Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
09| Extra Part END


__ADS_3

Disaat Raka bersama istri dan dua anaknya sedang berada di Jepang, di pulau Jeju Mr. Park mengumpulkan kedua anaknya terkait dengan kedatangan Raka dan Naura dua hari yang lalu. Sepasang suami istri ini telah memutuskan untuk membuka rahasia yang disimpan mereka rapat-rapat selama ini. Kedua anak mereka berhak tahu. Terlebih Miura. Siapa dia sebenarnya.


“Dengarkan Appa baik-baik Miuna, Miura. Ada yang ingin Appa sama Eomma bicarakan pada kalian berdua.”


“Soal apa itu Appa?” tanya Miuna ingin tahu.


Mr. Park menarik napas sesaat. Dipandanginya kedua gadis muda di depannya. “Setelah kedatangan orang tua Mauriq. Appa sama Eomma sefakat memutuskan untuk membuka rahasia pada kalian berdua.”


Lagi-lagi kedua gadis muda ini saling berpandangan.


“Rahasia Appa sama Eomma?” tanya Miuna ingin tahu.


Tuan Park mengangguk. “Ya. Rahasia selama tujuh belas tahun ini kami simpan rapat-rapat---dan berkaitan dengan Miura.”


“Eh, aku?” Miura rerkejut dan menunjuk dirinya.


“Ya. Kau ...” Mr. Park menghela napas panjang. Berat rasanya untuk mengatakan yang sejujurnya. “Kau bukanlah anak kandung Appa sama Eomma.”


Hening. Kedua gadis ini terpaku sesaat.


“Aigo. Ini bukan April Mop, Appa.” Miura menggaruk kepalanya. Sudut bibirnya tersenyum pahit. Lelucon macam apa ini.


Mr. Park menatap wajah Miura dengan serius. “Tidak, Nak. Appa serius. Kau bukanlah anak kandung kami. Tujuh belas tahun yang lalu ... disaat kami kehilangan bayi, ada seseorang wanita datang dan memberikan bayi perempuan pada kami. Lalu bayi itu kami beri nama Miura.”


Butuh waktu lama bagi Miura untuk mencerna semuanya. Ia sangat syok. Berulang kali menatap wajah kedua orang tuanya bergantian. Bila saja orang tuanya sedang berbohong saat ini. Tetapi sama sekali ia tak melihat tanda kebohongan di wajah menua itu.


“D-dan siapa orang tua kandungku?” tanya Miura dengan mata berkaca-kaca. Tak sanggup menahan hatinya yang sakit.


 


 


 


 


 


🍃Dear,MyBaby🍃


 


 


 


 


Malam hari yang cerah. Di dalam ruangan luas, ada pertemuan dua keluarga. Raka mengumpulkan anggota keluarganya dan keluarga Park. Semua telah menemui titik terang usai menemui Theresia. Raka rasa--dilihat dari raut wajah Miura--Mr. Park telah menjelaskan asal usul gadis itu yang sebenarnya, hingga tak membuat Raka kesulitan ketika menjelaskan siapa Miura. Dan gadis itu menerima penjelasan Raka dengan hati lapang.


Kini semua keputusan ada di tangan Miura. Apakah gadis ini akan ikut bersama Raka dan Naura ke Seatle atau tetap bersama Mr. Park di Korea. Naura dan Raka juga tak bisa memaksa gadis itu untuk ikut bersama mereka. Keduanya paham. Waktu tujuh belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Ada banyak kenangan Miura bersama keluarga Park terbentuk.

__ADS_1


Sedang untuk Maura, Naura dan Raka memutuskan untuk tetap bersama mereka. Tak ada pertukaran anak, sebab Maura bukanlah anak kandung dari Mr. Park dan istrinya. Selamanya Maura akan tetap jadi tanggung jawab mereka sampai kelak ia menikah.


Setelah bergulat dengan batinnya sedari semalam. Miura memutuskan untuk tetap bersama keluarga Park sampai akhir tahun ini. Setelahnya, ia akan ikut Raka dan Naura ke Seatle. Mencoba berbaur dengan keluarga besar kandungnya. Merasakan bagaimana kehidupan bersama keluarga barunya. Raka dan Naura setuju akan keputusan Miura.


Setelah menghabiskan waktu dua jam lebih. Saling bercerita tentang kehidupan masing-masing. Akhirnya keluarga Park pulang. Kini, di ruang tamu hanya menyisakan empat orang. Lucas, Maura, Mauriq, dan Miura. Atas usul Maura, Miura setuju malam ini tidur di kamarnya.


Maura menatap lekat Miura tanpa berkedip sama sekali. Benar-benar mirip dengan Mauriq. Sungguh tak menyangka, dirinya akan benar-benar bertemu dengan kembaran asli Mauriq. Begitupun dengan Miura, gadis itu juga menatap lekat Maura.


“Kau benar-benar cantik,” puji Miura jujur.


“Terima kasih. Kau juga cantik, Miura,” balas Maura tersipu. Keduanya sama-sama dalam keadaan canggung.


“Kuharap kita bisa akrab,” tambah Miura ramah. Maura setuju. Kedua gadis ini saling melempar senyuman manis, lalu sama-sama melirik Mauriq. Sedari tadi pemuda itu hanya diam dengan wajah cemberut. Suasana hatinya sedang buruk. Seharusnya di ruangan ini ada kekasih hatinya, Miuna. Sayangnya, gadis itu tidak ikut bermalam di rumahnya.


“Apa?” Mauriq menaikkan salah satu alisnya ketika Miura menyenggol lengannya. Maura dan Miura kompak tersenyum geli. Sepertinya kedua gadis ini mulai terlihat akrab. Bahkan Maura sangat senang, ia jadi punya teman untuk menjahili Mauriq yang selama ini Mauriq-lah yang sering menggangunya.


“Semua orang juga pernah berpacaran. Gak sampai begitu juga kali,” sindir Miura memutar bola mata dan diangguki Maura dengan kekehan geli. Mauriq terbatuk kecil, menyadari sikapnya begitu kentara.


“Mauriq jangan dikata, dia memang menyebalkan,” tukas Lucas ikutan mencibir. Sedari tadi ia hanya jadi pendengar setia kedua gadis remaja ini berbicara.


“Nggak usah ikut-ikutan, Bro. Kau juga sama saja sepertiku. Bahkan kau lebih parah dariku. Tak berada di sekitar Maura selama sejam saja sudah kayak cacing kepanasan.”


“Hei, hei, hei. Tutup mulutmu.” Lucas mendelik tajam. Mauriq hanya mengangkat bahu. Maura yang mendengar ucapan ambigu Mauriq wajahnya sudah memerah tomat. Sedang Miura menggaruk kepalanya, sesekali ia melirik Lucas dan Maura. Kemudian ia mengangguk paham tentang keduanya.


Ketika keempatnya sedang asyik berbicara, Naura turun dari lantai dua sembari mengomel, tidak menyadari bila keempatnya belum tidur.


“Baby, ayolah. Kita lanjutkan program kita.” Raka bergegas menuruni tangga. Ia berhenti di tengah tangga dan menghalangi jalan Naura yang ingin pergi ke dapur.


Raka terkekeh. “Tak usah berpura-pura tidak tahu, Baby. Ayo, kita buat Raka junior lagi,” katanya sembari melayangkan kecupan di pipi Naura.


“Dear, kita sudah tua. Aku nggak mau mengas---kyaaa, turunkan akuuu.” Naura memukul dada bidang Raka ketika pria bermata bulat ini mengangkatnya gaya pengantin dan segera menaiki tangga kembali.


“Kita belum terlalu tua, Baby. Kau bahkan masih muda dan terlihat seperti seumuran dengan Maura. Satu lagi, kau masih sanggup memproduksi beberapa bayi lagi,” goda Raka dengan senyum mesum di belah bibir sensualnya.


“Tapi tetap saja. Kau lihat? Anak-anak kita sudah dewas---hmmmpttt.”


Raka tak memberikan kesempatan untuk Naura terus berbicara. Ia pun segera membungkam mulut Naura dengan bibirnya. Mencium ganas istrinya. Raka melepaskan ciumannya saat dirasa Naura butuh oksigen. Ia baru sadar mereka masih berada di tengah tangga. Satu lagi, ia merasakan ada lebih dari satu pasang mata memperhatikan keintimannya bersama Naura. Sontak Raka menoleh. Dan benar saja ... di bawah tangga, tepat di ruangan keluarga, Lucas, Mauriq, Maura dan Miura membelalakkan mata.


Astaga! Ingin rasanya bumi menenggelamkan tubuh Naura saat ini. Untuk kesekian kalinya, dia bersama Raka dipergoki anak-anak mereka. Naura terus merutuk dalam hati kemesuman Raka yang tidak pernah tahu tempat. Sedang Raka, ekspresinya tetap datar seperti biasanya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


“Kau akan sering melihat adegan ini.” Lucas melirik Miura yang tak mengedipkan mata sama sekali. Sementara Mauriq memutar bola mata. Dan Maura buru-buru menundukkan kepala dengan wajah merah merona.


“Uh, be-begitu ya.” Miura menggaruk kepalanya. Ia melirik Lucas dan Mauriq, dari sikap keduanya, mereka pasti sering melihat adegan intim seperti itu. Dan ia sama seperti Maura, wajahnya telah berubah warna menjadi semerah tomat. Jujur, baru kali ini ia melihat langsung adegan intim seperti itu.


“Bila kau kembali melihat adegan seperti itu, anggap saja kau tidak ada di sekitar mereka,” timpal Mauriq santai.


“Um, y-ya,” jawab Miura canggung. Matanya mengikuti Naura, bergegas menuju ke arah mereka bersama Raka di belakangnya.


“Loh, kok belum pada tidur,” ucap Naura ketika telah berdiri di depan keempat anaknya.


“Ini juga mau tidur.” Mauriq beranjak berdiri dan menguap kecil. Ekspresinya datar, seolah biasa saja melihat adegan sebelumnya. Ia yang pertama meninggalkan ruangan. Diikuti Miura yang diantar Maura ke kamarnya. Sementara Lucas tetap duduk santai di tempatnya. Tak berapa lama Maura kembali ke ruangan, ia ingat Naura ingin membicarakan sesuatu padanya sebelum mengantar Miura tadi.

__ADS_1


“Sayang, apa masih tetap ingin melanjutkan kuliah di sini?” tanya Naura bersamaan Maura duduk di samping Lucas. Naura berharap Maura melanjutkan kuliahnya di Seatle saja, bersama-sama Miura kuliah di sana.


Maura menunduk sekilas lalu pandangannya jatuh pada wajah tampan Lucas. Dari tatapan teduh Lucas, jelas pria muda ini ingin Maura kembali melanjutkan kuliahnya di Indonesia dan tinggal bersamanya di sana.


“Maafkan Maura, Mum. Maura tetap ingin melanjutkan kuliah disini,” cicit Maura mengalihkan pandangannya dari wajah Lucas. Tampak Lucas sangat keberatan akan keputusan Maura.


“Say---”


“Tidak lama kok, Mum. Tinggal tiga tahun lagi kuliahnya,” potong Maura ambigu saat Naura hendak protes. Ketika berbicara Maura menatap iris cokelat bening Lucas. Meminta pengertian dari pria muda ini.


Lucas memalingkan wajahnya. Jelas dari tindakannya, ia keberatan akan keputusan Maura. Sungguh, ia tak ingin berpisah dan jauh dari Maura, sosok yang dicintainya sepenuh hati.


“Ya sudah, bila itu keputusanmu, Sayang. Mum harap kamu baik-baik saja di sini. Ingat bila terjadi apapun segera telepon Mum sama Daddy. Atau beritahu Mauriq, oke?” Naura menyibak rambut panjang Maura ke samping.


Maura tersenyum lebar dan mengacungkan kedua jarinya dengan menampakkan puppy eyes-nya. “Oke, Nyonya.”


“Aih, manisnya.” Naura balas tersenyum. Keduanya pun terkekeh.


“Tuh, dengar kata Maura tadi. Tiga tahun lagi. Jadi, harus sabar dan tahan untuk tidak bertemu.” Raka menepuk pundak Lucas, mengerti akan ucapan ambigu Maura.


Lucas makin mendengkus mendengarnya. Hatinya belum bisa menerima keputusan Maura. “Apaan, Daddy,” katanya dengan berpura-pura menjadi bodoh.


Raka terkekeh. “Jangan sok bodoh. Tak usah ditutup-tutupin, Daddy sama Mum sudah tahu rahasia kalian berdua.”


“Eh?” Maura terperanjat kaget. “M-Mum sama Daddy tahu hu-hubungan ka-kami?” cicit Maura. Ingin rasanya Maura menggali lubang di tanah dan bersembunyi. Naura dan Raka kompak mengangguk. Sedang Lucas hanya memasang wajah datar.


“Mum sama Daddy marah karena hubungan kami-kah?” tanya Maura gugup sambil menahan napas.


“Awalnya marah. Beruntung kalian bukan saudara kandung. Jadi tak masalah. Dan juga ... jalan kalian masih sangat panjang, akan ada banyak kesempatan dan rintangan untuk mengubah hati kalian ke depannya. Kalian pahamkan maksud Daddy.”


Sudut bibir Maura terangkat ke atas mendengar penjelasan bijak Raka. Begitu pun dengan Lucas. Keduanya paham akan maksud Raka. Benar yang diucapkan Raka, hati tak bisa diprediksi. Hari ini mereka saling mencintai, siapa tahu ke depannya, mereka menemukan cinta yang lainnya. Tetapi keduanya yakin, hati mereka tetap sama seperti hari ini.


Dan Lucas, hanya butuh bersabar tiga tahun lebih untuk menunggu dan bertemu dengan Maura kembali. Berpisah sedikit tidak masalah. Sebab, Maura dan Lucas yakin, seberapa jauh jarak yang memisahkan mereka. Cinta mereka akan bertahan selamanya, mengikuti jejak Naura dan Raka, akan sampai jua ke pelaminan.


The END


Notes;


Akhirnya, sampai juga di chapter terakhir. Terima kasih buat teman-teman yang selama ini, setia dari awal sampai akhir membaca cerita ini. Terima kasih atas supportnya selama ini, baik dari vote maupun komentar. Sekali lagi terima kasih atas partisipasinya. Saranghaeyo semuanya 😍😍😍


Sesuai usul dari kalian, sebenarnya aku buat kelanjutan kisah cinta Yukhei sama Maura yang manis-manis, di judul lainnya. Tapi, berhubung masih ada project lainnya. Jadi, kutunda dulu.


Sebagai pengganti cerita, cek aja di profilku. Judulnya I'm Sorry To Hurt You.


Sampai jumpa lagi di cerita selanjutnya🤗💜.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2