang."

__ADS_1


"Anjir. Setan mabuk 💢💢"



__ADS_2