![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
"Sudah kukatakan dari kemarin, kita sudah tidak punya hubungan lagi. Aku sudah bersama Naura." Raka membuka percakapan ketika hanya ada dia dan Theresia saja di ruangan ini. Gadis itu tidak mengamuk lagi. Keadaannya jauh lebih tenang dari lima menit yang lalu.
Theresia mendengkus mendengar penjelasan Raka. Sangat tidak suka mendengarnya. Kenapa harus Naura yang menjadi batu sandungan antara dia dan pria yang paling diinginkannya menjadi pasangan hidupnya ini. Itu mengapa ia tidak menyukai saudara perempuan satu-satunya ini.
Setiap orang yang melihat mereka berdua, selalu membandingkannya. Naura jauh lebih manis ketimbang dirinya. Naura lebih baik ketimbang dirinya. Naura lebih menyenangkan ketimbang dirinya. Naura inilah. Naura itulah. Hingga membuat kupingnya panas mendengarnya. Ia akui saudara perempuannya memang satu tingkat lebih baik dari dirinya.
Dan di tengah orang yang selalu membandingkan mereka berdua, ibunya tidak demikian. Ibunya lebih memilih dirinya dibanding Naura. Meski jauh di sudut hatinya, ia sakit akan sikap dan perlakuan ibunya.
Ternyata di balik semuanya, ibunya hanya ingin memperalatnya. Dijadikan tameng untuk ayah tirinya. Karena ibunya tahu, Naura terlalu polos dan baik untuk dijadikan korban. Ia mengetahui semuanya ketika ibunya akan meninggal dan membuka rahasianya. Dan itu pula alasannya kenapa dia tidak mau mengakui Naura sebagai saudara perempuannya dan tidak sudi bersamanya lagi.
"Jauh sebelum aku bertunangan denganmu, aku dan Naura sudah berpacaran selama lima tahunan."
"Tapi itu dulu, kan. Sebelum kau bertunangan denganku.” Theresia berkata sengit. Hatinya menolak untuk menerima penjelasan Raka.
Raka menggeram samar. "Kau tahu penyebab kami putus?" tekannya. Seolah tidak ingin memberikan pengharapan pada gadis yang terbaring meringkuk di sudut tempat tidur. Membelakanginya. Menyembunyikan kepalanya di balik selimut.
"Itu semua karena kau!" imbuh Raka dengan nada begitu dingin.
"Karena aku?"
"Ya karena kau. Kalau bukan kau memaksa Mr. Brown dan Daddy untuk bertunangan denganku, tentu semua itu takkan terjadi."
Theresia menggeletukkan gigi. Amarahnya kembali meluap. Semua karenanya? Jangan salahkan dia sepenuhnya. Salahkan Andrew yang menerima dan menyanggupi permintaan dari ayah tirinya.
"Cih! Salahkan Om Andrew. Kalau kau sudah punya pacar, kenapa Om Andrew masih mau menerima permintaan dari Papa." Theresia mendengkus keras. Dilemparnya selimut putih dari tubuhnya dengan kasar ke lantai. Pandangannya menajam menatap Raka - bersidekap di samping tempat tidur.
Pria bermata bulat ini terdiam sesaat. Itu memang benar. Jelas Andrew menginginkan keturunan darinya. Sementara saat itu Naura diketahui tidak bisa hamil. Karena tak ada masa depan yang pasti dari Naura, maka Andrew memaksanya untuk mengakhiri hubungannya, dan memaksanya bertunangan dengan Theresia.
Menyesal Raka rasakan sekarang ini. Andaikan saja kala itu ayahnya bisa bersabar atas hubungannya dengan Naura. Tentu saat ini dirinya sudah bahagia bersama Naura - menunggu calon bayi mereka lahir ke dunia.
"Itu karena Daddy memaksaku memutuskan Naura.” Suara Raka terdengar begitu rendah.
"Astaga! Ternyata Om Andrew enggak menyukai Naura, toh. Bisa dipahami. Mana mau dia bermenantukan gadis miskin seperti Naura.” Theresia berkata sinis.
"Tutup mulutmu! Jangan pernah menghina Naura! Dan jangan asal bicara kalau tidak tahu masalah sebenarnya!" hardik Raka dengan wajah merah padam menahan amarah. Andaikan saja gadis di depannya ini berjenis kelamin sama dengannya, sudah tentu Raka tinju sekuat tenaga.
"Dahulunya Daddy merestui hubunganku dengan Naura. Tapi karena tahu Naura saat itu tidak bisa hamil, Daddy menjadi kurang suka padanya. Kemudian ayahmu datang pada Daddy, hingga membuat Daddy berubah pikiran."
Naura enggak bisa hamil? Theresia tertegun sejenak. Tetapi rasa tertegunnya hanya sementara saja. Dikibaskan rambutnya sekilas. Seolah tak acuh dengan masalah yang dialami Naura. Tak peduli sama sekali.
"Aku setuju dengan pemikiran Om Andrew. Dengan kau bersama Naura, enggak akan punya masa depan. Sedang bersamaku, akan punya masa depan yang cerah." Theresia berkata penuh keangkuhan.
"Omong kosong! Masa depanku tentu saja bersama Naura dan calon anakku."
"Calon anakmu? Jadi kau benaran selingkuh dengan Naura sampai hamil begitu! Keterlaluan." Theresia makin meninggikan volume suaranya. Ia mendelik tajam.
"Selingkuh? Jangan asal menuduh." Raka tak kalah tajam melotot. "Asal kau tahu, Naura hamil karena proses inseminasi, dan bibit spermanya itu dariku."
"Cih. Demi bisa mendapatkanmu dia rela hamil melalui jalan inseminasi dengan menanam benih darimu. Ternyata Naura licik juga untuk merebut posisiku."
"Tutup mulutmu!" Seketika Raka berdiri. Dadanya naik turun menahan luapan amarah yang semakin menumpuk di dada. Pandangannya makin menajam laksana mata pedang katana hingga membuat Theresia gemetaran. Seolah tatapannya mampu mengulitinya detik ini juga.
Raka menunduk, mencondongkan tubuh besar atletisnya ke arah Theresia. Gadis itu beringsut mundur ketakutan. Nyalinya menciut. Dalam hati ia merutuki ucapannya yang tidak disaring terlebih dahulu hingga memprovokasi sang raja hutan keluar dari sarangnya.
"Jangan pernah mengatakan hal buruk tentang Naura. Naura tidak seperti yang kau katakan," bisik Raka penuh penekanan. "Naura merebut posisimu? Biar kuperjelas padamu. Kaulah yang sebenarnya mengambil posisi Naura. Menyingkirkannya dari sisiku."
Theresia terkesiap. Darahnya berdesir halus mendengar sindiran tajam Raka. Sindirannya begitu telak menghujam jantungnya.
"So. Mulai sekarang kita sudah tak ada hubungan apa pun lagi, Thes--- ah tidak, seharusnya aku memanggilmu Theresia Almira Atmajaya." Sudut bibir Raka terangkat ke atas, tersenyum sinis. Segera menarik kembali tubuhnya seperti semula. Berdiri tegap.
Dada Theresia bergemuruh hebat mendengarnya. Rahangnya mengeras kaku.
"Kenapa? Kau terkejut? Bukankah kau kakak kandung Naura? Oh aku tahu ... kau takut tidak mendapatkan simpati dari Daddyku lagi. Karena tahu mantan calon menantunya tidak sebaik yang disangkanya. Sikapnya begitu buruk."
Theresia mengepalkan tangan, dengan sengit menangkis ucapan Raka. "Terserah. Aku gak peduli dengan penilaian orang terhadapku. Kurasa Om Andrew enggak akan setuju kau memutuskan pertunangan kita begitu saja."
"Terima saja kenyataannya, Theresia. Asal kau tahu, Daddy menyuruhku bertunangan denganmu karena menginginkan keturunan dariku. Bagi Daddy siapa pun calon menantunya asal bisa memberikan keturunan akan baik-baik saja. Dan karena Naura hamil. Itu artinya, Daddy masih punya keturunan dariku."
"Enggak bisa begitu. Bagaimana denganku? Apa kau enggak kasihan melihatku? Aku punya penyakit jant---"
__ADS_1
"Cukup! Tidak usah diteruskan lagi kebohonganmu, Theresia. Aku tak percaya lagi denganmu!" potong Raka dingin.
Sebelum berbalik meninggalkan Theresia, pria muda ini tersenyum miring menatap gadis itu untuk terakhir kalinya. "Katamu punya penyakit jantung lemah? Tetapi kau begitu semangatnya berteriak. Terlebih terhadap saudara perempuanmu sendiri. Ck! Theresia, kalau mau berbohong belajar lagi sana."
"Arrrgh!! Berengsek!" Theresia melempar semua bantal ke lantai sekuat tenaga. Pandangannya begitu nyalang menatap punggung dingin Raka keluar dari ruangan. Ia menggeram tertahan, bagai induk binatang buas di dalam kerangkeng yang menyaksikan anaknya dibunuh oleh rombongan pemburu.
🍃Dear, My Baby🍃
"Ekhem!" Raka sengaja berdeham keras. Ekspresi wajahnya sangat tidak bersahabat, seolah ingin membanting benda di sekitarnya.
Ketika keluar dari ruangan Theresia, didapatinya pemandangan yang membuat hatinya makin mendidih, yang awal mulanya sudah sangat panas akibat terprovokasi oleh ucapan Theresia kini makin panas. Bagai bara api yang dikipasi. Entah alasan apa Richard ada di rumah sakit. Dengan santainya duduk di sebelah kekasihnya.
"Sudah selesai, Dear?" Naura segera menghampiri Raka yang bersidekap. Pandangannya begitu tajam menatap Richard yang juga berdiri. Pemuda berkulit eksotis itu tersenyum tipis padanya.
"Hum, sudah selesai," jawab Raka sekenanya. Setelah memberikan tatapan tajam tak bersahabat pada Richard, dialihkan pandangannya ke wajah kekasihnya. Tidak seperti menatap Richard yang sepeti musuh bebuyutan. Ketika menatap Naura, pandangannya menjadi melembut.
"Dan kau tidak perlu lagi cemas soal Theresia, Baby," sambung Raka sembari menyelipkan poni menjuntai Naura ke samping telinga. Kemudian mengusap wajah memerahnya. Tanpa dijelaskan ia sudah tahu penyebabnya. Kekasihnya sedang berusaha menahan tangis. Selain masalahnya dengan Theresia, ia yakin wajah memerah Naura karena Richard. Pasti pria ini memanasi kekasihnya.
"Baiklah. Aku pamit dulu, Na." Richard berjalan pelan ke arah Naura. Menepuk pundak wanita muda ini sekilas. Sengaja mengeraskan sedikit ucapannya. "Soal perkataanku tadi. Aku serius. Pikirkan kembali. Jangan menyesal untuk kedua kalinya, Naura. Mari."
"Menyesal untuk kedua kalinya?" Raka mengulangi kalimat terakhir Richard. Iris abu-abunya begitu lekat memandang punggung Richard yang lambat laun menjadi titik kecil di ujung lorong rumah sakit.
Wanita muda ini mengangkat kedua belah bahu. "Enggak ada. Enggak terlalu penting juga."
"Tidak terlalu penting? Kau mencoba menipuku, Na."
Naura mengembuskan napas pendek seraya mengelus perut buncitnya. "Dia cuma mengatakan kalau kak Tere adalah tunanganmu. Itu saja."
"Oh." Raka mengedikkan bahu. Mencoba mempercayai ucapan kekasihnya, meski ada ragu yang menyelinap di hatinya. Tetapi ia yakin, pendirian Naura tidak akan goyah oleh ucapan-ucapan provokasi dari orang lain.
"Jongin tahu kau bertunangan dengan kak Tere. Apa kak Neil juga tahu?" tanya Naura dengan ekpresi wajah begitu serius. Dipandanginya garis-garis kerutan di dahi kekasihnya. Ia tebak, ketika di dalam ruangan tadi sepertinya permasalahan Raka dan Theresia tidak berjalan mulus. Sayangnya ia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan keduanya karena pintunya dikunci rapat, ditambah lagi ruangan inapnya kedap suara.
Raka menggeleng. "Tidak. Neil sama sekali tidak tahu."
"Jangan bohong, Dear."
"Aku tak bohong, Baby. Aku berani bersumpah. Bila kau tidak percaya dengan ucapanku. Silakan telepon Neil detik ini juga."
"Enggak usah. Aku percaya sama ucapanmu."
"Makasih, Baby." Raka melayangkan kecupan ringan di dahi Naura. "Karena urusanku sudah selesai. Kita pulang sekarang. Aku lapar, kita singgah di resto dulu ya," sambungnya seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang sosok manis-nya. Mengajaknya pergi dari sini.
"Tunggu dulu." Naura menahan tangan Raka di pinggangnya.
"Ya?"
"Bagaimana dengan kak Tere? Aku ingin melihatnya."
"Nanti saja."
"Enggak bisa, Dear. Aku ingin melihat keadaannya sekarang."
Raka berdecak sekilas. "Baby, bukannya aku tidak menyuruhmu melihat keadaan Theresia. Tapi saat ini moodnya sedang tidak baik. Aku takut kau hanya akan menjadi sasaran amarahnya saja."
Naura terdiam. Ucapan Raka memang benar. "Tapi ..."
"Aku paham perasaanmu, Na. Bagaimana kalau sore saja kita kembali ke sini. Mungkin suasana hatinya sudah lebih baik dari sekarang. Aku janji, akan menemanimu menengoknya. Bagaimana?" tawar Raka memberikan pilihan. Dielusnya perut buncit sang kekasih.
__ADS_1
"Terus bagaimana dengan kak Tere sekarang ini? Dia sendirian. Enggak ada yang memperhatikannya." Naura tampak begitu cemas.
Raka tersenyum akan perhatian Naura. Meski Theresia sudah menyakitinya, tetap Naura berbuat baik terhadapnya. Dalam hati pria ini mengucap syukur. Pilihannya tepat menjadikan Naura sebagai pendamping hidupnya.
"Kau tidak usah mencemaskan Theresia, Baby. Aku sudah memerintahkan tiga orangku untuk menjaganya." Usai berbicara, Raka menggerakkan tangan kanan ke atas. Memberi kode. Detik itu pula, tiga orang---dua laki-laki dan satu perempuan---memakai setelan jas hitam dan berkaca mata hitam telah berdiri di depannya. Sebelum membawa Theresia ke rumah sakit tadi, ia sudah mengontak ketiga orang tersebut untuk berjaga-jaga.
"Jaga wanita itu. Laporkan padaku tentang apa pun yang terjadi padanya," perintah Raka seraya menunjuk ruangan Theresia.
"Siap, boss." Ketiganya menjawab bersamaan.
"Nah, kau lihat sendiri, Baby. Kau bisa tenang sekarang, kan?" Raka beralih menatap Naura kembali.
Wanita muda ini mengangguk. Ia tersenyum. Tidak seperti sebelumnya, mengangkat sudut bibirnya saja ia tak mampu. "Ya. Aku bisa tenang sekarang.” Meski ada banyak pertanyaan ke depannya untukmu dariku, sambung Naura dalam hati.
"Bisakah kita pergi sekarang, Baby?"
"En." Naura kembali mengangguk. Membiarkan Raka merangkulnya, berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
🍃Dear, My Baby🍃
"Dear," panggil Naura ketika mereka telah berada di dalam Range Rover. Raka menoleh setelah sebelumnya selesai memasang sealt beltnya. Kemudian mata elangnya memperhatikan Naura. Memastikan sang kekasih memasang sabuk pengamannya.
"Kenapa, Baby?" tanyanya.
"Um ..." Naura tampak ragu sejenak. "Bagaimana dengan kedua orang tuamu?"
"Orang tuaku?"
Naura mendesah. Memilin-milin jarinya. Sangat terlihat dari gerak-gerik tubuhnya, wanita muda ini diselimuti rasa cemas berlebihan. "Iya, kedua orang tuamu. Karena kau sudah memutuskan pertunanganmu dengan kak Tere. Mungkin mereka akan marah besar padamu."
"Sudah kukatakan, tidak perlu mencemaskan soal apa pun."
"Tapi ini menyangkut hubungan pertunangan kalian. Orang tuamu pasti menentang keras."
"Kurasa tidak, Baby," sanggah Raka begitu tenang.
"Bisa begitu?" Naura menaikkan salah satu alisnya. Sangat tidak percaya. Ia ingat betul sikap kedua orang tua kekasihnya. Terlebih Andrew. Lelaki paruh baya itu berubah sikapnya menjadi dingin manakala mengetahui dirinya tidak bisa hamil.
"Ya bisa saja, Baby." Raka hanya mengedikkan bahu. Ingatannya kembali pada tantangannya pada Andrew ketika ia menyutujui permintaan Neil, menyumbangkan benihnya pada Naura.
Samar sudut bibir Raka terangkat ke atas membentuk seringain tipis. So, Daddy. Aku menagih janjimu padaku waktu itu.
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1