Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
19| Fix Tak Ada Kerjaan Lain [2]


__ADS_3


"Ck! Kau sendiri-lah yang memancing mood-ku terus memburuk, tahu." Naura memelotot. Menghentikan langkahnya, tanpa terasa mereka telah berada di area parkiran Black Pork Street.


"Aku mau pulang. Apa kau juga akan pulang mengikutiku?" suara Naura kembali meninggi.


"Kalau belum mau pulang silahkan saja. Noh, keliling sepuasnya. Sampai pagi juga boleh," lanjutnya.


"Kau mau naik apa?" tanya Raka serius mengabaikan ucapan Naura.


"Bukan urusanmu. Aku mau terbang naik pesawat, kek. Naik taksi online, kek. Atau pun teleportasi--- kyaaa, mau apa kau Raka. Turunkan aku."


Seketika saja pekikan Naura menjadi pusat perhatian pengunjung di parkiran Black Pork Street ini. Tanpa sosok manis ini terka, tiba-tiba Raka menggendongnya ala bridal style, membawanya berjalan menjauh dari area Black Pork Street, yang Naura tebak, Raka akan menuju ke sebuah Range Rover yang terparkir di bawah pohon rindang seberang jalan.


Kapan dia membawa mobil? Perasaan tadi dia ikut dengan gue naik taksi online, deh. Naura membatin sambil mengelus batang hidungnya yang mengernyit gatal, lantas menggelengkan kepala. Kembali memberontak dalam dekapan Raka. Memukuli dada bidang pria ini.


"Yaaa, turunkan akuuu."


Raka tetap diam terus berjalan menyusuri Black Pork Street ini. Sama sekali tidak menggubris teriakan Naura.


Anjir. Ini kodok sawah. Jadi orang kok bebal banget. Kepalanya ini terbuat dari apa sih. 💢.


Sosok manis ini bersungut kesal dalam hati, pandangannya menajam melihat wajah tampan Raka begitu dekat dengannya. Samar ia menggertakkan giginya.


Baiklah, bila enggak ngerti diteriakin, berarti dengan cara bar-bar baru ngerti. Errr ....


"Arrrgh! Aduh-duh-duh, Nauraaa." Sontak Raka berteriak hingga membuat orang-orang di sekitar mereka tersenyum geli melihat tingkah dua orang ini. Bagai kucing dan anjing.


"Naura, jangan tarik rambutku." Raka mencoba berbicara di tengah sosok manis ini yang menjambak kuat rambutnya ke belakang.


"Nggak akan." Naura bersikeras. Sudut bibirnya menyeringai puas. Tarikannya justru makin kuat.


"Na--- Ouch! Naura. Lepas." Raka menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba melepaskan genggaman tangan sosok manis ini di rambutnya.


"Gak mau."


"Naura!"

__ADS_1


"Enggak dengar."


"Sayangku~."


"Apa katamu?" Naura melotot tajam, seketika menghentikan menarik rambut Raka, lalu beralih menyentil dagu yang ditumbuhi cambang halus pria ini. "Kau mau mati, heh. Mau cari masalah denganku, huh."


Raka terkekeh geli tak menggubris sosok manis ini yang menyentil dagunya. "Nah lho, itu dengar."


"Sialan." Naura makin menyentil dagu Raka dengan semena-mena.


"Tak usah pakai disentil segala daguku, Naura. Kalau bisa dielus-elus saja, ne. Kan enak, merinding-merinding gimana gitu." Raka menaik turunkan alisnya. Menggoda sosok manis ini.


"Anjir 💢, nih kutar---"


Seketika sosok manis ini terdiam dengan wajah merah padam manakala dengan tak tahu malunya Raka menepuk butt-nya. Sukses membungkam mulut sosok manis ini yang terkesiap kaget.


"Pilih diam dan menurut. Atau kau mau kujatuhkan ke aspal jalan ini sekarang juga," titah Raka tersenyum menang. Akhirnya bisa menghentikan gerakan sosok manis ini juga.


"Nah, gitu dong. Jadi anteng, kan, gendong kamu-nya." Raka tersenyum geli, mengintip Naura yang meringkuk bak anak kucing yang kedinginan dari balik bulu matanya yang lebat.


"Sialan. Awas kalau kau berani menjatuhkanku dan mencelakai Baby-ku," ancam Naura mendelik tajam, sekuat tenaga memukul dada bidang Raka. Bergerak-gerak liar bagai cacing kepanasan.


"Grrr ..." Naura menggeram tertahan. Ia tidak bisa melakukan apa pun lagi. Posisinya sungguh tidak menguntungkannya. Bila ia berani berbuat sesuatu, takutnya pria ini benar-benar merealisasikan ucapannya. Raka orangnya keras kepala. Apa yang dikehendakinya harus terealisasi.


Kini dia hanya bisa pasrah ke mana Raka membawanya. Benar dugaan sosok manis ini sebelumnya. Pria ini membawanya ke Range Rover. Mendudukkannya ke samping kemudi.


"Jangan coba-coba kabur." Raka memperingatkan Naura, ketika sosok manis ini mencoba keluar. Buru-buru Raka menekan tombol untuk mengunci pintu.


"Kita mau ke mana?" tanya Naura menoleh ke samping. Menatap Raka yang mulai menghidupkan mesin mobil.


"Kau maunya ke mana? Ke rumahku? Atau ke hotel?" goda Raka mengedipkan sebelah mata bersamaan Range Rover-nya telah melenggang bebas di jalanan kota Jeju.


 


Dugh


 

__ADS_1


Naura sekehendak hati menendang tungkai panjang Raka.


"Tidak dua-duanya. Bawa aku pulang ke apartemenku!" tegasnya, kemudian memalingkan wajahnya ke luar jendela. Lebih tertarik melihat jalanan kota Jeju dari pada melihat wajah Raka yang menyebalkan.


Gila. Tendangannya sakit juga. Auh, batin pria ini meringis. "Oke," jawabnya.


Setelahnya, keduanya hanya saling berdiam diri hingga tiba di area apartemen sosok manis ini.


"Terima kasih." Naura berucap ketika turun dari Range Rover diikuti dari samping Raka yang juga turun, hingga membentuk tanda tanya besar di kepala sosok manis ini.


"Kenapa turun?" tanyanya terheran-heran. Bukankah seharusnya langsung saja tancap gas meninggalkan lobi apartemen ini.


"Jangan bilang kau akan mengantarku sampai ke pintu apartemen?" lanjut Naura menyipitkan mata saat Raka hanya diam saja.


"Tentu saja." Akhirnya Raka membuka mulut sembari menyugar rambutnya sekilas.


Naura mengangga lebar. Fix seharian pria ini benar-benar tidak ada kerjaan lainnya, hanya mengintilinya sepanjang hari. Sekalian saja pria ini jadi bodyguard gratis untuknya.


"Aku harus memastikan, calon ibu dari anakku selamat sampai tujuan." Raka menjelaskan alasannya menatap langsung ke bola mata Naura.


"Astaga, kepalaku." Naura mengelus tengkuknya yang tiba-tiba saja menjadi berat kala mendengar ucapan Raka. Mengembuskan napas sekilas, lalu melanjutkan ucapannya, "sudah kubilang berapa kali. Kau nggak usah bertanggung jawab padaku dan anakku!"


"Aduh, aku tak tak dengar apa pun," tutur Raka dengan lagi-lagi berbicara seperti itu. Sebagai jurus untuk mengalihkan ucapan sosok manis ini - menyinggung untuk tidak bertanggung jawab atas dirinya dan jabang bayi-nya. Segera saja Raka berlalu dari hadapan Naura yang melotot super tajam, andaikan ada pisau di tangan sosok manis ini, mungkin saja sudah dilemparkan padanya.


"Arrrgh! Sialan! Sialan!" Naura mengumpat berulang kali.


"Eits, jangan sering-sering mengumpat, Naura. Tidak baik buat perkembangan bayi-nya." Lagi Raka memperingatkan, kembali memutar tubuh. Menatap wajah Naura yang tampak jengkel.


"Terserah. Katanya tadi gak dengar apa pun. Seharusnya gak usah didengerin aku ngomong apa." Berkali-kali sosok manis ini mendengkus sebal.


"Tidak bisa begitu, Naura."


"Biarin." Naura mengentakkan kaki ke lantai lobi apartemen. "Minggir, aku mau lewat," sambungnya seraya menyenggol keras lengan Raka. Melesat pergi meninggalkan pria ini yang terkekeh geli.


Diam-diam Naura mengelus sayang perut buncitnya.


Maafin ucapan kasar Mommy tadi ya Baby. Mommy gak marah sama kamu, kok, tapi Mommy marah sama Daddy-mu. Ehhh? [´O_O`‖]

__ADS_1



__ADS_2