Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
60| Finish


__ADS_3

Benda bulat yang sempurna itu menggantung di langit, tampak begitu indah menghiasi langit malam. Cahayanya yang bersinar terang keperakan memasuki kamar melalui tirai jendela yang terbuka lebar, menerpa wajah sang pemilik kamar. Bagaikan pahatan patung dewa yunani wajah Raka terlihat dari samping, menyenderkan tubuh atletisnya ke sandaran ranjang seraya memangku laptopnya.


Suara gemerisik angin yang berembus pelan dari luar jendela, menggerakkan dahan pohon palem ke depan dan ke belakang, seolah mengajaknya berdansa di bawah sinar bulan. Pemandangan yang luar biasa indahnya di luar jendela, tak mampu mengalihkan perhatian pria muda ini dari layar di depannya. Bahkan suara lembut kaki bergerak ke arahnya pun tak dirasakannya.


“Dear.” Naura telah berdiri di samping sang suami dan meletakkan nampannya ke atas nakas.


Dua mug cokelat panas masih mengepulkan asap putih. Aroma wangi dan manis memenuhi udara. Warnanya begitu cantik hingga membuat orang yang melihatnya akan tergelitik untuk mencecap rasa manisnya, serta mengoyangkan lidahnya di dalam mug couple itu.


Tanpa pengecualian, begitu pun dengan Raka. Hidungnya segera mengendus bau wangi minuman. Berhasil mengalihkan perhatiannya dari layar laptop ke mug miliknya. Kemudian iris abu-abunya beralih menatap iris cokelat bening sang istri. Naura tersenyum lebar sembari menyodorkan mug padanya. Sosok manis ini menatapnya begitu dalam sembari mengelus cincin pernikahan mereka. Tanpa terasa mereka mengarungi rumah tangga sudah empat tahunan. Bersyukur selama ini tidak ada masalah dalam rumah tangga mereka. Tidak seperti sebelum mereka menikah.


“Yukhei sudah tidur?” tanyanya di sela-sela menikmati cokelat panasnya.


Naura mengangguk, beringsut duduk di samping suaminya. “Yup. Meski agak sulit untuk menenangkannya.”


Diliriknya jam beker di atas nakas. Dua belas malam. Luar biasa. Seperti malam-malam sebelumnya. Meninabobokkan jagoannya butuh tiga jam lebih.


“Dia terus berceloteh dan menggambar---” gumam Naura sembari menghela napas pendek. “---tak sabar untuk memperlihatkannya padamu besok pagi.”


“Wah, bakalan dapat kejutan.” Raka terkekeh sembari meletakkan kembali mug yang tinggal setengah lagi isinya itu ke atas nakas. Mata bulatnya kembali beralih ke sang istri. Berdiri dari duduknya, perlahan membuka jubah tidurnya. Jakunnya naik turun melihat pemandangan di depannya. Naura hanya memakai gaun tidur transparan, sukses mengaduk-aduk gairahnya naik ke permukaan.


“Tidak melanjutkan pekerjaan lagi, Dear?” Naura memiringkan kepala, mengamati sang suami menyingkirkan laptopnya ke atas nakas.


“Ada yang lebih menarik dari benda mati itu.” Raka menyeringai. Menarik tangan Naura hingga jatuh kepelukannya.


“Mau main kuda-kudaan, Baby?” bisiknya seduktif di telinga sang istri. Menggigit daun telinganya, menggodanya.


Naura hanya menggumam di sela-sela mengerang samar. Suaminya tahu benar titik kelemahannya. Raka tersenyum, gumaman sosok manisnya ia indikasikan persetujuan. Tanpa membuang waktu, bibirnya meraup bibir menggoda sang istri. Mengisapnya dengan lembut.


Naura tak mau kalah, melingkarkan kedua tangannya di leher Raka. Membalas ciuman panas suaminya. Lidah mereka terjalin, saling menggoda satu sama lainnya.


Naura kembali mengerang, tubuhnya menggigil di bawah sentuhan sang suami. Tangan Raka menelusup di balik piyama transparannya. Mengelus perut datarnya. Membelai kulit porselennya.


“Nnnhhh ...” Naura semakin mengerang manakala tangan Raka semakin naik ke atas. Menangkup payudaranya dan membelainya.


“Nnnhhh, Dear---”


“Muuum ... huweee.”


Seketika belaian Raka berhenti, keduanya melotot. Bagai kecepatan petir menyambar dahan pohon, tubuh sepasang suami istri ini berpisah. Buru-buru Naura menarik selimutnya, menutupi tubuhnya sembari mengelus bibir plumnya - tepat sang jagoannya melompat kepelukannya.


“Kenapa, eum,” ujarnya kaku sembari mengelus sayang pucuk kepala putranya. Menyenderkan kepala mungilnya di pangkuannya.


Naura menatap suaminya, lantas mengangkat kedua belah bahunya. Raka mengembuskan napas, menatap sang putra dengan wajah keberatan. Ya. Gagal lagi mereka bercinta selama seminggu ini.


“Yukhei takut tidul cendilian,” jawab batita ini, semakin erat memeluk pinggang Naura dan membenamkan kepalanya di dada wanita muda ini.


Raka mendecak dan melotot. “Takut tidur sendirian? Hey, jagoan. Kau itu laki-laki, masa takut sendirian.”


“Ih, Daddy. Cekalang hujan delas loh,” balas Yukhei mencebik.


Serta merta Raka dan Naura mengalihkan perhatian ke luar jendela. Karena tenggelam dengan hasrat mereka, mereka tak menyadari hujan deras telah mengguyur bumi. Raka terbatuk kecil.


“Bolehkah Yukhei tidul di cini, Mum?” Yukhei mendongak, menatap mata cokelat Naura.


“Tid---”


“Tentu saja boleh. Yukhei boleh tidur di sini,” jawab Naura seraya melotot pada suaminya. Raka mendengkus.


“Yeay!” Yukhei berteriak kegirangan.


“Tidurlah.” Naura menepuk punggung putranya dan menyelimutinya. “Kau juga, Dear,” lanjutnya mengelus lengan suaminya. Tak ada pilihan, Raka menuruti sang istri. Berbaring tak nyaman dengan gelora gairah di tubuhnya tak mampu dipadamkannya.


“Daddy.”


“Apa?” jawab Raka datar, melirik sekilas pada sang putra yang menatapnya begitu lekat sembari menutup mulutnya. Perlahan bocah itu berguling ke sampingnya. Memeluk lehernya begitu posesif sambil mendekatkan bibir mungilnya tepat ke telinganya.


“Wajah Daddy melah kayak tomat bucuk. He he he.”


“Sialan! 💢”


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 

__ADS_1


 


“Pagi, Baby.”


“Astaga!” Naura nyaris menjatuhkan piring makanan ketika suara serak Raka menyapa tepat di telinganya. Ia merinding saat pria bermata bulat itu meniup daun telinganya.


“Ih, ngejutin saja,” ujarnya berpura-pura cemberut, berusaha menutupi kegugupannya. Diletakkannya piring makanan ke atas meja, lantas berbalik badan dan mengambil dasi di tangan Raka.


Raka hanya terkekeh. Melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping sang istri. Memperhatikan tangan Naura yang cekatan memasang dasi dengan wajah merah merona.


“Selesai.” Naura menepuk-nepuk dada Raka.


“Terima kasih, Baby.” Raka melayangkan kecupan di pipi sang istri.


Naura hanya mengangguk dan tersenyum semringah. “Yuk, sarapan!”


“Tunggu dulu, Baby.”


Naura memiringkan kepala ketika Raka menahan langkahnya. Ditatapnya bola mata hitam pekat suaminya. “Ya?”


“Mau kutemani ke dokter?” tanya Raka serius sembari menyibak poni Naura, mengusap tetesan keringat di dahinya.


“Buat apa?” Naura menautkan kedua alisnya.


“Sepertinya kau tidak enak badan, Baby,” jawab Raka cemas. Ia rasa sang istri tampak tidak sehat. Saat berganti pakaian tadi, ia mendengar Naura muntah.


Naura menggeleng. “Enggak. Aku sehat-sehat saja, kok.”


“Yakin?”


Naura mengangguk. “Yakin.”


“Tapi, kalau merasa tidak sehat pergi ke dokter, ya.” Raka merengkuh tubuh sang istri. Menanamkan kecupan di dahinya. Lalu memeluknya begitu erat.


“Iya, aku paham. Sudah, Dear. Kita sarapan dulu.” Naura menepuk punggung lebar belakang suaminya. Menggerakkan bahunya ketika Raka mengecupi bahunya yang terekspos. Sedikit risih dengan perlakuan suaminya. Takutnya, dipergoki oleh putra mereka kembali.


“Dear?”


“Iya.” Dengan enggan Raka melepaskan pelukannya, namun tidak menjauhkan kedua tangannya dari pinggang sang istri. Justeru sebaliknya, menarik tubuh sang istri semakin dekat padanya dan mengelus wajah manisnya yang sehalus kulit batita mereka.


Tubuh Naura menegang di bawah sentuhan jemari Raka yang perlahan jemari-jemari panjang itu beralih ke area bibir plumnya. Ingin ia menyingkirkan jemari itu, yang menciptakan sensasi aneh di perutnya, tetapi otaknya tidak sanggup untuk memerintahkan tubuhnya untuk menolak.


“Jatah morning kiss-ku, Baby.” Berangsur-angsur Raka menghapus jarak dengan sosok manisnya. Napasnya berembus pelan menerpa wajah sang istri hingga meninggalkan jejak rona kemerahan di sana.


Tubuh wanita muda ini meremang ketika dengan rakusnya Raka melahap bibirnya. Ciuman keduanya semakin intens. Lidah Raka menelusup kian dalam pada mulut sosok manis-nya. Menjelajahi isinya. Samar Naura mengerang merasakan sensasi gelenyar ketika lidah Raka bermain-main di atas langit-langit mulutnya. Menggodanya.


Dengan paksa Naura melepaskan tautan bibirnya. Menyentak tubuh sang suami dari tubuhnya. Karena terkejut tubuh Raka terpundur selangkah. Ia hendak melayangan protes pada sang istri, namun sedetik kemudian matanya tak kalah membelalak dari sang istri.


“Yukhei?”


Astaga. Sejak kapan jagoannya ada di samping mereka?


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


“Mum, cepetan!”


Naura buru-buru memakai topi floppy-nya, permukaannya yang lebar mampu melindungi wajah pucatnya dari sinar matahari pagi. Dengan langkah lebar dia menyusul langkah putranya yang sudah berlari melompat-lompat, menyusuri jalan setapak menuju area pantai.


“Hei, hei, nggak usah lari, bisa kan, Sayang!” serunya berusaha menyamai langkah putranya.


“Mum telalu lambat cih, lali caja,” sahut Yukhei, kembali membalikkan badan mungilnya, berlari zig zag sembari bersenandung.


Naura menghela napas. Melirik suaminya--jauh tertinggal di belakangnya--menutup pintu belakang rumah sembari membawa perlengkapan piknik. Hari minggu cerah seperti ini cocok untuk keluarga kecilnya bersantai di pinggir pantai, yang memang menjadi kegiatan rutin mereka di hari minggu.


“Jangan lari, Sayang, nanti jatuh.” Naura memperingatkan ketika mereka telah sampai di area pantai. Memperhatikan jagoannya berlari-larian di atas pasir. Tak berapa lama Raka bergabung dengannya, membantunya membentangkan tikar di bawah pohon.


“Daddy, c’mon. Kita main bola.” Yukhei terteriak dan melambaikan tangan.


“Oke. Tunggu sebentar,” sahut Raka. Meraih bundaran kulit sentetis di sampingnya. Sebelum beranjak, ia mengecup sekilas bibir plum sang istri dan bergabung dengan jagoannya bermain bola.


“Ayo, Daddy. Opel cama Yukhei ke cini.” Yukhei berlari riang mengejar bola yang ada di kaki Raka. Tak membiarkan putranya begitu mudah mengambil bolanya.

__ADS_1


Naura tersenyum memperhatikan kedua sosok yang dicintainya. Tertawa ceria di bawah sinar mentari pagi. Rasanya begitu hikmat. Tak ada yang mengganggu kesenangan keduanya. Mempunyai area pantai tersendiri memang mengasyikkan.


“Kemarilah, istirahat dulu.” Naura melambaikan tangan. Sudah sejam keduanya berlari-larian memperebutkan bola putih itu.


“Cukup, jagoan. Kita istirahat.” Raka menepuk pucuk kepala putranya.


“Enggak mau.” Yukhei mengentakkan kaki dan mengerucutkan bibir mungilnya. Tampak belum puas bermain.


“Tapi Daddy sudah lelah, nanti kita sambung lagi.”


Yukhei memberengut sebentar.


“Ya, cudah. Yukhei main cendili caja,” katanya kembali berlarian sembari menggiring bola, menjauh dari Raka. Hanya butuh beberapa detik batita itu sudah tenggelam dengan dunianya sendiri.


Raka hanya mengangkat bahu. Membiarkan sang putra bermain sendiri dan memilih bergabung bersama sang istri. Mumpung jagoannya lagi asyik bermain, lebih baik ia memadu kasih bersama sang istri di bawah pohon. Menikmati semilir angin dan indahnya laut di depannya. Saling melempar godaan satu sama lainnya.


“Nih, minum dulu.” Naura menyodorkan sebotol minuman mineral ketika Raka baru saja duduk di sampingnya. Segera pria bermata bulat ini menenggak habis minumannya. Benar-benar merasa kehausan setelah berlari-larian mengejar bola.


Raka meletakkan botol minumannya ke samping, kemudian menggeser tubuhnya lebih mendekat ke sang istri. Tersenyum geli memperhatikan pipi sang istri yang menggembung. Naura memakan snack kentang berukuran jumbo. Akhir-akhir ini suka sekali makan cemilan putranya. Bahkan Yukhei sering protes karena tiba-tiba saja cemilannya menghilang begitu saja. Tentu saja dia yang diam-diam memakannya.


“Mau?” tawar Naura.


Raka menggeleng cepat. “Tidak---aku lebih suka memakanmu, Baby,” katanya. Merengkuh tubuh sang istri dari belakang. Sekilas pria berpakaian kaus cokelat muda senada dengan pakaian jagoannya itu melambaikan tangan pada putranya, ketika bocah itu berteriak, mengajaknya bergabung dengannya bermain istana pasir.


“Iya, nanti Daddy bergabung setelah menyelesaikan rencana penting,” sahutnya.


“Rencana penting?” Naura menoleh dan meletakkan snack yang telah kosong di sampingnya, lantas menjilati jari-jarinya. Samar telinganya mendengar suaminya mengumpat pelan. Dan di detik berikutnya, wajahnya telah bersemu merah. Raka mengambil alih, menggantikannya menjilati jari-jarinya.


“Stop, Dear.” Naura menarik jarinya dari mulut Raka. Ia jengah dengan napasnya naik turun. “Dan rencana penting apa?” lanjutnya, berusaha mengalihkan atmosfir panas di antara keduanya.


Raka terkekeh. Beralih mengecup ringan bibir sang istri. “Merencanakan dengan matang Raka junior yang kedua,” godanya mengedipkan mata.


“Ih, mesum ...” cibir Naura. Ada seringai aneh menari liar di belah bibirnya, dan itu berhasil ditangkap dengan baik oleh Raka.


“Kenapa? Ada yang aneh memangnya, Baby?”


Naura berdeham. Berusaha mengembalikan ekspresinya. “Enggak.”


“Kau keberatan kita punya anak lagi?”


Naura meninju suaminya tanpa tenaga. “Ih, enggaklah, Dear. Senang banget malah.”


“Nah, gitu dong.” Raka meraih bibir Naura. Menciumnya dengan lembut.


Terbawa suasana romantis yang mendukung di sekitarnya. Ciuman mereka jadi lebih intens, bahkan mereka lupa pada satu batita yang cemberut, berkacak pinggang memperhatikan keduanya. Tetapi kemudian bocah itu kembali sibuk bermain istana pasir seraya bermonolog sendiri.


“Cukup, Dear.” Naura menepuk dada sang suami. Raka mengerang samar, tampak tidak rela untuk berpisah dari bibir sang istri. Tetapi harus dilakukannya, memberikan waktu untuk sosok manisnya menghirup oksigen.


“Kita lanjutkan nanti malam saja,” bisik wanita muda ini dengan wajah semakin merah merona. “Dear, bisa ambilkan kotak bekal di sampingmu itu.”


“Yang ini?” Raka mengambil kotak bekal Yukhei.


“Iya, yang itu.” Naura tampak sibuk mencari-cari sesuatu di sekitarnya. Entah apa itu. “Eung ... bisa bukakan kotaknya, Dear,” pintanya tanpa memperhatikan lawan bicaranya.


“Oke.” Raka menurut dan membuka kotak bekal putranya. Dahinya sontak mengerut melihat isi kotak bekalnya. Bukan bekal makan melainkan ...


“Kau hamil, Baby?” tanya Raka dengan rahang mengangga lebar tanpa berkedip menatap test pack di tangannya. Dua garis merah.


Naura mengangguk dan mengelus perutnya. “Yup! Empat minggu usianya di dalam sini. (≧∇≦)b”


“Oh my god, Baby.” Seketika Raka merengkuh tubuh sang istri ke dalam pelukannya. Menciumi setiap inci wajah manis istrinya. Sungguh kejutan yang menakjubkan.


“Yuhuuu! Yukhei, sebentar lagi kau akan punya teman bermain,” teriak Raka girang membahana memecah pagi yang cerah, menyatu dengan suara deburan ombak di laut. Seakan ikut merayakan kebahagian dua insan ini.


Dan dengan bertambahnya satu lagi anggota keluarga kecil mereka, Raka berharap akan menambah hari-hari bahagianya penuh semangat. Bersemangat lagi menyongsong masa depan--masih sangat panjang--bersama belahan jiwanya dan buah hati mereka ke depannya.


 


= FIN =


 


A/N;


Fiuuuh. Akhirnya tamat juga cerita ini. Tapi tenang saja ^^ sebagai perpisahan terakhir aku sudah siapin beberapa extra chapternya. Berkisah tentang anak Naura dan Raka serta cerita mereka sendiri.


So, tetap pantangin cerita ini ya.


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2