Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
21| Please, Pertimbangkan Kembali [2]


__ADS_3


"Naiklah!" titah Raka pada Naura. Membuka pintu Range Rover-nya, membiarkan sosok manis ini masuk ke dalam tunggangannya.


"Enggak, makasih saja. Aku sudah pesan taksi online." Naura menolak ketus sembari melipat kedua tangannya.


Dengan gesit sosok manis ini mundur beberapa langkah. Menjaga jarak. Mencegah pria ini berbuat sesuatu padanya, seperti malam kemarin misalnya. Siapa yang berani menjaminnya bila dirinya semobil dengan pria mesum ini akan aman setelah melihat adegan panas di lift tadi.


Ia tahu, Raka sama terangsangnya dengan dirinya. Bisa saja nanti dia diperkosa oleh pria mesum ini di mobil.


"Kalau begitu batalkan saja," titah Raka lagi dengan entengnya.


"Memangnya kamu siapa bagiku, heh. Seenak jidatmu saja membatalkan pesanan orang." Naura mendelik tajam.


Ingin sekali dia menjitak kepala pria ini. Akan tetapi mengingat dirinya sedang menjaga jarak, lebih baik diurungkan saja, daripada nanti dipaksa masuk ke tunggangan di belakang pria itu.


Raka membenahi kerah coat-nya yang sedikit kusut, lantas berdeham, dengan penuh percaya diri menyahuti ucapan sosok manis-nya.


"Tentu saja calon ayah dari bayi-mu itu, dan mungkin saj---, hey. Sial!"


 


Dugh


 


Raka menendang ban mobilnya diiringi umpatan kekesalan dari belah bibirnya. Menatap jengkel pada taksi online yang membawa Naura pergi dari parkiran apartemen.


Tanpa menunggu waktu terus berjalan, pria ini segera melompat ke Range Rover-nya, langsung tancap gas mengikuti taksi online yang ditumpangi sosok manis-nya. Ia harus menyelesaikan semua masalahnya, sebelum dipaksa ayahnya di Indonesia mengawini wanita lain.


Hell, itu takkan pernah terjadi sampai kapan pun. Yang diingininya menjadi pendamping hidupnya tentu saja Naura Almira Atmajaya. Titik. Tak ada yang bisa mengganggu gugatnya. Sekali pun itu ayahnya. Kali ini ia akan menentangnya, demi kebahagiaan masa depannya sendiri. Serta demi bayi yang dikandung Naura.


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃

__ADS_1


 


 


 


Baru saja taksi online yang dipesan Naura melintas di depannya, membawanya tepat di depan lobi perusahan di mana ia bekerja, detik itu pula Range Rover milik Raka melintas di depanya dan kini mengganti posisi taksi online tadi.


"Tunggu dulu, Naura."


Buru-buru Raka turun dari Range Rover-nya sebelum sosok manis itu memutar 180 derajat tubuhnya dan menaiki tangga teras lobi perusahaan. Tanpa membiarkan sosok manis ini berbuat sesuatu atau memakinya, Raka segera meraih pinggangnya, untuk kedua kalinya Naura jatuh ke rengkuhan pria ini.


Sontak Naura terperanjat kaget, tidak menduga Raka akan bertindak agresif seperti ini padanya. Terlebih di depan perusahaan, di mana puluhan pegawai perusahaan mulai berdatangan. Dalam sekejap mata mereka berdua menjadi pusat perhatian puluhan mata. Ingin tahu dan penasaran. Reaksi mereka beragam. Ada yang biasa saja, sampai dengan mata terbelalak lebar dan mulut mengangga.


Terlebih melihat sosok tampan Raka. Tentu saja mereka lebih tertarik dengan Raka yang sudah wara-wiri menjadi model cover majalah bisnis ketimbang wajah manis Naura.


Siapa yang tidak mengenal Raka di dunia bisnis. Raka adalah salah satu penerus perusahaan Pintech terbesar di Indonesia dan sudah beberapa tahun ini melebarkan sayap bisnisnya ke negara gingseng, Korea Selatan.


"Yaaa. Lepaskan aku!!" Naura memukuli punggung belakang Raka. Berontak dalam pelukannya. Wajahnya merah padam menahan malu.


"Sebentar saja, Na. Jangan bergerak," bisik Raka serak dan ambigu. Entahlah serak menahan hasrat seksualnya, atau serak akan perasaannya yang tergambar jelas di ekspresi wajahnya, penuh penyesalan.


"Enggak bisa. Kita sudah gak punya hubungan lagi!" tegasnya sembari mengepalkan tangan.


"Dan lepaskan aku," lanjut sosok manis ini dingin.


Kali ini Raka yang menghela. Dengan berat hati berangsur-angsur melepaskan pelukannya.


"Naura," panggil Raka, dengan cepat meraih pergelangan tangan sosok manis ini. Mencegah kembali Naura berjalan.


"Apa lagi!" Naura mulai memekik kesal. Deru napasnya mulai naik turun.


"Jangan marah. Beri aku waktu sebentar saja untuk berbicara." Raka memohon dengan wajah memelas.


"Cepatlah! Sebentar lagi jam masuk kerja," jelas Naura sedikit gelisah, sebisa mungkin menghindari pria ini.


Tak ingin berada lebih lama lagi bersama Raka. Terlebih malu menjadi tontonan orang-orang di sekitarnya. Seolah mereka berada di atas panggung pertunjukan, semua mata tertuju padanya.


"Huft." Raka melepaskan genggamannya. Sebelum melanjutkan ucapannya. Pandangannya menajam pada orang di sekitarnya. Terintimidasi oleh pandangannya. Separuh kerumunan mulai membubarkan diri.

__ADS_1


"Soal kehamilanmu, Na," lanjut Raka setengah berbisik.


Seketika Naura menahan napas kala mendengar kalimat yang keluar dari belah bibir pria yang paling ingin dihindari dalam hidupnya ini. Akan tetapi semakin dirinya menghindar, semakin kuat pula ia tertarik ke sisi pria ini.


"Please. Nggak usah lagi bahas masalah kehamilanku. Semua sudah jelas. Sedari awal aku nggak menuntutmu bertanggung jawab. Sebelumnya sudah kukatakan saat proses inseminasi, bila kau lupa. Semua risiko aku yang menanggungnya," tutur Naura dengan wajah serius.


"Memang, tapi itu dulu. Sekarang berbeda, Na. Aku ..." Raka menarik napas dalam-dalam, melanjutkan kembali ucapannya, "...serius ingin bertanggung jawab."


Naura mengepalkan tangannya begitu kuat, sekuat hatinya saat ini. "Maafkan aku, Raka. Aku ... belum bisa menerimanya," tegasnya.


"Naura, kumohon dengan sangat. Bisakah kau mempertimbangkan kembali ucapanku? Aku benar-benar serius padamu. Aku ingin bertanggung jawab padamu dan anak kita," ulang Raka lagi. Bahkan beribu kali pun akan dia ucapkan tanpa bosan sampai hati sosok manis ini luluh padanya.


Hening. Tak ada jawaban dari belah bibir sosok manis ini. Hanya terdengar suara orang-orang yang berbisik samar tak jauh dari keduanya berdiri.


"Sudah selesai, kan, bicaranya. Aku pergi." Naura berkata dingin.


"Tungg---"


Tidak ingin memberikan pria dengan tinggi tubuh 184 cm ini kesempatan berbicara, sosok manis ini lantas melesat meninggalkan Raka yang termangu menatap punggungnya. Baru saja memasuki lobi perusahaan Naura terkesiap melihat Richard berdiri di depannya.


Astaga. Richardpasti sudah melihat Raka yang memelukku tadi. Dan mendengarkan semua pembicaraan kami.


Tanpa berbicara, dengan menahan napas, Naura menunduk memberi hormat pada atasannya ini, lalu meninggalkan Richard sendirian dengan rahang mengeras melihat adegan tadi.


Sementara itu ... Raka melotot tajam melihat Naura berpapasan dengan Richard. Cepat Raka menghampiri pria yang tak kalah tinggi darinya ini ketika sosok manis-nya tidak terlihat lagi. Kedua pria gagah nan tampan ini saling berhadapan dengan melemparkan tatapan membunuh satu sama lainnya. Kini, tontonan yang menarik semua mata beralih pada keduanya.


 


Bugh


 


Tanpa Richard duga, Raka melayangkan tinjunya, tepat bersarang di perut pria ini. Richard Tertunduk menahan sakit.


"Itu balasan atas pengkhianatanmu padaku. Sejak kemarin tanganku gatal untuk meninjumu," bisik Raka menepuk pundak Richard, lalu meremasnya begitu kuat.


"Jangan coba-coba mengambil alih apa yang sudah menjadi milikku," sambungnya.


Kemudian Raka meninggalkan begitu saja Richard yang merintih kesakitan di belakangnya bersama puluhan mata yang menelan air liur menatap punggung dingin Raka.

__ADS_1



__ADS_2